Sudah sebulan Luna di asrama. Luna sering menghubungiku lewat telepon, dia mengatakan sangat senang disana karena banyak teman dan mereka juga sangat baik.
Aku sebenarnya sangat rindu dengan Luna. Tapi tuan Herman tidak mengijinkan aku untuk mengunjunginya.
"Tuan, tolong ijinkan saya untuk mengunjungi Luna,"
"Luna itu sekolah! Jangan kamu ganggu!"
"Saya tahu, saya tidak akan lama hanya ingin melihatnya sebentar,"
"Kamu kalau kangen tinggal video call, tidak harus kesana!"
"Tuan, tolong, karena saya tidak pernah berpisah terlalu lama dengan Luna,"
"Anakmu saja bisa, masa kamu tidak bisa!"
"Kenapa tuan seakan sengaja membuat saya jauh dari anakku?"
"Aku ingin anakmu hidup mandiri karena aku mau mengirimnya keluar negeri begitu dia lulus sekolah,"
"Apa? Keluar Negeri? Tuan, Luna masih terlalu kecil untuk sekolah disana,"
"Sekarang aku adalah pengganti ayahnya, jadi semua yang berhubungan dengannya maka akan menjadi tanggung jawabku,"
"Tapi,"
"Kamu adalah istriku dan kamu tidak bisa membatah apa yang aku ucapkan!" Ucapnya dengan tegas, sehingga aku tidak bisa lagi membalas ucapannya karena aku pasti kalah.
Setelah itu aku keluar dari kamar tuan Herman, aku ingin mengambil air minum.
Ketika baru keluar kamar, tiba-tiba nyonya Laura memanggilku.
Nyonya Laura baru pulang tadi sore.
"Rin, malam ini kamu tidur di kamarmu. Karena aku mau tidur dengan suamiku," ucapnya dengan nada ketus.
Entah mengapa ada rasa perih di d**a ini walaupun aku sadar hanya istri yang tidak diharapkan. Tapi aku tetap menganggap tuan Herman adalah suamiku.
"Ba-baik Nyonya,"
"Dan ingat! Jangan kamu tunjukkan wajahmu jika bukan aku yang memanggilmu!"
"Ba-baik,"
"Ya, sudah sana kamu pergi," aku lalu melanjutkan ke dapur, karena tuan Herman menungguku.
Setelah memberikan air minum kepadanya aku lalu pamit untuk mandi karena memang sudah waktunya aku mandi dan setelah mandi baru kembali kekamar tuan Herman untuk membantunya kekamar mandi.
Waktu makan malam tiba aku mendorong kursi roda tuan Herman ke meja makan. Setelah itu aku memanggil nyonya Laura.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya nyonya Laura datang ke meja makan.
"Masih ingat pulang?"
"Ya ingat dong Mas."
"Aku kira kamu tidak akan ingat rumah kalau sudah bersama Dia!"
"Sudah tidak usah ngajak berantem deh! Aku lapar mau makan," ucapnya sambil menyendok nasi ke piring.
Aku lalu mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk tuan Herman.
"Airin bukankah tadi aku sudah meminta sesuatu kepadamu," ucap nyonya Laura dengan tatapan tajam kearahku
"Ta-tapi,"
"Aku tidak suka jika dibantah!" ucapnya lagi dengan tatapan semakin tajam.
Aku lalu pamit pergi kepada tuan Herman.
"Tuan, saya permisi kebelakang dulu," ucapku kepada tuan Herman.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya tuan Herman kepadaku.
"Sa-sa-saya," jawabku terbata
"Sudahlah Mas, biarkan saja dia pergi, ada aku disini," ucap nyonya Laura kepada tuan Herman.
"Kalau kamu disini berarti Airin juga harus disini," jawabnya kepada nyonya Laura. Mendengar hal itu wajah nyonya Laura terlihat sangat tidak suka.
"Mas!"
"Sudah, kamu tidak usah protes atau buat masalah," hardik tuan Herman kepadanya.
"Airin! Aku ini suamimu. Aku perintahkan kamu untuk duduk disini dan makan bersama kami," ucapnya kepadaku dengan nada sedikit tinggi.
"Ta-tapi Tuan," jawabku ragu sambil melihat kearah nyonya Laura. Nyonya Laura sedikit melotot kearahku.
"Cepat duduk kamu dan Laura posisinya sama yaitu istriku, jadi kalian memiliki Hakeem yang sama," ucapnya dengan menunjuk aku dan nyonya Laura bergantian.
"Apa! Aku gak salah dengar?" ucap nyonya Laura terkejut mendengar ucapan sang suami.
"Apa yang kamu dengar itu sangat benar. Dan bukankah kamu sendiri yang menikahkan kami? Jadi kamu tidak bisa protes tentang aturan yang aku buat,"
"Tapi Mas. Dia itu hanya pembantu. Aku menikahkanmu dengannya karena aku sudah membayarnya cukup tinggi, jadi dia bukanlah maduku, tapi hanya PEMBANTU!!!" jawab nyonya Laura dengan menekan kata pembantu.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian sepakati, yang harus kamu terima saat ini adalah Airin adalah istri keduaku, jadi mau tidak mau kamu harus bisa menerimanya."
"Tidak! Ini sudah menyalahi kesepakatan kita mas!"
"Apa yang salah? Aku sudah ijab qobul dengan Airin dan kamu yang menginginkan hal itu. Jadi apa yang salah?"
"Tapi, aku menikahkan kalian itu agar ada yang mengurusmu 24 jam, bukan seperti ini,"
"Lalu, kamu lepas dari tanggung jawab sebagai seorang istri? Kamu biarkan aku menjadi seorang suami yang dzolim terhadap salah satu istriku."
"Aku membayar Airin dengan mahal jadi dia harus mengurusmu."
"Uang! Aku juga bisa membayar Airin dengan mahal. Asal Dia melayaniku sebagai seorang suami. Aku butuh istri yang benar-benar peduli denganku. Bukan istri yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri."
"Mas. Aku sudah tinggalkan Betran demi kamu. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya."
"Hahahaha, kamu pikir aku ini apa? Setelah kamu tidur berulang kali dengan laki-laki itu dan sekarang kamu hamil lalu dengan mudahnya kamu ingin aku menerimamu dan anak itu!"
"Tapi, bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan Betran. Lalu kenapa sekarang kamu seperti ini! Apa karena pembantu ini!"
"Benar. Aku memintamu untuk meninggalkan Betran bukankah itu sudah dua tahun yang lalu. Tapi, kenyataannya apa?"
"Aku tidak terima semua ini Mas. Aku korbankan cintaku demi kamu, jadi aku tidak mau kamu samakan aku dengan pembantu ini!"
"Kepala rumah tangga disini aku. Jadi aku yang berhak menentukan Airin sebagai apa di rumah ini. Jika kamu keberatan. Kamu bisa angkat kaki dari rumah ini."
"Apa! Kamu ngusir aku demi pembantu ini!"
"Dia adalah istri keduaku jadi statusmu dan Airin sama."
"Tidak! Aku adalah satu-satunya Nyonya rumah disini, dan ingat Mas! Perempuan ini hanya perempuan murahan yang aku bayar!"
Setelah itu nyonya Laura pergi meninggalkan kami. Tuan Herman sepertinya tidak memepermasalahkan kepergian nyonya Laura.
"Sudah ayo makan. Jangan kamu hiraukan Laura."
Jujur aku jadi tidak enak hati. Aku seperti wanita perebut suami orang. Tapi, semua ini terjadi karena permintaan nyonya Laura sendiri, bukan murni seratus persen kesalahanku.
Setelah selesai makan tuan Herman memintaku untuk mengantarnya kembali ke kamar.
Ketika sampai di dalam kamar dan aku hendak keluar tiba-tiba tanganku di tarik oleh tuan Herman.
Aku yang tidak sigap langsung tertarik dan jatuh diatas tubuh tuan Herman.
Menyadari hal itu aku langsung bangkit.
"Ma-maaf Tuan."
Tuan Herman tersenyum.
"Kenapa? Kamu marah aku tarik?"
"Ti-tidak, Tuan,"
"Baguslah,"
"Duduklah, aku ingin bicara denganmu."
Aku lalu duduk di samping tuan Herman.
"Apakah kamu sudah menerimaku sebagai suamimu?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan tuan Herman.
"Jawab saja dengan jujur aku tidak akan marah."
"Se-sebenarnya saya sudah menganggap tuan Herman sebagai suami setelah tuan mengucapkan ijab qobul. Bagi saya pernikahan itu bukan main-main. Walaupun pernikahan kita ini bisa dibilang sebuah paksaan,"
"Apakah kamu tulus merawatku selama ini?"
Aku mengangguk.
"Apa karena Laura membayarmu?"
"Bu-bukan seperti itu Tuan, saya merawat Tuan sebagai seorang istri yang merawat suaminya, jadi bukan karena saya sudah dibayar oleh Nyonya,"
"Baguslah, setidaknya salah satu istriku ada yang baik dan mau merawatku dengan tulus,"
Aku hanya diam. Dalam hatiku ada terbesit rasa bahagia ketika mendengar tuan Herman mengucapkan hal itu. Tapi, aku mulai tersadar kembali bahwa aku hanya seorang perawat bagi tuan Herman bukanlah istri yang sesungguhnya.
Ketika kami saling diam tiba-tiba pintu di buka.
"Airin. Tinggalkan kami." perintah nyonya Laura. Aku terkejut melihat nyonya Laura yang berpakaian begitu sexi. Dia menggunakan baju tidur yang sangat minim dengan belahan d**a rendah.
Aku lalu segera bangkit dan keluar. Ingin sekali aku mendengar tuan Herman melarangku. Tapi semua sia-sia. Tuan Herman hanya diam melihatku pergi.
Sepertinya tuan Herman terpesona dengan penampilan nyonya Laura. Bagaimana pun juga tuan Herman adalah suaminya. Jadi sudah sepantasnya mereka memadu kasih.
Sakit. Itulah yang aku rasakan saat ini. Melihat mereka hanya berdua di dalam kamar.
Aku lalu masuk kedalam kamarku. Sepi, ya itulah yang aku rasakan. Di dalam kamar hanya seorang diri. Di saat seperti ini aku sangat ingin memeluk tubuh Luna.
Ya karena hanya dia yang bisa menguatkan aku. Seperti inikah rasanya orang di madu?
Sesakit ini kah? Apakah seperti ini rasanya seorang istri yang harus berbagi suami dengan perempuan lain? Pantas saja tidak ada perempuan didunia ini yang namanya mau dimadu.
Air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya jatuh juga. Aku menangis agar rasa sesak didada sedikit berkurang. Aku benamkan wajahku kebantal agar tidak ada yang mendengar tangisanku.
Aku ketiduran. Aku terbangun ketika mendengar suara adzan subuh berkumandang.
Aku lalu bangkit dan segera membersihkan diri dan setelah itu melaksanakan kewajiban sholat subuh.
Setelah sholat. Aku kedapur untuk memasak sarapan.
Ketika di dapur. Bu Narti menyapaku.
"Rin, kenapa matamu sembab begitu? Kamu semalam menangis?"
"Eeehhhmmm, itu bu, aku kangen Luna," jawabku berbohong.
"Iya Ibu ngerti perasaanmu namanya juga anak semata wayang," ucapnya sambil mengelus rambutku.
Setelah itu kami melakukan pekerjaan masing-masing.
Ketika aku sibuk memasak. Tiba-tiba aku mendengar tuan Herman memanggilku.
"Airin!"
Aku sangat terkejut, karena tuan Herman memanggilku dengan suara yang cukup keras.
Tuan Herman terdengar sangat marah, dan kenapa memanggilku? Apakah Tuan Herman marah kepadaku? Jika iya, kesalahan apa yang telah aku lakukan? Bukankah dia semalam sedang menikmati malam bersama istri pertamanya?