Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh
BAB 15
Aku tidak mau menatap tuan Herman. Karena jika aku menatapnya maka air mata yang sedari tadi aku tahan pasti akan jatuh.
Aku tidak mau tuan Herman tahu jika aku sakit hati melihatnya bersama nyonya Laura.
Aku langsung bergegas keluar dan langsung menuju dapur untuk membantu Bu Narti menyiapkan makan malam.
Sebenarnya bu Narti melarangku membantunya, tapi, aku tetap memaksa karena hanya itu yang bisa membuat hatiku sedikit terhibur.
Setelah selesai memasak aku langsung bergegas mandi dan setelah itu aku hendak kekamar tuan Herman untuk memanggilnya makan.
Namun begitu aku berjalan menuju kamarnya ternyata nyonya Laura sudah mendorong kursi roda tuan Herman menuju meja makan.
Aku langsung mengekor dibelakang mereka.
Setelah sampai meja makan nyonya Laura mulai menghardikku.
"Dari mana saja kamu! Bukankah tugasmu itu mengurus saumiku."ucapnya dengan nada ketus
"Maaf nyonya tadi saya bantu bu Narti menyiapkan makan malam."jawabku
"Tugasmu itu hanya mengurus suamiku jadi jangan mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tanggung jawabmu!"hardiknya lagi
"Tapi nyonya... Sebagai seorang istri sudah kewajiban saya untuk menyiapkan makanan untuk tuan."jawabku dengan tegas
"Apa! Istri! Kamu sudah mulai berani menyebut dirimu sebagai istri didepanku!"ucapnya dengan nada tinggi. Nyonya Luara tidak terima ketika mendengar jawabanku.
"Bu-bukan maksud saya begitu nyonya."jawabku terbata, jujur ada rasa sedikit takut dihati ini.
"Airin dengar ya! Kamu itu saya nikahkan dengan mas Herman agar ada yang mengurusnya. Jadi, kamu jangan besar kepala dan jangan terlalu berharap menjadi istri suamiku sungguhan."ucapnya dengan nada semakin tinggi
"I-iya nyonya maaf."jawabku sambil menundukkan kepala
"Ya sudah kamu pergi sana. Aku mau makan berdua dengan suamiku."usirnya kepadaku dengan tatapan marah
Aku lalu memutar badan dan akan berjalan pergi. Namun ketika kaki akan melangkah tuan Herman melarangku.
"Airin duduk! kita makan bersama."titahnya
"Mas! Aku tidak selera jika makan sama pembantu!"jawab nyonya Laura sambil melihat kaearahku
"Siapa yang kamu sebut pembantu?"tanya tuan dengan nada tegas
"Ya perempuan inilah mas siapa lagi."jawab nyonya sambil menunjukku
"Laura, kamu lupa? Bukankah kamu yang sudah menikahkan kami. Jadi status dia sama kamu itu sama bagiku."jawab tuan sambil menatapnya dengan tatapan tajam
"Tidak! Perempuan itu hanya sebagai orang yang merawat kamu tidak lebih!"tolaknya dengan nada tinggi
"Ya, itu terserah kamu, suka ataupun tidak Airin adalah istri keduaku, jadi, kalian memiliki hak dan status yang sama dirumah ini."jawab tuan dengan santai
"Mas! Jangan bilang kalau kamu sudah mulai tertarik dengan perempuan kampung ini ya!"protesnya
"Tertarik ataupun tidak itu bukan urusan kamu. Jadi, lebih baik kamu urus anak yang ada diperutmu itu."jawab tuan sambil menunjuk perut nyonya Laura yang mulai membuncit
"Mas ini tu anak kamu. Kenapa kamu tidak peduli sedikitpun dengan anak ini?"rengeknya dengan nada lembut
"Tanpa aku jawabpun sebenarnya kamu sudah tahu. Jadi lebih baik kamu duduk diam dan nikmati makananmu."jawab tuan dengan nada santai dan sedikit menusuk
Nyonya Laura lalu bangkit dari kursinya sambil memegang gelas berisi air dan beberapa detik kemudian.
"Byuuuurrrrr"
Badanku basah disiram olehnya. Tuan Herman yang melihat hal itu menjadi murka kepada nyonya Laura.
"Laura! Apa yang kamu lakukan!"teriaknya
Nyonya Laura tidak menanggapi omongan tuan Herman. Dia berlalu pergi meninggalkan kami.
"Rin. Kamu cepat ganti baju sana."titahnya kepadaku
"I-iya tuan."jawabku
Aku lalu bergegas masuk kedalam kamar untuk berganti baju. Jujur aku sangat sedih dengan kejadian tadi. Apakah aku ini salah? Bukankah pernikahan ini juga atas permintaan nyonya sendiri. Tapi, mengapa seolah aku ini seorang perempuan yang merebut suaminya. Dia yang menarikku masuk kedalam pernikahan ini. Lalu kenapa dia yang tidak terima jika aku memperlakukan tuan sebagai seorang suami?
Apakah lebih baik aku pergi dari sini saja. Bukankah hutangku sudah lunas, jadi aku bisa tinggal dikampung dengan tenang. Ditambah lagi aku memiliki cukup uang dan rumah yang baru dibelikan tuan. Aku yakin pasti sanggup membiayai sekolah Luna dengan uang yang saat ini aku miliki.
Setidaknya jika aku hidup dikampung, aku tidak lagi diperlakukan seperti ini dan tidak di pandang rendah lagi. Aku juga tidak akan merasakan sakit hati.
Aku akan memberi pengertian kepada Luna agar dia bisa mengerti dan mau ikut denganku untuk kembali tinggal dikampung.
Bulan depan Luna sudah mulai libur sekolah. Jadi sepertinya itu waktu yang tepat untuk ku mengajak Luna untuk pulang ke kampung. Siapa tahu dengan liburan dikampung Luna jadi lebih betah dan tidak mau lagi balik kekota.
Aku lalu menyeka air mata yang membasahi pipiku dan setelah itu aku keluar karena tuan Herman pasti masih menungguku dimeja makan.
Ketika aku keluar ternyata tuan Herman sudah tidak ada. Mungkin Bu Narti yang membantunya masuk kedalam kamar.
Ketika aku mau menuju kamar tuan Herman. Aku berpapasan dengan Reni.
"Mbak Reni, apakah tuan tadi masuk kedalam kamar?"tanyaku untuk memastikan
"Aduh. Kamu bisa gak sich cari sendiri! Kamu itu jangan berlagak seolah kamu itu majikan. Kita ini sama statusnya yaitu pembantu!"jawabnya dengan nada sinis. Jujur aku sangat terkejut mendengar Reni berbicara dengan nada sinis seperti itu, karena selama ini dia sangat lembut, walaupun tatapan matanya menyiratkan kebencian.
Karena aku tidak mau berdebat dengannya, aku lalu masuk kedalam kamar tuan Herma, setelah didalam kamar aku terkejut ada makanan dimeja.
"Rin... Makanlah."titahnya
"Ba-baik tuan." Aku lalu duduk dan menyantap makanan itu. Sedangkan tuan Herman menatapku dengan tatapan yang sedikit tajam hingga membuatku sedikit risih.
Setelah selesai makan, tuan Herman mengajakku untuk duduk dibalkon.
"Rin... Maafkan atas prilaku Laura tadi."ucapnya sambil matanya menatap kearah lain
"I-iya tuan. Saya memaklumi sikap nyonya, nyonya pasti cemburu karena saya menganggap tuan sebagai suami."jawabku
"Kenapa dia harus cemburu? Bukankah pernikahan ini dia yang mau."ucapnya dengan nada bingung
"Tuan yang namanya perempuan pasti cemburu jika laki-laki yang dicintai dimiliki oleh orang lain."jawabku memberi pengertian
"Apakah semua perempuan seperti itu?"tanyanya
"Benar tuan, semua perempuan pasti tidak akan rela jika suaminya harus dibagi dengan perempuan lain."jawabku jujur
"Apakah kamu juga termasuk perempuan itu?"tanyanya
Aku terdiam mendengar pertanyaan tuan Herman.
Aku lalu pergi meninggalkannya yang masih duduk di balkon.
Aku menuju meja yang tadi tempat aku makan, aku ingin membawa piring kotorku kedapur. Namun ketika aku akan membuka pintu tiba-tiba tuan Herman menarik tanganku hingga membuatku hampir terjatuh dan dengan sigap tuan Herman langsung menangkapku.
Piring yang aku bawapun akhirnya terjatuh dan pecah. Tuan Herman dengan sigap langsung mengangkatku.
"Tuan tolong turunkan saya."pintaku
"Tidak... Malam ini kamu harus disini menemaniku."jawabnya masih sambil membopongku
"Saya harus membereskan pecahan piring itu tuan."jawabku mencari alasan agar diturunkan olehnya
Tuan Herman tidak mengindahkan permintaanku. Dia terus berjalan sambil menggendongku menuju kasur.
Tuan Herman lalu membaringkan tubuhku dan tanpa aku duga tuan langsung berbisik ditelingaku.
"Aku tahu kamu cemburu tadi sore."bisiknya
"Ti-tidak... Mana berani saya cemburu. Bukankah tuan dan nyonya adalah suami istri jadi sudah sewajarnya jika kalian melakukan itu."jawabku sedikit terbata
"Ha... Ha... Ha... Jadi kamu pikir tadi sore aku dan Laura sedang berc*mb*?"tanyanya dengan tatapan aneh
"Jika tidak mengapa seprainya begitu berantakan?"tanyaku dengan nada sedikit tegas
"Jadi seperti ini kalau kamu sedang cemburu?"ucapnya menggodaku
Aku tak dapat lagi membendung tangisku. Aku menangis sesegukkan.
"Tuan tolong lepaskan saya. Biarkan saya hidup bersama Luna."pintaku
"Maksud kamu apa?"tanyanya sinis
"Tolong ceraikan saya... Jujur saya tidak sanggup hidup seperti ini tuan. Tak pernah sedikitpun saya bermimpi untuk menjadi istri kedua. Tolong lepaskan saya ijinkan saya hidup dikampung."pintaku dengan sedikit memohon
"Rin... Apakah kamu tidak memiliki rasa cinta kepadaku?"tanyanya
"Tuan, awalnya memang saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap tuan, namun lambat laun dengan berjalannya waktu, rasa itu mulai tumbuh dan itu sangat menyiksa saya. Saya tidak sanggup melihat tuan bersama nyonya. Jadi lebih baik saya mengalah dan pergi."jawabku
"Apakah dengan pergi dari rumah ini kamu yakin tidak akan terluka?"tanyanya lagi
"Tuan, luka itu pasti ada, namun dengan berjalannya waktu, luka itu pasti akan sembuh dan jika saya masih disini maka luka itu hanya akan semakin dalam. Jadi tolong lepaskan saya."pintaku lagi
Tuan Herman tidak menjawab. Dia lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Didalam kamar ini tentu saja dia bebas bergerak karena tidak akan ada yang tahu jika dia sebenarnya sudah tidak lumpuh lagi.
Tuan Herman masuk kedalam ruangan kerjanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Wajahnya terlihat sangat serius.
Aku hanya bisa berharap semoga tuan Herman memikirkan keinginanku yang ingin berpisah darinya. Aku yakin keputusanku ini sudah sangatlah benar.
Semoga tuan Herman mengabulkan permintaanku, bukankah dia tidak mencintai aku, jadi pastilah sangat mudah melepaskan aku.