Rania membuka pintu terlihat sang suami yang begitu lelah baru pulang kantor pukul 10 malam, baru saja Rania ingin mencium punggung tangan sang suami namun dihempaskan begitu saja, Adipati berjalan menuju kamarnya diikuti Rania yang menghela nafasnya
"Sabar mungkin mas Adipati lelah bekerja"
Adipati menaruh tas kerjanya dimeja setelah itu memulai membuka kancing kancing kemejanya, Rania yang baru saja masuk kekamar memperhatikan sang suami yang terlihat gusar, ingin rasanya menegur namun Rania menahannya, sudah 4 bulan menikah ia sudah cukup tau sifat sang suami, daripada kena semprotan lebih baik Rania diam tak bertanya walau dalam hati sangat penasaran karena melihat sang suami yang begitu gusar dan seperti menahan emosi.
"Mas air hangatnya sudah siap, lebih baik mandi dulu," ujar Rania pelan, Adipati tak menjawab namun langsung masuk kedalam kamar mandi.
Rania menyiapkan pakaian suaminya, piyama tidur yang warna dan motifnya sama dengan yang Rania pakai, Adipati tak pernah menolak apapun yang disiapkan Rania dari pakaian hingga makanan, namun Adipati tak pernah memberi komentar sedikit pun.
Rania masih setia menunggu sang suami selesai mandi, Rania berdiri didepan cermin meja riasnya menatap dirinya di cermin, dalam hati ia selalu berkata
"Apa kurang nya aku dimatamu mas? Biar aku perbaiki dan kamu bisa belajar mencintaiku"
Ucapan itu yang selalu Rania ucapkan didepan cermin, ia tak pernah tau apa kekurangan dan kesalahannya sehingga Adipati sang suami begitu membencinya, Adipati tak pernah memberi alasan yang pasti.
Rania wanita 25 tahun, tidak terlalu cantik namun Rania manis dan menarik, mempunyai daya pikat tersendiri itulah yang ada dipikiran Adipati saat ini, Adipati memandang wanita yang statusnya adalah istrinya, Adipati tak pernah menyangkal dalam hatinya saat menginginkan wanita itu, namun itu hanya sebatas menginginkan dan menghilangkan hasratnya pada seorang wanita, hatinya tetap pada satu wanita yang selalu menyentuh hatinya, wanita yang ia kenal dikantor satu tahun lalu, wanita yang ia lamar 4 bulan lalu dan wanita yang hatinya ia kecewakan mengingat hal itu membuat Adipati kesal dan frustasi, ia bingung harus berbuat apa, ia lemah akan hal ini, sekarang ia adalah pria yang beristri yang tak pantas mengejar wanita lain yang sama solehanya, disatu sisi Adipati mengakui bahwa Rania adalah sosok wanita sholeha namun sampai detik ini juga ia masih membencinya dan sulit menerimanya, pikiran dan hatinya hanya tertuju untuk Anggun, wanita sholeha pujaan hatinya.
Adipati masih harus menjaga reputasi nama baiknya, perusahaan sudah mengetahui pernikahannya, seluruh staff dan karyawannya mengetahui maka dari itu Adipati harus menjaga sikap, dikantor Adipati terkenal sebagai bos yang baik hati, ramah dan murah senyum, apa kata orang jika ia memperlakukan istrinya tak baik, ia baik kepada Rania hanya sebagai pencitraan didepan keluarga dan orang-orang sekitaran baik dirumah maupun dikantor.
Ekhem
Adipati berdehem membuat Rania yang melamun menengok melihat suaminya yang terlihat segar setelah mandi
"Mas sudah makan? Mau Rania siapkan? Atau mau langsung istirahat saja?" tanya Rania berjalan pelan menghampiri Adipati yang sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk
"Pijitin saya!" perintah Adipati, Rania mengangguk mengikuti sang suami yang menjemur handuk dijemuran kecil dikamarnya lalu beralih ke ranjang
Rania duduk dipinggir kasur, memulai memijit punggung suami yang tak memakai baju
"Tapi Rania baru saja haid mas," cicit Rania begitu pelan, ia sudah hafal permintaan suaminya, saat minta dipijit berati saat itu juga suaminya menginginkannya
"Saya hanya suruh pijit, bukan yang lain." ujar Adipati Rania meneruskan pijitannya hingga sang suami tertidur, Rania menarik selimut dan ikut berbaring disamping sang suami
"Selamat malam mas, semoga mimpi indah" ucap Rania lalu tak lama ia terlelap, hari pertama haid perutnya begitu sakit sehingga membuat tubuhnya lemas dan lelah, tidur adalah salah satu obat mujarabnya untuk menghilangkan rasa lelah dan lemas.
Adipati berbalik dari tidur tengkurapnya, ia tahu tidur tengkurap tidak baik dan tidak diperbolehkan
Dari Ibnu Tikhfah Al Ghifari, dari Abu Dzarr, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda, “Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.” (HR. Ibnu Majah no. 3724. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Adipati menatap sang istri, menarik selimut dan menyelimuti sang istri yang terlelap
"Sulit menerima kamu dalam hidupku Rania, jangan pernah berharap padaku." ucap Adipati lalu ia berbaring disamping Rania menarik selimut yang sama untuk dirinya.
********
Hari-hari berjalan seperti biasanya, hari-hari yang terasa begitu hambar, namun tak membuat Rania patah semangat, setiap hari ia selalu semangat melayani semua kebutuhan suaminya.
Minggu pagi diakhir bulan, Rania tak ada kegiatan, biasanya Rania akan mengisi kajian di masjid komplek rumahnya dulu, aktivitas kajian yang sangat Rania sukai dari dulu, ia senang mengisi kajian dan berdakwah. Yang mengikuti kajian kebanyakan remaja dan mahasiswi mereka sangat senang diisi materi mengenai keagamaan.
Awal bulan Rania akan mengisi kajian para akhwat yang menginjak dewasa mengenai pernikahan, pentingnya mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan sebelum menikah, kesiapan mental dan hati dan lain sebagainya yang akan dijelaskan rinci oleh Rania. Rania bukan ustadzah ia hanya mengisi waktunya untuk berbagi ilmu yang ia punya, ia senang bisa berbagi dan bergaul dengan remaja dan mahasiswi yang dibawah bimbingannya.
Hari ini Rania akan bertemu dengan Anggun teman lamanya, ia tak sabar ingin bertemu dan berbagi cerita, sekian tahun ia tak bertemu Anggun rasanya sangat melebihi kangen.
Rania menghampiri Adipati untuk meminta izin pada suaminya yang sedang sibuk berolah raga, pagi hari Adipati sangat rajin berolahraga dirumah,
"Mas.." panggil Rania, Adipati yang sedang mengangkat barbel menengok
"Apa?" jawab Adipati datar
"Aku minta izin keluar rumah ya, mau bertemu teman lama, gak lama kok"
"Ya, mau lama juga gak masalah, yasudah sana pergi. Ada duit gak?" tanya Adipati Rania menggeleng pasalnya ia belum menerima uang cash dari suaminya, Rania mempunyai tabungan di bank namun ia jarang memakainya entah buat apa yang pasti ia lebih senang uang dari suaminya yang tak seberapa, namun selalu Rania syukuri, suaminya masih mau menafkahinya.
"Nih, buat seminggu jangan boros," ucap Adipati sembari memberikan 7 lembar uang merahan yang diambil dari dompet
"Makasih mas" ucap Rania menerima uang sambil tersenyum, ia senang bukan karena uangnya ia senang karena sedikit perhatian yang diberikan Adipati, bagi Rania itu adalah sedikit hal perhatian yang dilakukan suaminya.
"Rania berangkat dulu, Assalamualaikum" pamit Rania mencium punggung tangan suaminya
"Waalaikumsalam, dasar wanita dikasih duit pasti senang" ujar Adipati saat Rania sudah berlalu dihadapannya.