Permintaan Herman

1422 Kata
"Airin! Airin!" Teriak tuan Herman Aku langsung berlari menuju kamarnya "A-ada apa Tuan?" tanyaku tergagap. Ini masih pukul enam pagi dan biasanya tuan sangat jarang bangun dijam segini. Suara teriakan tuan Herman menggema. Hingga membuat yang lain sedikit terkejut. "Masuk!"perintahnya dengan keras. Aku lalu mendorong kursi rodanya Setelah di dalam kamar, tuan Herman menyuruhku untuk duduk. "Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar semalam?" ucapnya dengan nada tinggi. "Ta-tapi tuan," jawabku sedikit ragu. "Karena ada Laura? Bukankah kamu dan Laura adalah istriku!" "Tapi, Tuan." "Tidak ada alasan apapun. Disini aku adalah kepala rumah tangga. Jadi aku yang berhak menyuruh kalian," jawabnya mulai sedikit lemah. "Siapkan baju nanti setelah sarapan kita akan pergi selama seminggu." "Ba-baik Tuan." Aku lalu menyiapkan beberapa lembar baju untuk dimasukkan kedalam koper. Setelah itu tuan Herman menyuruhku untuk menyiapkan baju-bajuku. Sedangkan memasak sarapan di ambil alih oleh bu Narti. Setelah selesai semua dan aku juga sudah selesai mandi. Aku kembali ke kamar tuan Herman dan mengajaknya untuk sarapan. Ketika kami sedang di meja makan nyonya Laura datang dengan rambut basah yang tergerai. Nyes... Entah mengapa aku merasakan sakit melihat hal itu. Bukankah mereka halal melakukan hal itu? Karena mereka memang suami istri? Tapi mengapa hatiku begitu sakit? "Arin. Siapkan jus buah untukku," perintahnya. "Baik, Nyonya," jawabku. Ketika aku akan bangkit dari kursi. Tuan Herman melarang. "Mbok, buatkan jus untuk Nyonya," perintah tuan Herman kepada bu Narti yang sedang didapur. "Baik Tuan." "Mas! Aku nyuruh Airin bukan si Mbok," protes Nyonya Laura. "Apa bedanya? Bukankah sama saja." "Aku pengen kita makan berdua. Aku eneg lihat Airin ikut makan disini," ucapnya sambil menatapku. "Kalau kamu eneg. Ya kamu tinggal suruh Mbok bawa sarapanmu ke kamar," jawab Tuan Herman santai. "Mas! Kenapa kamu sekarang berubah sih! Apa kamu suka sama pembantu ini." "Tidak ada yang salah dengan hal itu. Airin kan juga istriku," jawabnya sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya. "Apa! Itu tidak boleh Mas. Ingat kita sudah bahas tentang hal ini," ucapnya dengan wajah sedih plus panik. Aku yang mendengar jawaban tuan Herman jujur saja sangat terkejut. Apa benar tuan Herman suka sama aku? "bathinku" "Airin! Ingat! Kamu menikah dengan suamiku itu hanya sebagai perawat untuknya bukan menduduki posisi yang sama sepertiku!" ucap Nyonya Laura memperingatkanku. Aku hanya diam mendengar hal itu. Karena tuan Herman menatapku dengan tajam. "Sudahlah. Aku mau sarapan. Jika kamu mau ayo makan, jika tidak, sana pergi ke kamarmu," ucap tuan Herman kepada nyonya Laura. Nyonya Laura pergi dari meja makan dengan kesal. Setelah selesai sarapan. Tuan Herman mengajak untuk langsung bergegas berangkat. Aku tidak tahu kemana arah tujuan kami. Karena tuan Herman tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Selama perjalanan tuan Herman sibuk menelepon seseorang. Sepertinya ada urusan bisnis yang sedang mereka bicarakan. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam. Akhirnya kami sampai disebuah villa. Ya kami pergi kesuah villa yang sangat megah. Kami disambut oleh seorang wanita paruh baya. "Tuan, kenapa datang gak kasih kabar dulu." "Mbok tolong antar kami ke kamar," jawab tuan Herman dengan santun, lalu wanita paruh baya itu melihat kearahku. "Mbok kenalkan dia istri keduaku." Lalu wanita itu tersenyum ramah kepada ku dan mengulurkan tangannya sambil menyebut namanya. Setelah itu kami diajak masuk dan langsung menuju kamar. Sebuah kamar yang sangat besar dan megah hampir sama dengan kamar tuan Herman dirumah. Setelah Mbok Asih pergi. Aku lalu bergegas mandi karena sangat lengket. Setelah selesai mandi. Aku lihat tuan Herman sedang melihat kearah jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya. "Tuan. Saya mau memasak dulu." "Tidak usah. Mbok sudah menyiapkan semuanya. Disini kamu adalah seorang Nyonya bukan perawatku," mendengar jawaban dari tuan Herman, entah mengapa hatiku sangat senang. Apa mungkin aku mulai memiliki rasa kepadanya? Tidak! Aku harus sadar diri," ucapku dalam hati. Tuan Herman menyuruhku untuk beristirahat karena dia akan pergi sebentar dengan supir. Karena perjalanan yang lumayan lama membuatku sangat lelah, setelah tuan Herman pergi, akupun mengistirahatkan tubuhku. Aku tertidur sangat nyenyak. Ketika aku terbangun aku lihat tuan Herman sudah berada di dalam kamar. "Maaf tuan, saya ketiduran." Tuan Herman tidak menjawabku. Dia tetap duduk di kursi rodanya sambil menatap kearah jendela. Memang pemandangan sangat bagus di luar sana, mungkin karena itu tuan Herman betah melihat kearah jendela. Mbok Asih sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Setelah makan malam. Seperti biasa aku membuatkan teh hangat untuknya. Kami lalu duduk di balkon kamar. "Rin. Apakah kamu benar-benar tulus menerimaku menjadi suamimu?" "Iya Tuan. Saya tidak pernah menganggap tuan sebagai majikan melainkan sebagai seorang suami." "Apakah karena aku kaya?" tanyanya dengan mimik wajah yang sulit aku artikan. "Tuan, memang benar ketika saya dulu menerima tawaran nyonya Laura karena uang. Tapi, saat itu saya tidak punya pilihan lain," "Jika kamu dipaksa menikah denganku dan aku adalah orang miskin, apakah kamu masih mau menerimaku?" tanyanya lagi. "Tuan, setelah saya resmi menjadi istri tuan, maka apapun kondisi tuan, saya terima dengan ikhlas," "Entahlah, hanya kamu yang tahu bagaimana hatimu, kamu harus mengurusku dengan sungguh-sungguh, aku memberimu uang bulanan cukup besar," ucapnya lagi. Ya, memang seperti itulah tuan Herman. "Uang dari tuan tidak pernah saya pergunakan sama sekali, karena semua kebutuhan saya sudah terpenuhi," jawabku tegas. "Itu terserah kamu. Uang itu sudah menjadi hakmu," jawabnya lagi. Entah mengapa tak ada rasa takut ataupun canggung aku mengatakan hal itu kepadanya "Terima kasih tuan," "Apakah ucapan terima kasihmu ini tulus?" tanyanya sambil melihat kearahku. "Iya tuan," "Uang bulanan untukmu itu kamu terima bukan?" Aku sebenarnya bingung dengan pertanyaanya "Ma-maksud tuan?" "Jika kamu terima uang bulanan itu. Berarti kamu harus buktikan jika aku adalah suamimu." "Bukti apa tuan? Maaf, saya tidak mengerti maksud tuan," ucapku bingung. "Ijinkan aku memberikan hakmu sebagai seorang istri seutuhnya." Mataku membulat sempurna mendengar penuturan tuan Herman. "Ma-maksud tuan?" aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena tuan Herman langsung memotongnya. "Aku ingin kamu memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri." Mataku membulat sempurna dan jantungku berdegup dengan kencang saat mendengar hal itu. Apakah tuan Herman akan meminta haknya malam ini? Tapi jika aku menolaknya maka aku akan berdosa. Bagaimana pun juga kami adalah pasangan yang sah. Dan halal melakukan hal itu. Sudah kewajibanku untuk memberikan hak yang diminta, tapi, disatu sisi bukankah nyonya Laura melarang kami? Aku diam bingung harus menjawab apa. Aku tidak mungkin menolak permintaan tuan Herman. Tapi, aku juga takut jika nyonya Laura tahu tentang hal ini. "Kenapa kamu diam? Kamu j*j*k jika harus melayani orang lumpuh?" tanyanya dengan nada ketus. "Bu-bukan seperti itu tuan. Tapi, bukankah nyonya Laura melarang kita untuk," jawabku ragu. "Kamu tidak usah pikirkan Laura. Karena ini adalah kewajiban yang harus kamu penuhi." Entahlah aku benar-benar bingung harus bagaimana. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku juga sangat takut akan berdosa jika menolak permintaan seorang suami yang meminta haknya. Tanpa menunggu jawaban dariku. Tuan Herman mengajakku untuk masuk kedalam kamar. Jantungku berdegup kencang. Malu, canggung, bingung semua bercampur menjadi satu. Aku membantu tuan Herman untuk pindah dari kursi roda ke atas ranjang. Setelah tuan Herman di atas ranjang. Tuan Herman langsung menarik tanganku hingga aku terjatuh tepat di atasnya. Ketika aku berusaha untuk bangkit. Tuan Herman langsung mendaratkan bibirnya ke pucuk kepalaku. Aku terdiam sesaat. Jujur aku merasakan sebuah kecupan hangat yang sama persis seperti almarhum suamiku dulu. Aku terdiam. Tuan Herman mulai mengecup bibirku, tangannya mulai meraba dengan lembut bagian tubuhku. Dengan tenaga yang sangat kuat. Tuan Herman langsung membalikkan posisiku. Jujur aku sangat terkejut. Karena, bagaimana mungkin dalam kondisinya yang sekarang bisa membalikkan tubuhku. Yang tadinya diatasnya sekarang berada di bawahnya. Belum juga selesai rasa terkejutku. Tiba-tiba tuan Herman bangkit dan berdiri untuk melepas kain yang menempel di tubuhnya. Aku jadi semakin terkejut melihatnya bisa berdiri tanpa bantuan alat apapun. Bagaimana tuan Herman bisa berdiri? Apakah tuan Herman sudah bisa berjalan lagi selama ini? Lalu, untuk apa berpura-pura lumpuh? Semua pertanyaan memenuhi kepalaku. Tanpa aku sadari jika tuan Herman sudah memulai aksinya. Jujur aku sangat kelabakan dibuatnya. Tuan Herman begitu lembut melakukannya. Setelah selesai tuan Herman langsung tertidur di sampingku. Aku bingung dengan perasaanku saat ini. Aku tidak sedih tuan Herman menggauliku. Karena bagaimanapun juga aku adalah istrinya. Dia berhak meminta hal itu. Tapi, aku juga tidak merasa bahagia karena tuan Herman menggauliku bukan karena cinta. Setelah itu aku langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan bekas itu. Setelah selesai aku kembali berbaring di samping tuan Herman yang tertidur pulas. Sebenarnya aku ingin sekali bertanya kepadanya tentang apa yang aku lihat tadi. Apakah memang benar jika tuan Herman hanya berpura-pura saja? Sebenarnya ada rahasia apa dibalik semua ini? Tapi, begitu aku melihatnya tidur dengan sangat nyenyak. Aku urungkan niatku. Tak tega rasanya untuk membangunkannya. Semoga besok aku bisa mendapatkan jawaban darinya. Karena pergulatan tadi. Jujur tubuhku rasanya sangat lelah dan akhirnya akupun ikut tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN