Cemburu

1199 Kata
Nala memperhatikan sekitarnya. Dia dan Maura sedang duduk di kursi di sebuah kafe. Di depan mereka ada dua minuman yang sama sekali belum tersentuh bahkan meski sudah tiga puluh menit mereka duduk disana. "Ngapain sih, kita kesini?" Nala mengeluh. Lama- lama lelah juga hanya duduk diam. Maura mengangkat jari telunjuknya agar Nala diam. "Mereka kesini," bisiknya. Nala mengernyit, namun saat melihat dua pria mendekat Nala menghilangkan kerutannya. "Hai, kalian yang dari jurusan seni itu, kan?" ucap salah satunya. Maura tersenyum dan berdiri. "Iya. Kalian?" "Jurusan management. Boleh duduk disini?" "Boleh." Nala ingin melakukan protes, namun saat melihat Maura mengedipkan matanya dia hanya bisa diam. "Hai, lo adiknya Nathan, kan?" Seorang pria menyapa Nala. "Kalian tahu?" Nala mengedipkan matanya tak percaya. Mereka mengenalnya, tapi kenapa dia tak mengenal mereka? "Ya tahu lah. Jarang ada yang kembar di kampus. Jadi kita inget, apalagi kalian ini kembar yang paling populer kayaknya." Satu Pria lainnya itu tersenyum. Wajahnya biasa saja. Jauh dibanding Azka, namun saat tersenyum nampak manis. Type pria lembut dan romantis. Nala balas tersenyum. "Maaf gue gak tahu kita sepopuler itu." "Karena aku mungkin gak sepopuler kalian boleh kenalin diri dulu gak, aku Resa," ucapnya dengan mengulurkan tangannya. "Nala." .... Rencana Maura mencarikan pacar untuknya mungkin juga ide yang bagus. Mungkin dia bisa fokus ke hal lain mulai sekarang. Kamu udah nyampe? Nala tersenyum meski tak sampai ke mata saat melihat pesan yang muncul di ponselnya. Tidak ada rasa berlebihan. Tapi Maura bilang kalau Resa mengirim pesan dia harus membalasnya. Jadi jari tangannya mengetik balasan. Ya. "Kamu pulang?" Suara bariton terdengar, dan Nala dengan cepat mematikan layar ponselnya. "Mas bilang telepon, nanti Mas jemput." Azka berdiri dari duduknya, menatap dengan mengernyit. "Aku pulang sama Maura naik taksi. Lagian Mas juga pasti capek." "Nala!" Azka tetap tak terima. "Aku capek, Mas. Masuk dulu." Azka mengernyit menatap Nala yang acuh begitu saja. Nala menghampiri Kinan yang duduk di depan Azka mencium pipi sang Mama, "Aku naik ya, Ma. Mandi." Setelahnya Nala segera pergi ke arah tangga, lalu menghilang di ujung tangga. "Udahlah, Nala udah dewasa." Kinan bersuara saat melihat Azka nampak kesal. "Lagian selama ini Nala juga gak pernah keluar sampe malem. Mama tahu juga Maura, dia gadis baik, sering main kesini." "Dia cuma masih marah sama aku." Azka kembali duduk, menenangkan kegelisahannya saat merasa Nala menghindarinya. "Itu tahu. Lagian dari dulu mau Nathan, mau Nala nempel sama kamu. Siapa suruh gak pulang- pulang. Jarang kasih kabar pula." Azka menghela nafasnya, matanya menunduk menatap sandal rumahan yang dia kenakan. "Biar Nala tenang dulu. Nanti juga baik lagi." Kinan terus menenangkan Azka yang masih terlihat gelisah. Azka mengangguk. "Jadi gimana sekarang, calon mantu Mama udah ada?" Baru akan membuka mulut suara pintu terbuka terdengar di susul langkah kaki berjalan cepat. "Mas!" Wajah yang serupa dan mirip Nala namun versi pria muncul. Pria itu melemparkan tas gunungnya lalu menghampiri Azka. Azka tersenyum menyambut Nathan yang berlari untuk memeluknya. .... Pintu terbuka setelah diketuk beberapa kali menampakan Nathan yang menaikan sebelah tangannya di pinggang, dengan tangan lain menekan kusen pintu. "Apa?" katanya saat Nala menengadahkan tangannya. "Oleh- oleh." Nala masih tak mau menurunkan tangannya, namun Nathan justru menekan dahinya. "Mas naik gunung, bukan pergi ke Paris. Pake minta oleh- oleh lagi." Nala mencebik dan menurunkan tangannya. "Bawa bunga edelweis kek." "Bunga langka tuh, dilindungi. Gak boleh sembarangan. Mama suruh panggil buat makan malam. Ayo!" Nala mencebik, namun tetap mengikuti Nathan. "Mas Azka bilang kamu masih marah?" Nathan menghentikan langkahnya di undakan tangga terakhir, lalu menoleh pada Nala di belakangnya. "Gak." Jawaban pendek itu Nathan artikan sebagai jawaban 'iya'. "Jangan gitu dong, Dek. Mas Azka kan kerja, kita harus ngerti. Lagian kita udah dewasa, kita gak boleh nempel terus sama dia. Dia juga punya urusan pribadi. Masa kalau dia mau kencan kita juga masih ikut." Nala tertegun. Baru mendengar kata 'kalau' saja hatinya sudah berdenyut nyeri seperti dia sedang melihat secara nyata di depannya Azka berasama seorang wanita. Apalagi saat melihat Azka benar-benar melakukan itu. Nala mungkin akan terbakar cemburu. Nala menggeleng pelan. Tidak boleh! Perasaannya kenapa bisa sejauh ini? Nala harus segera menghentikannya. "Aku bilang enggak!" Nala menyingkirkan tubuh Nathan lalu mendahului pria itu untuk segera pergi ke ruang makan. Di ruang makan semua orang sudah duduk lengkap dengan Andra dan Kinan. "Maaf, nunggu lama." Alih-alih duduk di sebelah Azka seperti biasanya, Nala justru duduk di sebelah Kinan. Hal itu tentu saja membuat Azka mengernyit. Dulu Nala dan Nathan selalu berebut untuk duduk di sebelahnya, hingga Azka memutuskan duduk di tengah-tengah agar adil untuk keduanya. Namun kini Nala justru duduk di depannya tepat di sebelah Kinan. "Untuk pertama kalinya setelah dua tahun kita semua kumpul lagi." Andra kepala keluarga bicara dengan senyum penuh wibawa khasnya. "Sebenarnya ada yang mau Papa omongin sama kalian, tapi karena Azka juga baru pulang, kita tunda dulu saja. Papa yakin malam ini Azka juga bakalan jadi rebutan Nathan sama Nala." Andra dan Kinan terkekeh sementara Azka hanya tersenyum kecil, matanya beralih pada Nala yang menunduk acuh dan justru memainkan ponselnya dan sesekali tersenyum. "Malam ini aku tidur sama Mas Azka." Nathan merangkul bahu Azka. "Enak gak Mas tinggal di luar Negeri?" Azka menepuk pundak Nathan. "Nanti rasain aja sendiri." "Aku juga mau, Pa." Suara Nala membuat semua orang menoleh. "Aku mau lanjut S2-ku di luar Negeri." Seolah ucapan itu bukan keputusan besar. Nala mengucapkannya dengan ringan. Tangannya di lipat di atas meja dan menatap Andra penuh harap. "Bukannya gak boleh, tapi kamu perempuan Sayang." Kinan mengusap bahu Nala. "Mama harap kamu tetap di rumah sama Mama." "Mas Nathan boleh?" "Karena Mas-mu yang akan melanjutkan bisnis kita. Dia harus bisa membangun relasi yang baik, dan cari pengalaman sebanyak mungkin, sama kayak Mas Azka." Penjelasan Andra membuat Nala terdiam. "Zaman sekarang masih membatasi perempuan?" gerutu Nala. "Apa yang Papa bilang demi kebaikan kamu, Nala!" Ucapan itu dari Azka bukan Andra. Pria itu bersuara tegas dan dingin membuat Nala terdiam seketika. Bukan hanya Nala, tapi tiga orang lainnya juga tak bisa bicara lagi. "Kita bicarakan nanti. Sekarang makan dulu." Kinan mencoba membuat suasana mencair kembali, meski sikap Nala kini lebih banyak diam hingga dia menyelesaikan makannya lebih dulu. "Aku udah, Ma, Pa, Mas, Aku naik dulu." Nala mendorong kursi lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan. Semua kembali fokus dengan makanan masing-masing, kecuali Azka. Pria itu menyadari dia menambah kemarahan baru di hati Nala. Azka menghela nafasnya lalu beranjak. "Aku udah selesai, Ma, Pa." Kinan dan Andra mengangguk, hingga tanpa membuang waktu Azka segera pergi. Kepergiannya bukan untuk ke kamarnya dan istirahat, namun berhenti di depan pintu kamar Nala. Tangannya terangkat lalu mengetuk pintu. Tiga ketukan, namun tak juga membuat pintu terbuka. Hingga Azka mendorong pintu perlahan dengan mengernyit sebab tak menemukan Nala di dalamnya. Suara air di kamar mandi membuat Azka menghela nafasnya, lalu mengurungkan niatnya untuk masuk. Baru berbalik hendak pergi Azka mendengar getaraan di atas meja belajar Nala di mana ponsel gadis itu berada. Hingga tangannya mengulur dan mengambil ponsel tersebut, lalu membuka sebuah pesan masuk. Dahi Azka awalnya mengerut hingga Azka membuka semua pesan dari atas, dan terus ke atas. Rahangnya mengeras dengan tangan yang memegang ponsel Nala mengerat seolah dia ingin meremukan ponsel tersebut. "Mas ngapain?" Azka menoleh masih dengan wajah yang sama. Dingin, datar, dan tatapan tajam yang menusuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN