Mas buka hape aku!" Nala berjalan cepat hendak meraih ponsel di tangan Azka. Tak peduli dengan tatapan pria itu.
Namun saat akan meraihnya Azka justru menjauhkannya. "Siapa dia?" tanya Azka masih dengan nada marahnya yang kentara menunjukan layar ponsel Nala dimana pesan dari Resa terlihat.
"Bukan urusan Mas." Nala mengulurkan tangannya. "Siniin, gak Mas!" peringatnya saat Azka masih menjauhkan ponselnya.
"Nala, kamu udah berani deket sama cowok?"
Dahi Nala mengernyit. "Aku udah gede, Mas. Wajar dong deket sama cowok."
"Nala!"
"Mas kenapa sih?! Dari dulu selalu larang aku deket sama cowok. Mas mau aku jomblo seumur hidup?" Nala berucap kesal memilih menyerah dan pergi ke arah ranjang untuk mendudukan dirinya.
"Nala, ada saatnya. Dan bagi Mas kamu masih kecil."
"19 tahun masih kecil?" Nala memalingkan wajahnya. Dia bahkan sudah merasa debaran itu saat usianya 17. "Mas Nathan aja udah punya cewek, dan kalau Mas lupa bentar lagi aku 20 tahun."
"Pokoknya kamu gak boleh pacaran, titik! Jauhi dia, kita gak tahu dia punya niat buruk sama kamu atau enggak!" Azka meletakkan ponsel Nala dengan kasar di meja, lalu keluar dengan membanting pintu. Hentakkan pintu itu bahkan membuat Nala berjengit.
Nala menatap nanar pintu. "Kamu gak tahu, Mas. Aku melakukannya biar bisa melupakan perasaan yang tak seharusnya ini.“
....
Nala keluar dari kamar dengan tas dan beberapa buku di tangannya, melihat Nathan keluar dari pintu Nala mempercepat langkahnya.
"Mas tunggu aku!" Namun karena banyaknya barang yang dia bawa Nala menjadi tak fokus dan tersandung kakinya sendiri.
"Awas!" Nala terhunyung, beruntung saat ini Azka menahan tubuhnya, hingga dia tak berakhir mengenaskan.
"Hati- hati." Nala mendongak menatap Azka yang memeluk pinggangnya. Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu hingga Nala menegakkan tubuhnya dan memalingkan tatapannya.
"Ceroboh! Ngapain lari- lari, kalau jatuh gimana?" Azka mengambil buku Nala yang berjatuhan.
"Aku mau kejar Mas Nathan— loh?" Nala berlari ke arah pintu saat mendengar deru mobil keluar dari pelataran. "Mas Nathan!" teriaknya, lalu berdecak kesal. "Mas Nathan kok tinggalin aku!" Nala menghentakkan kakinya, lalu menoleh ke arah Azka.
"Gara-gara Mas!" tuduhnya.
Azka menggeleng pelan. "Mas yang antar, ayo!"
Nala terdiam dia harus lebih banyak menghindar, kalau satu mobil dengan Azka dia mungkin akan semakin tidak tahan.
"Aku naik taksi aja." Nala melangkah keluar, namun baru melewati pintu Azka sudah menahannya.
"Mas bilang Mas yang antar."
"Mas!"
"Kenapa? Mau menghindar? Atau kamu sengaja pengen pergi sendiri biar ketemu sama cowok itu?!" Tatapan Azka menjadi tajam seiring cengkraman tangannya yang mengerat.
"Mas apaan sih, sakit tahu!" Azka mengedipkan matanya lalu menatap tangannya yang mencengkram tangan Nala.
"Maaf, Mas gak sengaja." Azka merenggangkan tangan Nala, dan melihat kulit Nala yang memerah bekas cengkramannya. "Mas ambil kunci mobil dulu." Azka segera pergi ke arah nakas dimana sebelumnya dia menyimpan kunci mobilnya.
Nala menatap cemberut. Kuatnya cengkraman Azka membuat Nala merasa Azka benar-benar marah. Tapi kenapa pria itu terlihat sangat marah?
Apa salahnya dekat dengan pria.
Nala menoleh pada punggung Azka, yang pergi mengambil kunci.
Kakaknya itu tak berencana membuatnya jomblo selamanya, kan?
Nala mengikuti Azka dengan pasrah sebab tahu dia tidak akan bisa melawan.
Nala memasuki mobil setelah Azka membukakan pintu. Saat Azka masuk ke kursi kemudi bukannya langsung melajukan mobilnya Azka justru menghadapnya lalu menarik tangannya.
"Maaf, Mas gak sengaja." Azka membuka tutup salep yang dibawanya, lalu mengoleskan perlahan di pergelangan tangannya.
Nala melihat jari Azka yang mengoleskan salep perlahan. Seolah takut dia kesakitan Azka bahkan meniupnya dengan pelan.
Selalu seperti itu. Sejak dulu, sejak Nala masih kecil. Jika Nala terluka maka Azka akan dengan telaten mengobatinya bahkan meniup lukanya perlahan.
Nala menipiskan bibirnya. Kalau sudah begini, bagaimana dia tak jatuh cinta?
Nala menarik tangannya. "Aku gak papa, lagian aku udah gede."
"Tetep aja harus di obati, kan?"
Bukan apa- apa, tiupan Azka membuat Nala merinding seketika, bahkan sampai sekarang jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Nala mendekap tangannya di d**a, lalu terdiam sepanjang perjalanan.
Sesekali Nala menoleh pada Azka yang fokus menyetir tanpa banyak bicara hingga mereka tiba di parkiran.
"Jangan lupa kasih tahu Mas kalau kamu mau pulang," kata Azka saat Nala akan keluar dari mobil.
Nala menoleh dengan dahi mengernyit. "Mas gak sibuk?"
"Mas masih ada waktu beberapa hari sebelum kerja di kantor Papa." Nala mengangguk, baru akan melanjutkan niatnya untuk keluar Nala merasakan usapan di rambutnya membuatnya tertegun.
....
"Gimana hasil pedekate sama Resa?" tanya Maura saat mereka baru saja selesai mata kuliah pertama.
"Gak tahu," katanya dengan nada kesal.
"Lah kok gak tahu. Kalian gak kontekan?" Maura menatap heran. "Lo gak chat dia gitu?"
"Gak, Resa yang chat duluan."
"Terus gimana?"
"Gak ada terusannya. Mas Azka blokir kontak Resa, dia bilang gue masih kecil jangan dekat- deket cowok."
"Apa?" Maura tidak menjerit, namun dia jelas merasa bingung. Matanya nampak mengerut seolah berpikir.
"Dia bilang gak boleh deket cowok, dan bilang lo anak kecil?"
Nala mengangguk, lalu menepuk meja dengan kesal. "Sialan, kan?"
Tiba-tiba Maura tertawa, tawa yang meledak membuat Nala berdecak.
"Dek, jangan kemana-mana di rumah aja, nanti Mama marah— eh salah, nanti Mas marah, hahahaha." Ucapan penuh ejekan itu membuat Nala semakin cemberut.
"Tapi ... ini cuma bentuk posesifnya seorang kakak ke adeknya, kan?"
....
"Sudah Papa bilang ada hal yang perlu kita bicarakan," ucap Andra di tengah- tengah keheningan keluarganya. Kinan, dan dua anaknya Nathan dan Nala, lalu Azka yang duduk tepat di dekat Kinan.
"Itu yang mau Papa katakan hari ini ..." Andra menghentikan ucapannya, lalu menatap dua anaknya yang mengernyit bingung sementara Azka masih duduk tenang di posisinya. Anak angkatnya itu sudah bisa mengendalikan diri, Andra yakin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenarannya.
"Azka, Papa menyayangi kamu. Apapun yang Papa katakan hari ini gak akan merubah apapun. Kamu tetap anak Papa dan Mama." Azka mengangguk dengan senyum simpul. Dia tahu apa yang akan Andra katakan. Dan kenyataan memang harus terungkap.
"Aku tahu, Pa."
"Ada apa sih, Pa? So' misterius banget?" Nathan menatap bingung tak jauh berbeda dengan Nala yang kini melihat pada Azka yang tersenyum padanya, seolah apa yang akan Papa mereka katakan bukan hal besar. Sementara Kinan di sebelah Azka menggenggam tangan kakaknya itu memperlihatkan kegelisahan.
Andra terkekeh. "Ya udah Papa lanjutin, boleh?" Nathan dan Nala mengangguk, karena sepertinya perkataan Andra selanjutnya memang untuk mereka.
"Sebenarnya Mas Azka bukan kakak kandung kalian."
"Apa?!"