Melawan Perasaan

1035 Kata
Nala keluar dari kampus dengan menggandeng tangan Maura. Saat tiba di gerbang kampus Nala benar-benar melihat pria tinggi tegap dengan punggung lebar bersandar di badan mobil. Bahu itu nampak lebih lebar dari Sebelumnya. Dua tahun tak bertemu Nala rasa perubahan pria itu terlalu banyak. Meski begitu Nala tetap bisa mengenalinya meski hanya dari punggung yang kini membelakanginya. Nala mengeratkan pegangannya di lengan Maura seolah mencari kekuatan dan melawan perasaan yang tak seharusnya ini. Pria itu menoleh lalu membuang batang roko yang dia ampit di bibirnya ke tanah, lalu menginjaknya. Dahi Nala mengernyit. Sejak kapan pria itu merokok? Dua tahu di luar Negeri sepertinya banyak perubahan yang sangat besar. Nala menelan ludahnya kasar saat pria itu tersenyum, senyum mempesona yang selalu Azka berikan padanya. Jantung Nala berdebar- debar seolah ingin keluar dari rongganya. "Gila, tadi aja pas gue lihat gak senyum aja udah ganteng, sekarang tambah senyyum makin ganteng level malaikat." Suara Maura sedikit mendesah membuat Nala mendengus jijik. "Hai." Kata itu terucap dengan suara berat yang khas. Nala tak bisa tak menarik sudut bibirnya, getir dan penuh kesakitan. Kenapa dua tahun tak bertemu pria itu malah makin tampan dan membuatnya semakin menggila. "Kamu gak kangen sama Mas?" katanya dengan melebarkan tangannya. Siapa yang tak ingin masuk ke dalam pelukannya. Nala yakin Maura bahkan sekarang ingin berlari dan memeluk pria yang katanya tampan itu. Tapi Nala takut, takut semakin tak bisa menahan perasaannya. Langkah Nala terasa berat, antara akal dan khayal yang selalu dia damba. Melepas tangan Maura, Nala mendekat. Baru satu langkah, namun tangan panjang pria itu menariknya dan mendekapnya benar- benar memasukan seluruh tubuhnya kedalam pelukannya. Satu tangannya menekan pinggang dan tangan lainnya menekan kepalanya di d**a. Mata Nala terbelalak dengan rasa terkejut luar biasa. Tubuhnya menghangat dengan getaran kecil di dadanya menjalar ke sendi- sendi tubuhnya. Nala lupa kalau pelukan Azka sehebat ini pengaruhnya. Namun lagi- lagi khayalnya berkeliaran, dia justru memejam menikmati dekapan hangat itu, merasakan debaran jantung pria dambaannya. "Nala, Nala, ssst." Mata Nala terbuka, menolehkan ujungnya pada Maura yang membelalakan matanya lalu menaik turunkan kepalanya. Dunia Nala tertarik, seolah tersadar Nala mendorong Azka menjauh melepas pelukan erat itu. Nala merubah mimik wajahnya menjadi kesal, matanya menyipit tajam, mendongak menatap Azka. "Ngapain pulang? Aku kira Mas juga bakalan mati disana," ucapnya kesal. Azka terkekeh. "Mas benar-benar sibuk," ucapnya dengan mengusap rambut Nala yang dengan cepat di tepis. Sungguh jantung Nala masih berdebar tak menentu, dia harus segera mengakhiri ini. "Terus ngapain kesini?" "Mas sengaja loh pulang langsung kesini mau ketemu kamu." Nala memutar matanya. "Ya udah ketemu di rumah, aku mau pergi sama temenku." Nala kembali menggandeng tangan Maura. Azka mengerutkan keningnya tatapannya beralih pada Maura, hingga Maura bisa melihat perubahan wajah Azka saat menatapnya. Dingin dan acuh. "Hai, Mas. Aku temen Nala, Maura." Maura mengulurkan tangannya, namun Azka tak menyambutnya. "Azka." Dan menolehkan kepalanya kembali pada Nala. "Mau kemana?" Nada suaranya kembali lembut. "Ke mall. Mau ke toko buku juga." Nala dan Maura memang sudah berencana menggunakan alasan tersebut untuk menghindari Azka. "Ya udah Mas Antar." Azka berjalan ke arah pintu mobil dan hendak membukanya, namun suara Nala menghentikannya. "Gak usah, kita mau naik taksi!" Dahi Azka mengernyit tak suka. "Jadi mau pergi, atau kita pulang?" Itu artinya ucapan Azka tak bisa di bantah. Nala melipat bibirnya. Kenapa pria itu masih suka mendominasi? Nala menoleh pada Maura yang seketika mengangguk. Sepertinya gadis itu tahu mereka tak bisa membantah. Jadi Nala memasuki kursi sebelah kemudi dimana pintunya sudah terbuka, sementara Maura memasuki pintu belakang. Tentu saja Maura tak perlu berharap pria tampan itu membukakan pintu untuknya. Lagi pula siapa dia? Sepanjang jalan ketiganya hanya diam dengan Nala yang memalingkan wajahnya dari Azka. "Masih marah?" Suara Azka terdengar, namun Nala tak berencana menoleh. Dia takut terlalu lama menatap Azka dia semakin tak bisa mengendalikan dirinya. "Oke, Mas salah," akunya. "Tapi ada alasan kenapa Mas gak pulang." Tangan Nala mengepal meremas tali tasnya, lalu menoleh. "Terus telepon juga gak pernah?" "Mas bilang sibuk." Nala kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela. Tangan Azka bergerak membuka laci dasbor lalu mengeluarkan sebuah kotak. "Buat kamu," katanya dengan mengulurkan kotak tersebut. Nala membuka kotaknya dan menemukan kalung cantik berbandul mutiara biru. Sangat cantik dan elegan. Nala menarik bibirnya. Menatap kagum pada benda di depannya. "Suka?" tanya Azka dengan tersenyum. Nala mendelikkan matanya. "Bukan berarti aku maafin Mas." Nala menutup kotak perhiasan di tangannya, namun Azka justru menghentikan mobilnya di tepi lalu membuka sabuk pengamannya. "Mas pakein." Azka mengambil kotak di tangan Nala lalu mengambil kalung tersebut dan memasangnya ke leher jenjang Nala, dengan Nala yang menyingkirkan untaian rambutnya, demi memudahkan Azka melakukannya. Nala tersenyum menyentuh bandul kalung yang terpasang di lehernya, namun saat menoleh wajahnya kembali masam. "Cantik." Azka menatap kalung di leher Nala. Nala tahu Azka tengah memuji kalungnya. Namun entah kenapa wajahnya justru terasa panas seolah pujian itu untuknya. Di kursi belakang Maura merasa jadi kambing conge di tengah pasangan yang sedang kasmaran. Tapi matanya tak bisa lepas begitu saja. Memperhatikan gerak- gerik keduanya. Matanya menyipit penuh selidik. 'Kalau kelakuannya begini, adik mana yang gak akan jadi brother complex. Nala kamu memang perlu di selamatkan,' ucapnya dalam hati. .... Mobil Azka terparkir di depan mall ternama hingga Nala dan Maura keluar dari dalamnya. "Kalau sudah, telepon Mas. Mas jemput." Nala hanya mengangguk, tahu dia tak bisa membantah. Mobil Azka menjauh menyisakan Nala dan Maura di depan Mall. Keduanya menghela nafas berat seolah baru keluar dari ruang peradilan. Azka benar- benar terlalu mendominasi. "Sialan!" umpat Maura. "Gue udah kayak kambing conge." Nala cengengesan. "Tahu kan kenapa gue bisa suka sama dia. Dia kayak gitu cuma sama gue." Maura mengibaskan tangannya. "Iya gue tahu. Lihat aja tatapannya sama gue, serem gila, eh pas natap lo udah kayak es dikasih air panas." Nala tersenyum bangga, hingga merasakan tepukan di bahunya. Tentu saja pelakunya Maura. "Jangan senyum- senyum. Perasaan lo tetep salah." "Dari tadi main pukul aja. Bisa- bisa badan gue memar," gerutu Nala dengan mengusap bahunya. "Ya abis, dikit- dikit ngelamun, dikit- dikit bengong." Nala mencebik. "Jadi gimana caranya gue lupain perasaan ini?" Maura tersenyum menatap mall di depannya. "Jadi kita ubah tujuan kita kesini." Dahi Nala mengernyit, lalu mengikuti tatapan Maura. Gadis itu menunjuk pintu mall. "Kita bukan mau cari buku. Tapi cari cowok buat lo!" "Hah?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN