3. Akibat Membohongi Seorang Bastard

1407 Kata
"Baiklah. Tapi biarkan aku ke Toilet dulu. Kamu membuat perutku jadi sakit." Bian tidak ingin menunjukkan seringaian kemenangan. Lantas mengabulkan keinginan Yemi yang ingin ke Toilet. "Jangan lama-lama. Lebih dari sepuluh menit aku akan seret kamu." Yemi pura-pura tuli dan terus melangkah. 'Seenaknya saja. Dia pikir dia siapa? Mungkin situasinya tidak akan sesulit ini jika Yemi bisa di atur seperti gadis-gadis lainnya. Selagi menunggu, Bian menerima panggilan yang masuk ke ponselnya. "Ada apa?" "Mereka memastikan aku untuk menanyakan kabar kamu." "Menurut kamu bagaimana keadaanku sekarang?" Bian bicara begitu dingin juga terdengar angkuh hingga seseorang di seberang sana dibuat tidak bisa bicara. "Atur saja sebagaimana kamu bisa meyakinkan mereka. Bukankah kamu sangai pandai berbohong? Jangan pedulikan aku lagi. Aku sudah menganggap kita tidak pernah saling mengenal." Setelah mengatakan itu, Bian langsung memutus sambungan. Meski dia telah menghapus satu kontak yang sudah lama di ponselnya, Bian masih ingat sederet angka yang bisa dia hafal hanya di luar kepala. Dan karena masalah ini Bian nyaris lupa dengan Yemi. Ini sudah lebih dari sepuluh menit. Dan Bian sungguh menghampirinya ke Toilet. Pintu yang tidak terkunci. Serta Yemi yang tidak ada—tidak pernah ada—di sana. Apa lagi? Gadis itu berhasil kabur. Masa lalu Baekhyun yang kembali membuka luka lama. Lalu si Haruna Yemi yang berani melanggar kesepakatan. Bian dibuat marah. *** Yemi berhenti setelah merasa cukup jauh dari rumah Bian. Nafasnya terdengar kacau sekali. "Tidak kusangka dia lebih bodoh dariku. Mau saja dibohongi." Merasa cukup bangga bisa lepas dari seorang bastard seperti Bian. Dia merasa tidak perlu takut untuk menghadapi hari esok selama ada Dinda temannya. Untuk itu dia menghubungi temannya itu. Akan tetapi benda untuk menghubungkannya dengan Dinda tidak ada di dalam ranselnya. Awalnya Yemi sangat tenang mencari ponselnya hingga mengobrak-abrik isi ranselnya. Tapi karena ponselnya sungguh tidak ada dia menjadi panik. Karena tanpa ponsel itu dia akan mengalami banyak kesulitan. "Apa tertinggal di sana?" Bisa jadi, pikirnya. "Argh! Kenapa harus ketinggalan segala, sih?! Tidak mungkin juga aku harus kembali! Tidak, tidak, tidak!" *** Aura yang menyambutnya pagi itu di Sekolah tidak seperti biasanya. Bukan hanya sebagian orang, tapi seluruh murid yang ketika dia lewat mereka akan berbisik membicarakannya dengan tatapan sengit, risih, dan menjijikkan. Yemi yang terusik, tapi pura-pura seperti tidak ada yang terjadi. Suasana di dalam kelas juga tidak jauh beda. Mereka menatap Yemi seakan-akan gadis itu tidak pantas diajak berteman. Yemi melihat temannya Dinda belum datang. Lalu salah satu murid di ruangan itu menghampiri. Dia menunjukkan sebuah video sambil berkata, "Ini kamu, kan?" Mata Yemi melotot. Dia merampas ponsel itu untuk meyakinkan penglihatannya, apakah benar dua orang yang sedang berhubungan m***m di ruang UKS itu adalah dirinya! Tidak salah lagi. Bagaimana bisa tersebar secepat ini?! "Darimana kamu mendapatkannya?" Bukannya menjawab, gadis itu malah memberitahu yang lainnya untuk mengklarifikasi bahwa benar Yemi dengan suara lantang. Seisi kelas pun menyerangnya dengan segala macam hinaan. Cukup berat masalah yang menimpa Yemi hari ini. Pertama, tersebarnya video adegan mesumnya dengan Bian. Kedua, Dinda yang tidak masuk Sekolah karena kabarnya tidak enak badan. Ketiga, sepertinya gadis-gadis kemarin akan mengincarnya hari ini. Keempat, mungkin Bian juga akan mengincarnya. Semua itu membuatnya tidak bisa fokus melakukan kegiatan lain. Dia membutuhkan satu solusi untuk menyelesaikan semua masalahnya. Tapi, sepertinya tidak mungkin. *** Yemi adalah orang pertama yang meninggalkan kelas ketika bel pulang berbunyi. Namun ketika melewati pintu, dia melihat tiga gadis kemarin sedang menuju ke arah kelasnya. Mereka seolah sudah menanti saat-saat ini. Yemi memutar tubuh secepat kilat lalu berlari kencang menghindari mereka. "Itu dia! Hei berhenti!" Kejar-kejaran terjadi di sepanjang koridor tanpa peduli orang-orang yang mereka tabrak. "Yemi berhenti! Jangan coba-coba kabur!" Sialan! Geram Yemi. Semuanya tidak akan serumit ini jika Dinda ada bersamanya. Kenapa sih gadis itu harus sakit hari ini?! Minta bantuan pada siapapun tidak akan ada yang mau menolongnya. Karena sekarang di mata mereka seorang Haruna Yemi tidak jauh beda dari gadis-gadis yang pernah ditiduri ditiduri Bian. Dan jika Yemi tertangkap, dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Yang kemarin saja dia hampir pingsan dihajar. "Aw!" Keluhan barusan berasal dari mulut Yemi karena kakinya tergelincir. Dia jatuh dengan mulut hampir mencium sepasang sepatu tepat di depan wajahnya. Matanya mengikuti pemilik sepasang kaki itu dan mendapati sosok Bian berdiri kedua tangan di saku celana. Tanpa pikir panjang Yemi berdiri lalu mencari perlindungan padanya. Ketiga gadis di sana juga berhenti. Sama sekali tidak berani mendekat. "Kumohon lakukan sesuatu." Bian menatap Yemi yang berdiri di belakang pundak kanannya tanpa reaksi. Gadis itu menatapnya kembali. "Kumohon bantu aku sekali ini saja." "Kau siapa? Kenapa aku harus membantumu?" Suara Bian terdengar dingin. Lalu beranjak pergi. Lantas Yemi dengan berani menahan lengannya. "Aku akan melakukan apapun. Tolong. Aku minta maaf soal yang tadi malam." "Aku sudah tidak menginginkankanmu lagi. Lepas." "Bian! Hei...," Bian benar-benar pergi. Bahkan mendengar Yemi berteriak kesakitan karena mendapat jambakan, Bian sama sekali tidak menoleh. Hingga terdengar suara hantaman seperti pukulan tangan, Bian mendadak berhenti. Saat dia berbalik, Yemi sudah tergeletak tidak sadarkan diri. "Oh, ya Tuhan! Apa dia pingsan?" kata temannya. "Hei, Yemi. Jangan berlebihan." Mereka menjadi takut ketika melihat Bian datang. "A-aku tidak benar-benar menamparnya, sungguh. Dia saja yang berlebihan...," Gelagapan salah satu gadis itu melihat Bian yang berjongkok di sebelah Yemi. "Yemi..., Hei...," Bian menepuk pelan pipinya. Gadis itu tidak merespon. "Kalian... " "Demi Tuhan, Bian..., A-aku...," Kini Bian menggendong Yemi. "Sebaiknya kalian jangan menggangunya lagi." Lalu meninggalkan tempat itu. Karena ini sudah jam pulang, jadi Bian membawa Yemi menuju lahan parkiran. Tanpa sepengetahuan laki-laki itu, Yemi sedikit mengintip di mana Bian kini mengarah menuju mobilnya. Seketika gadis itu melompat dari gendongannya. "Aku sudah baikan," katanya dengan semangat. Di samping itu dia merasa waspada. Bian yang sempat dibuat melongo karena terkejut kini tersenyum miris, tidak disangka, "Jangan bilang kamu pura-pura pingsan?" Ketahuan. Yemi jadi kikuk. "Habisnya mau bagaimana lagi? Kalau tidak begitu, kamu tidak akan mau menolongku, kan?" "Dasar licik." Bian sungguh tidak habis fikir. "Terserah. Pokoknya kamu berhutang budi padaku. Sekarang giliranmu—" Sebelum Bian menyelesaikan ucapannya, Yemi sudah kabur duluan karena dia tahu apa yang diminta Bian. Sebenarnya Yemi orang yang tidak pernah ingkar janji. Tapi untuk masalah ini, dia masih berpikir seribu kali untuk melakukannya. Dia takut bisa hamil muda jika diperkosa terus-terusan oleh laki-laki itu. *** Di dalam Bus yang menuju ke rumahnya. Sebenarnya Yemi merasa bersalah juga terhadap Bian karena main pergi begitu saja. Bahkan dia lupa mengucapkan terima kasih. Walau bagaimanapun, Bian sudah menyelamatkannya dari terkaman singa-singa betina itu walau hanya pura-pura pingsan untuk menarik perhatiannya. Yemi rasa besok dia harus minta maaf serta mengucapkan terima kasih, agar dia setidaknya tenang. Seperti biasa, ketika Yemi pulang Sekolah tepat waktu, dia akan mendapati Ibunya sedang sibuk di dapur. Sementara Juna terlihat menyantap hidangan di meja makan. "Oh, sialan kau!" Lalu bocah itu mengerang protes karena Yemi dengan usil mencomot ayam gorengnya. Yemi hanya meleletkan lidah lalu mencicipi sebagian menu yang tersedia. "Yemi..., Cepat ganti baju lalu turun makan," seru Ibu dari dapur. "Ya, buk." Gadis itu lekas menuju letak kamarnya yang berada di lantai dua dengan suasana hati seolah hari ini tidak terjadi apa-apa. Atau setelah mengunci pintu perasaannya berubah, karena tanpa sadar dia berteriak lantang. Seperti hantu saja, melihat Bian yang sedang duduk bersandar santai di kasurnya dengan kedua kaki berselonjor ke depan. Tangannya menyilang di d**a. Kapan dia tiba dan bagaimana dia bisa masuk? "Yemi, ada apa?" teriak Ibu di luar sana. Padahal hanya tinggal menjawab, tidak ada apa-apa, tapi rasanya sulit Yemi lakukan. Dia terlalu syok dengan kehadiran Bian di kamarnya sampai-sampai bingung sendiri. "Yemi? Kamu baik-baik saja, kan?" Ibunya sekali lagi berteriak cemas karena tidak ada jawaban. Yemi perlu keluar untuk meyakinkan Ibunya di bawah sana, berusaha menampilkan aura baik-baik saja. "Tidak apa-apa, buk. Aku rasa aku melihat kecoa." "Kecoa?! Dia mana biar Ibu lihat!" "Eh tidak perlu!" Wanita di bawah sana menghentikan langkah di anak tangga. "Aku sudah mengatasinya. Hehe." Dia tertawa. Namun wajahnya tampak menderita. "Besok kamarmu harus dibersihkan. Pasti banyak kecoa di belakang lemari." Setelah wanita itu pergi, Yemi kembali ke kamarnya dengan kedua lutut gemetar. Tubuhnya ikut melemas. Dia memastikan pintu kamarnya sudah terkunci. Lalu mulai menghadapi Bian. "Apa yang kamu lakukan di sini?" "Dasar gadis licik!" "Ssstttt! Pelankan suaramu!" "Kenapa? Terserah aku mau bicara keras-kermmph—" Mulutnya segera dibungkam Yemi. "Aku mohon dengan sangat, tolong tenanglah!" "Kamu akan berikan apa jika aku mau tenang? Karena aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang aku mau." Ucapan seperti itu saja sudah membuat Yemi bergidik. Dia berharap semoga semua ini hanyalah mimpi buruk.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN