Apakah tuan Herman memelukku semalam? Aku takut jika aku terus tidur denganya di ranjang yang sama nanti lama-lama tuan Herman akan meminta haknya sebagai suami.
Tapi, jika aku menolaknya maka aku akan berdosa dan jika aku melayaninya maka aku akan mengecewakan nyonya Laura.
Herman Diningrat iya itulah suamiku sekarang. Suami yang menikahiku karena butuh seseorang yang bisa merawatnya dua puluh empat jam.
Entah benar atau salah jalan yang aku ambil saat ini. Tapi, begitu melihat anakku tersenyum bahagia membuatku semakin yakin untuk menjalani pernikahan ini.
Aku membantu bu Narti di dapur untuk membuat sarapan. Setelah selesai kami berlima lalu makan bersama. Tuan dan nyonya jarang sekali makan pagi, itu yang aku dengar dari bu Narti.
Selesei sarapan aku menjalankan kegiatan seperti kemarin yaitu hanya mengurus tuan Herman. Aku bahkan sudah mulai tidak punya waktu untuk mengurus Luna lagi.
Tuan memerintahkan bu Narti yang bertanggung jawab atas Luna agar aku fokus mengurusnya.
***
Seperti malam kemarin, Luna harus tidur bersama bu Narti, sedangkan aku tidur di kamar tuan Herman.
Karena sudah jam sembilan malam aku lalu masuk ke kamar tuan Herman setelah menemani Luna tidur.
Ketika aku masuk kedalam kamar, tuan Herman masih sibuk dengan laptopnya. Jujur saja aku mulai mengantuk. Tapi aku takut jika harus tidur terlebih dahulu.
"Tidur saja kalau kamu sudah mengantuk," ucapnya tanpa menoleh.
"Ba-baik, tuan," jawabku. Aku lalu mengambil bantal dan langsung berbaring di bawah samping tempat tidur.
Melihatku yang mulai merebahkan tubuhku, tiba-tiba dia berucap.
"Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di bawah?" ucapnya dengan nada ketus sambil melihat kearahku.
Aku bingung dengan ucapan tuan Herman lantas harus tidur dimana? Namun aku tidak berani bertanya. Lalu aku bangkit dan berjalan menuju sofa yang ada di dekat jendela dan ketika aku akan merebahkan tubuhku. Lagi-lagi tuan Herman melarangku lagi.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa," ucapnya lagi.
Karena aku bingung harus tidur di mana. Lalu aku putuskan untuk keluar kamar, mungkin saja sebenarnya tuan Herman mengijinkan aku tidur dengan Luna. Namun ketika aku akan membuka pintu lagi-lagi tuan Herman bertanya kepadaku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya sambil menatap kearahku.
"Ma-mau tidur," jawabku sambil melihat kearahnya yang sedang menatap layar laptop.
"Bukankah tadi aku sudah memberitahu mu jika kamu harus tidur disini,"
"Tapi, saya bingung mau tidur dimana Tuan. Dari tadi Tuan melarang saya tidur dilantai sama disofa, jadi saya harus tidur dimana?" tanyaku dengan rona wajah kebingungan.
"Kamu itu sekarang istriku. Jadi kamu tidur diranjang ini. Bukankah kemarin malam juga kamu tidur dikasur bersamaku,"
"A-apa! Ti-tidur di ranjang lagi?" jawabku dengan mimik wajah terkejut.
"Apa harus aku menjelaskan lagi?"
"Ti-tidak, Tuan,"
"Kamu tidak usah takut. Aku tidak mungkin meminta hak sebagai suami. Atau jangan-jangan kamu j*j*k tidur dengan orang c*c*t!" jawabnya dengan nada ketus. Sepertinya tuan Herman sangat mudah marah dan mudah tersinggung apabila aku tidak menuruti kemauannya.
"Ti-tidak seperti itu Tuan, baiklah saya tidur dikasur," jawabku mengalah.
Aku lalu berjalan mendekat kearah ranjang dan dengan pelan aku menaiki ranjang. Aku langsung membaringkan tubuhku dengan membelakangi tuan Herman. Jujur aku sangat kikuk dengan posisi seperti ini. Karena baru kali ini aku satu ranjang dengan laki-laki selain almarhum Suamiku dulu.
Sepertinya Tuan Herman tahu jika aku kikuk dan tidak nyaman.
"Sudah kamu tidur saja. Tidak usah berpikir macam-macam. Nanti kalau aku butuh sesuatu aku pasti membangunkan mu,"
Aku hanya mengangguk sebagai tanda mengerti, karena hari ini aku sangat lelah dan juga sudah sangat mengantuk akhirnya aku tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun karena merasa sangat haus. Aku lalu bangkit dengan pelan agar tak membangunkan tuan Herman yang terlelap disampingku.
Aku lalu ke luar kamar dan langsung menuju dapur untuk mengambil air minum.
Setelah selesai membasahi tenggorokan ku. Aku mengintip Luna, karena dia tidur terlalu sore, aku takut kalau tengah malam dia terjaga dan mencariku.
Aku membuka pintu sangat pelan, agar Luna tidak terganggu. Aku tersenyum bahagia melihatnya Luna tidur sangat nyenyak dipelukan bu Narti. Mungkin Luna pikir yang memeluknya adalah aku. Sehingga dia sangat nyenyak dan nyaman tidurnya.
Aku lalu kembali ke kamar tuan Herman. Karena masih tengah malam aku lalu melanjutkan tidur.
Ketika aku sedang terlelap, tiba-tiba aku merasa ada yang mengusap pipiku dengan lembut. Aku langsung terbangun dan melihat kearah tuan Herman. Tapi, ketika mataku melihat kearahnya tuan Herman terlihat sedang tidur. Lalu siapa yang mengusap pipiku.? "bathinku"
Aku lalu kembali tidur dengan posisi seperti tadi yaitu membelakangi tuan Herman.
Aku bangun ketika mendengar suara adzan berkumandang. Aku langsung bergegas mandi dan melaksanakan sholat subuh di kamar Luna.
Sekalian aku membangunkan Luna untuk mengajaknya sholat berjamaah.
"Nak, ayo bangun sudah subuh," ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.
Luna menggeliat sambil mengucek matanya.
"Eh, Ibu, kerjanya sudah selesai?" tanyanya sambil sedikit menguap.
"Kerja?" tanyaku balik.
"Iya tadi malam nek Narti memberitahu aku, kalau mulai sekarang Ibu kerja dengan orang yang ada di kamar itu. Jadi kalau malam nenek yang tidur denganku," jawabnya polos.
Aku mulai mengerti arah pembicaraan Luna.
"Oh, iya, Ibu mulai kerja sekarang agar Luna bisa membeli mainan seperti kemarin,"
"Bener Bu? Aku boleh beli mainan lagi di mall?" tanyanya dengan wajah sumringah.
"Bener dong sayang, ibu kerja kan untuk nyenengin Luna," ucapku sambil mengecup keningnya.
"Ya sudah sekarang Luna mandi dan kita sholat bareng. Tunjukkan rasa syukurmu kepada Allah," Imbuhku.
"Siap, Ibu sayang," jawabnya dengan senyum yang mengembang di bibir mungilnya.
Lalu aku menyuruh Luna untuk segera mandi. Dan setelah mandi kami sholat Subuh berjamaah.
Setelah sholat, aku kedapur untuk mencari bu Narti karena tadi aku tidak melihatnya berada dikamar. Pastinya dia sudah bengun dan kemungkinan berada didapur saat ini.
Benar saja ketika aku kedapur, aku melihatnya sedang sibuk memilah sayuran.
"Ibu mau masak apa?"
"Belum tahu Rin karena tuan Herman jarang mau sarapan. Palingan Ibu masak untuk kita berlima sarapan," jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, bagaimana jika aku saja yang masak untuk kalian,"
"Tapi nanti bagaimana kalau tuan Herman bangun?"
"Ini masih terlalu pagi Bu, sepertinya tuan Herman belum waktunya bangun. Karena aku lihat tadi malam tuan Herman tidurnya larut malam,"
"Tuan Herman kalau tidur memang sering tengah malam," jawabnya.
Aku lalu menyuruh Bu Narti duduk.
"Ibu duduk saja di sana, biar pagi ini aku yang buat sarapan,"
"Yang benar kamu yang buat sarapan?"
"Benar dong Bu, masa bikin sarapan saja aku gak bisa sih," jawabku sambil tersenyum.
"Pasti bisa, ibu yakin akan hal itu. Cuma Ibu agak tidak yakin kamu bisa seleseikan masakanmu sebelum tuan Herman berteriak memanggilmu," jawabnya sambil tertawa mengejekku.
"Kita masak yang simpel dan cepat saja Bu. Jadi aku jamin sebelum tuan bangun sarapan sudah matang," jawabku dengan penuh percaya diri.
Bu Narti lalu duduk di kursi seperti yang aku suruh tadi, sedangkan aku lalu membuka kulkas untuk mencari bahan masakan yang mau aku olah.
Setelah menemukan bahan-bahan yang akan aku olah. Aku lalu segera menyiangi dan membuat bumbu. Setelah bumbu selesei aku langsung menumisnya dan setelah itu aku masukkan bahan-bahan yang aku siangi tadi seperti sawi, kol, telur dan yang terakhir nasi. Aku membuat sarapan nasi goreng ala kampung yang biasa aku masak untuk sarapan Luna.
Sambil memasak aku bertanya kepada bu Narti.
"Bu, kenapa Tuan dan Nyonya tidak tidur satu kamar? Bukankah sebaiknya suami dan istri itu tidur di ruangan yang sama?" Tanyaku penasaran.
"Itu bukan urusan kita. Pokoknya disini kamu tidak perlu mencari tahu yang bukan menjadi urusan kita. Tugas kita disini melayani mereka," Jawabnya. Aku merasa jika bu Narti enggan memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi antara tuan dan nyonya.
"Aku takut saja Bu. Bagaimana pun tuan adalah laki-laki normal," Ucapku dengan sedikit pelan. Karena aku malu jika ada yang mendengar.
"Kamu takut jika tuan meminta haknya?" ucapnya
"Iya, Bu. Ibu kan tahu sendiri jika Nyonya Laura tidak mengijinkan kami untuk bersentuhan," jawabku.
"Rin. Kamu dan Tuan itu sudah sah menjadi suami istri. Jadi seandainya Tuan meminta haknya itu sudah sangat wajar. Lalu dimana letak kesalahannya?" ucapnya. Aku terkejut mendengar ucapan bu Narti karena dia tahu betul apa yang di larang oleh Nyonya Laura. Tapi kenapa dia kali ini seperti mendukung aku untuk melayani tuan Herman layaknya pasangan suami Istri?
"Ibu kan tahu apa larangan yang Nyonya Laura berikan kepadaku."
"Larangan Nyonya itu tidak berlaku lagi Rin setelah kamu sah menjadi istri tuan Herman. Karena itu adalah kewajiban sebagai seorang istri dan kamu berdosa jika menolaknya," Jelasnya.
"Aku takut bu jika nanti Nyonya mengetahui hal itu dan memintaku untuk mengembalikan uangnya lagi."
"Rin. Apakah kamu akan memberitahu Nyonya jika seandainya tuan meminta haknya?" Tanyanya.
"Bukankah itu hal yang tabu jika kamu memberitahu Nyonya."Imbuhnya.
Aku lalu mengangguk mendengar penuturan bu Narti.
"Nah. Kamu faham maksud Ibu kan? Layani saja tuan karena mau tidak mau, suka tidak suka tuan saat ini adalah suamimu," ucapnya lagi. Kami tak lagi melanjutkan pembicaraan itu karena tiba-tiba Iyem masuk ke dapur. Aku melanjutkan memasak sedangkan bu Narti hanya memperhatikanku yang sedang sibuk mengolah nasi goreng. Dia sepertinya sedikit terkesan dengan caraku memasak yang cekatan.
Setelah selesai memasak, aku memanggil Luna untuk aku ajak sarapan bersama yang lainnya.
Luna pasti sangat senang sarapan rame-rame seperti ini. Karena biasanya dia hanya akan makan sendirian karena aku membuat nasi goreng hanya untuknya. Bukan karena aku tidak mau makan nasi goreng, tapi karena hanya itulah nasi yang tersisa. Jadi aku prioritaskan Luna terlebih dahulu.
Karena aku tidak bisa memberikan uang saku untuknya sekolah. Setidaknya jika dia sarapan, jika perut kenyang pasti bisa konsentrasi dalam belajar.
Aku sangat bersyukur Luna tidak pernah protes ataupun marah jika aku tidak bisa memberinya uang saku. Luna hanya akan berkata.
"Ibu lagi tidak punya uang ya?" tanyanya dengan wajah polosnya.
"Iya, nak, maafin Ibu ya,"
"Ibu tidak perlu minta maaf, Luna kan sudah sarapan enak jadi tidak perlu uang saku. Ibu nanti makan ya kalau Luna sudah berangkat sekolah," ucapnya dengan wajah penuh senyum.
"Iya sayang," jawabku.
Luna selalu menyisakan nasi di piringnya walaupun hanya beberapa suap, bagiku itu cukup untuk mengganjal perutku sementara. Setidaknya aku punya tenaga untuk mencoba mengais rejeki.
Sedih. Itulah yang aku rasakan ketika melihatnya pergi kesekolah tanpa uang saku. Karena aku yakin di hati kecilnya dia pasti ingin seperti teman-temannya yang bisa jajan di sekolahan.
Aku hanya bisa mengelus d**a. Dan berharap ada keajaiban untukku dan Luna.
Mungkin inilah jawaban doa-doaku. Walaupun cara ini tidak lah benar menurut sebagian orang tapi aku tidak peduli. Aku yang melihat penderitaan anakku. Jadi tidak ada orang yang mengerti betul bagaimana sedihnya aku saat itu.
Mereka acuh dengan penderitaan orang disekitarnya tapi sangat cepat jika untuk menilai kesalahaan orang.
Aku yakin apa yang aku lakukan saat ini bisa membuat Luna bahagia.