"Lucu ya nama kita hampir sama. Nala— Naya." Nala mengalihkan tatapannya pada Azka yang juga menatapnya. Menatap pria itu penuh luka dan kekecewaaan yang mendalam. Sementara yang Nala lihat Azka hanya menatap dingin lalu tersenyum ke arah wanita di sebelahnya seolah memancarkan kebahagiaan dan perasaannya. "Sini Sayang, duduk di sebelah Mama." Kinan menarik Nala untuk duduk. Namun Nala justru menggeleng. "Kalian ngobrol aja, aku cuma turun mau ambil minum. Permisi kak Naya." Nala tersenyum kaku, lalu melangkah cepat menuju dapur. Azka menatap kepergian Nala, melihat punggung Nala dengan mata yang berubah sayu, hingga punggung itu benar-benar tak terlihat barulah dia menunduk lalu genggamannya di tangan Ainala terlepas. Tak ada yang menyadari sikap dan ekspresi Azka yang berubah, ke

