**** Akhirnya siang menjelang sore itu Dhante pergi ke sebuah resto terkenal bersama tiga cewek muda lengkap dengan atribut sekolahnya. Saat itu tidak terpikir apapun di benak Dhante, ia hanya beranggapan jika ia bisa berteman dan berbaur dengan teman Deya adalah hal yang bagus untuk hubungan mereka. Hanya saja ada sesuatu yang Dhante lupa untuk memahami. Ya, usia mereka yang berbeda tetap saja terlihat mencolok di depan umum. Hal itu menimbulkan banyak mata memandang aneh pada Dhante dan juga tiga cewek muda ini. Mobil lamborghini yang selalu setia menemani sang pemiliknya kemanapun ia pergi, melesat cepat di atas jalanan aspal menuju resto yang ingin mereka kunjungi. Beberapa percakapan ringan membuat suasana dalam mobil terasa hidup dan penuh keceriaan. "Kita mau pesan apa nanti?" ta

