Usulan bu Narti

1531 Kata
Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh BAB 12 Sudah satu minggu kami di Villa. Sore ini tuan Herman mengajak untuk kembali pulang. Setelah sampai rumah. Kami di sambut oleh Bu Narti, Bu Narti terlihat sangat senang melihat kedatangan kami. Ketika aku akan masuk kedalam kamarku. Tiba-tiba Nyonya Laura berteriak memanggil namaku. Aku langsung bergegas menuju sumber suara, dimana Nyonya Laura berada. "Airin! Mulai detik ini kamu pergi dari rumah ini!"usirnya kepadaku. Aku sangat terkejut mendengar ucapan Nyonya Laura mengusirku. "Maaf. Nyonya tidak bisa mengusir Saya."Jawabku. Aku Bukan tidak tahu diri. Tapi posisi kami saat ini sama yaitu sama-sama menjadi istri tuan Herman. Jadi yang berhak mengusirku dari rumah ini hanya tuan Herman"bathinku" "Oh! Sudah berani kamu melawanku!"hardiknya kepadaku dengan nada tinggi "Bukan seperti itu, Nyonya. Tapi kita ini sama-sama istri tuan Herman,"jawabku mencoba untuk berani melawannya "Tidak! Istri Herman itu hanya aku! Sedangkan kamu hanya perawat untuk suamiku!"ucapnya lagi dengan nada semakin tinggi "Jika saya hanya perawat untuk tuan Herman. Lalu mengapa Nyonya waktu itu menikahkan kami?"jawabku dengan nada lembut namun tegas Nyonya Laura terdiam ketika aku bertanya alasan mengapa dia menikahkan kami. "Sudah! Aku tidak perlu menjawab apa yang menjadi pertanyaanmu. Sekarang kamu kemasi bajumu dan angkat kaki dari rumah ini!"teriaknya Ketika aku akan menjawab ucapan Nyonya Laura. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Tuan Herman di belakangku. "Airin! Masuk ke dalam kamarmu."titahnya dengan nada tinggi Aku lalu mengikuti perintah tuan Herman. Takku hiraukan teriakan Nyonya Laura memanggil namaku. Aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Karena, ketika aku pergi tuan Herman langsung masuk kedalam kamar Nyonya Laura di bantu oleh Bu Narti. Setelah itu Bu Narti keluar dan menenangkanku di dalam kamar. "Rin. Kamu yang kuat ya... Jangan kamu pikirkan ucapan Nyonya Laura. Salah dia sendiri. Suami kok dipaksa untuk menikah lagi. Giliran sudah nikah dia cemburu."Ucapnya sambil memelukku "Tapi, Bu. Kira-kira, tuan Herman apa akan menceraikanku? Dan mengusirku dari sini ketika tuan Herman sembuh?"tanyaku kepada bu Narti "Rin, ibu juga tidak tahu, tapi, apapun yang terjadi nanti, mau kamu di cerai atau tidak. Kamu harus pintar-pintar menyimpan uang. Karena orang kaya seperti mereka sangat mudah mempermainkan orang seperti kita ini dengan uang mereka. Pokoknya manfaatkan sebisa mungkin kesempatan yang ada saat ini. Karena kita tidak tahu apakah tuan Herman akan melanjutkan pernikahan denganmu atau mengakhirinya."jawabnya dengan lembut "Tapi, Bu. Airin menganggap pernikahan ini adalah pernikahan sakral. Dan tuan Herman adalah suamiku."jawabku sedih "Iya, Rin. Ibu ngerti, jika kamu bukan perempuan matre. Tapi, jika kamu menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka kamu tidak akan bisa menyekolahkan Luna sampai perguruan tinggi. Ingat ada Luna yang butuh biaya banyak, masa depannya ada ditanganmu,"ucapnya Aku diam mendengar penuturan Bu Narti. Sebenarnya ada benarnya juga yang Bu Narti ucapkan. Tapi disisi lain. Aku tidak mau jadi seorang istri yang hanya mengincar uang tuan Herman. Aku tidak pernah tahu apakah ada rasa cinta di hati tuan Herman untukku. Biarlah semua berjalan seperti sebagai mana mestinya. Entah aku merasa jika tuan Herman tidak akan tega untuk menyakitiku. Aku merasa ada ketulusan di hati tuan kepadaku, entah itu rasa iba atau cinta, yang terpenting bagiku, aku bisa menyekolahkan Luna di tempat yang terbaik. Setelah aku sedikit tenang , Bu Narti pamit kembali ke kamarnya. Sedangkan aku masih berdiam diri di kamarku. Dua jam kemudian, terdengar suara pintu kamar di ketuk dari luar. Aku langsung bergegas bangkit dan menuju pintu. Setelah aku buka ternyata tuan Herman. "Tu-tuan."ucapku "Airin. Mulai malam ini, pindahkan semua baju-bajumu, kemar kita."jawabnya Aku terkejut mendengar perintahnya, karena dia menyebut kamarnya dengan sebutan kamar kita. Aku masih diam karena bingung. "Airin. Ayo kita ke kamar. Aku capek mau tidur. Biar besok mbok Narti yang memindahkan barang-barangmu."ajaknya Aku mengangguk. Dan langsung mendorong kursi roda tuan Herman untuk kembali kekamarnya. Setelah sampai di dalam kamar. Tuan Herman menyuruhku untuk mengunci pintu. Setelah pintu aku kunci. Tiba-tiba tuan Herman berdiri dari kursi rodanya. Mataku membulat sempurna melihat tuan Herman tidak lagi berpura-pura lumpuh. Tuan Herman langsung berjalan kearahku dan memelukku. "Rahasiakan ini dari siapapun." Ucapnya dengan nada sedikit ditekan Aku mengangguk. "Ya, sudah. Sekarang kamu tidur. Aku mau keruang kerja."ucapnya sambil mengurai pelukan dan berjalan ke meja kerjanya. Aku lalu membaringkan tubuhku diatas kasur. Karena capek aku pun tertidur. Aku terbangun ketika tuan Herman membangunkanku. "Rin. Bikinkan aku teh hangat."titahnya "Baik Tuan."jawabku sambil mengucek kedua mataku Aku lalu turun dari ranjang dan langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuknya. Ketika aku sedang di dapur. Tiba-tiba Nyonya Laura mendatangiku. "Airin! Ingat! Jangan sampai kamu dan Herman melakukan hubungan suami istri. Karena setelah Herman sembuh kami tidak membutuhkan kamu lagi."ucapnya dengan wajah menyeringai Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Nyonya Laura. Apakah ini yang mereka bicarakan tadi dikamarnya? Jika yang di katakan Nyonya Laura benar. Lalu untuk apa tuan Herman merahasiakan kesembuhannya dari Nyonya Laura? Apakah Nyonya Laura hanya mengancam ku saja, agar aku jangan sampai mau di sentuh tuan Herman? Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Nyonya Laura. Tanpa ingin menjawabnya. Setelah itu Nyonya Laura pergi dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya. Entah aku merasa jika Nyonya Laura sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Setelah selesai membuat teh, aku langsung menuju kamar. Ketika aku masuk, ternyata tuan Herman sudah berbaring diatas tempat tidur. Aku lalu meletakkan teh hangat di atas meja di samping tempat tidurnya Tuan lalu duduk dan menikmati teh hangat. Aku duduk di kursi sambil melamun. Jujur aku masih terpikir omongan Nyonya Lauraa tadi. Sebenarnya ingin sekali aku bertanya kepada tuan Herman. Tapi aku sangat takut jika semua itu benar. Aku tidak menyadari jika tuan sejak tadi memperhatikanku. "Rin. Apa yang kamu lamunin?"tanyanya Aku terkejut ketika mendengar suara tuan Herman "Eeehhhmmm..." "Jawab saja. Apa yang sedang mengganjal di pikiranmu."titahnya dengan nada tegas Aku melihat kearahnya. "Tuan. Maaf jika Saya lancang. Tuan, apakah Saya ini hanya tuan butuhkan untuk saat ini saja? Dan setelah semua orang tahu, jika tuan sudah sembuh, maka tuan akan menceraikan Saya?" Ucapku sambil meremas kedua tanganku "Siapa yang mengatakan hal itu kepada mu?"selidiknya "Nyonya."jawabku dengan wajah menunduk "Kamu percaya?"tanyanya dengan wajah datara "Saya bingung harus percaya atau tidak? Tapi..."jawabku menggantung "Tapi! Apa? Karena Laura istri sahku sedangkan kamu hanya istri siriku."jawabnya lagi masih dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi "Bukan itu Tuan. Saya tahu jika tuan hanya menganggap Saya sebagai perawat. Jadi Saya tidak berharap lebih."ucapku dengan hati yang terasa perih "Kamu senang? Jika aku menceraikan mu?"ucapnya dengan tatapan tajam kearahku Entah mengapa mendengar hal itu. Hatiku sedih. "Jika memang itu yang harus terjadi. Saya bisa apa Tuan."jawabku lemah "Aku sudah mengatakan kepadamu. Jadilah istri yang baik dan penurut. Maka kamu akan aku penuhi dengan materi."ucapnya lagi sambil melihatku "Tapi, Tuan. Sebuah pernikahan itu harus saling menyayangi, mencintai dan saling melengkapi. Bukan hanya soal materi saja,"jawabku sedikit berani "Bukankah kamu menikah denganku, karena materi? Jadi biarkan semua berjalan seperti apa yang seharusnya. Aku akan menafkahimu sebulan lima puluh juta. Tugasmu menjadi seorang istri yang penurut."jawabnya tegas Aku sangat terkejut mendengar ucapan tuan Herman. Hatiku terasa sangat sakit mendengar hal itu. Tapi mau bagaimana lagi. Memang benar aku dulu mau menikah dengan tuan Herman karena kesulitan uang. Tapi, setelah semua hutangku lunas dan Luna bisa sekolah di tempat yang terbaik. Aku menganggap jika pernikahanku dengannya seperti pernikahan pada umumnya. Jujur aku mulai menaruh hati dengan kepadanya, karena akhir-akhir ini tuan Herman memperlakukanku seperti sebagai seorang istri bukan perawat. Air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya menetes juga. "Jangan sedih. Beri aku waktu untuk bisa membuka hati untukmu." Ucap tuan Herman dengan lembut sambil memelukku. "Saya tidak berharap banyak Tuan. Saya takut jika Saya akan kecewa."lirihku "Maaf jika ucapanku menyinggungmu. Beri aku waktu untuk bisa membuka hati dan bisa menerimamu seutuhnya menjadi istri ku."pintanya dengan lembut dan penuh kasih Aku jujur masih bingung dengan semua sikap tuan Herman. Jika dia belum bisa mencintaiku. Lalu mengapa selama di villa menjamahku? Apa aku hanya di butuhkan untuk menyalurkan hasratnya? Jika benar seperti itu. Apa bedanya aku dengan seorang P*K. Aku tidak lagi menjawab tuan Herman. Aku memilih untuk membaringkan tubuhku. Dan membelakanginya Kamar kembali sunyi. *** Keesokan paginya. Kami sarapan bertiga. Nyonya Laura melayani suaminya. Sebenarnya aku sedikit terkejut melihat hal iru. Karena selama ini Nyonya Siska hanya peduli dengan dirinya sendiri. Semua kebutuhan tuan Herman, aku yang mengurusnya. "Airin. Mulai sekarang kamu tidur di kamar mu sendiri." Ucap Nyonya Laura. Aku terkejut mendengar hal itu. Karena baru semalam tuan Herman menyuruhku untuk memindahkan barang-barangku ke kamarnya. "Tidak bisa begitu dong Dek. Kalau aku butuh apa-apa nanti bagaimana?"ucap tuan Herman dengan lembut "Tapi, Mas. Aku tidak mau jika nanti kamu menyentuh Dia."jawab Nyonya Laura manja "Sudah kamu tidak usah berpikir yang tidak masuk akal."jawabnya sambil mengelus rambut Nyonya Laura. Aku terkejut melihat pemandangan didepanku. Jantungku berdetak lebih kencang dan terasa nyeri sekali. "Kamu kan sedang hamil, jadi biar Airin yang mengurus Mas. Nanti setelah melahirkan. Baru kamu yang mengurus Mas."imbuhnya Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan ucapan tuan Herman, bukankah dia tidak suka dengan kehamilan nyonya, bahkan dia pernah mengatakan jika anak yang ada diperutnya bukanlah darah dagingnya. Lalu, mengapa sekarang seperti ini, tuan seakan menerima anak itu. Mataku mulai terasa panas. Ingin sekali aku menangis. Tapi tidak! Aku tidak mau mereka tahu jika aku saat ini rapuh dan terluka. Mungkin benar kata Bu Narti. Lebih baik aku manfaatkan kesempatan yang ada. Aku akan mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebanyak mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN