Brother Complex
"Mas, aku suka kamu.” Seorang gadis menatap pria yang selama ini dia kagumi.
“Apa maksud kamu, Nala?” Pria itu menatap tajam dengan rahang mengeras. Tangannya terkepal erat benar-benar memahan amarah.
“Aku suka kamu sebagai seorang wanita.” Gadis itu tersenyum cantik hampir membuatnya lupa diri. Hingga kenyataan kembali menamparnya.
“Kamu gila? Aku kakak kamu dan selamanya gak akan pernah berubah. Sebaiknya kamu kubur dalam- dalam perasaan kamu itu!”
.
.
.
Satu minggu sebelumnya…
“Nala!” Sebuah teriakan terdengar saat Nala berjalan di lorong kampus tempatnya menimba ilmu.
“Nala!” Suara itu di susul suara sepatu bergema dan beradu dengan lantai, hingga seorang gadis berdiri di depannya dengan memegangi lututnya dan nafas terengah, menunjukkan jika gadis itu berlari sebelum mencapainya.
“Kenapa sih, Ra. Lari- lari? Di kejar depkolektor, lo?” tanya Nala saat melihat Maura sahabatnya berjongkok masih berusaha menormalkan nafasnya.
“Sialan, lo! Depkolektor apaan, gue gak punya utang cicilan,” dengusnya dengan mengusap keringat di dahinya dengan ujung lengan kaos panjang yang dia kenakan.
“Ya, terus?”
“Di luar ada yang cari elo. Katanya kakak lo. Serius selain Nathan lo punya kakak lain?”
Dahi Nala mengerut. Ya, dia punya kakak lain, Azka Radhika, namun dua tahun ini kakaknya itu tengah bekerja di luar Negeri, dan dari yang dia dengar kontrak kerja Azka masih satu tahun ke depan. Jadi kenapa pria itu pulang? Padahal dua tahun ini tak pernah pulang sama sekali.
Nala mendengus kesal, dua tahun pergi dan sekarang muncul. Dengan teganya dia meninggalkan mereka tanpa pulang dan hanya sesekali menghubungi lewat telepon dengan alasan sibuk.
“Sumpah Nal, dia ganteng banget!” Jeritan Maura membuat telinga Nala terasa pegang. “Lo harus kenalin gue sama dia, pleaaaase," ucapnya penuh permohonan.
“Biasa aja kali.” Nala akui Azka memang tampan bahkan dia kerap kali mendambakan memiliki pacar seperti kakaknya itu.
Nala tersenyum, saking mendambakan Azka, dia kerap berkhayal andai Azka bukan kakaknya sudah dia kejar untuk menjadikannya pacarnya, bahkan menikah dengannya.
Sialan!
Nala memukul kepalanya sendiri dengan buku besar di tangannya.
Dia tidak memiliki kelainan brother complex, kan? Saking gilanya dia bahkan selalu terbayang wajah Azka.
Awalnya Nala tak merasakan hal gila itu. Namun saat usianya menginjak 17 tahun dimana masa pubertasnya mulai berkembang dia mulai merasa hal berbeda saat melihat sosok kakak tertuanya itu.
Kedewasaan dan perhatian Azka membuatnya menilai semua laki-laki di sekitarnya, dan mengetahui tak ada yang seperti Azka.
Azka yang posesif dalam menjaganya.
Azka yang memperhatikan semua tentangnya bahkan hingga hal terkecil.
Bahkan tak membiarkan dia terluka meski hanya goresan kecil.
“Hei!” Sebuah tepukan keras membuat lamunan Nala terhempas pada kenyataan.
“Malah ngelamun lagi.”
“Sialan lo, Ra. Sakit gila!” Nala mengusap lengannya yang dipukul Maura.
“Ya abisnya lo malah ngelamun udah kayak orang mati. Mana dipanggil gak nyaut lagi.”
Nala berdecak.
“Cepetan dia nungguin di depan!” Maura menarik tangan Nala, namun gadis itu justru menarik tangannya.
“Biarin aja, nunggu dua jam juga gak akan setara kayak nunggu dua tahun.” Bukannya pergi ke gerbang kampus dimana kakaknya menunggu Nala justru memutar langkahnya kembali ke arah kelasnya.
“Woy, Nala!” Maura menggaruk tengkuknya, menoleh ke arah pintu keluar, “Masa bodoh!” ucapnya lalu mengejar langkah Nala.
….
Nala menyimpan tasnya di meja, lalu mendudukan dirinya masih dengan wajah kesal, hingga Maura mendudukan dirinya di sebelahnya. “Kenapa muka lo jadi kesel begitu?”
“Gak.” Nala menghela nafasnya dan memejamkan matanya untuk meredakan amarahnya.
“Tapi, yang di luar beneran kakak lo?” tanya Maura lagi.
“Kalau yang lo bilang ganteng berarti iya.”
“Ya terus? Kenapa lo gak temuin dia?”
Nala menatap Maura, menimbang apakah dia harus mengatakan pada Maura tentang perasaannya atau tidak.
Apa tanggapan Maura nanti jika dia mengatakan perasaannya?
Hingga dia hanya mampu menelan kembali semuanya sendiri.
Kalau sampai Maura tahu mungkin dia akan mengejeknya gila karena menyukai kakaknya sendiri.
Nala mengusap rambutnya kasar. “Gue kesel aja sama dia. Dua tahun gak pulang dan selama itu cuma telepon sebulan sekali. Biarin aja dia nunggu lama. Biar dia rasain gimana gue ngarepin dia nelepon untuk sekedar kasih kabar. Bahkan pesan gue aja jarang dia bales. Gila gak tuh? Kakak macam apa itu!” Nala menggerutu sebal.
“Ya mungkin dia emang sibuk?” Maura tertawa dan memukul pelan bahu Nala. Kali ini cukup pelan hingga tak membuat Nala kesakitan. “Lagian tingkah lo begini udah kayak pacar yang gak di kasih kabar cowoknya. Kalau gue masa bodoh abang gue mau kasih kabar atau enggak, yang penting uang jajan masuk rekening gue.” Maura kembali tertawa, sementara Nala tertegun.
Benarkah dia berlebihan sebagai seorang adik? Apa salah dia memiliki perasaan rindu pada kakaknya?
“Lah, diem lagi.”
Nala menghela nafasnya lalu menatap serius pada Maura. “Ra, kayaknya gue ada kelainan deh.”
“Hah? Maksud lo?” Jelas saja Maura terkejut, temannya ini terlihat normal. Bahkan Nala juga termasuk mahasiswa yang pintar. Jadi kelainan seperti apa yang Nala maksud?
“Kayaknya gue kelainan brother complex deh.”
“Apa!” Maura berteriak hingga Nala melonjak kaget. Gadis itu bahkan berdiri dari duduknya membuat seluruh perhatian tertuju padanya.
Nala tersenyum tak enak hati pada teman- temannya yang masih berada di kelas. Meski kelas sudah berakhir tapi beberapa dari mereka menunggu jam pelajaran selanjutnya dengan bersantai atau belajar di kelas.
“Sialan, ngapain teriak!” Nala menarik Maura kembali duduk.
“Gila lo, Nal?”
“Gak! Gue waras, makanya gue masih berperang sama otak gue biar gak beneran gila.”
Maura menatap tak percaya. “Sama Nathan atau sama cowok yang di luar itu?”
“Kita lagi gak ngomongin Mas Nathan!” Nala menekan dahi Maura. Nala dan Nathan memang kuliah di kampus yang sama, namun dengan jurusan berbeda. Jadi Maura sangat mengenal Nathan. Terlebih kedua saudara kembar itu selalu bersama.
“Jadi gimana?”
Nala meremas rambutnya lalu menggeleng.
“Nal, Gue tahu ada sebagian orang yang menjalani hubungan terlarang itu. Tapi … gue harap lo jangan.” Maura meremas tangan Nala dengan mata yang menatap penuh khawatir.
“Lo pikir gue mau?” Nala menghela nafasnya yang terasa sesak. “Perasaan itu muncul dengan sendirinya. Tapi gue juga bingung harus apa, biar gue lupa perasaan gue.”
“Lo mau dengerin saran gue?” Nala mengangguk.
“Lo harus punya cowok. Alihkan semua perhatian sama cowok lain asal jangan sama kakak lo itu.”
Nala menatap Maura. “Ya, gue tahu itu kejam buat cowok itu karena dia cuma pengalihan. Tapi lebih baik dari pada lo sama kakak lo, kan?”
Nala mengangguk ragu. Entah dia bisa atau tidak.
“Dan jangan terlalu deket sama kakak lo sebelum lo bisa lupain perasaan lo sama dia.”