Bagaimana bisa aku menikah dengan seorang pria yang menatapku saja enggan. Apa karena aku hanya akan dijadikan pelayannya sehingga dia merasa tidak perlu mengenalku atau setidaknya melihat wajahku? Dan, bahkan mereka pun tidak mengajakku untuk bicara atau meminta saranku tentang pernikahan yang akan aku jalani.
"Ya sudah kalau begitu, semuanya biar aku yang urus!" jawab nyonya Laura sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ingat ya, Ra, aku tidak mau repot dengan hal lain. Jadi, apa pun perjanjian yang sudah kalian sepakati itu bukan menjadi urusanku!"
"Beres, Mas, pokoknya kamu tenang aja karena mulai hari ini Airin adalah tanggung jawabku!" ucap perempuan itu yang kemudian bergelayut manja di lengan suaminya.
Setelah itu nyonya Laura menyuruhku untuk keluar dari kamar karena mereka ingin bicara empat mata.
Aku pun langsung meninggalkan kamar tersebut dan berlari sambil menangis karena aku tak mampu lagi menahan air mata yang sekuat tenaga aku tahan sejak mengetahui bahwa pria yang aku nikahi besok sudah memiliki seorang istri, dan nantinya aku hanya akan menjadi istri kedua.
Ketika aku sedang menangis tiba-tiba Luna masuk ke dalam kamar. Ternyata anakku sudah bangun dan saat masuk ke kamar tadi aku tidak menyadari jika Luna tidak berada di atas kasur. Aku pun segera menghapus air mataku. Aku tidak mau Luna tahu betapa sedihnya aku saat ini.
Dia berjalan mendekat ke arahku dan langsung memelukku.
"Ibu, Luna sangat senang di sini. Rumahnya bagus dan makanannya enak," ucapnya dengan rona wajah bahagia.
"Apakah kamu betah di sini?"
"Betah banget, Bu. Rumah ini seperti yang ada di film-film. Luna tidak pernah bermimpi bisa tinggal di rumah sebagus ini," ucapnya lagi dengan bahagia.
Aku hanya tersenyum mendengar penuturannya. Baru kali ini aku melihat anakku tersenyum bahagia tanpa beban.
"Malam ini Luna harus tidur cepat, Bu, karena kata nenek besok Luna mau diajak jalan-jalan keliling kota," ucapnya lagi saat aku tidak bicara, hanya mengusap wajahnya penuh kelembutan.
"Nenek ngomong begitu?" tanyaku.
"Iya, kata nenek besok Ibu sibuk kerja. Jadi, nenek yang akan menemani Luna jalan-jalan."
"Ya sudah kalau begitu, Luna masih punya waktu kok untuk main atau nonton tv dulu." Luna pun langsung menganggukkan kepala sambil tersenyum sumringah. Dia lalu duduk di sofa yang berada di seberang ranjang dan mulai menyalakan tv untuk menonton.
Namun, tak berapa lama kemudian Luna tertidur saat tengah menonton tv. Mungkin putriku sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh dan selama perjalanan itu juga dia sulit untuk tidur nyenyak, dan tadi dia hanya tidur sebentar karena aku tidak menemaninya di sini.
Aku pun langsung memindahkan tubuh Luna dari sofa ke atas kasur dengan perlahan. Putriku sangat lelap tidurnya, membuatku mengulas senyuman singkat di kedua sudut bibirku.
Sementara aku yang tidak bisa tidur memutuskan keluar dari kamar untuk mencari udara segar.
Ketika aku sedang berjalan ke arah taman belakang, tanpa sengaja aku melihat bu Narti baru saja keluar dari kamar tuan Herman. Tadinya aku ingin menyapanya sebentar tapi aku urungkan.
Aku lalu melanjutkan berjalan ke taman belakang dan duduk di sebuah kursi. Aku menikmati kesendirianku sambil ditemani dinginnya angin malam.
Ketika sedang termenung tiba-tiba bu Narti datang menghampiriku dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Rin, maafkan Ibu ya. Bukan maksud Ibu ingin menjebakmu dalam pernikahan ini," ucapnya penuh penyesalan.
"Airin sudah nggak marah lagi sama Ibu. Airin tau kalau Ibu melakukan ini pasti mau yang terbaik untukku dan Luna," jawabku sambil menggenggam kedua tangannya.
"Sekali lagi Ibu minta maaf ya," ucapnya lagi.
"Sudah, Bu, jangan minta maaf terus. Mungkin ini memang takdirku."
"Rin, Ibu yakin kamu pasti bisa hidup lebih baik setelah menikah dengan tuan Herman. Tuan itu sangat baik dan peduli dengan orang di sekitarnya."
Lalu bu Narti memelukku. Pelukan ini mengingatkan aku dengan pelukan mendiang Ibuku.
Setelah berbincang cukup lama di taman, bu Narti pun menyuruhku untuk segera tidur karena besok adalah hari yang sangat menegangkan untukku.
***
Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sebenarnya aku ingin membantu mereka, tetapi dilarang oleh nyonya Laura yang menyuruhku untuk istirahat karena tinggal beberapa jam lagi pernikahanku akan berlangsung.
Anakku sudah pergi bersama bu Narti, aku tidak tahu mereka pergi ke mana.
Entah mengapa aku merasa hari ini waktu berjalan begitu cepat. Salah seorang teman bu Narti yang bekerja di rumah ini bernama Kesih membantuku untuk bersiap, dia bertugas merias wajahku, dan karena ini hanya pernikahan siri yang diadakan secara btertutup jadi aku didandani natural saja oleh Kesih.
Setelah selesai berdandan dan berganti baju, terdengar suara asisten rumah tangga yang lain bernama Iyem memanggil kami karena penghulu sudah datang.
Jantungku berdegup kencang ketika mendengar jika penghulu sudah datang. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Kesih dan Iyem lalu menggenggam tanganku, dan mereka lalu memelukku.
"Yakinlah semua ini pasti pilihan yang terbaik untukmu," ucap mereka berdua.
Aku hanya diam, air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya luruh juga.
"Jangan menangis. Ini adalah awal kebahagiaanmu," ucap Iyem.
"Iya, Rin, sudah tenangkan hatimu dan ingat semua ini kamu lakukan demi anakmu," timpal Kesih yang berusaha menenangkanku.
"Sudah, ayo kita keluar! Tuan dan nyonya sudah menunggu. Nanti kita kena marah kalau kelamaan!" ajak Iyem.
Dengan cepat aku menyeka air mata yang membasahi pipi, setelah itu mereka mengantarku menuju ruangan di mana sang penghulu dan calon suamiku sudah menunggu.
Ketika kami sampai di ruangan itu, terlihat ekor mata tuan Herman melirik ke arahku.
"Kalian kenapa lama banget sih?! Kok malah tuan Herman yang lama menunggu!" tegur nyonya Laura kepada kami bertiga dengan ekspresi marah.
Aku langsung ditarik untuk segera duduk di samping tuan Herman.
"Pak, sudah bisa dimulai ijab qobulnya," ucap nyonya kepada penghulu.
"Baik, Bu Laura," jawabnya.
Kemudian penghulu menjabat tangan tuan Herman dan acara ijab qobul pun dimulai.
Setelah mengucapkan ijab qobul dan terdengar suara sah dari beberapa saksi. Aku resmi menjadi istri kedua tuan Herman. Air mataku semakin deras mengalir. Kesih segera memberikan tisu untuk menghapus air mataku yang terjatuh.
Lalu nyonya Laura berbisik di telingaku. "Ingat tugasmu dan jangan melampaui batasanmu!" ucapnya membuatku terkejut. Aku merasa ada kecemburuan dalam ucapannya itu.
Tapi, bukankah pernikahan ini dia yang menginginkan? Lalu untuk apa dia merasa cemburu terhadapku?
Aku lalu mencium tangan tuan Herman sebagai tanda jika aku sudah sah menjadi istrinya.
Setelah acara selesai, penghulu dan para saksi pun pulang. Lalu nyonya Laura memanggilku. Aku diajak ke kamar tuan Herman.
"Rin, tugasmu adalah mengurus semua kebutuhan suamiku. Dan ingat, walaupun sekarang Mas Herman adalah suamimu tapi statusmu tetap sebagai orang yang merawatnya. Jadi, jangan pernah beranggapan jika kamu adalah seorang istri di rumah ini, paham!" ucapnya yang berulang kali memperingatiku, seolah aku lupa dengan perintahnya.
"Paham, Nyonya," jawabku dengan cepat.
"Bagus! Semua kebutuhan Mas Herman bisa kamu tanya ke mbok Narti dan mulai malam ini kamu harus tidur di kamar ini, tapi kalian tidak boleh tidur di ranjang yang sama!" ucapnya lagi memperingatkan kami dengan nada tegas.
"Ba—baik, Nyonya." Jujur aku sebenarnya sangat terkejut dengan perintahnya. Jika aku tidur di kamar tuan Herman. Bagaimana dengan anakku?
Setelah memberitahuku semua itu, nyonya Laura lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Jantungku berdegup kencang ketika kami hanya berdua di dalam kamar karena ini pertama kalinya aku satu ruangan dengan laki-laki lain selain mendiang suamiku dulu.
Ada perasaan canggung, tetapi aku harus mengabaikan hal itu karena mau bagaimanapun juga sekarang tugasku adalah mengurus tuan Herman.