Madu Pilihan Pria Lumpuh
BAB 13
Setelah sarapan. Aku memilih untuk membantu Bu Narti didapur.
Sedangkan tuan Herman dan Nyonya Laura sedang ngobrol di ruang tengah.
Nyonya Laura terlihat sangat manja kepada tuan Herman. Nyonya menyandarkan kepalanya di bahu tuan. Sungguh pemandangan yang sangat menyakitkan bagiku. Tapi, aku hanya bisa menjadi penonton, karena tidak mungkin aku marah kepada mereka.
Hatiku terasa sangat sakit melihat hal itu. Tapi, Bu Narti segera meyadarkanku.
"Rin. Ingat, kamu tidak boleh memiliki perasaan kepada tuan. Nanti kamu akan sering sakit hati." Ucapnya sambil mengelus bahuku.
"Iya, Bu. Airin sadar diri kok."jawabku berbohong
"Syukurlah kalau begitu, Rin. Ibu hanya ingin kamu dan Luna hidup bergelimang harta. Jadi tidak akan ada lagi yang menghina kalian, kamu manfaatkan keadaan yang ada,"ucapnya lagi sambil memegang tanganku
"Iya, Bu."jawabku sambil mengangguk
Setelah selesai bermesraan dengan nyonya, tuan memintaku untuk mengantarnya kembali ke kamar.
Setelah di dalam kamar. Tuan Herman langsung memelukku.
"Maaf. Jika ucapanku tadi menyakiti hati mu."ucapnya dengan lembut
Aku hanya diam jujur saja aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak tahu permainan apa yang sedang dimainkan oleh tuan Herman.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sadar diri kok."jawabku berbohong
"Syukurlah kalau kamu sadar akan posisimu."jawabnya dengan nada ketus
DEG. Tuch kan. Tuan Herman jutek lagi. Sebentar-sebentar lembut. Sebentar-sebentar jutek. Apa mungkin semua orang kaya seperti itu.
Ah! Sudahlah. Yang terpenting sekarang aku ikuti saja permainan tuan Herman dan Nyonya Laura. Aku tidak boleh terlalu bodoh, jadi mereka tidak bisa mempermainkan aku sesukanya.
Cinta! Akan aku buang jauh-jauh rasa cinta yang mulai tumbuh. Aku tidak akan memberikan cinta tulusku kepada laki-laki yang tidak mencintaiku.
"Maaf, Tuan, saya mau kembali ke dapur, jika tuan tidak memerlukan sesuatu lagi."ucapku kepadanya
"Duduk saja disini. Aku mau bekerja dan tidak ingin di ganggu sama Laura."titahnya
Setelah itu tuan Herman berjalan ke ruang kerjanya, tanpa menunggu jawaban dariku.
Ketika di ruang kerja. Aku mendengar tuan sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang.
[Iya. Saya mau. Kamu selediki semuanya.]
[Saya mau bulan depan sudah harus beres.]
Setelah itu tak terdengar lagi suara tuan Herman berbicara, mungkin dia sudah mengakhiri panggilan teleponnya.
Aku masih duduk sambil menonton televisi. Bosan. Tapi mau bagaimana lagi. Karena tidak diijinkan untuk keluar kamar.
***
Sudah waktunya makan malam.
Kami bertiga makan malam bersama. Tak ada lagi protes yang keluar dari mulut Nyonya Laura.
Setelah makan malam. Tuan Herman memintaku untuk mengupaskan apel.
Sedangkan Nyonya Laura beranjak pergi meninggalkan kami yang masih di meja makan.
Aku lalu segera mengambil dua buah apel di kulkas dan langsung mengupasnya.
Setelah selesai aku lalu memberikan kepadanya.
"Rin, besok pagi kamu sama Mbok Narti pergi ke Bank untuk membuka rekening."titahnya
"Baik Tuan."jawabku
"Kalau kamu punya rekening. Aku enak transfer uang bulanan untukmu."ucapnya lagi sambil memasukkan potonga apel kedalam mulutnya
"Terima kasih Tuan."jawabku
"Terima kasih untuk apa? Aku ini suami mu. Jadi sudah kewajibanku untuk menafkahimu."jawabnya ketus
Aku tersenyum mendengar ucapan Tuan Herman.
Tak berselang lama. Nyonya Laura keluar dari kamarnya dengan pakaian yang bisa dibilang cukup sexi.
"Mau kemana kamu?"tanya tuan Herman
"Mas. Aku mau pergi sebentar. Karena sudah janji dengan klien."jawab Nyonya Laura
"Klien! Mau ketemu mereka dengan pakaian seperti itu? Atau kamu mau bertemu sama kekasihmu itu!"ucap tuan Herman dengan nada tegas
"Sudah Mas. Jangan cari ribut. Aku malas. Kita sudah membahas hal itu."jawab Nyonya Laura dengan kesal.
Lalu setelah menjawab itu nyonya Laura pergi meninggalkan kami.
"Dasar. Perempuan egois."gumamnya.
Aku tidak mau banyak bertanya. Karena sepertinya suasana hati tuan sedang buruk, setelah kepergian Nyonya Laura.
Setelah selesai makan apel. Tuan Herman menyuruhku untuk bersiap. Karena dia ingin mengajakku untuk pergi mencari angin segar.
Setelah berganti baju. Kami pergi diantar oleh supir. Namun, di tengah perjalanan tuan Herman meminta sang supir untuk turun di sebuah hotel.
"Pak Sukir. Saya sudah pesankan kamar untuk Bapak istirahat."ucapnya kepada sang supir.
Sepertinya Pak Sukir. Mengerti maksud tuan Herman. Karena Pak Sukir tidak bertanya atau terlihat bingung mendengar ucapan tuan.
Pak Sukir langsung bergegas turun dari mobil.
Setelah kepergian Pak Sukir. Tuan Herman pindah ke kusi kemudi, dia juga menyuruhku untuk pindah di kursi depan.
Setelah mobil melaju. Aku baru berani bertanya.
"Tuan. Apa nanti pak Sukir tidak cerita dengan Nyonya?"tanyaku penasaran
"Kamu tidak usah khawatir. Sukir adalah orang kepercayaanku."jawabnya
"Jadi. Tidak hanya saya yang mengetahui jika Tuan sudah sembuh?"tanyaku lagi
"Iya,"jawabnya
"Apakah semua ini ada maksud dan tujuannya?"tanyaku kepadanya. Sebenarnya aku sangat takut untuk bertanya hal itu, tapi, rasa penasaranku membuatku sedikit berani
Tuan Herman mengangguk dan tersenyum, dia tidak menjawab dengan ucapan.
Aku tidak tahu kemana tuan Herman mengajakku pergi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Akhirnya kami sampai di sebuah hotel yang sangat mewah.
Tuan Herman lalu mengajakku turun. Tuan menggandeng tanganku.
Hatiku sangat senang ketika aku di perlakukan layaknya seorang istri olehnya. Tapi aku buru-buru tersadar, jika aku tidak boleh terbuai dengan sikap tuan Herman yang sering berubah-ubah.
Setelah masuk ke sebuah kamar yang sangat besar dan mewah. Tuan Herman menyuruhku untuk beristirahat. Sedangkan dia keluar entah kemana.
Aku tertidur karena memang sudah cukup malam. Aku terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu.
Aku lalu bergegas bangkit dan membuka pintu. Tuan Herman sedang berdiri disana, namun matanya sedikit sayu.
"Airin..."ucapnya. Ada yang aneh dengan tuan Herman. Aku lalu membantu tuan untuk masuk kedalam kamar.
Aroma mulut dari tuan Herman sangat menyengat. Aku tidak pernah mencium aroma seperti itu.
Tuan berjalan sempoyongan. Dan tanpa aku duga. Tuan Herman langsung menarik ku dan menghempaskan tubuhku di atas kasur. Tuan Herman mulai menindihku dan mencumbuiku dengan sangat brutal.
Setelah melepaskan hasratnya Tuan Herman langsung tertidur. Sedangkan aku hanya bisa menangis. Jujur hatiku terasa sangat sakit dengan perlakuan tuan malam ini. Biasanya tuan walaupun sikapnya dingin dan jutek tidak pernah sekasar itu denganku. Dia melakukan hal itu dengan sangat lembut tidak sebrutal tadi.
Tuan tidur terlihat sangat pulas. Sedangkan aku tidak bisa memejamkan mata. Rasa sakit menjalar diseluruh tubuhku.
Keesokan paginya. Tuan Herman bangun dengan raut wajah yang terlihat terkejut.
"Rin. Apa yang terjadi semalam?"tanyanya bingung, karena ada kain yang menempel di tubuhnya dan hanya tertutupi oleh selimut.
Aku masih terdiam mendengar pertanyaan tuan Herman. Apakah dia lupa dengan apa yang sudah dia lakukan semalam?
"Rin. Jawab!"bentaknya
Aku lalu menunjukkan beberapa luka memar yang ada di tubuhku.
Tanpa berkata sepatah katapun. Tuan Herman terlihat sangat terkejut melihat hal itu.
"Apa aku yang melakukan itu?"tanyanya tak percaya
Aku hanya mengangguk tanpa menjawabnya.
"Kamu tidak bohongkan?"tanyanya lagi. Aku kembali mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Setelah cukup yakin dengan jawabanku. Tuan Herman langsung meraih baju dan celananya yang berserakan di sampingnya, setelah itu langsung berlari kekamar mandi
Setelah beberapa saat. Tuan Herman mendatangiku yang sedang berdiri di balkon. Tuan memelukku dari belakang.
"Maafkan aku... Maaf semalam aku mabuk."ucapnya dengan sangat lembut sambil mengecup tengkukku.
Aku hanya diam tanpa menoleh kearahnya.
Tuan Herman semakin mempererat pelukannya.
"Rin. Maafkan aku..."ucapnya lirih.
"Sebagai tanda permintaan maafku. Maka aku akan memberikan hadiah untuk mu."imbuhnya.
"Setelah sarapan. Kita akan pergi ke suatu tempat. Aku yakin kamu pasti akan senang."tambahnya.
Aku berpikir sejenak mendengar ucapan tuan Herman. Apakah tuan akan mengajak ku ke asrama Luna? Mungkin saja, karena hanya bertemu dengan Luna yang bisa membuatku senang.
Kami lalu sarapan. Setelah sarapan kami langsung pergi. Hening, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Semuanya terasa canggung.
Setelah berkendara sekitar satu jam lebih, aku baru menyadari jika ini bukanlah jalan menuju asrama Luna. Entah kemana tuan akan membawaku pergi.
Ingin sekali aku bertanya, tapi, aku takut jika tuan tidak suka jika aku terlalu cerewet.
Aku hanya bisa diam mengikuti kemana tuan membawaku. Rasa sakit ditubuhku masih terasa, tapi, aku takut untuk mengeluhkan rasa itu.
Apakah dihati tuan memang benar-benar merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan semalam? Lalu mau dibawa aku ini olehnya?