Rumah baru Airin

1313 Kata
Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh BAB 14 Aku tidak tahu kemana tuan Herman membawaku. Karena aku takut untuk bertanya, akhirnya aku hanya bisa diam sambil menebak-nebak kemana kiranya kami akan pergi. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya kami sampai disebuah rumah yang lumayan besar. Tuan Herman menyuruhku untuk turun bersamanya. "Ayo turun."ajaknya. Aku hanya mengangguk dan langsung turun dari mobil. Aku mengekor dibelakangnya. Ketika kami sampai didepan pintu ternyata sudah ada orang yang menunggu kami. "Selamat siang." ucap orang itu sambil mengulurkan tangannya kepada tuan Herman "Siang."jawabnya singkat dan padat "Mari kita langsung saja masuk kedalam untuk melihat-lihat. Siapa tahu nanti bapak ingin ada yang diubah lagi."ucap pria yang menyambut kami tadi "Ok... Perkenalkan ini istri saya." ucap tuan Herman sambil menunjuk kearahku. Lalu laki-laki itu mengulurkan tangannya kepadaku dan aku pun menjabat tangannya sambil menyebutkan namaku. Awalnya laki-laki itu sedikit terkejut ketika tuan menyebutkan jika aku adalah istrinya. Entah mengapa seolah laki-laki itu tidak percaya jika aku adalah istri tuan Herman. Apakah penampilanku seperti seorang pembantu sehingga tidak serasi jika bersanding dengan tuan Herman? Kami lalu masuk kedalam rumah itu. Aku begitu takjub ketika melihat isi rumah itu begitu mewah dan elegan. Rumah ini tak kalah mewah dari rumah tuan Herman dan nyonya Laura. Kami melihat-lihat dengan sangat detail. Dan tibalah disebuah kamar utama. Desainnya sangat mewah dan sangat luas. Tuan Herman menyuruh laki-laki itu untuk pergi meninggalkan kami. Setelah laki-laki itu pergi. Tuan Herman memelukku dari belakang. "Bagaimana menurutmu?"tanyanya sambil menyandarkan kepalanya dibahuku "Ba-bagus Tuan."jawabku terbata "Kamu suka?"tanyanya lagi "Su-suka."jawabku "Apakah ada yang ingin kamu ubah?"ucapnya sambil melepas pelukannya "Ma-maksudnya tuan Herman apa, saya tidak mengerti?"jawabku bingunh "Rumah ini adalah rumahmu dan Luna. Aku sebagai suami harus bersikap adil. Laura sudah aku belikan rumah, jadi sekarang aku mau membeli rumah ini sebagai hadiah untukmu, dan bukankah kamu suka dengan uangku?"ucapnya sambil melihat kearah jendela dengan nada tegas Aku sangat terkejut mendengar hal itu. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika tuan Herman akan sangat sepeduli ini denganku. Walaupun ada kata-kata yang menyakitkan tapi, tidak aku hiraukan. Yang terpenting bagiku tuan saat ini bersikap adil sebagaimana layaknya seorang suami kepada kedua istrinya. "Tuan... Apakah bagi tuan, aku adalah seorang istri sama seperti nyonya?"tanyaku lagi "Tentu... Bahkan kamu lebih spesial bagiku. Oleh karena itu kamu harus bisa menjadi seorang istri yang setia dan penurut."jawabnya dengan raut wajah datar "Tapi, tuan... Jika nyonya tahu maka dia tidak akan suka. Dan saya takut akan berbahaya dengan kandungannya."jawabku "Aku tidak peduli dengan anak yang ada dikandungan Laura."jawabnya sinis "Ta-tapi tuan..."ucapku terbata. Aku jadi semakin bingung kemarin dia terlihat menerima anak itu, tapi, sekarang dia bilang tidak peduli. Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran tuan Herman? "Kamu tidak usah ikut campur urusan ku dengan Laura. Yang kamu harus perhatikan adalah terus berpura-pura merawatku seolah aku masih lumpuh. Ingat itu perintah dari suamimu."imbuhnya dengan nada tegas "Ba-baik tuan..."jawabku Lalu tuan Herman melabuhkan sebuah ciuman dipipiku. Aku hanya bisa tertunduk. Setelah melihat semuanya dan bagiku tak ada yang harus diubah. Lalu tuan Herman berbicara empat mata dengan laki-laki itu, sedangkan aku menunggu dimobil. Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit akhirnya tuan Herman masuk kedalam mobil. Ketika didalam mobil tuan memberiku sebuah kunci. "Ini kunci rumahmu dan ingat simpan baik-baik karena untuk sementara kamu masih belum bisa tinggal disana. Aku akan mengisinya terlebih dahulu, jadi sewaktu-waktu jika Luma libur sekolah kalian bisa menghabiskan waktu bersama dirumah itu."ucapnya sambil membetulkan sabuk pengamannya "Te-terima kasih tuan..."ucapku sambil menerima kunci dari tangannya "Sertifikat rumah itu atas namamu,"ucapnya lagi. Seulas senyum tergambar dari kedua sudut bibirku. "Terima kasih,"jawabku Aku lalu menyimpan kunci itu. Kami lalu langsung pulang kerumah. Sebelum sampai rumah tuan sudah menghubungi pak Sukir untuk menggantikannya menyetir agar tidak ada yang curiga. Begitu sampai rumah, kami disambut oleh omelan nyonya Laura. "Bagus! Darimana saja kalian dari kemarin?"tanyanya dengan nada tinggi Tuan Herman tidak menggubris ucapan nyonya Laura. "Bawa aku kekamar." perintah tuan Herman kepadaku. Saat ini memang tuan Herman sedang bersandiwara kembali sebagai orang yang duduk dikursi roda. "Mas! Aku belum selesai ngomong!" Teriak nyonya Laura "Ngomong saja sama tembok!" Jawab tuan Herman tanpa menoleh kearah nyonya Siska "Mas! Aku ini istrimu! Jadi jangan acuhkan aku begini!" protesnya "Seorang istri itu tidak akan pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada suami!" Jawab tuan Herman sinis "Cepat dorong! Kita kekamar!"Imbuh tuan Herman dengan nada tinggi kearahku. Aku langsung bergegas mendorong kursi roda tuan Herman dan kami masuk kedalam kamar. Begitu pintu hendak aku tutup. Nonya Laura langsung masuk. "He! Pembantu kamu keluar! Aku ingin berbicara dengan saumiku!" ucapnya dengan nada ketus "Baik Nya..." Jawabku "Ingat! Kalau aku tidak memanggilmu maka kamu jangan masuk kesini!" ucapnya lagi "Baik..." jawabku sambil aku berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah meninggalkan kamar tuan Herman. Aku langsung menuju kamarku untuk beristirahat. Ketika aku sedang istirahat Bu Narti mendatangiku. "Rin... Kamu tidak apa-apa?"tanyanya dengan wajah yang terlihat khawatir "Iya, Bu... saya baik-baik saja kok."jawabku sambil mengulas senyum dibibirku "Bagaimana kabar Luna?"tanyanya Aku sempat terkejut mendengar pertanyaan Bu Narti. Karena memang kami kemarin tidak keasrama Luna. "Lu-luna baik kok Bu." Jawabku berbohong "Syukurlah kalau begitu Rin... Ibu jadi tenang dengarnya. Ya sudah kamu istirahat kalau butuh apa-apa panggil Ibu didapur ya."ucapnya sambil berlalu pergi "I-iya Bu."Setelah itu Bu Narti pergi meninggalkan aku. Sedangkan aku melanjutkan istirahat. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun karena tenggorokan terasa kering. Aku lalu bangkit dari kasur dan langsung mencuci muka, setelah itu aku menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, ketika aku akan balik kekamar aku melihat nyonya Laura baru saja keluar dari kamar tuan dengan pakaian yang sangat minim dan sedikit berantakan. Entah mengapa ketika aku melihat itu membuat dadaku terasa nyeri. Apakah mereka habis melakukan hal itu? Memikirkan itu membuat dadaku semakin nyeri dan sesak. Aku langsung bergegas masuk kedalam kamar dan menguncinya. Air mataku luruh dan aku segera mengusapnya. Aku harus sadar jika aku ini hanyalah istri kedua, jadi tidak boleh marah atau sakit hati apa bila tuan dan nyonya melakukan hal itu. Ketika aku sedang mengusap air mataku tiba-tiba pintu kamar diketuk. "Rin..."ucap bu Narti dari balik pintu "Oh... Iya Bu..."jawabku sambil bergegas membuka pintu "Dipanggil tuan."ucapnya "Iya, Bu... Airin segera kesana."jawabku Aku langsung mencuci mukaku lagi agar tuan tidak tahu jika aku habis menangis. Aku lalu bergegas masuk kedalam kamar tuan dan seketika langkahku terhenti ketika melihat kasur yang begitu berantakan. Dadaku terasa amat nyeri. Aku berusaha untuk sekuatnya menahan agar tuan tidak tahu jika saat ini aku sedang menahan rasa sakit dihatiku. "Kamu bereskan kasur dan ganti seprai dengan yang baru." Titah tuan kepadaku tanpa rasa bersalah sedikit pun. Aku tidak menjawabnya. Aku langsung menuju lemari dimana tempat seprai disimpan. Aku lalu dengan cekatan mengganti seprai itu dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan tuan Herman sibuk diruang kerjanya. Setelah mengganti seprai, aku berencana langsung keluar tapi tuan Herman melarangku. "Jangan kemana-mana. Aku butuh kamu disini."ucapnya dengan nada datar Aku lalu duduk sambil menunduk. Aku tidak berani menatapnya karena jika aku menatap wajahnya pasti akan menangis. Tuan Herman lalu berjalan untuk mengunci pintu dan setelah itu dia berjalan kearahku. "Kamu sudah makan?"tanyanya sambil menghampiriku "Belum."jawabku singkat sambil melihat kearah lain "Bagaimana jika kita makan diluar?"ajaknya sambil duduk disampingku "Maaf tuan, ada nyonya dirumah jadi lebih baik kita makan dirumah saja."jawabku "Kenapa kamu tidak mau menatapku? Tidak sopan jika berbicara dengan suami tapi membuang muka."tanyanya dengan nada marah "Ti-tidak ada apa-apa. Maaf saya permisi dulu mau menyiapkan makan malam."jawabku sambil bangkit dari tempat duduk "Airin! Kamu itu istriku jadi tugasmu hanya untuk melayaniku."ucapnya lagi "Menyiapkan makanan juga tugas seorang istri jadi saya permisi."jawabku sedikit meninggikan suara Aku lalu bergegas berjalan keluar kamar. Aku tidak mau berlama-lama dikamar, karena pastinya aku akan menangis. Aku tidak mau tuan berpikir jika aku cemburu atau marah karena mereka habis melakukan hal itu. Kenapa hatiku begitu sakit melihat kenyataan seperti ini? Bukankah seharusnya aku berlapang d**a, bahwa nyonya Laura juga berhak bersama tuan. Mampukah aku bertahan? Dan bisakah aku menghapus benih cinta yang mulai tumbuh ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN