Bersikap manis

1639 Kata
Setelah selesai sarapan. Aku lalu menyuruh Luna untuk bermain. Karena aku akan kembali masuk ke kamar tuan Herman. Aku mau melihat tuan sudah bangun atau belum. Jika sudah bangun aku akan menawarinya untuk sarapan. "Bu, aku masuk ke kamar tuan dulu ya. Karena takutnya tuan sudah bangun dan ingin ke kamar mandi, sekalian mau menawari tuan untuk sarapan," "Rin, jangan kamu tawari tuan sarapan kalau dia tidak memintanya." "Tapi, kalau tidak sarapan, nanti tuan bisa sakit," ucapku. "Tuan itu sudah biasa tidak sarapan. Palingan dia hanya minta dibikinkan teh hangat." "Apa lebih baik aku bikinkan sekalian Bu?" tanyaku. "Rin, pokoknya disini itu kalau tuan dan nyonya tidak meminta jangan di tawari. Karena kadang mereka bisa marah dengan hal sepele seperti it," "Ya sudah kalau begitu Bu. Aku ke kamar tuan dulu," Ucapku. Lalu aku pamit kepada bu Narti sambil menitipkan Luna kepadanya. Bukan aku tidak mengindahkan perkataan bu Narti tapi aku akan mencoba menawari tuan Herman, siapa tahu kali ini tuan mau sarapan. Ketika aku masuk ternyata tuan Herman sudah bangun dan selesei mandi. Jujur aku sangat terkejut, bagaimana bisa tuan Herman bisa bangkit dari tempat tidur dan bisa beralih ke kursi roda tanpa bantuan ku? Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah tuan baru selesai mandi. Apakah aku ini bermimpi? Aku lalu mencoba mencubit kulit tanganku untuk mencaritahu apakah ini nyata ataukah hanya mimpi. Setelah mencubit tanganku dan terasa sakit, aku jadi tahu jika ini adalah kenyataan bukan mimpi. "Tu-tuan, maaf tadi saya di dapur sedang membuat sarapan," ucapku dengan sedikit takut. "Mana sarapannya?" tanyanya kepadaku. "Tuan mau sarapan?" tanyaku balik dengan mimik wajah sedikit terkejut. Iya," jawabnya datar. Aku lalu bergegas kembali ke dapur untuk mengambil nasi goreng dan membuatkan teh hangat untuknya. Ketika aku sedang di dapur tiba-tiba Reni datang menegurku. "Ngapain kamu!" ucapnya ketus. "Lagi buat teh untuk Tuan." Jawabku. "Enak ya jadi kamu gak perlu capek kerja tapi gajinya gede," Ucapnya lagi dengan nada masih ketus. "Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti." "Halah! Tidak usah pura-pura polos dan b*g* deh Rin. Kamu mau jadi istri kedua tuan Herman saja sudah menunjukkan jika kamu itu sebenarnya munafik," Ucapnya ketus. Reni lalu pergi begitu saja setelah berbicara cukup kasar padaku. Aku yang tidak mau ribut jadi tidak membalas ucapannya. Aku lalu kembali masuk kedalam kamar tuan Heman sambil membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring nasi goreng. "Duduk dan suapi aku," Titahnya ketika melihatku. Aku tak banyak bicara. Aku lalu duduk di depannya dan mulai menyuapinya. Sebenarnya ingin sekali aku bertanya. Bagaimana tuan Herman bisa bergeser duduk di kursi roda. Tapi, rasa takutku lebih besar dari rasa penasaranku. Jadi aku hanya memendamnya dalam hati. Aku langsung menyuapi tuan Herman dengan nasi goreng yang aku buat tadi. Setelah selesai makan, tuan Herman memintaku untuk duduk didekatnya. "Siapa nama anakmu?" "Luna, tuan." "Apa rencana kedepan untuk anakmu?" "Saya ingin menyekolahkan Luna di sekolah yang dekat dari sini Tuan." "Sekarang aku adalah suamimu. Jadi anakmu adalah anakku." Jujur aku sangat terkejut mendengar tuan Herman mau menerima Luna dan bahkan dia juga menganggap Luna sebagai anaknya. "Aku mau memasukkan anakmu ke sebuah asrama. Disana dia akan bersekolah dan tinggal. Jadi ketika libur sekolah baru bisa pulang." "Ta-tapi tuan, Luna masih terlalu kecil jika harus berpisah jauh dari saya." "Kamu tidak perlu khawatir. Disana anak mu akan di perlakukan dengan sangat baik." "Ta-tapi Tuan." "Aku sekarang yang bertanggung jawab atas kamu dan anakmu. Jadi apapun yang akan aku lakukan itu semua demi masa depan anakmu FAHAM!" Ucapnya sambil menekan kata Faham. "Tuan, maaf, bukan maksud saya menolak niat baik Anda. Tapi, Luna masih terlalu kecil jika harus tinggal di asrama." "Disana dia pasti di perlakukan dengan sangat baik. Karena aku adalah pemilik asrama itu. Jadi otomatis anakmu adalah anak pemilik asrama itu, jadi, siapa yang akan berani macam-macam dengan anak pemilik asrama?" "Tolong beri waktu saya untuk berpikir dan menanyakan kepada Luna terlebih dahulu Tuan. Karena saya tidak bisa memberi jawaban sebelum bertanya kepadanya." "Aku tidak suka jika di bantah! Aku adalah kepala rumah tangga. Jadi aku tidak mau perintahku di tentang atau di tolak!" "Besok pagi kita akan melihat asramanya. Jika anakmu tidak suka, maka, Dia boleh sekolah di tempat yang kamu pilih." "Ba-baik, Tuan." Setelah itu aku lalu ijin keluar untuk membawa nampan berisi piring bekas tempat nasi goreng tadi. "Tolong panggil bu Narti kesini." pintanya. "I-iya, Tuan," "Jangan masuk jika aku tidak memanggilmu." "Baik Tuan." Setelah itu aku langsung keluar menuju dapur dan sekalian mencari bu Narti di kamar Luna. "Bu dipanggil Tuan," ucapku kepadanya. "Tumben? Ada apa Tuan memanggilku?" "Aku tidak tahu Bu. Ibu bisa tanya langsung saja kepada Tuan." Setelah itu bu Narti langsung pergi ke kamar tuan Herman. Sedangakan aku lalu menggantikan bu Narti mengurus Luna. Setelah bu Narti pergi. Aku bertanya kepada Luna. "Nak, apa kamu senang tinggal disini?" tanyaku sambil menyisir rambutnya. "Senang banget Bu. Apalagi sebentar lagi Luna akan sekolah di tempat yang bagus." jawabnya dengan wajah bahagia. Aku terkejut mendengar Luna membahas tentang sekolah, karena aku belum membicarakan hal itu dengannya. "Luna mau sekolah?" "Mau banget Bu. Luna ingin sekolah sampai jadi seorang Sarjana. Luna ingin menjadi seorang Dokter, agar Luna bisa mengobati orang yang sakit di kampung." jawabnya dengan semangat. "Kenapa Luna ingin menjadi Dokter?" "Luna tidak mau banyak orang yang seperti Bapak. Sakit, tapi tidak bisa berobat karena mahal." jawabnya dengan raut wajah sedih. Aku kagum dengan Luna. Karena, di usia sekecil itu dia sudah sangat dewasa dalam berpikir. "Nak, jika, mau sekolah tinggi, harus belajar yang rajin." "Iya Bu. Luna pasti akan rajin belajar. Luna janji akan membuat Ibu bangga." Aku semakin kagum dengan anak semata wayangku. Cita-citanya sangat mulia. Semoga saja tuan Herman benar-benar membuktikan ucapannya. "Nak, besok pagi majikan Ibu mau mengajak kita untuk melihat tempat kamu akan di daftarkan sekolah." "Bener, bu?" tanyanya antusias. "Iya, nak. Tapi di sekolahan itu kamu tidak boleh pulang kesini, harus tinggal disana." "OOO, Seperti di kampung ya Bu? Itu lho seperti mbak Tika yang sekolahnya mondok," awabnya dengan polos. Luna memang memiliki seorang teman yang sekarang di pondok pesantren. "Iya nak, tapi yang ini sedikit berbeda dengan pondok pesantren." "Gak apa-apa Bu. Yang penting Luna bisa bersekolah tinggi dan bisa menjadi Dokter, seperti yang bapak inginkan," jawabnya. Aku langsung memeluknya. Aku terharu dengan anakku yang begitu dewasa dalam berpikir. Setelah selesai menyisir rambutnya, aku lalu menyuruh Luna untuk menonton televisi. Sedangkan aku kembali masuk kedalam kamar tuan Herman. Luna sangat senang karena bisa menonton televisi dengan bebas. Ketika dikampung kami tidak memiliki televisi, jadi, jika ingin menonton harus menumpang di rumah tetangga, itupun kadang mereka menyuruh kami menonton dari jendela saja karena lantai rumahnya baru saja di pel. Akan tetapi Luna tidak pernah sedih jika di perlakukan seperti itu oleh mereka. Dia sangat sadar diri jika dia harus menghormati sang pemilik rumah. Karena tuan Herman masih bicara dengan bu Narti, aku jadi belum berani untuk masuk kedalam kamar. Aku lalu mengumpulkan baju kotor Luna dan mencucinya di kamar mandi. Karena baju kotor Luna hanya beberapa lembar, aku memutuskan untuk menguceknya di kamar mandi saja. Jadi nanti tinggal jemur di belakang. Setelah selesai mencuci dan menjemurnya, aku kembali masuk kedalam kamar tuan Herman. Karena aku lihat Bu Narti sudah berada di dapur. Itu tandanya mereka sudah selesai berbicara. "Kamu dari mana?" tanyanya tanpa melihat kearahku. "Nyuci bajunya Luna, Tuan." Mendengar jawabanku, tuan Herman langsung menoleh kearahku. "Kamu itu istriku bukan pembantu." hardiknya. "Ta-tapi Tuan." "Tugasmu adalah melayaniku sebagai seorang Suami! Bukan sebagai majikan. Kamu itu adalah istriku!!!" "Ma-maaf Tuan." "Ya, sudah! Lain kali jangan mengerjakan sesuatu tanpa perintah dariku," Jawabnya kembali datar. Aku tak lagi menjawab. Aku lalu duduk di bawah di samping kursi rodanya. "Kamu tidak bisa melihat di situ ada kursi." ucapnya tanpa menoleh. Aku lalu bangkit dan duduk di kursi. Aku bingung dengan tuan Herman. Dia menikahiku agar ada yang merawatnya. Tapi, giliran aku melakukan pekerjaan yang bagiku hal biasa dia marah dengan mengatakan aku bukan pembantu. Jadi sebenarnya aku ini di anggap istri atau perawat baginya? Membuatku jadi bingung dengan statusku ini. *** Jam makan siang hampir tiba. Aku bergegas ke dapur untuk memasak. Setelah menyiangi beberapa sayuran dan ikan. Aku langsung mengolahnya. Tuan Herman kemarin mengatakan apapun yang aku masak dia akan memakannya. Jadi aku tidak repot harus menyiapkan makanan kota. Dan sepertinya bu Narti tahu jika tuan Herman mau memakan masakanku. Karena sejak tadi aku memasak tak ada protes atau pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Dia hanya sibuk menyiapkan masakan untuk yang lainnya. Setelah selesai memasak, aku bergegas mandi. Setelah mandi aku langsung masuk kedalam kamar tuan Heman dengan nampan yang berisi makan siang. "Rin. Aku mau makan di meja makan bersama anakmu," ucapnya ketika aku baru masuk kedalam kamar. Aku terkejut mendengar tuan Herman ingin makan bersama Luna. "Ba-baik Tuan." Lalu aku keluar dengan membawa nampan yang tadi dan menyajikannya di meja makan. Setelah itu aku kembali ke kamar untuk mendorong kursi roda tuan Herman ke meja makan. Setelah tuan Herman di meja makan. Aku segera memanggil Luna yang sedang asyik menonton televisi. "Nak. Ayo makan siang bersama majikan Ibu." "Majikan Ibu? Eeehhhmmm, ok deh."Jawbanya dengan senyum terukir di bibirnya. Luna lalu berdiri dan mengekor di belakang ku. Ketika sampai di meja makan. Luna terlihat sedikit terkejut ketika melihat tuan Herman "Wah, majikan Ibu ganteng juga ya seperti artis di TV." sanjungnya dengan wajah polos tanpa dosa. Jantungku berdegup kencang mendengar Luna spontan mengatakan itu. Aku takut jika tuan Herman marah dan tidak suka sanjungan yang Luna lontarkan. "Masa Om seganteng itu?" Tanya tuan Herman dengan sangat lembut. Aku sedikit terkejut dengan cara bicara tuan Herman ketika bertanya kepada Luna. "Iya, Om, ganteng seperti orang-orang yang ada di TV." Tuan Herman tertawa mendengar jawaban polos Luna. Tuan Herman menyuruhku untuk duduk di samping Luna dan setelah itu kami makan bersama. Kami makan layaknya keluarga. Keakraban Luna dan tuan Herman terlihat sangat jelas. Aku sendiri bahkan terkejut tuan Herman bisa bersikap semanis itu kepada anakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN