Tidur sekamar

2346 Kata
Tuan memintaku mendorongnya keruang kerjanya. Setelah mengantar ke ruang kerjanya, aku duduk di kursi yang berada di dekat jendela. Aku melihat ke arah luar. Karena aku bingung apa yang harus aku kerjakan. Ketika aku sedang melamun. Tuan Herman memanggil namaku. "Rin, buatkan aku teh hangat," Titahnya tanpa melihat kearahku. "Ba-baik Tuan," jawabku. Aku lalu berjalan ke pintu dan langsung bergegas keluar dari kamar. Aku langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh untuknya. Karena aku tidak mengetahui dimana letak gula maupun tehnya jadi aku membuka semua laci dan lemari yang ada di dapur, ketika aku sedang kebingungan Reni datang dan langsung menegurku. "Mau ngapain kamu?" Tanyanya dengan nada sedikit ketus. "Tuan Herman memintaku untuk membuatkan teh untuknya," jawabku. "O, sini aku ajari," ucapnya lagi. Lalu Reni memberitahu dimana letak gula dan tehnya, dia juga mengajariku cara membuat teh yang biasa tuan Herman minum. Setelah selesai membuat teh, aku langsung membawanya ke kemar tuan. Setelah itu aku langsung memberikan teh itu kepadanya. "Tuan ini teh hangatnya," ucapku sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat. Tuan Herman langsung menerima gelas berisi teh itu dan langsung menyesapnya. Namun apa yang terjadi selanjutnya. Tuan Herman memuntahkannya. "Ini teh apa air gula! Kenapa manis sekali! Kamu bikin teh saja tidak becus!" Hardiknya. Jantungku berdegup kencang ketika mendengar hal itu. Aku benar-benar takut melihat tuan Herman semarah itu hanya gara-gara teh. "Ma-maaf Tuan, saya tidak tahu bagaimana selera tuan," jawabku terbata bercampur rasa takut. "Kamu punya mulutkan! Apa tidak bisa kamu tanya sama para pembantu dirumah ini?!" Aku hanya diam tidak menjawabnya. Aku bingung bagaimana bisa Reni melakukan ini kepadaku. Bukankah tadi dia yang mengajariku seberapa takaran gulanya yang biasa Tuan Herman minum. Lalu kenapa tuan tidak suka? Apakah Reni sengaja? Ataukah Tuan Herman yang sengaja ingin melampiaskan rasa kesalnya kepadaku? "Sekarang kamu tunggu disana dan jangan kamu masuk keruangan ini jika aku tidak memanggilmu!" Aku tidak menjawab ucapan tuan. Aku lalu mengambil beberapa lembar tisue untuk membersihkan lantai yang basah karena semburan teh tadi. Setelah membersihkan lantai, aku lalu membawa gelas ke dapur. Dan ketika di dapur aku berpapasan dengan Reni. "Bagaimana? Tuan Herman suka tehnya?" Tanyanya dengan senyum licik menghiasi kedua sudut bibirnya. "Tidak, Tuan marah dan membuang tehnya," "Oh ya, kok bisa?" Tanyanya seolah kaget. "Katanya kemanisan," "Sudah tidak usah di ambil hati. Nanti kamu juga terbiasa dengan karakter Tuan yang begitu," Ucapnya lagi. "Memang Tuan suka teh yang seperti apa?" Tanyaku kepadanya. "Ya seperti yang aku ajarkan tadi," "Tapi, kenapa tuan marah dan mengatakan jika kemanisan?" Jawabku sambil menatapnya. "Halah! Kamu itu baru disini jadi diam saja jangan protes. Tuan memang seperti itu," Jawabnya sedikit ketus sambil berlalu pergi. Reni lalu pergi meninggalkanku di dapur, sedangkan aku mencuci gelas yang tadi. Dan ketika aku akan masuk kedalam kamarku terdengar suara Tuan memanggilku. Aku langsung berlari menuju kamarnya. Setelah sampai kamar. Aku langsung bertanya kepadanya. "Ada apa Tuan?" "Bantu aku ke kamar mandi." Titahnya. Deg. Aku terkejut mendengar perintahnya. Kekamar mandi? Apa aku harus mendorongnya sampai kamar mandi dan membantunya disana? "Kenapa kamu diam saja, ayo cepat. Aku mau buang air kecil," ucapnya lagi. Aku masih diam di tempatku berdiri. "Kamu mau aku kencing disini!" Bentaknya. Aku lalu mendorongnya ke kamar mandi. Dan ketika aku ingin membantunya untuk berdiri. Tuan malah menyuruhku untuk meninggalkannya. Aku merasa sangat lega dengan hal itu. Setelah selesai buang air kecil, tuan memangilku lagi untuk mendorongnya keluar dari kamar mandi. Dan setelah itu dia menyuruhku untuk pergi dari kamarnya. "Kamu boleh pergi mengurus anakmu. Aku mau bekerja, jadi kalau tidak aku panggil jangan masuk," Aku sangat senang ketika mendengar tuan menyuruhku untuk mengurus anakku. Aku lalu segera keluar dari kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamarku sambil menunggu anakku pulang dari mall. Setelah menunggu cukup lama, Luna dan Bu Narti datang. Luna terlihat sangat bahagia, dia langsung berlari memelukku. "Ibu, lihat Luna beli banyak mainan lho," Celotehnya dengan wajah berbinar. "Wah, coba Ibu lihat," Luna lalu menunjukkan beberapa mainan yang di belinya tadi. Aku tercengang ketika melihat harga di setiap mainan itu. Lalu aku menyuruh Luna untuk segera mandi dan beristirahat. Setelah mandi Luna mengatakan jika dia sudah sangat mengantuk dan ingin langsung tidur. Setelah Luna tertidur, aku lalu ke dapur untuk bertemu Bu Narti "Bu," Ucapku ketika melihatnya sedang minum. Bu Narti langsung memelukku dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. "Selamat ya Rin, semoga pernikahan ini jalan yang terbaik," Ucapnya penuh doa disetiap kata yang keluar. "Ini bukan sebuah pernikahan Bu," Jawabku "Rin. Apa pun itu, yang terpenting kamu bisa bahagiain anakmu. Kamu lihat wajah bahagianya tadi, apa kamu tidak bahagia melihatnya sesenang itu disini? Ingat kamu itu tidak boleh egois. Memang semua ini bukan layaknya sebuah pernikahan, tapi jika itu bisa membuat anakmu bahagia kenapa tidak Rin," Ucapnya panjang lebar. "Tapi, Bu, apakah jalan yang aku ambil ini sudah benar?" "Benar dan tepat. Kamu tidak salah Rin. Kamu berkorban untuk membuat anakmu bahagia. Jadi dimana letak kesalahannya," jawabnya untuk meyakinkan aku. "Baiklah Bu. Aku akan berkorban demi anakku bahagia. Karena hanya inilah yang bisa aku lakukan untuknya," ucapku kepada bu Narti. "Nah gitu dong. Ibu yakin kamu pasti bisa hidup bahagia layaknya seorang istri. Jadi bersabar saja sebentar ya," imbuhnya. Aku hanya mengangguk. Aku lalu teringat akan mainan yang Luna tunjukkan tadi. "Bu, itu barang-barang yang Luna beli kenapa harganya mahal semua dan kenapa banyak sekali belinya?" Tanyaku bingung bercampur takut. "Tuan Herman yang meminta Ibu untuk membelikan apapun yang anakmu inginkan dan Tuan juga tidak mau melihat anakmu pakai baju yang dibawa dari kampung karena terlihat sudah pada lusuh katanya." Ada rasa bahagia di hatiku ketika mengetahui jika tuan Herman peduli dengan anakku. Memang aku sudah lama tidak pernah membelikan baju untuk Luna, jadi wajar saja jika semua bajunya warnanya sudah memudar. "Tapi kenapa harus barang-barang yang mahal Bu?" Tanyaku penasaran. "Rin, sekarang kalian itu sudah berbeda. Jadi ya wajar dong jika semua barang-barang yang di beli itu harganya mahal," jawabnya. "Apa yang berbeda? Tidak ada yang berubah Bu. Aku takut jika semua ini di hitung hutang oleh Tuan dan Nyonya," Jawabku jujur dengan ketakutanku. "Tuan tidak membebankan semua itu sebagai hutang Rin. Jadi kamu jangan khawatir," Jawabnya untuk menenangkan aku. "Yang benar Bu? Jadi semuanya tadi murni pemberian Tuan tanpa embel-embel hutang?" Ucapku lagi untuk lebih meyakinkan pendengaranku "Iya. Ibu pastikan semua itu bukan hutang," jawabnya. "Ya sudah Ibu mau istirahat, capek seharian jalan-jalan sama Luna," Imbuhnya lagi. Setelah itu Bu Narti pergi meninggalkan aku sendiri di dapur. Aku sampai lupa menanyakan kepada Bu Narti tentang tuan Herman sangat lancar menyebutkan namaku tadi ketika ijab. "Airin!!!" Teriak tuan Herman. Aku sangat terkejut ketika mendengar teriakkannya yang menyerukan namaku. Aku langsung berlari ke kamar tuan. Ketika aku sudah berada di dalam kamar. Tuan Herman langsung berbicara dengan nada cukup tinggi. "Airin! Aku menyuruhmu untuk mengurus anakmu. Tapi kenapa setelah itu kamu tidak kembali kesini! Apa kamu tidak mau mengurus suami c*c*tmu ini!" Ucapnya dengan nada marah. "Ma-maaf Tuan. Ta-tadi," Belum juga kalimatku selesei tuan Herman sudah langsung memotong. "Tugasmu itu adalah mengurusku! Jadi jika kamu selesei mengurus anakmu. Kamu sudah harus berada di samping ku!" bentaknya lagi. "I-iya Tuan. Maafkan Saya," ucapku dengan rasa takut yang luar biasa saat itu. "Bantu aku naik keatas tempat tidur!" Pintanya dengan nada tinggi. Aku lalu mendorong kursi roda itu agar lebih dekat dengan tempat tidur dan setelah itu baru membantunya untuk bangkit dari kursi roda agar bisa berpindah ke kasur. Canggung sekali rasanya ketika aku harus merangkul tuan Herman. Tubuhku yang kecil ini sebenarnya tidak mampu menompang bobot tubuh tuan Herman yang begitu besar. Tapi, aku berusaha sekuat tenaga agar tuan Herman bisa bergeser naik keatas tempat tidur dan bisa segera beristirahat. Setelah berhasil naik keatas tempat tidur, tuan Herman lalu memintaku untuk mengambil kan laptop yang ada diatas meja kerjanya. "Ambilkan laptop yang ada di atas meja kerjaku," Aku lalu bergegas mengambil laptop itu. Setelah menerima laptop dari tanganku. Dia langsung membukanya. Matanya lalu fokus ke layar laptop itu tanpa menghiraukan aku yang masih berdiri di sampingnya. Setelah cukup lama berdiri, baru tuan Herman melihatku. "Kamu berdiri seperti itu gak capek?" Tanyanya dengan nada datar. "Ca-capek, tuan," jawabku jujur. "Kamu itu istriku bukan satpam. Masa duduk saja harus aku suruh," ucapnya lagi tanpa menoleh kearahku. Aku tidak menjawabnya namun aku langsung berjalan kearah sofa. Aku sandarkan bobot tubuhku di sofa itu sambil mataku melihat TV yang menyala. Karena acara ditelevisi itu tidak begitu menarik jadi membuatku mengantuk. Tanpa sadar aku tertidur. Aku terbangun ketika tuan memanggilku. "Rin. Airin. Bangun," ucapnya. Aku lalu mengucek kedua mataku dan langsung bangkit berjalan mendekat kearahnya. "Aku lapar! Buatkan makanan untukku. Ingat! Harus kamu yang memasak. Karena kamu itu sekarang istriku," perintahnya. "Ma-masak?" Tanyaku terkejut. "Iya. Jangan bilang kalau kamu tidak bisa memasak!" "Bi-bisa Tuan, tapi hanya masakkan kampung yang sederhana," "Terserah kamu mau masak apa. Mulai hari ini semua kebutuhanku harus kamu yang mengurusnya," "Ba-baik Tuan," Jawabku. Aku lalu meminta ijin untuk pergi ke dapur. Ketika aku sedang bingung di dapur Bu Narti datang. "Kamu mau ngapain Rin malam-malam di dapur?" Tanyanya yang bingung melihatku berada didapur. "Tuan menyuruhku untuk membuatkan makan malam untuknya," Jawabku. "Tumben? Biasanya kalau sudah jam segini Tuan tidak akan makan lagi," ucapnya dengan mimik wajah heran dengan permintaan tuan yang tidak seperti biasanya. "Aku tidak tahu Bu, tadi katanya Tuan lapar dan ingin makan makanan yang aku masak," jawabku. "Oalah. Itu artinya Tuan ingin merasakan masakan istri barunya. Ya sudah kamu masak saja apa yang kamu bisa," ucapnya sambil tersenyum. "Tapi aku tidak tahu apa masakan kesukaan Tuan," "Masak saja apa yang ada di kulkas Rin. Apapun yang kamu masak pasti Tuan makan," "Baik Bu," ucapku. Dan setelah itu aku langsung menuju kulkas untuk melihat ada apa saja yang bisa aku masak. Setelah melihat isi kulkas. Aku tersenyum karena disana ada satu papan tempe dan ada sawi juga. Tapi tidak ada ikan, ayam atau pun daging. Ah biar saja aku masak yang ada di kulkas, bukankah tadi Bu Narti bilang, kalau apa pun yang aku masak pasti tuan akan memakannya. Mungkin memang bu Narti juga belum sempat belanja sehingga tidak banyak bahan masakan yang tersisa. Aku lalu memotong tempe dan aku bumbui untuk aku goreng, sedangkan sawinya aku potong dan aku siangi setelah itu aku tumis. Masakan sederhana tapi sangat nikmat bagiku. Entahlah kalau menurut tuan Herman. Setelah selesai masak, aku lalu masuk kekamar untuk berganti baju dan sekalian melihat Luna. Luna sudah terbiasa tidur sendiri jadi aku tidak begitu khawatir meninggalkannya di kamar. Setelah selesai ganti baju, aku segera membawa makanan itu ke kamar tuan Herman. "Tuan. Ini makannannya," ucapku sambil membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk. Tuan Herman menyuruhku menaruh di di meja dan aku lalu membantunya untuk naik keatas kursi roda. Setelah itu mendorongnya ke meja tadi. "Kenapa piringnya cuma ada satu?" Tanyanya bingung karena memang aku hanya membawa satu piring. "Tuan mau nasi lagi?" Tanyaku balik. "Kamu tidak mau makan bersama saumi c*c*tmu ini," ucapnya dengan nada sedikit ditekan. "Ma-maksud Tuan. Saya juga harus makan bersama Tuan?" Tanyaku. "Cepat! Aku sudah lapar," ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku lalu mengambilkan nampan tadi dan menaruhnya di pangkuan Tuan Herman. Tuan Herman tidak bertanya apa pun tentang mengapa aku hanya memasak masakan sesederhana itu. Dia langsung menyendok nasi dan tumis sawi itu dan langsung menikmatinya tanpa mengeluh atau protes. Aku tidak tahu apakah dia suka atau tidak, karena ekspresi wajahnya terlihat datar. Tuan tidak menghabiskan makanannya. Lalu dia berikan nampan itu. "Kamu makan ini," Titahnya. Tuan Herman menyuruhku menghabiskan makanan yang sengaja dia sisakan di piring. "Ta-tapi," jawabku ragu. "Kenapa? Kamu jijik makan bekas suamimu? Kalau kamu jijik buang saja," Jawabnya dengan nada ketus. Aku merasa tidak enak dengannya. Jadi aku memakan nasi yang ada di piring itu. Melihatku menikmati makanan itu ada terukir senyum di wajah tampannnya itu. Setelah aku menghabiskan makananku. Aku lalu meminta ijin untuk membawa piring kotor itu ke dapur. Setelah dari dapur, aku kembali ke kamar tuan Herman. "Ingat! Mulai malam ini kamu tidur disini," capnya tanpa menoleh kearahku. Deg. Harus tidur disini. Apakah kami tidur seranjang? Apakah Tuan akan meminta haknya? Tidak! Itu sepertinya tidak mungkin. Bukankah Nyonya Laura sudah memberi batasan bahwa aku tidak boleh melayani tuan diatas ranjang. Dan lagi pula Tuan menikahi aku hanya untuk menjadi perawat baginya. Jadi tidak mungkin Tuan akan meminta hal itu dariku. Aku masih diam dan berdiri di tempatku. "Kenapa? Kamu tidak mau tidur dengan suamimu," tanyanya. "Ta-tapi Tuan," jawabku menggantung. "Kamu pikir aku akan memintamu melayaniku!" Aku hanya diam tidak menjawab satu kata pun. "Kamu tenang saja, aku ini tidak selera denganmu. Jadi buang jauh-jauh pikiran itu," imbuhnya. Ada rasa nyeri di d**a ketika tuan mengatakan jika tidak berselera kepadaku. Apakah aku seburuk itu? Atau mungkin karena pernikahan kami ini hanya formalitas saja. Sehingga tuan tidak berniat menyentuhku. Bukankah semua itu bagus, Setidaknya aku tidak membuat Nyonya Laura kecewa. Dan aku juga harus sadar diri bahwa laki-laki yang menikahiku ini adalah majikanku dan status itu tidak akan pernah berubah. Aku lalu berjalan kearah sofa. Aku berencana tidur di sofa, jadi ketika nanti tuan membutuhkan bantuan aku bisa segera datang. "Kamu mau kemana?" Tanyanya ketika melihatku berjalan kearah sofa. "Saya tidur di sofa saja Tuan," Jawabku. "Kita ini suami istri jadi untuk apa kamu tidur di sofa. Atau kamu memang sengaja tidak mau tidur denganku," ucapnya dengan tatapan tajam. Aku yang di tatap seperti itu menjadi sedikit menciut. "Bu-bukan seperti itu Tuan," jawabku dengan rasa takut. Aku lalu berjalan kearah ranjang dan langsung membaringkan tubuhku. Sedangkan Tuan Herman masih serius menatap layar laptopnya. "Kamu tidur saja, aku masih ada pekerjaan," Aku tidak menjawab. Aku lalu menarik selimut dan menutupi tubuhku dengan selimut. Kamar ini sangat dingin karena pendingin ruangannya tak pernah di matikan. Aku tidur membelakangi tuan Herman. Aku mencoba untuk menahan rasa ngantuk, namun sia-sia. Aku tertidur pulas. Aku terbangun ketika mendengar suara adzan subuh berkumandang. Namun betapa terkejutnya aku ketika aku membuka mata tangan tuan Herman berada di perutku. Apakah Tuan Herman memelukku dari semalam? Aku lalu melepas pelukan tuan Herman pelan-pelan karena aku takut jika dia terbangun dan marah kepadaku. Setelah berhasil lepas dari pelukannya, aku lalu berjalan pelan menuju pintu. Aku lalu keluar dan segera mandi dan berwudhu agar bisa segera menunaikan sholat Subuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN