Madu Pilihan Untuk Pria Lumpuh
BAB 20
Nyonya Laura terlihat sangat marah ketika mendapati kami sedang tidur berpelukan.
Nyonya Laura lalu manarik tanganku dengan kasar hingga membuatku terjatuh kelantai. Aku yang ditarik seperti itu merasakan sakit dipergelangan tanganku.
"Dasar kamu wanita m*r*h*n!!! Berani kamu tidur dengan suamiku!"pekiknya dengan satu tangan menjambak rambutku
Tuan Herman masih diam, dia tidak membelaku ataupun menghentikan aksi nyonya Laura.
"Bukankah aku membayarmu mahal untuk merawat suamiku. Bukan untuk menjadi g*nd*knya!"ucapnya lagi dengan nada semakin tinggi
"Maaf nyonya... Tolong lepaskan tangan nyonya,"pintaku sambil meringis kesakitan
"Apa??? Maaf??? Enak saja kamu bilang maaf."jawabnya sambil semakin kuat menarik rambutku hingga aku ikut terhuyung kebelakang
"Bagaimana rasanya sakit bukan? Ini belum seberapa, aku akan menyakiti anakmu jika kamu masih berani tidur dengan suamiku!"imbuhnya dengan nada keras
"Jangan sakiti anakku, dia tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ini."Jawabku dengan nada tinggi. Aku bisa lebih tegas jika menyangkut Luna. Nyonya Laura tidak akan bisa menyetuh anakku. Jika dia sedikit saja menyakiti Luna, maka aku akan membuat perhitungan dengannya.
"Sekarang kamu kemasi barangmu dan pergi dari sini."usirnya kepadaku
"Baik, saya akan pergi dari rumah ini."jawabku sambil memegang tangannya agar mau melepaskan rambutku
"Jangan pernah kamu berani datang lagi kerumah ini."imbuhnya sambil melepaskan tangannya dari rambutku
Aku yang masih merasa kesakitan lalu berdiri dan melangkah pergi. Namun ketika akan membuka pintu, tuan memanggil namaku
"Airin. Apakah kami disini seorang pembantu?"tanyanya dengan nada tegas
Aku lalu menoleh kearahnya.
"Tidak, saya adalah istri tuan,"jawabku dengan mantap
"Jika kamu adalah istriku, lalu siapa yang berhak atas dirimu dirumah ini?"tanyanya lagi
"Tuan yang berhak atas diri saya,"jawabku
"Lalu kamu mau kemana? Bukankah aku tidak menyuruhmu untuk pergi,"ujarnya sambil masih duduk santai diatas tempat tidur.
Aku baru sadar jika tuan saat ini sedang bersandiwara lumpuh didepan nyonya. Pantas saja sejak tadi dia hanya duduk diam disana.
"Mas!!! Aku berhak mengusirnya dari sini."protes nyonya Laura dengan nada tinggi
"Siapa yang memberimu ijin untuk melakukan itu?"tanya tuan dengan tatapan tajam kearah nyonya
"Ini rumahku, jadi aku berhak melakukan apa saja dirumah ini, termasuk perempuan m*r*h*n ini!"jawabnya dengan nada tegas sambil menunjuk kearahku
"Coba kamu lihat dirimu sendiri dikaca itu. Siapa yang sebenarnya m*r*h*n disini."bentak tuan
"Mas! Apa maksud kamu?"tanya nyonya
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan diluar sana! Selama ini aku diam karena aku pura-pura bodoh. Aku hanya ingin melihat sampai dimana permainanmu."jawab tuan Herman. Nyonya Laura terdiam ketika mendengar jawabannya. Wajahnnya yang tadinya bersemu merah karena emosi, kini berubah pucat. Keringat mulai membasahi dahinya.
"Kenapa? Kamu takut?"tanya tuan dengan mata yang semakin tajam melihat kearah nyonya
"Mas, bukan seperti itu, apapun yang kamu ketahui semua itu adalah bohong,"ucap nyonya dengan nada lemah. Nyonya yang tadinya berapi-api kini bagaikan kerupuk yang terkena air.
"Apa yang tidak aku ketahui? Laura, lebih baik kamu fokus dengan kehamilanmu, jangan kamu usik Airin jika kamu masih mau menjadi istriku."ancamnya. Wajah nyonya terlihat sangat syok ketika mendengar penuturan tuan.
"Mas, kamu lebih memilih dia dari pada aku?"ucapnya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya
"Tentu saja aku lebih memilih istri yang mau mengurusku,"jawab tuan dengan nada tegas
"Aku juga bisa mengurusmu, aku akan buktikan kepadamu,"ucap nyonya sambil berjalan mendekati tuan
"Airin tinggalkan kami berdua."titah tuan.
Aku lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Ada rasa sakit ketika aku harus membiarkan mereka dalam kamar hanya berdua.
Ketika aku akan masuk kedalam kamarku, tiba-tiba Reni memanggilku
"Rin, kamu itu coba bantu bersih-bersih kek jangan hanya enak-enakkan dikamar tuan."ucapnya dengan nada sinis
Apakah Reni tidak melihat keadaanku saat ini yang sedang acak-acakkan.
"Mbak, tugasku hanya untuk mengurua tuan,"jawabku
"Kita ini sama-sama babu. Jadi kamu tidak usah sok berlagak jadi bos dech. Sebentar lagi juga kamu akan didepak dari sini."ucapnya lagi dengan senyum mengejek
"Mbak, tolong jangan ganggu aku saat ini,"pintaku
"Halah. Kamu baru juga digituin sama nyonya sudah sok jadi orang tersakiti. Seharusnya kamu iti sadar diri. Kalau bukan nyonya yang menolongmu mungkin saat ini rumahmu sudah disita dan anakmu juga sudah pasti m*t*."ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan aku.
Benar apa yang dikatakan Reni. Nyonyalah yang menolongku dari rentenir itu dan sekarang apa yang aku lakukan? Aku malah menusuknya dari belakang.
Sejahat itukah aku? Ataukah memang aku ini adalah orang yang tidak tahu berterima kasih?
Sebaiknya aku pergi untuk sementara waktu agar nyonya bisa mengurus tuan seperti yang tuan pinta tadi.
Nanti aku akan meminta ijin kepada tuan untuk pulang kampung selama liburan sekolah. Aku bisa memakai Luna sebagai alasan.
***
Waktunya makan siang.
Aku tidak sarapan tadi pagi. Aku mengunci diri didalam kamar. Tuan pun sepertinya tidak mencariku, karena terbukti tidak ada satu orang pun yang mengetuk pintu kamarku.
Aku lalu mandi dan setelah itu berjalan keluar kamar. Aku mencari bu Narti untuk memyampaikan niatku, namun ketika aku hendak kedapur, telingaku mendengar ada yang membicarakan diriku.
"Airin itu jadi orang kok tidak tahu terima kasih ya?"ucap Reni
"Iya, kasihan nyonya Laura, mana sekarang dia lagi hamil lalu melihat suaminya tidur dengan perempuan lain."jawab Kesih
"Tapi, Airin kan istri tuan, jadi bukankah itu wajar jika mereka tidur seranjang?"ucap Iyem
"Eh, Yem, kamu itu jangan terlalu b*d*h dech. Airin itu aslinya perempuan penggoda, wajahnya saja yang terlihat polos tapi aslinya hiiii... Ngeri..."jawab Reni sinis
"Masa sich Ren, aku kok gak percaya ya,"ucap Iyem
"Sekarang coba kamu bayangin jadi nyonya Laura, menolong orang yang sifatnya seperti ular."Sambung Kesih
"Jujur aku sebenarnya kasihan sama nyonya, tapi, aku tidak mau juga menyalahkan Airin, karena bagaimana pun dia juga berhak atas tuan,"jawab Iyem
"Kamu kenapa sich Yem kok belain terus Airin? Apakah kamu disogok sama dia?"tanya Reni ketus
"Kamu juga kenapa benci sama Airin? Apakah dia punya salah sama kamu?"tanya Iyem balik
"Airin sangat salah karena dia mau menjadi istri tuan,"jawab Reni dengan wajah kesal
"Salahnya dimana?"tanya Kesih dan Iyem
"Ya karena Airin itu tidak cocok untuk menjadi istri tuan,"jawab Reni sedikit bingung
"Tidak cocok?"Tanya mereka berdua
"Tentu dong, coba kalian perhatikan, Airin itu orang kampung sedangkan tuan orang kota, kaya raya pula, siapapun pasti maulah menjadi istri kedua. Kalian ingat gak waktu mereka mau nikah. Airin sok gak mau sampai nangis-nangis, eh, sekarang buktinya tidur seranjang,"jawab Reni dengan raut wajah yang terlihat kesal bercampur marah
"Ah, sudahlah tidak usah bahas Airin terus, kalau sampai bu Narti tahu kita membicarakan Airin, bisa-bisa kita dapat pesangon nanti."imbuh Reni.
"Maka kamu duluan yang membicarakan Airin."protes Iyem
"Sudah sana kerja lagi nanti kalau nyonya dan tuan melihat kita ngrumpi begini kena omel."jawab Reni.
Sepertinya Reni enggan membicarakan aku lagi. Entah kenapa Reni begitu membenciku, apakah dia benar-benar kasihan kepada nyonya sehingga dia membenciku? Ataukah sebenarnya dia memiliki rasa kepada tuan?
Ketika aku sedang melamun, tiba-tiba ada yang memegang bahuku hingga membuatku tersadar dari lamunan.
"Kamu ngapain disini?"tanya bu Narti
"Ti-tidak ngapa-ngapain bu, tadi mau kedapur,"jawabku
"Mau kedapur kok berhenti disini?"tanyanya lagi
Aku hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
"Ayo kedapur, kamu belum makan sejak tadi pagi."ajaknya. Aku lalu mengekor dibelakangnya
Setelah sampai dapur, aku langsung bertanya kepada bu Narti.
"Bu, apakah aku salah jika melakukan tugasku sebagai seorang istri?"tanyaku dengan wajah bingung bercampur sedih
"Siapa yang mengatakan jika kamu bersalah?"tanyanya
"Tidak ada bu, hanya saja aku berpikir jika aku ini salah karena sudah melakukan tugas sebagai layaknya seorang istri,"jawabku berbohong
"Rin, kamu wajib melakukan tugasmu sebagai seorang istri, kamu wajib melayani suamimu, dan itu semua bukanlah sebuah kesalahan,"jawabnya sambil mengelus rambutku
"Tapi, aku seperti menusuk nyonya dari belakang bu,"jawabku dengan mata berkaca-kaca
"Rin, semua ini adalah resiko nyonya karena menikahkanmu dengan suaminya. Jadi, kamu tidaklah salah dalam hal ini."jelasnya dengan lembut
"Tapi, bu,..."Ucapku dengan menggantung kalimat
"Rin, bukankah seorang istri wajib mengikuti suaminya. Jadi, lebih baik saat ini kamu layani tuan sepenuhnya. Kamu jangan ragu atau takut. Kamu berhak atas tuan."imbuhnya
"Bagaimana dengan perasaan nyonya, bu?"tanyaku
"Rin, nyonya seharusnya sudah menyiapkan hatinya ketika dia menikahkan kalian. Jadi lebih baik kamu tidak usah terganggu akan hal itu."jawabnya
"Baiklah Bu, aku akan melakukan tugasku, bukankah semua ini terjadi karena nyonya yang menginginkan aku untuk merawat tuan. Jadi, aku akan merawat tuan dengan sangat baik,"ucapku dengan sungguh-sungguh
"Biarkan nyonya dan tuan bermain dengan perasaan mereka, yang terpenting kamu harus mendapatkan uang yang banyak dari pernikahanmu ini,"ucapnya
Benar kata bu Narti. Mereka berdua memainkan perasaanku dan sekarang giliranku yang akan mengambil keuntungan dari mereka.
Suamiku orang kaya jadi bukankah sudah seharusnya aku juga menjadi kaya sama seperti dia?
Aku akan berusaha keras untuk mewujudkan mimpi anakku Luna. Aku ingin dia menjadi seorang Dokter seperti yang dicita-citakannya.
Oleh sebab itulah aku harus pintar mencari cela agar uang selalu masuk kedalam kantongku. Persetan dengan perasaan cinta tuan, belum tentu juga tuan tulus mencintaiku.
Tunggu... Kenapa dari tadi aku tidak melihat tuan dan nyonya, bahkan tidak ada diantara mereka yang keluar dari kamar. Apakah mereka sudah berbaikan? Kenapa sunyi sekali? Apakah mereka....