Berangkat ke asrama

2287 Kata
Setelah makan siang. Tuan Herman mengajakku dan Luna untuk pergi. "Rin, amu ganti baju. Kita akan pergi keluar dan bawa anakmu sekalian." "Ba-baik Tuan." Jawabku. Aku lalu berdiri dari kursiku dan langsung menuju kamar untuk berganti baju. Sedangkan Luna masih duduk di meja makan bersama tuan Herman. Mereka terlihat sangat akrab, orang tidak akan menyangka jika Luna adalah anak tirinya, mereka terlihat sangat dekat walaupun baru berkenalan. Aku saja sampai bingung dan heran karena tuan Herman ternyata sangat manis terhadap anak-anak. Melihatnya seperti itu semakin menunjukkan jiwa kebapakkannya. Setelah berganti baju, aku lalu bergabung bersama mereka. "Bu Narti."seru tuan Herman dengan nada sedikit keras. Tak berselang lama bu Narti datang mendekat kearah tuan Herman. "Iya Tuan." jawabnya. "Ayo kita berangkat." ajak tuan. Aku senang mendengar bu Narti ikut pergi bersama kami. Kami lalu berjalan menuju mobil. Bu Narti dan Luna berjalan di depan sedangkan aku di belakang mereka sambil mendorong kursi roda tuan Herman. Supir lalu membantu tuan Herman agar bisa naik kedalam mobil. Dan setelah itu mobil melesat membawa kami ke sebuah boutique. Tuan Herman turun di bantu oleh supir, karena aku tidak kuat mengangkat bobot tubuh tuan Herman. Setelah duduk di kursi rodanya, aku lalu mendorongnya. Tuan Herman mengajak aku masuk kedalam boutique itu. Sedangkan Luna dan bu Narti melanjutkan perjalanan entah pergi kemana mereka berdua. Ketika kami masuk kedalam Boutique, kami disambut oleh beberapa karyawan. Para karyawan di sana sangat ramah dan sopan kepada tuan Herman. Sangat berbanding terbalik denganku, mereka seperti memandang remeh kearahku. Mereka terlihat sangat senang melihat kedatangan tuan Herman. "Pak Herman." seru seorang wanita dengan menggunakan blazer berwarna hitam. Tuan Herman tersenyum kearah wanita itu. Lalu perempuan itu mencium kedua pipi tuan Herman. Aku yang melihat hal itu lalu memalingkan wajah, bagi orang kampung sepertiku ada rasa malu ketika melihat hal semacam itu. "Tumben pak Herman datang sendiri kesini, biasanya juga kami yang kerumah," ucapnya dengan senyum yang menawan. "Angel, tolong kamu pilihkan baju-baju yang cocok untuk wanita ini." pintanya sambil menunjuk kearahku. Angel lalu melihat kearahku, dan tersenyum ramah. "Siapa itu Pak? Tumben bawa perempuan sampai di beliin baju?" tanyanya dengan mimik wajah penasaran. "Dia. Istri keduaku," jawabnya santai. Aku terkejut, karena ternyata tuan Herman tidak malu menyebutku sebagai istrinya. Jujur ada perasaan senang di hati ini ketika mendengar hal itu. Tapi sangat berbeda dengan Angel. Dia sangat terkejut ketika mendengar jawaban tuan Herman. "Apa! Istri kedua? Lantas Bu Laura?" tanyanya bingung. "Macam kamu tidak tahu bagaimana kelakuan Laura saja," jawabnya santai. "Ya, bukan seperti itu Pak, aku cuma penasaran aja. Walaupun kalian sahabat ku. Tapi aku tidak mengerti dengan cara berpikir Laura," ucapnya santai tak seformal tadi. "Sudah. Kamu pilihkan baju-baju yang cocok untuk Airin," perintahnya. "Siap Bos." Lalu Angel mengajakku untuk memilih beberapa baju. Aku bingung harus memilih yang model seperti apa. Karena memang tidak tahu model baju mana yang cocok untukku. Karena aku kebingungan, lalu aku meminta Angel untuk membantuku untuk memilihkan model yang cocok untukku. "Maaf, Bu. Bisa tolong pilihkan baju untuk Saya. Jujur saya bingung harus memilih," ucapku polos. "Ha--ha--ha, aduh Rin. Kamu itu polos banget jadi orang. Pantas Laura memilihmu untuk jadi madunya," jawabnya sambil tertawa. Aku hanya menunduk mendengar Angel mengatakan hal itu. "Ayo sini ikut aku, biar aku pilihin baju yang cocok untukmu dan seleranya Herman," ajaknya dengan lembut dan sopan. Aku lalu mengekor di belakangnya. Angel memilihkan beberapa potong baju untukku. Mataku membulat ketika melihat harga-harga yang tertera di baju itu. "Maaf Bu. Apa tidak ada baju yang murah?" "CK, Rin. Kamu jangan takut jika suamimu itu tidak bisa membayarnya untukmu. Herman bahkan bisa membeli semua isi boutique ini kalau dia mau," jawabnya sambil berdecak. "Ta-tapi Bu." "Sudah, pokoknya kamu serahkan kepadaku. Kamu sekarang coba pake yang ini dan baju lusuhmu itu buang saja." Angel memberikan sebuah dres berwarna hitam kepadaku. Aku lalu berganti baju di ruang ganti. Dan ketika aku keluar aku terkejut karena tuan Herman sudah berada di depan ruang ganti. Tuan Herman melihatku dari bawah sampai atas dan tersenyum. Entah aku tidak tahu apa maksud senyum itu. "Bagaimana? Baguskan pilihanku," ucap Angel kepada tuan Herman. "Kamu memang bisa di andalkan," puji tuan Herman kepada Angel. "Jelas dong," jawab Angel dengan bangga. Lalu tuan Herman mengajakku untuk ke meja kasir, karena dia harus membayar semua baju-baju yang Angel pilih tadi. Setelah selesai membayarnya, kami pergi dengan mobil yang baru datang. Entah itu mobil siapa, aku tidak tahu, karena begitu kami keluar dari boutique ada seorang supir yang langsung membantu tuan Herman untuk naik keatas mobil. Di dalam mobil kami tak banyak bicara. Aku hanya diam karena masih terkejut dengan nominal yang habis untuk membeli bajuku tadi. Aku takut jika itu di hitung sebagai hutang. Melihatku yang sedang melamun, tiba-tiba tuan Herman bertanya kepadaku. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya dengan datar. "Ti-tidak ada Tuan," "Jangan banyak berpikir. Apapun yang kamu terima ini sebagai hadiah dari ku," tuturnya. Sepertinya tuan Herman tahu tentang ketakutanku. Aku lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. "Laura masih dua minggu di luar kota." Entah aku tidak tahu apa maksud tuan Herman memberitahuku tentang istri pertamanya. "Tuan, kita mau kemana?" "Kita akan ke tempat anakmu bermain," jawabnya. Aku bertanya seperti itu karena mobil masuk kedalam parkiran sebuah mall. Tuan Herman meminta supir untuk ikut masuk kedalam mall dan memintanya mendorong kursi rodanya. Sedangkan aku berjalan di sampingnya. Kami menuju sebuah cafe. Tuan Herman lalu memesan makanan dan minuman untuk kami. Setelah pelayan pergi. Tuan Herman lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. [ Hallo, bagaimana? ] [ Bagus. Pokoknya ikuti kemanapun dia pergi dan dengan siapa saja dia bertemu. ] Setelah itu tuan Herman mengakhiri panggilan teleponnya. Dan tak berselang lama pesanan datang. Tuan Herman menghubungi seseorang lagi. [ Kami di cafe yang biasa kita makan, ] ucapnya. Aku jadi tahu siapa orang yang di telepon oleh tuan Herman. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit. Akhirnya aku melihat Luna datang dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Ibu, lihat. Luna beli ponsel, beli baju baru, dan beli mainan baru lagi," ucapnya dengan wajah bahagia. "Wah, Alhamdulillah, sudah bilang terima kasih belum sama Nenek?" tanyaku pada Luna. "Sudah tapi kata Nenek, Luna harus bilang terima kasihnya sama Om ganteng," jawabnya polos dengan melihat kearah tuan. Aku lalu melihat kearah bu Narti lalu dia tersenyum kearahku. "Om ganteng. Terima kasih banyak untuk semuanya. Om baik deh. Luna doain semoga kaki Om cepat sembuh dan Om bisa berjalan lagi," ucapnya polos dengan mimik wajah gembira. Tuan Herman tersenyum mendengar Luna. "Amin. Terima kasih doanya gadis cantik," jawabnya dengan lembut. "Om. Tadi Nenek juga beliin ponsel untuk Ibu lho," "Wah, pasti ibunya Luna senang," jawabnya seolah kaget. "Tapi, Ibu itu tidak bisa menggunakan ponsel Om," "Memang Luna bisa?" "Ya belajar dong Om. Kalau Ibu mana bisa belajar Om, kan Ibu harus bekerja ngurus Om. Jadi mana sempat belajar menggunakan ponsel," jawabnya polos. "Nanti biar Om yang mengajari ibunya Luna. Kamu senang dengan semua yang Om belikan?" "Senang banget Om. Luna dari dulu pengen sekali punya ponsel, punya mainan, punya baju baru, jadi tidak di hina lagi sama teman-teman Luna di kampung." "Memang teman-teman Luna, suka menghina Luna?" tanyanya dengan nada menyelidik. "Iya Om. Teman-teman Luna suka menghina Luna dan Ibu, kata mereka, kami ini orang miskin jadi gak bisa punya barang bagus seperti mereka." "Ya, sudah Luna harus sekolah yang pintar agar Luna bisa menunjukkan kepada teman-teman jika Luna bisa sukses dan bisa membeli barang-barang yang bagus." "Iya Om. Luna mau kok sekolah di asrama. Agar Luna bisa jadi seorang Dokter." Aku terkejut mendengar ucapan Luna. Apa bu Narti sudah menceritakan tentang rencana Tuan Herman kepada Luna? "bathinku" Setelah itu tuan Herman menyuruh kami untuk makan, sedangkan dia sibuk dengan ponselnya. Setelah selesai makan. Tuan Herman menyuruh salah satu supir untuk pulang dengan membawa semua barang belanjaan kami. Sedangkan supir yang satu membawa kami kembali melesat ke sebuah asrama yang rencananya besok akan kami kunjungi. Kami di sambut oleh beberapa orang. Mereka sangat sopan dan ramah kepada kami. "Pak Herman. Bagaimana kabar Bapak?" tanyanya seorang laki-laki paruh baya. "Baik." "Ini anak yang tadi saya ceritakan kepada Pak Thomas," imbuhnya sambil menunjuk kearah Luna. "Baik Pak, kami pasti akan menjaga putri Bapak dengan sangat baik dan hati-hati," jawabnya dengan sopan. "Ajak mereka berkeliling untuk melihat asrama dan sekolahannya." "Baik Pak." Lalu Pak Thomas mengajak Luna dan bu Narti berkeliling untuk melihat sekolahan dan asrama tempat nanti Luna belajar dan beristirahat. Aku sangat kagum dengan sekolahan itu, karena sekolahan dan asrama itu sangat besar dan fasilitasnya sangat lengkap. Luna terlihat sangat antusias ketika melihat sekolahan dan asrama tempat dia beristirahat. "Bu, aku mau sekolah disini." "Tapi Nak, nanti kamu disini tidak di temani oleh Ibu," jawabku. Agar Lunaa menolak dan berubah pikiran untuk sekolah disini, karena jujur saja aku ingin Luna tidak jauh dariku. "Tidak apa-apa Bu. Luna sudah terbiasa jauh dari Ibu, ingat gak waktu bapak harus di rawat di rumah sakit, Luna sering Ibu titipkan sama Nenek." Aku jadi ingat dulu ketika suamiku harus opname memang aku sering menitipkan Luna kepada bu Narti. Karena waktu itu aku tidak mungkin membawa Luna yang masih sangat kecil dan aku juga harus mengurus suamiku. "Iya Nak. Tapi kali ini Luna akan lama tidak bertemu Ibu." "Gak kok Bu. Kata Om ganteng, Luna akan pulang satu bulan sekali dan jika aku tidak betah disini aku boleh pulang kapan saja." Aku terkejut mendengar hal itu. Karena aku tidak tahu kapan mereka membahas itu. "Ya sudah, Ibu sih terserah Luna saja. Jika Luna mau sekolah disini ya Ibu setuju saja, asalkan Luna harus janji bisa menjadi anak yang pintar, rajin dan tidak merepotkan para guru disini," Luna tersenyum bahagia mendengar jawabanku dan Luna langsung memeluk ku. Setelah melihat hampir keseluruhan asrama dan sekolahannya. Kami kembali ke tempat tuan Herman menunggu. Ketika kami sampai di dekat tuan Herman. Luna langsung memeluknya. Saat melihat hal itu jantungku hampir copot, karena aku takut jika tuan Herman akan menolak pelukan Luna. "Om ganteng, aku mau sekolah disini," ucapnya sambil mengalungkan tangannya di leher tuan Herman. "o*******g mendengarnya," jawabnya sambil mencubit hidung Luna. Melihat hal itu aku mulai sedikit tenang. Setelah itu tuan Herman menyuruh kami untuk menunggu di mobil, sedangkan dia ingin berbicara dengan pak Thomas. Sekitar dua puluh menit, tuan Herman menyusul ke mobil dengan di dorong oleh Pak Thomas. Setelah masuk kedalam mobil, lalu kami langsung pulang ke rumah. Jarak dari asrama ke rumah sebenarnya tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Tapi entah mengapa tuan Herman menginginkan Luna untuk tinggal disana. *** Tiga hari kemudian. Pagi itu Luna berangkat ke asrama di antara oleh bu Narti dan supir. Sebenarnya aku ingin ikut mengantar Luna. Tapi, karena jadwal terapi tuan Herman sebentar lagi, akhirnya aku hanya bisa mengantar Luna sampai kedalam mobil saja. "Nak, belajar yang rajin disana. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Ibu," ucapku sambil memeluknya. Tuan Herman sudah mengajariku bagaimana caranya menggunakan ponsel. Ya, walaupun aku belum bisa terlalu banyak, karena cara tuan mengajari aku seperti seorang preman lagi menagih hutang yaitu sangat galak. Jadi sulit bagiku mencerna apa yang dia katakan. "Iya Bu, pokoknya Luna akan rajin belajar dan tidak akan merepotkan orang disana." Setelah itu aku peluk Luna, tanpa bisa di tahan lagi air mataku jatuh. "Ibu jangan nangis aku itu sekolah bukan pergi selamanya," ucapnya sambil mengusap air mataku. "Iya, iya, anak Ibu yang cerewet," ucapku sambil menoel pipinya. Setelah itu bu Narti mengajak Luna untuk segera berangkat, karena sudah di tunggu oleh Pak Thomas. Setelah kepergian Luna, aku kembali ke kamar tuan Herman. "Anak sekolah itu jangan di tangisi!" Hardiknya. "Ma-aaf..." "Kamu itu sedikit-sedikit maaf. Memang kamu selalu berbuat salah?" Aku lalu diam karena bingung mau menjawab apa. Jujur saja aku jadi takut menjawabnya. "Sebentar lagi kita akan pergi ke terapi. Jadi kamu ganti baju yang rapi." "Ba-baik Tuan," jawabku. Setelah berganti baju. Aku lalu kekamar tuan Herman untuk mendorongnya menuju garasi. Setelah itu kami pergi ketempat terapi, disana aku tidak di ijinkan untuk ikut masuk, jadi aku hanya menunggu di luar. Sekitar satu jam aku menunggu akhirnya selesai juga terapinya. Setelah selesai terapi kami langsung pulang. Setelah sampai rumah, tuan Herman langsung memintaku untuk membuatkan teh hangat untuknya. Ketika aku masuk ke kamar, ternyata tuan sedang menerima telepon. [ Sudahlah Dek. Kamu nikmati waktumu bersama kekasihmu itu, ] [ Tidak usah kamu atur aku seenaknya. Aku tahu batasan tidak seperti kamu. ] [ Sudah! Seleseikan urusanmu dengan laki-laki itu. Aku malas berdebat dengan mu, ] Setelah Itu tuan Herman mematikan sambungan telepon dan langsung membuang ponselnya ke kasur. "Aaagggrrrr. Dasar wanita egois," ucap tuan Herman sambil memegang kepalanya. Aku lalu berjalan mendekat kearah tuan Herman untuk memberikan teh yang dia minta tadi. "Tuan, ini tehnya," ucapku sambil menyodorkan gelas berisi teh. "Rin! Jika aku c*c*t seumur hidup. Apakah kamu masih menerimaku sebagai suami?" "Tuan. Walaupun pernikahan ini sebuah keterpaksaan dan pernikahan di bawah tangan, tapi bagi saya pernikahan ini adalah sesuatu yang sakral dan saya tetap menganggap Tuan sebagai suami." "Apa karena aku kaya!" "Tuan, Jujur saya menerima pernikahan ini karena waktu itu saya benar-benar butuh biaya rumah sakit Luna dan untuk menebus sertifikat rumah saya. Tapi, terlepas itu semua, saya menganggap tuan adalah suami. Laki-laki yang telah menikahi saya, mau tuan cacat ataupun miskin saya tetap akan menerima Tuan sebagai pasangan hidup saya, terkecuali Tuan menalak saya." "Jika suatu saat terjadi sesuatu yang buruk. Apakah kamu akan selalu ada disampingku?" tanyanya dengan serius. "Tuan. Selama saya masih menjadi istri Tuan, maka saya akan tetap berada disisi Tuan." "Jika seandainya Laura menyuruhmu untuk pergi." "Saya tidak akan pergi selama bukan Tuan yang mengusir, karena, ketika seorang istri selangkah saja pergi dari rumah tanpa ridho dari suami maka saya akan berdosa. Jadi, satu langkah pun saya tidak akan pergi dari sisi Tuan jika bukan Tuan yang menyuruh saya pergi." Tuan Herman tersenyum mendengar jawabanku. Entah apa maksud dari pertanyaannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN