Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh
BAB 19
Apakah tuan Herman memiliki perempuan lain lagi selain aku dan nyonya?
Apakah tuan Herman berselingkuh di belakang kami? Apakah itu juga yang membuat tuan Herman tidak suka dengan kehamilan nyonya? Lalu untuk apa dia memintaku untuk segera hamil jika dia masih memiliki perempuan lain?
Ketika aku sibuk dengan pikiranku, aku tidak menyadari kehadiran tuan yang sudah berada di depanku.
"Kamu kenapa?"tanyanya
"Ti-tidak..."jawabku terbata
"Ayo bersiap, kita pulang."ajaknya
"Ba-baik tuan."jawabku tanpa melihat kearahnya
Setelah itu kami pulang ke rumah nyonya Laura dengan menggunakan taksi online.
Setelah sampai rumah, aku mengantar tuan Herman ke kamarnya dan setelah itu aku ke dapur untuk mencari bu Narti.
"Bu... Bisa kita bicara sebentar di kamar?"tanyaku
"Apakah tidak bisa bicara disini Rin?"tanyanya balik
Aku lalu melihat keseliling disana ada Kesih dan Reni.
Sepertinya Bu Narti faham ketika melihat raut wajahku
"Baiklah, ayo. Ibu mau masak untuk makan malam soalnya. Jadi tidak bisa lama-lama,"ucapnya kepadaku
Kami lalu permisi kepada mereka berdua dan setelah itu kami langsung menuju kamarku.
Setelah masuk dan mengunci pintu. Aku meminta bu Narti untuk duduk terlebih dahulu.
"Rin... Ada apa?"tanyanya bingung
"Bu... Airin pengen pulang ke kampung sebentar saja. Mumpung Luna juga mau libur sekolahnya."ucapku
"Apakah kamu sudah dapat ijin dari tuan?"tanyanya
"Itu masalahnya Bu... Airin belum berani ngomong sama tuan."jawabku
"Kalau saran ibu sich, lebih baik kamu bicarakan sama tuan, tuan itu orangnya baik dan pengertian Rin,"ucapnya sambil menepuk bahuku
"Tapi, aku takut jika nanti tuan tidak mengijinkan bu,"jawabku ragu
"Di coba dulu Rin. Ibu yakin jika alasan mu jelas pasti di ijinkan."ucapnya menyakinkan aku
"Airin sebenarnya ingin membeli sawah dan kebun di kampung Bu. Jadi ketika nanti Airin sudah tidak di butuhkan lagi oleh tuan, Airin masih bisa membiayai sekolah Luna dan bisa membuka usaha,"jawabku jujur
"Wah... Bagus itu Rin. Ibu sangat mendukung idemu itu."ucapnya penuh semangat
"Tapi, Airin masih bingung Bu. Bagaimana caranya meminta ijin kepada tuan."ucapku dengan raut wajah bingung
"Gampang itu Rin. Coba nanti ibu bantu ngomong sama tuan, semoga saja tuan mendengarkan ibu."ujarnya sambil mengulas senyum diwajah ayunya itu
"Benar ibu mau bantu ngomong ke tuan?"tanyaku lagi
"Ya, nanti ibu bantu. Tapi semua keputusan ada di tangan tuan. Yang penting kita berusaha dulu."jawabnya
"Terima kasih ya Bu."ucapku sambil memeluknya
"Ya sudah kalau begitu, ibu kembali ke dapur ya, sebentar lagi waktunya makan malam,"jawabnya sambil melepas pelukanku dan bangkit dari tempat tidurku
"Eh... Bu ada lagi."ucapku menghentikan langkahnya
Aku sebenarnya sedikit ragu. Tapi jika aku tidak bertanya maka aku tidak akan menemukan jawabannya.
"Ada apa Rin?"tanyanya
"Bu... Apakah tuan Herman memiliki wanita lain selain aku dan nyonya?"tanyaku sedikit ragu
Bu Narti terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaanku.
"Kamu kenapa bertanya seperti itu?"tanyanya balik dengan raut wajah bingung
"Ti-tidak Bu..."elakku
"Coba ceritakan. Siapa tahu ibu bisa membantu."ucapnya kepadaku
"Tadi, Airin mendengar tuan berbicara di telepon dengan seseorang dan dari nada bicara dan ekspresi wajahnya menggambarkan jika tuan sangat senang dengan lawan bicaranya."jelasku
"Apakah kamu cemburu?"tanyanya
"Ti-tidak, aku tidak berhak untuk cemburu Bu."jawabku berbohong
"Siapa yang bilang jika kamu tidak berhak? kamu adalah istri tuan, jadi kamu juga berhak marah dan cemburu jika suamimu main serong."ujarnya sambil menatap tajam kearahku
"Aku hanyalah seorang perawat bagi tuan Herman, jadi aku tidak berhak marah ataupun cemburu kepada tuan."jawabku
"Jika kamu tidak cemburu lantas untuk apa kamu bertanya tentang hal itu tadi."tanyanya penuh selidik
"Airin hanya penasaran saja kok, Bu."jawabku berbohong
"Ya sudah kalau begitu, lebih baik ibu kembali ke dapur untuk memasak dan kamu lebih baik mandi dan beristirahat."ucapnya kepadaku. Bu Narti tidak memaksaku untuk bercerita lebih jauh. Sepertinya dia mengerti jika aku belum siap memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya, Bu..."jawabku
Dan setelah itu Bu Narti keluar dari kamarku menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena aku tadi.
Jam makan malam tiba, aku memanggil tuan Herman untuk makan malam. Kami makan malam hanya berdua karena nyonya Laura pergi entah kemana.
"Mbok. Kemana Nyonya pergi?"tanya tuan kepada bu Narti
"Maaf, tuan, Mbok tidak tahu kemana perginya Nyonya, karena tadi pesannya hanya pergi sebentar."jawab bu Narti
Setelah itu Bu Narti pamit untuk melanjutkan pekerjaannya dan tuan Herman memintaku untuk mengantarnya kembali ke kamar.
Setelah di dalam kamar, tuan Herman berjalan ke ruang kerjanya, sedangkan aku duduk di balkon.
Aku tidak tahu apa yang tuan kerjakan. Tuan sepertinya sedang menelpon seseorang dan matanya juga menatap laptop didepanya.
Wajahnya terlihat sangat serius. Aku duduk di balkon cukup lama, Karena tidak ada tanda-tanda tuan akan menyudahi apa yang dia kerjakan, lalu aku memutuskan untuk pergi tidur.
Aku putuskan untuk tidur di sofa panjang. Karena aku merasa tidak enak jika duluan tidur di kasur sedangkan tuan sedang sibuk bekerja.
Aku terbangun ketika mendengar suara Adzan subuh. Ketika membuka mata aku terkejut karena kini aku tidur diatas kasur, padahal aku ingat betul semalam aku tidur di sofa. Apakah tuan yang memindahkan aku?
Aku melihat kesamping tapi tak ada tuan, aku lalu bangkit dan melihat ke dalam kamar mandi tapi tak aku temukan juga, lalu aku melangkah ke ruang kerja tuan dan ternyata benar, dia masih terjaga dengan menatap tajam kearah laptopnya.
"Kamu sudah bangun?"tanyanya
"I-iya... Tu-tuan belum tidur?"tanyaku balik
"Pekerjaanku belum selesei. Tolong buatkan aku teh."pintanya
"Ba-baik,"jawabku
Aku lalu bergegas pergi menuju kamarku untuk mencuci muka dan menggosok gigi terlebih dahulu dan setelah itu baru aku menuju dapur untuk membuatkan teh untuk tuan Herman.
Ketika sampai dapur, terlihat Bu Narti dan yang lainnya sedang melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Ketika aku membuat teh, Bu Narti bertanya kepadaku.
"Tumben bikin teh, Rin?"tanyanya sambil melihatku
"Iya, Bu... Tuan minta dibikinkan teh."jawabku
"Wah... Tumben jam segini tuan sudah bangun, jangan-jangan kaliaaannn..." ucapannya menggantung
Wajahku bersemu merah mendengar ucapan Bu Narti. Aku benar-benar tersipu malu mendengar candaan bu Narti.
"Aishhh... Ibu ini. pagi-pagi dah ngacau saja."ucapku sambil menunduk karena sedikit malu
"Lho itu buktinya wajahmu merah."ujarnya sambil menunjuk kearah wajahku yang memang bersemu merah
"Ah... Ibu ini ngeres dech pikirannya."jawabku
"Aduh, Rin... Ibu ini juga pernah punya suami jadi tahu dong bagaimana rasanya."godanya
"Aaaiiisss... Ibu tambah ngacau dech. Ini Airin bikin teh karena tuan belum tidur dari semalam."jawabku
"Apa! Tuan sampai gak tidur? wah ternyata kuat juga ya?"godanya lagi
"Is... Ibu ini pasti pikirannya aneh-aneh. Tuan gak tidur karena ada pekerjaan yang harus di seleseikan. Aku juga lagi datang bulan bu."jawabku berbohong
"Oooo..."hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya
"Ya sudah Airin ngantar teh tuan dulu ya Bu."ucapku sambil berlalu pergi
"Eh... Rin. Kamu bawakan sekalian roti sama selainya agar perut tuan tidak kosong."teriak bu Narti
"Oh iya Bu... Terima kasih ya."jawabku
Aku lalu mengambil dua lembar roti tawar dan selai secukupnya, setelah itu aku lalu masuk kedalam kamar tuan kembali.
Ketika aku masuk, ternyata tuan Herman sedang duduk di balkon. Aku lalu berjalan mendekat kearahnya sambil membawa nampan berisi teh dan roti.
"Tuan... Ini tehnya dan saya juga membawakan roti untuk tuan agar perut tuan tidak kosong."ucapku
Tuan Herman menoleh kearahku dan tersenyum.
"Duduklah. Temani aku disini." ucapnya sambil menepuk kursi tempat dimana aku disuruh duduk
Tuan Herman menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Udara pagi yang dingin menusuk tulang. Sepertinya tuan tahu jika aku sedikit kedinginan. Tanpa aku sadari ternyata satu tangan tuan sudah merangkulku.
"Dingin?"tanyanya
Aku hanya mengangguk. Lantas tuan semakin mempererat pelukannya.
Ketika aku akan membuka mulut, tuan langsung berucap.
"Diam dan jangan protes."ujarnya tanpa ekspresi
Aku tidak berani melawannya. Jadi aku hanya diam seperti yang dia perintahkan.
Setelah selesei meminum teh dan menyantap rotinya tuan Herman mengajak untuk masuk kedalam kamar.
Ketika aku hendak membuka pintu kamar, tuan Herman melarangku meninggalkan kamar.
"Mau kemana kamu?"tanyanya
"Saya ingin menaruh gelas dan piring ini kedapur tuan."jawabku
"Tidak usah, letakkan saja di meja. Kamu temani aku tidur."titahnya.
Aku takut jika tuan Herman meminta untuk di layani.
"Ta-tapi, saya masih datang bulan tuan." jawabku berbohong dengan perasaan takut
"Aku tidak memintamu untuk melayaniku, aku hanya memintamu untuk menemaniku tidur."jawabnya
Lalu tuan Herman naik keatas tempat tidur dan merentangkan tangannya, dia menyuruhku untuk tidur dalam pelukannya.
Aku mendekat dengan perasaan ragu, melihatku yang tak kunjung mendekat, akhirnya tuan menarik tanganku dan aku pun terjatuh dalam dekapannya.
Tuan memelukku sangat erat dan tanpa aku duga, tuan Herman lalu melabuhkan sebuah ciuman di bibirku dengan sedikit melumatnya.
Aku sedikit terkejut, karena aku takut tuan Herman tidak bisa menahan keinginannya.
Tapi ternyata dugaanku salah, setelah mencium bibirku, tuan tertidur sambil memelukku. Karena aku tidak bisa bergerak akhirnya aku juga ikut tertidur.
Entah sudah berapa lama kami berdua tertidur dengan saling berpelukan. Hingga kami terbangun ketika mendengar suara teriakkan.
"Apa-apaan! Ka-kalian!!!"teriak nyonya Laura
Aku lalu segera bangkit dan langsung turun dari ranjang, sedangkan tuan hanya tersenyum dan diam tanpa berucap satu katapun.
Aku bingung dengan sikap tuan yang sepertinya acuh dengan kemarahan nyonya Laura. Ada apa dengan tuan?