Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh
BAB 17
Aku tidak tahu apa alasan tuan Herman tidak peduli dengan anak yang ada didalam perut nyonya.
Aneh sich menurut aku, karena bukankah ini adalah anak pertama mereka? Tapi entahlah. Aku takut jika harus bertanya lebih jauh lagi. Karena tadi saja aku sudah dibentak olehnya.
"Rin! Kamu bersiap. Kita akan pergi." titahnya.
"Kita mau kemana tuan?" tanyaku.
"Kamu tidak usah banyak tanya. Sekarang lebih baik kamu bersiap. Aku tidak suka menunggu terlalu lama." ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi.
Aku lalu keluar dari kamar tuan dan langsung masuk ke kamarku untuk berganti baju.
Aku tidak lupa membawa mukena seperti biasanya. Setelah bersiap aku langsung kembali ke kamar tuan Herman
Seperti biasa ketika berada di luar kamar tuan akan kembali menggunakan kursi rodanya.
Aku mendorong kursi roda itu menuju mobil. Namun belum juga sampai di pintu utama, nyonya Laura berseru memanggil tuan.
"Mas! Aku ikut." ujarnya sambil berjalan kearah kami.
"Kamu naik mobilmu saja. Aku akan pergi kesuatu tempat." tolak tuan
"Gak! Pokoknya aku ikut!" ucapnya lagi
"Bukankah kamu mau ke Dokter?" tanya tuan Herman
"Iya mas... Aku mau ke Dokter, tapi aku ingin kamu nemenin aku." jawabnya dengan nada sedikit manja.
Tuan Herman menatapku. Aku memberikan kode dengan anggukan kepala.
"Ya sudah, ayo kita ke Dokter. Tapi setelah dari Dokter kamu pulang bersama pak Sukir." ucap tuan Herman.
"Bener mas... Kamu mau antar aku ke Dokter? Aku gak lagi mimpi kan, mas?" ucapnya lagi untuk meyakinkan pendengarannya.
"Sudah, cepat naik ke mobil." titah tuan dan nyonya langsung naik keatas mobil dengan senyum yang mengembang.
Pak Sukir membantu tuan Herman untuk naik keatas mobil.
"Kamu duduk di depan sama pak Sukir. Aku mau duduk disini bersama suamiku." titahnya nyonya Laura kepadaku.
"Iya, Nyah..." jawabku.
Ketika aku akan membuka pintu depan. Tuan Herman berkata.
"Rin. Kamu ikut duduk disini." titahnya kepadaku
"Mas! Aku hanya mau duduk berdua denganmu." ucap nyonya Laura marah
"Kalau kamu tidak mau ada Airin disini, lebih baik kamu yang duduk didepan." jawabnya santai
"Mas! Kenapa sich kamu itu selalu dia terus yang kamu pedulikan! Aku ini istri sah Mu!" ucapnya dengan nada tinggi
"Dia juga istriku. Apakah kamu lupa." jawabnya
"Mas! Tugas dia hanya untuk merawatmu bukan untuk menjadi penggantiku!" ucapnya dengan nada kesal
"Yang bilang jika dia penggantimu siapa?" jawab tuan Herman santai.
"Mas!"teriaknya
"Kamu kalau masih mau ribut lebih baik turun. Aku mau pergi." ucap tuan dengan nada tegas.
Nyonya Laura lalu terdiam mendengar hal itu.
"Airin. Cepat kamu duduk di sampingku." titahnya kepadaku.
Aku lalu duduk di samping tuan Herman. Jadi tuan di apit oleh kedua istrinya.
Kami lalu pergi menuju rumah sakit tempat dimana nyonya Laura akan memeriksakan kandungannya.
Sepanjang perjalanan nyonya Laura bergelayut manja di lengan tuan. Aku berpura-pura tidak melihat hal itu. Aku palingkan pandanganku kearah jendela.
Aku hanya diam sambil melihat kearah luar.
Setelah sampai rumah sakit dan mengantri akhirnya nyonya Laura mendapat gilirannya.
Tuan dan Nyonya masuk kedalam ruangan Dokter. Sedangkan aku menunggu mereka di ruang tunggu.
Aku tahu tuan Herman tidak memintaku untuk ikut masuk, karena sepertinya tuan ingin menjaga perasaanku.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya mereka keluar. Sebenarnya aku kasihan melihat nyonya harus mendorong kursi roda dengan kondisi perut yang sedikit mulai membuncit.
Tapi aku bisa apa. Karena memang tuan sendiri yang melarangku.
Setelah selesei menebus beberapa vitamin. Tuan meminta pak Sukir untuk mengantar nyonya pulang.
Nyonya sebenarnya tidak mau pulang dan ingin ikut kemana kami akan pergi. Tapi lagi-lagi, tuan berhasil membuat nyonya tidak bisa membantahnya.
Setelah kepergian nyonya. Tuan Herman memesan taksi online. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya taksi pesannya datang.
Kami langsung naik ke dalam taksi itu dan langsung melaju ke alamat yang tuan sebutkan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih akhirnya kami sampai di rumah yang tuan belikan untukku.
Kami lalu turun dari taksi dan tak lupa tuan membayar ongkos taksi.
Setelah itu kami langsung masuk kedalam rumah. Aku sangat terkejut karena sudah ada satpam yang berjaga di rumah itu. Padahal waktu itu belum ada.
Memang sudah hampir seminggu setelah aku melihat rumah ini untuk pertama kali.
Aku sangat terkejut ketika pintu terbuka. Ada seseorang yang menyambut kami.
"Tuan..." ucapnya sopan.
"Bagaimana sudah selesei semua yang saya tugaskan?" tanya tuan dengan nada tegas
"Sudah, Silahkan tuan periksa lagi siapa tahu masih ada yang kurang atau yang mau dipindahkan." jawab orang itu.
Aku lalu diajak berkeliling rumah oleh tuan. Jujur aku sangat terkejut karena semua isi rumah sudah sangat komplit.
Semua barang-barang yang ada disini semuanya masih baru dan terlihat sangat mahal harganya.
Setelah cukup berkeliling tuan Herman memanggil orang tadi.
"Roy. Kamu carikan dua orang asisten rumah tangga untuk mengurus rumah ini. Dan ingat cari yang benar-benar jujur. Karena rumah ini tidak saya tempati. Hanya sesekali kami datang." ucapnya kepada pria itu.
"Baik, Tuan. Pasti saya akan carikan yang terbaik untuk tuan." jawabnya dengan mantap
"Bagus. Sekarang kamu boleh pergi." ucap tuan Herman kepada pria itu.
Lalu pria itu pergi meninggalkan kami. Setelah pria itu pergi. Tuan mengajakku untuk melihat kamar utama.
Memang dari tadi kami hanya melihat tempat-tempat yang lain dan melewatkan kamar utama.
Aku merasa memang tuan Herman sengaja melewatkan kamar utama tadi. Tapi sudahlah pasti tuan memiliki alasan.
Dan benar saja. Ketika pintu terbuka mataku membulat sempurna. Aku sangat terkejut ketika melihat isi kamar itu.
Semua barang yang ada di kamar itu sangat komplit dan sangat mewah.
Tuan langsung memelukku dari belakang.
"Kamu suka?" tanyanya dengan lembut. Wajah tuan Herman yang berada di belakang telingaku membuatku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku sedikit merinding dibuatnya.
Tuan semakin mendekatkan tubuhnya hingga membuatku mematung.
Karena aku hanya diam. Tuan lalu membalikkan tubuhku agar menghadap kerahnya. Begitu wajah kami beradu tuan langsung melabuhkan sebuah ciuman di bibirku. Tuan tak hanya mengecup, tapi sudah mulai mel*m*tnya. Aku yang awalnya sedikit terhanyut akhirnya sadar jika saat ini tuan sedang menginginkan tubuhku.
Aku lalu mendorong tubuh tuan Herman sehingga tuan sedikit kaget dengan gerakanku.
"Maaf tuan, saat ini saya sedang datang bulan." ucapku sedikit berbohong dan takut
Tuan Herman terlihat sangat kecewa mendengar penuturanku.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!" bentaknya
"Maafkan saya, bukan maksud saya membuat tuan kecewa." jawabku sambil menunduk
"Seharusnya kamu itu memberitahuku dari awal! Apa kamu sengaja mempermainkan aku!" bentaknya.
"Tuan, Saya tidak pernah mempermainkan tuan. Bukankah tadi padi tuan juga sudah mendapatkan jatah dari nyonya Laura. Jadi saya pikir tuan tidak akan meminta hal itu lagi." jawabku dengan nada sedikit tinggi. Entah kenapa aku bisa seberani itu. Aku bahkan tak sadar dengan apa yang barusan aku katakan.
"Memangnya ada masalah jika tadi pagi aku sudah mendapatkan dari Laura dan sekarang aku memintamu." ucapnya dengan nada yang tak kalah tinggi
"Memang tidak salah tuan, tapi apakah tuan tidak bisa sedikit saja menjaga perasaan saya?" ucapku dengan mata berkaca-kaca. Air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya menetes.
Aku sudah tak bisa lagi menahannya dan akhirnya tangisku pun pecah.
Aku mangis sesegukkan hingga membuat tuan Herman mulai salah tingkah dan merasa bersalah.
"Bukan maksudku seperti itu,"ucapnya dengan lembut
"Tuan, saya sangat sadar akan posisiku, tapi, tidakkah tuan bisa menjaga perasaan saya sedikit saja,"ucapku dengan suara bergetar
"Seharusnya kamu sadar diri, jika aku dan Laura bisa kapan saja melakukan hal itu, dan untuk apa kamu harus merasa sakit,"jawabnya dengan nada sinis
"Saya sangat sadar diri, tapi, saya bukanlah pohon pisang yang punya jantung tapi tidak punya hati,"ucapku lagi
"Apakah salahku jika kamu sakit hati? Bukankah aku sudah memberimu berlimpah materi!"jawabnya dengan mimik wajah yang menahan amarah
"Materi? Apakah bagi tuan semuanya bisa dibeli dengan uang!"teriakku
"Kamu mau menikah denganku karena uang bukan? Jadi, apa yang salah dengan ucapanku."jawabnya dengan nada tak kalah tinggi
"Saat itu kondisi yang mamaksa saya melakukan hal itu."jawabku
"Aku memberimu cukup uang untuk malayaniku. Laura membayarmu untuk menikah denganku. Jadi bukankah uang yang kamu cari."ucapnya dengan nada merendahkan aku
"Jadi tuan menganggap saya ini hanya sebagai p*l*c*r!"ucapku dengan tangis yang semakin menjadi
Sakit sekali hati ini mendengar semua itu. Bagaimana bisa seorang suami melakukan hal itu kepada istrinya. Dan bukankah dia bilang jika aku ini adalah istri baginya, lalu kenapa dia menyamakan aku sama halnya seorang p*l*c*r.
Apakah ini sebenarnya sifat asli tuan Herman?