Adakah wanita lainnya lagi

1321 Kata
Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh BAB 18 Melihatku menangis semakin menjadi seperti itu membuat tuan Herman kembali salah tingkah dan merasa bersalah. Tuan Herman lalu memelukku dan mengecup keningku. "Maafkan aku jika selama ini tidak bisa mengerti perasaanmu." ucapnya dengan lembut sambil mengusap rambutku "Tolong lepaskan saya,"pintaku sambil menangis sesegukkan "Kenapa aku harus melepaskanmu?"tanyanya "Karena saya tidak sanggup menjadi seorang istri yang hanya disamakan sama seperti seorang p*l*c*r."jawabku "Apakah ada aku ucapkan kata-kata seperti itu,"elaknya "Tuan memang tidak langsung mengucapkan, tapi dengan tuan membayar saya setiap selesai melakukan hal itu, maka tuan sama halnya menyamakan saya seperti p*l*c*r."jawabku "Tidak ada yang salah dengan hal itu. Aku hanya ingin kamu memiliki banyak uang, karena aku ingin kamu segera memberiku keturunan."ucapnya membela diri "Keturunan?"tanyaku "Iya, aku ingin segera memiliki seorang anak,"jawabnya sambil mengelus pipiku "Bukankah nyonya saat ini sedang mengandung,"jawabku "Sudah aku bilang berapa kali. Kamu jangan ikut campur dengan urusanku bersama Laura!"teriaknya "Kamu harus segera hamil anakku. Jika tidak maka aku tidak yakin kamu bisa bertemu dengan Luna."ancamnya. Aku sangat terkejut mendengar hal itu. "Maksud tuan apa?"tanyaku dengan nada sedikit takut "Aku akan mengirim Luna jauh dari sini bahkan aku bisa mengirim Luna keluar negeri,"jawabnya dengan wajah sinis "Tolong jangan lakukan itu tuan, saya akan melakukan apa saja asalkan tuan jangan memisahkan saya dengan Luna,"ucapku memohon dengan nada ketakutan "Maka jadilah istri seperti yang aku inginkan dan segera berikan aku keturunan,"jawabnya. Aku lalu terdiam dengan air mata yang semakin membanjiri kedua pipiku. Tuan Herman lalu membawaku duduk di kasur dan ketika kami akan duduk tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia lalu mengurungkan niatnya dan langsung mengangkat panggilan telephone itu. [ Hallo ] [ Ya, cepat kamu kirim fotonya ] [ Ikuti kemana saja dia pergi ] [ Kamu cari informasi dengan detail tentang pria itu. ] [ Ingat! Saya tidak suka mendengar kegagalan. ] [ Baik, Saya tunggu.] Hanya itu yang bisa aku dengar. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Setelah mematikan telepon, tuan Herman lalu menghubungi seseorang lagi [ Kamu dimana? ] [ Tunggu sepuluh menit lagi aku sampai. ] Dan setelah itu tuan Herman mematikan teleponnya dan berjalan kearahku. "Kamu istirahat disini dulu, aku ada urusan sebentar." titahnya "Baik, Tuan." Jawabku. Setelah mengucapkan hal itu, tuan langsung pergi. Aku tidak tahu dia akan pergi kemana dan naik apa. Setelah kepergian tuan. Aku merebahkan tubuhku dikasur. Sambil berbaring aku berpikir. Sepertinya aku harus memanfaatkan uang pemberian tuan Herman untuk membeli sesuatu yang bisa berguna nantinya, agar aku bisa kabur darinya dan membawa Luna pergi jauh dari kota ini. Aku akan mengajak Luna liburan ke kampung, agar aku bisa mencari kebun atau sawah yang dijual. Bukan aku tak percaya kepada saudara mendiang suamiku. Tapi, merekalah yang tak pernah menganggap aku ini saudaranya. Jadi lebih baik aku sendiri saja yang mencari. Aku mengambil ponselku dan mencoba mengirim pesan kepada anakku. Karena aku tahu jika saat ini Luna pasti masih sekolah. Aku tidak bisa membawa Luna langsung pergi begitu saja karena Luna pasti akan menolakku. Dia terlihat sangat menyanyangi tuan Herman. Memang tuan memperlakukan Luna seperti anaknya sendiri. Jadi sedikit sulit membawa Luna jika tidak memiliki alasan yang kuat. Setelah mengirim pesan kepada Luna, aku lalu mencoba memejamkan mata. Namun perutku keroncongan. Aku lapar karena tadi pagi makan sangat sedikit. Aku yang tidak faham memesan lewat online. Akhirnya aku putuskan untuk mencari warung. Aku bertanya kepada satpam dimana ada yang menjual makanan. "Pak, di sekitar sini dimana ada warung atau toko?"tanyaku kepada satpam "Itu, Nyonya... Di ujung komplek sana ada sebuah mini market."jawabnya dengan sopan "Jauh dari sini pak?"tanyaku lagi "Lumayan, jika Nyonya berkenan mari saya antar."ucapnya menawarkan diri "Bener bapak mau mengantar saya?"tanyaku "Iya benar Nyah... Tapi naik motor."jawabnya sedikit ragu "Gak masalah pak. Dan tolong jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya, saya risih mendengarnya." Satpam itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ta-tapi..."jawabnya terbata "Sudah pak... Ayo kita berangkat nanti keburu saumi saya pulang. Saya sudah sangat lapar."ajakku "Oh... Nyo... Eh... Ibu lapar?"tanyanya "Iya, pak."jawabku "Apa mau saya belikan Bu... Daripada naik motor panas-panas begini."ucapnya "Tidak usah pak. Biar saya ikut saja sekalian ada yang ingin saya beli."tolakku "Baiklah kalau begitu, saya ambil motor sebentar bu."ucapnya sambil berlalu Setelah itu satpam mengambil motor yang terparkir tak jauh dari tempatnya berjaga. Dia lalu menghampiriku dan kami langsung berangkat mencari warung. Karena tak ada warung yang dekat akhirnya kami ke warung yang cukup jauh dari komplek. Setelah menemukan warung aku mengajak satpam itu sekalian makan ditempat. Karena kalau harus di bungkus perutku sudah tak tahan lagi untuk menahan rasa lapar. Setelah pelayan mengantar pesanan kami, kami langsung melahapnya. Sepertinya satpam itu juga sangat lapar terlihat dari dia menyantap makanannya. Setelah selesei makan. Kami berbincang sebentar. "Bapak tinggal bersama keluarga?"tanyaku "Iya, Bu... Saya dan kedua anak saya."jawabnya "Istrinya gak ikut tinggal disini?"tanyaku lagi "Istri saya sudah meninggal Bu."jawabnya dengan wajah berubah sedih "OH... Maaf, pak."ucapku tidak enak hati "Tidak apa-apa Bu.. Oh ya ibu bisa memanggil saya, Didik."jawabnya "Baiklah pak Didik. Mari kita pulang. Saya takut jika suami saya pulang."ajakku "Baik, Bu..."jawabnya sambil bangkit dari kursi Setelah membayar kamipun langsung pulang dan sebelum pulang aku minta disinggahkah ke minimarket terlebih dahulu karena ingin membeli pem*al*t terlebih dahulu. Karena tadi aku berbohong jika saat ini sedang datang bulan. Setelah membeli apa yang aku butuhkan, kamipun langsung pulang. Namun begitu kami sampai rumah. Aku sangat terkejut karena tuan Herman sudah berada di depan pintu dengan wajah memerah menahan amarah. "Airin! Masuk!"titahnya dengan nada marah Aku langsung bergegas masuk kedalam rumah. Sedangkan Didik kembali ke pos. Begitu sampai kamar tuan Herman meluapkan emosinya. "Darimana saja kamu! Bukankah kamu seharusnya meminta ijin terlebih dahulu sebelum melangkahkan kaki keluar dari pintu!"teriaknya "Ma-maaf tuan, saya sangat lapar jadi saya meminta satpam untuk mengantar mencari warung."jawabku "Bukankah kamu bisa pesan lewat online!"ucapnya lagi tidak terima dengan jawabanku "Tuan kan tahu jika saya tidak pandai menggunakan aplikasi itu."jawabku "Kenapa kamu tidak minta aku untuk mengajarimu! Atau sebenarnya itu cuma alasanmu saja. Karena kamu ke gatalan jalan dengan Satpam itu!"teriaknya Bak di sambar petir disiang bolong rasanya ketika mendengar ucapan tuan Herman. Bagaimana mungkin tuan Herman menilaiku serendah itu. "Tuan! Apakah dimata tuan saya adalah orang seperti itu?"Tanyaku dengan nada tinggi "Kalau kamu tidak gatal mana mungkin kamu jalan dengan orang yang tidak kamu kenal!"jawabnya semakin meninggikan suara "Tuan, saya tadi benar-benar lapar dan saya juga harus membeli pem*al*t. Jadi tidak mungkin saya meminta Satpam untuk membelikan barang itu."jawabku "Kamu sudah mulai berani menjawab ku!"hardiknya "Tuan, Maaf, bukan maksud saya begini, tapi tuduhan tuan itu menyakiti hati saya."jawabku "Kalau kamu tidak gatal pasti kamu akan menghubungiku dan memintaku untuk membelikan barang itu."ucapnga lagi "Tuan, apakah tuan yakin jika saya meminta tolong kepada tuan dan tuan akan membelikannya?"tanyaku dengan nada melemah Tuan Herman terdiam dan langsung mengalihkan pembicaraan. "Sudah aku mau istirahat capek." ucapnya sambil melepaskan bajunya. Tuan Herman memang sering tidur bertelanjang d**a. Bagitu tuan Herman membuka baju, mataku melihat sebuah tanda kecil di d**a bidangnya yang putih itu. mataku memanas ketika melihat tanda itu. Dadaku terasa sangat sesak. Aku lalu memalingkan wajahku agar dia tidak melihatku yang hampir menangis. "Kenapa kamu membelakangiku. Sudah tidak mau melihat suamimu!"hardiknya lagi Aku hanya diam tidak menjawab sepatah katapun. Tuan Herman lalu mendekat dan membalikkan tubuhku. Air mata yang aku coba tahan akhirnya luruh juga. Tuan Herman terkejut melihatku menangis. "Kamu kenapa?" Tanyanya tanpa rasa bersalah. "Ti-tidak ada apa-apa..." jawabku sambil mengusap air mataku. Setelah itu aku langsung berlari ke kamar mandi. Aku menangis didalam kamar mandi. Aku luapkan segalanya disana. Setelah mulai sedikit puas, aku lalu keluar dari kamar mandi. Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku melihat tuan Herman sedang menerima telepon di balkon. Aku sebenarnya tidak ingin tahu siapa yang menelponnya. Tapi, melihat sebuah senyuman yang terukir di bibirnys membuatku sedikit penasaran. Akhirnya aku putuskan untuk menguping pembicaraannya. [ Kamu memang hebat...] [Aku selalu puas...] [Nanti kalau aku butuh lagi pasti aku hubungi kamu.] [Ya sudah. Takut istriku keluar dari kamar mandi.] DEG... Apakah tuan Herman memiliki wanita lain lagi selain aku dan nyonya Laura?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN