Pembelaan Herman

1272 Kata
Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh BAB 16 Aku hanya bisa berharap tuan Herman menyetujui permintaanku. Aku tidak mau perasaanku ini semakin dalam. Karena aku tahu jika aku memiliki perasaan cinta terhadapnya maka aku yang akan terluka. *** Keesokan paginya seperti biasa, setelah sholat subuh, aku membantu bu Narti memasak sarapan. Sedangkan tuan Herman masih tidur nyenyak dikasur. Aku memang tidak mau mengusik tidurnya, karena sepertinya dia tidur larut malam. Setelah selesei membuat sarapan, aku bergegas mandi. Aku tidak mau nanti tuan Herman teriak-teriak memanggilku. Setelah selesei mandi dan berganti baju, aku lalu masuk kedalam kamar tuan Herman. Namun betapa terkejutnya aku ketika pintu aku buka, aku melihat nyonya Laura sudah ada disamping tuan Herman. Tuan Herman sedang memeluk nyonya Lauraa dari belakang dengan mata yang masih terpejam. Jantungku berdegup kencang. Dadaku terasa sangat sesak. Aku langsung berlari keluar tanpa menoleh lagi kearah mereka. Aku masuk kedalam kamar dan menangis. Aku menutup wajahku dengan bantal agar suara tangisanku tidak terdengar oleh siapapun. Aku tidak mau ada yang mengetahui bagaimana perasaanku yang sesungguhnya kepada tuan Herman. Setelah puas menangis, aku langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesei mencuci muka, aku berniat untuk kedapur. Namun ketika aku melangkah menuju dapur nyonya Laura memanggilku. "Airin! Kamu bantu tuan Herman kekamar mandi." titahnya sambil berjalan menuju kamarnya dengan rambut sedikit berantakkan. Aku melangkah dengan ragu ke kamar tuan Herman. Aku berusaha sekuat hati untuk menutupi rasa sakit hatiku. Aku tidak mau tuan tahu jika aku cemburu. Aku lalu masuk kedalam kamar, aku sedikit terkejut ketika melihat tuan Herman masih tertidur lelap. Apakah tuan sangat capek dengan pertempuran mereka tadi? Sampai tuan Herman masih tertidur sangat nyenyak. Melihat hal itu membuat rasa cemburuku semakin besar. Aku mencoba agar air mataku tidak jatuh. Namun semakin aku mencoba menahannya, air mataku semakin mengalir deras. Aku langsung berlari kekamar mandi untuk mencuci muka dan menenangkan hatiku. Ketika aku berusaha untuk menenangkan hati, tiba-tiba tuan Herman masuk kedalam kamar mandi. Tuan sangat terkejut ketika melihatku dengan kondisi sedang menangis. "Kamu kenapa pagi-pagi begini menangis?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa. "Ti-tidak ada apa-apa." jawabku sambil mencoba untuk keluar dari kamar mandi. Namun ketika aku tepat berada disampingnya. Tuan Herman langsung menarik tanganku. "Katakan ada apa? Jangan membuatku marah!" Hardiknya "Ti-tidak ada apa-apa. Saya hanya merindukan Luna." jawabku berbohong "Kalau kamu kangen anakmu tinggal telepon kan bisa. Jadi tidak harus menangis seperti ini." ujarnya lagi sambil menatap tajam kearahku. Aku yang ditatap seperti itu langsung menunduk. Aku tidak sanggup menatap wajahnya. "I-iya... Nanti saya akan coba hubungi Luna." jawabku sambil menunduk. Setelah itu tuan Herman melepaskan tanganku, dan aku langsung keluar dari kamar mandi. Aku merapikan kasur dan menyiapkan baju ganti untuknya. Aku menunggu tuan selesei mandi sambil duduk dibalkon. Aku menatap langit yang cerah dipagi hari, sambil memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa terlepas dari pernikahan ini. "Apa yang membuatmu murung?" Tanyanya tanpa melihat wajahku. Aku sangat terkejut ketika menyadari tuan Herman sudah berada disisiku. Aku langsung reflek menoleh kearah sumber suara itu. "Se-sejak kapan tuan berada disini?" tanyaku dengan sedikit terbata "Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya lagi "Ti-tidak ada, tuan." jawabku berbohong. "Jika tidak ada, lalu kenapa kamu semurung ini? Apakah Laura menyakitimu lagi?" selidiknya "Ti-tidak, tuan." jawabku. Aku tidak mungkin menjawab "Iya nyonya Laura telah menyakiti hatiku karena sudah tidur denganmu" Aku hanya bisa mengucapkan hal itu dalam hati. Karena aku sangat faham dan mengerti akan posisiku. "Baiklah kalau begitu, ayo kita sarapan, aku sudah lapar." ucapnya sambil berjalan kearah kursi rodanya dan langsung duduk diatasnya. Aku lalu mendorong kursi roda itu keluar kamar menuju meja makan. Aku menyiapkan makanan dipiring tuan Herman, dan tak lama berselang nyonya Laura datang bergabung dimeja makan. Nyonya langsung melabuhkan sebuah ciuman dikening tuan Herman. "Pagi, Mas..." ucapnya dengan wajah sumringah. "Heem..." hanya itu yang keluar dari mulut tuan. Setelah nyonya duduk disamping tuan, aku langsung mengambilkan sarapan untuknya dan setelah itu baru aku mengambil sarapanku dan duduk diseberang mereka. Kami menikmati sarapan tanpa ada yang bicara satu katapun. Setelah selesei makan, nyonya Laura langsung berlari ke kamar mandi, sepertinya dia sedang m*nt*h. Aku tidak heran, karena memang biasanya orang yang sedang hamil memang seperti itu. Tak ada rasa cemas yang terpancar di wajah tuan, bahkan tuan terlihat sangat cuek mendengar suara nyonya Laura sedang m*nt*h. Setelah beberapa saat nyonya Laura kembali ke meja makan. "Rin! Kamu nanti bikinkan aku bakso ikan." titahnya. Tuan Herman langsung menatap wajah nyonya. "Kamu pikir Airin pembantu!" hardik tuan kepada nyonya yang sedang meminum jus "Bukankah memang dia pembantu." jawabnya dengan santai "Kamu sama dia itu statusnya sama, jadi kamu jangan seenaknya saja memberi perintah dia." ucap tuan Herman dengan nada tidak suka. "Mas! Sudahlah jangan berlebihan. Perempuan itu pembantu! Mau sampai kapanpun dia itu tetap pembantu. Jadi jangan samakan aku dengannya!"jawabnya dengan nada kesal "Suka tidak suka kalian berdua itu adalah istriku! Jadi status kalian itu sama." ucapnya dengan tegas "Kenapa sich mas. Kamu itu selalu membela Perempuan itu! Apakah kamu mulai cinta sama dia!" ucap nyonya Laura dengan nada tinggi "Aku cinta atau pun tidak. Bukan berarti kamu bisa memperlakukan dia semaumu!" jawab tuan Herman tegas. "Mas! Ini sudah menyalahi perjanjian kita. Ingat aku sekarang sedang hamil dan aku sangat butuh perhatian lebih darimu." ucap nyonya Laura dengan nada kesal "Jika kamu butuh perhatian dariku, maka kamu yang harus mengurusku." jawab tuan Herman "Apa!!! Aku harus mengurus mas? Mas, aku ini sedang hamil jadi mana mungkin bisa aku mengurusmu." jawab nyonya Laura menolak permintaan suaminya Tuan Herman hanya tersenyum mendengar jawaban nyonya Laura. Aku tidak tahu apa makna senyuman yang terpancar dari sudut bibir tuan Herman itu. "Mas... Temani aku periksa kandungan ya hari ini." rengeknya dengan manja Entah mengapa aku merasa iba mendengar hal itu. Ada rasa kasihan melihat nyonya sering diabaikan oleh tuan. Namun aku juga merasa sakit dan cemburu ketika melihat mereka bersama. Tuan Herman tidak merespon permintaan nyonya, dia hanya menoleh sebentar kearahnya dan melanjutkan melihat ponselnya lagi. Setelah itu, tuan memintaku untuk mengantarnya kekamar. Setelah sampai kamar, aku mencoba untuk bicara dengannya. "Tuan, maaf jika saya lancang. Apakah tuan tidak keterlaluan terhadap nyonya? Bagaimanapun juga nyonya adalah istri tuan, dan apalagi saat ini nyonya sedang hamil. Apakah tuan tidak ingin tahu bagaimana perkembangan anak tuan?" ucapku memberanikan diri "Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi lebih baik kamu diam." jawabnya dengan nada ketus. "Tapi, tuan. Jika tuan seperti ini sama saja tuan menyakiti anak dan istri tuan. Sebagai suami yang baik seharusnya tuan tidak boleh melakukan hal ini." ucapku dengan serius. "Diam!!! Kamu jangan pernah ikut campur dalam permasalahanku dengan Laura." jawabnya dengan nada tegas Tuan sepertinya sangat marah, aku tidak tahu apa yang sebenarnya yang mengusiknya, sehingga dia begitu marah ketika membahas kehamilan nyonya. Apakah tuan tidak menginginkan anak itu? Memang aku pernah mendengar jika anak yang dikandung nyonya adalah dari hasil hubungan terlarang nyonya dengan seseorang. Namun apakah semua itu benar adanya ataukah hanya tuduhan tidak mendasar tuan saja. Aku jadi tersadar akan sesuatu. Bagaimana jika aku hamil? Selama ini aku tidak memakai kontrasepsi apapun untuk mencegah kehamilan. Sedangkan tuan sudah beberapa kali melakukan hal itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku mulai memakai Pil Kb apakah bisa mencegah kehamilan, ataukah sudah terlambat? Sepertinya aku tunggu sampai akhir bulan ini saja, jika aku mendapatkan tamu bulanan, itu berarti aku bisa mengkonsumsi Pil Kb. Tapi, jika aku sampai terlambat bulan bagaimana? Nyonya Laura sudah pasti akan sangat murka kepadaku, karena dia sudah mewanti-wanti agar aku tidak melayani tuan diatas ranjang dan bagaimana jika tuan tidak mengakui anak itu lalu memperlakukan aku sama seperti nyonya Laura. Jujur saat ini aku sangat takut dan bingung. Semoga ketakutanku tidak terjadi. Aku belum siap jika harus hamil anak tuan Herman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN