Curiga

1295 Kata
Madu Pilian Untuk Pria Lumpuh BAB 11 Aku terbangun ketika mendengar suara adzan subuh. Aku terkejut ketika membuka mata tuan Herman memelukku sangat erat. "Tuan. Maaf, saya mau Sholat."ucapku pelan Tuan Herman tidak menjawab, namun dia mengendorkan pelukannya. Sehingga aku bisa bangkit dari tempat tidur. Setelah selesai mandi dan melaksanakan sholat subuh. Aku ke dapur untuk membantu Mbok memasak sarapan. "Masak apa Mbok?"tanyaku "Ini Nyonya. Saya mau masak tumis sawi sama ayam goreng."jawabnya. "Mbok. Panggil saja saya, Airin."pintaku "Ta-tapi..."jawabnya menggantung kalimat "Mbok. Posisi kita sama. Sudah Mbok tidak usah takut memanggil namaku."ucapku Mbok lalu mengangguk. Aku lalu membantunya memasak. Setelah selesai memasak aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Ketika selesai mandi. Aku lihat tuan Herman sudah bangun. "Airin. Cepat bantu aku untuk duduk di kursi roda."perintahnya "Tapi! Tuan tadi malam bisa berdiri."jawabku dengan wajah bingung. "Kamu mimpi! Aku ini lumpuh. Bagaimana bisa aku berdiri."ucapnya "Tapi Tuan... Apa tuan lupa dengan apa yang terjadi semalam?"tanyaku memberanikan diri "Semalam? Memang apa yang terjadi semalam."jawabnya santai Aku terdiam mendengar jawaban tuan Herman. Aku berpikir jika tuan Herman sudah menganggapku sebagai seorang istri dan bukan lagi sebagai perawat, Karena semalam tuan Herman sudah memberikan nafkah bathin untukku. "Ti-tidak ada Tuan."jawabku terbata. Tuan Herman tersenyum. Entah mengapa dia tersenyum setelah mendengar jawaban ku. Aku lalu membantunya untuk duduk di kursi rodanya. Setelah itu tuan Herman minta di dorong ke kamar mandi. Setelah di dalam kamar mandi. Aku lalu keluar. Sebenarnya aku dari awal juga bingung dengannya. Karena, setiap masuk kedalam kamar mandi tidak pernah lagi membutuhkan bantuanku. Apakah tuan bisa melakukan semuanya sendiri apa bila didalam kamar mandi? Ataukah tuan malu jika aku membantunya? Aku sempat berpikir jika tuan Herman hanya pura-pura lumpuh, ditambah lagi kejadian tadi malam. Membuatku jadi semakin yakin dengan apa yang aku pikirkan selama ini. Setelah selesai mandi tuan Herman keluar dari kamar mandi. Sedangkan aku menyiapkan baju untuknya. Setelah membantunya memakai baju. Kami lalu sarapan. Setelah sarapan tuan Herman memberikan sejumlah uang untukku. "Airin. Ini nafkah bulanan untuk mu."ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop tebal berwarna coklat Aku sedikit gemetar menerima amplop itu. "Terima ini. Karena aku adalah suamimu. Aku akan berbuat adil kepadamu dan Laura."ucapnya "Tapi, uang yang tuan kasih kemarin masih ada,"jawabku "Kamu tidak usah terlalu cerewet. Apapun yang aku kasih terima."hardiknya. Karena aku takut tuan Herman marah. Akhirnya aku terima amplop itu "Te-terima kasih Tuan."jawabku. Aku lalu menyimpan amplop coklat itu di dalam lemari baju yang ada di dalam kamar. Setelah itu kami pergi berjalan-jalan. Kami seperti pasangan suami istri seperti pada umumnya. Bedanya hanya aku harus mendorong kursi roda Setelah capek berjalan-jalan kami kembali ke villa. Tuan Herman mulai sibuk dengan laptopnya. Sedangkan aku menikmati tontonan televisi. Sebenarnya aku sangat bosan. Karena tidak di ijinkan melakukan sesuatu. "Airin. Coba kamu buka aplikasi online untuk berbelanja kebutuhan yang kamu butuhkan."perintahnya "Saya tidak mengerti cara menggunakannya Tuan."jawabku. "Sini mendekat. Aku akan mengajari caranya."jawabnya. Aku lalu berjalan mendekat kearahnya. Aku lalu menyodorkan ponselku dan tuan Herman dengan sabar mengajariku cara berbelanja online seperti yang aku tonton di televisi. Sebenarnya aku bukanlah seorang wanita yang suka berbelanja. Jadi, aku hanya melihat-lihat prodak yang di tawarkan di aplikasi itu. Sedangkan tuan Herman sepertinya sedang sangat serius. Karena, terlihat dari mimik wajahnya yang begitu tegang menatap layar leptopnya. Adzan dhuhur berkumandang. Aku segera meminta ijin kepada tuan Herman untuk melaksanakan kewajiban sholat. Setelah selesai sholat. Aku ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuknya. Karena tuan Herman tidak mau makan siang. Setelah selesai membuat teh. Aku lalu memberikan kepadanya. "Kamu tidur saja. Istirahatkan tubuhmu. Karena nanti malam. Aku akan membuatmu lembur."perintahnya dengan mata yang masih menatap ke layar leptopnya "Lembur? Memangnya kita mau pergi kemana Tuan?"tanyaku penasaran "sudah. Tidak usah banyak tanya. Cukup kamu diam dan lakukan apa yang aku perintahkan. Jadilah istri penurut untuk ku."jawabnya tegas. Aku takut melanjutkan pertanyaanku. Akhirnya aku mengistirahatkan tubuhku. Walaupun mataku enggan terpejam. Karena aku tidak biasa tidur siang. "Tuan. Saya tidak biasa tidur siang."ucapku karena sudah mencoba untuk memejamkan mata. Tapi tidak juga bisa terlelap "Istirahat saja. Tidak harus tidur."jawabnya. Aku lalu memainkan ponselku. Sebenarnya tidak ada yang bisa aku lihat. Karena memang aku tidak seberapa lincah menggunakan benda pipih itu. Aku hanya bisa mengirim pesan dan menerima panggilan melalui aplikasi hijau itu. Selebihnya aku tidak mengerti. Waktu terus berjalan. Langit yang tadinya cerah sekarang sudah menjadi gelap. Itu menandakan jika sudah mulai beranjak malam. Tuan Herman mengajakku untuk pergi makan malam dengan diantar oleh supir. Setelah sampai di sebuah restoran yang terbilang sangat mewah. Kami berdua turun. Setelah supir membantu tuan Herman duduk di kursi rodanya. Dia lalu memarkirkan mobil, di parkiran. Tuan Herman memberinya beberapa lembar uang berwarna merah untuknya mencari makan. Sedangkan aku dan tuan Herman makan berdua di restoran ini. Makan malam romantis. Ya itu yang ada didepan mataku saat ini. Aku tersanjung dengan cara tuan Herman memperlakukanku. Malam ini sikap tuan Herman sangat hangat dan penuh kasih ketika makan malam. Setelah selesai makan malam. Kami pulang. Tak ada pembicaraan diantara kami. Kami diam dengan pikiran masing-masing. Ketika sampai villa. Hujan turun dengan derasnya. Aku di bantu oleh supir segera mendorong kursi roda tuan Herman masuk kedalam rumah. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang rasanya. Aku segera mengambilkan sebuah handuk untuk tuan Herman lalu membantu untuk mengeringkan tubuhnya. Ketika aku sedang sibuk mengelap tubuhnya. Tiba-tiba tuan Herman memegang tanganku. Tatapan matanya sangat tajam. Seperti seekor singa yang sedang lapar. Aku sedikit merinding melihat tatapan mata tuan Herman. Tuan Herman lalu menarikku hingga aku terjatuh diatas tubuhnya yang berada di kursi roda. Ketika aku akan bangkit tuan Herman mencegahku. Pandangan kami beradu. Sedikit demi sedikit wajah kami semakin mendekat, hingga nafas tuan Herman yang sedikit memburu bisa aku rasakan. Tuan Herman mulai mengecup bibirku lama-lama aku mulai mengimbangi kecupan tuan Herman Tuan memulai aksinya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Aku terbuai dengan apa yang di lakukan olehnya. Hingga aku tidak sadar jika kami sekarang sudah berada di atas ranjang. Tuan Herman terus menc*mb*iku. Kami sama- sama menikmati pergumulan ini. Setelah selesai aku baru tersadar jika sekarang aku berada di atas tempat tidur. Ketika aku akan bangkit. Tuan Herman menarikku kedalam pelukannya. "Diam. Dan biarkan aku menikmati pelukan tubuhmu."titahnya dengan berbisik ditelingaku Aku hanya terdiam dalam pelukan hangat tuan Herman. Setelah beberapa saat tuan Herman melonggarkan pelukannya. Aku bangkit untuk membersihkan tubuhku. Keesokan paginya. Tuan Herman bersikap seperti biasa. Tak ada kelembutan seperti tadi malam. Tuan Herman bagaikan seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Atau mungkin ketika tuan Herman sedang b*r*h* dia akan bersikap romantis dan sangat lembut. Namun, setelah hasratnya tersalurkan maka tuan Herman akan kembali menjadi seorang yang judes dan pemarah seperti biasanya. Tak ada kelembutan terpancar dari sorot matanya. Ya. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan hal itu. Dan bahkan sepertinya ketika tuan Herman sedang berhasrat dia juga lupa jika sedang lumpuh. Aku tidak akan lagi bertanya kepada tuan Herman tentang dia bisa mengangkat tubuhku. Karena sepertinya semua itu percuma saja. Aku tidak akan mendapat jawaban yang aku inginkan. Yang ada hanya sebuah bentakkan yang akan membuat aku kecewa. Biarlah semua berjalan seperti apa yang tuan Herman kehendaki. Karena aku yakin. Tuan Herman pasti memiliki sebuah alasan melakukan hal itu. Aku yakin suatu saat tuan Herman pasti akan bercerita sendiri, mengenai hal itu. Yang terpenting saat ini aku sudah tahu jika tuan Herman hanya berpura-pura lumpuh. Dan kewajibanku sebagai seorang istri juga sudah aku penuhi, jadi, aku tidak memiliki beban lagi. Hanya satu yang menjadi ketakutanku, bagaimana jika nyonya Laura sampai tahu jika aku dan tuan sudah melakukan hal itu? Apakah aku akan dituntut olehnya? Ataukah aku akan diusirnya? Tidak. Aku adalah istri tuan Herman, jadi aku sudah seharusnya memenuhi kewajibanku. Nyonya Laura tidak bisa berbuat semaunya kepadaku. Karena, bukankah tuan Herman mengatakan jika posisi kami itu sama. Aku harus kuat dan berani untuk menghadapi nyonya Laura. Tidak akan aku biarkan nyonya Laura menindasku lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN