"Yemi...?" teriak Dinda dari luar bilik Toilet.
"Iya?"
"Aku pulang duluan, ya? Daniel minta ketemuan."
"Iya...,"
"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?"
Alasan Dinda khawatir karena suara Yemi bagai terdengar putus asa. Yemi terlihat aneh setelah dia kembali dari ruang UKS.
"Aku baik-baik saja."
"Ingat, ya? Hati-hati dengan cowok itu!"
Itulah yang membuat Yemi membuang-buang waktu duduk di Toilet, sedang menyesali apa yang sudah dia lakukan bersama si bastard itu.
"Iya, Dinda."
"Oke. Aku pergi dulu."
Selepas kepergian Dinda, Yemi terlihat keluar dari bilik Toilet. Untung saja dia tidak akan pulang lebih lama seperti kemarin. Bisa jadi peristiwa tadi malam terulang untuk yang kedua kalinya.
Keadaan Toilet yang tiba-tiba horor membuat Yemi secepatnya pergi. Jujur saja bahwa dia lebih waspada terhadap Bian ketimbang penghuni Sekolah ini.
Dan ternyata di luar sudah ada tiga siswi berdiri seolah memang sedang menunggunya keluar. Wajah mereka terlihat ingin memukulnya.
Benar, kan? Gadis-gadis itu menyeret Yemi menuju halaman belakang Sekolah yang sepi.
"Apa-apaan ini?!" Yemi butuh penjelasan karena selama dia bersekolah di sini, tak pernah ada masalah yang dilakukannya.
Tapi yang dia dapat malah tamparan di pipi.
"Hei, Yemi! Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu dan Bian lakukan di ruang UKS?! Berani sekali kamu berbuat m***m dengan menjadikan Bian partnermu? Aku baru tahu ternyata kamu hanya pura-pura polos." Salah satunya mewakili dengan tatapan jijik.
Yemi gemetaran. Pikirannya langsung menuju pada kejadian beberapa jam yang lalu. Dia tidak menyangka akan ada yang melihat adegan m***m mereka. Bagaimana bisa?
Gila saja! Bian mempunyai pengagum yang sangat bahaya. Bisa-bisa Yemi kehilangan nyawanya.
Yemi rasa dia akan menjadi bahan bully-an jika dia hanya diam saja. Karenanya dia memberanikan diri untuk melawan dengan memberi balasan berupa tamparan juga.
Plakk
"Kenapa memangnya? Iri ya? Polos atau gadis nakal, apakah itu mengusik ketenanganmu? Memangnya Bian siapamu? Bukan siapa-siapa mu, kan?"
Karena keberaniannya itu Yemi membuat si Ketua dari gadis-gadis ini menarik rambutnya.
"Akh!" Yemi meringis dengan kepala menengadah.
"Tentu saja itu mengusikku, bodoh. Tidak kusangka kamu punya keberanian menjawabku seperti itu! Sekarang rasakan ini!"
"Wah!" Gadis di depannya tersenyum getir. Benar-benar tidak disangka dengan jawaban Yemi si tidak banyak omong yang mereka ketahui.
Tubuh Yemi didorong ke tanah. Dan terjadilah kekerasan fisik di sana.
Dua gadis yang sejak tadi hanya menonton kini ikut mengambil bagian.
Yemi mendapat pukulan di hidung hingga mengakibatkan pening hebat di kepala. Yemi kesusahan melawan ketiganya, terlebih ini yang pertama kali dalam hidupnya.
Mereka menariknya untuk berdiri. Memberi peringatan terakhir agar tidak gatal—mereka mengira begitu—pada Bian lagi. Lalu menghempaskan tubuhnya ke sembarang arah hingga Yemi mendarat tepat di dalam pelukan seseorang.
Yemi merasakan seseorang mengangkat dagunya hingga melihat darah mengalir dari hidung gadis itu
"Bi–Bian...?"
Mendadak nyali ketiga gadis di sana menciut.
Bian bisa saja bertindak untuk memberi mereka pembalasan. Tapi dia lebih mengutaman keadaan Yemi yang sekarang ingin pingsan. Toh masih ada hari esok untuk melakukannya.
Setelah menyeka darah di hidung Yemi dengan sapu tangan, Bian menggendongnya pergi dari sana. Cara Bian memperlakukan Yemi membuat ubun-ubun gadis-gadis itu terasa mendidih melihatnya.
Beberapa murid yang masih terlihat di pekarangan Sekolah seketika menghentikan segala aktivitas mereka begitu melihat Bian melintas sambil menggendong seorang gadis.
Melihat Bian gonta-ganti pasangan setiap hari bukan lagi hal yang mengejutkan. Namun bukan hal yang biasa lagi jika melihat ada seorang gadis yang ia spesialkan.
Yemi yang masih trauma denga kejadian tadi memilih menyembunyikan wajahnya di leher Bian.
Bian yang menyadari tingkah gadis itu hanya menyeringai tipis.
***
Hanya karena Bian telah menjadi penolong saat dia diserang, Yemi sekarang merasa aman bersamanya. Hingga melupakan nasehat Dinda yang katanya dia harus berhati-hati terhadap laki-laki itu. Bukannya menjauh, mereka malah semakin lengket.
"Kita di mana?" tanya Yemi ketika sadar dari acara pingsannya beberapa jam yang lalu.
Posisinya sekarang memang masih di dalam mobil. Tapi yang jadi pertanyaannya, di mana lokasi mereka saat ini? Karena komplek ini begitu asing di matanya.
"Rumahku."
Yemi diam.
"Ayo turun. Tidak ada siapa-siapa di rumah. Jadi tidak usah malu."
Eh?! Bukannya itu yang membuat Yemi justru khawatir? Tidak ada siapa-siapa, hanya ada mereka berdua. Itu benar-benar peluang bagus untuk Bian melancarkan aksinya.
"Kenapa diam? Mau digendong lagi?"
Yemi melototinya. "Aku pikir kamu akan mengantarku ke rumahku."
"Aku yang menyetir. Jadi terserah aku mau singgah di mana." Setelah mengatakan itu Bian lekas keluar duluan dari mobil.
Melihat Yemi yang belum mau keluar dari mobil, Bian yang hampir dekat dengan gerbang kini harus kembali lagi untuk membujuk gadis itu.
"Asal kamu tahu. Di sini terkenal akan bahaya. Banyak preman mabuk. Percayalah, mereka lebih bahaya dariku." Bian mengatakan kalimat terakhir dengan bisikan nakal.
Yemi pun melihat sekitarnya dengan perasaan horor. Lalu keluar dari mobil untuk menghampiri Bian yang sudah melewati gerbang rumah.
Bodoh. Mau saja dibohongi si bastard itu.
"Masuklah. Anggap saja rumah sendiri."
Lagi-lagi Yemi diam sehingga Bian perlu membujuknya lebih manis lagi. Dia mengaitkan jari-jarinya pada sela-sela jemari Yemi lalu membawanya ke dalam. Begitulah cara Bian memperlakukan gadis-gadis sebelumnya saat mengajaknya ke rumah.
"Kamu tinggal sendiri?"
"Iya."
"Di rumah sebesar ini?"
"Iya."
Mereka berhenti di ruang tengah.
Melihat Yemi yang sedang mengagumi setiap sudut rumahnya yang besar, seolah-olah rumah itu lebih menarik daripada makhluk tampan di sebelahnya. Bian mengusik kegiatan gadis itu dengan menangkup wajahnya. Menatapnya intens sambil mengulas senyuman tipis. Jika gadis lain yang berada di posisi Yemi saat ini, mereka sudah pasti gugup.
Sedang Yemi malah waspada.
"Kamu mau minum apa?"
Tidak harus begini juga, kan? Pikir Yemi.
Eh! Tunggu! Bian menawarkannya minum?
"Em, Aku tidak haus."
Alasan Yemi menolak. Barangkali Bian akan memasukan sesuatu ke dalam minumannya.
Bian terkekeh, dan pada saat dia melakukan itu ketampanannya jadi berlipat-lipat ganda.
'Tampan dan manis. Tapi kenapa harus berengsek, sih?.' Dalam hati Yemi bergumam merasa kecewa.
"Yemi...,Yemi..., Kalau aku ingin macam-macam denganmu, aku tidak perlu memakai cara murahan dengan memasukan sesuatu ke dalam minumanmu. Barangkali itu yang ada di pikiranmu?"
Yemi memilih untuk tidak menjawab. Sedangkan Bian segera mengarah ke dapur yang tidak jauh dari ruang tengah. Hingga Yemi dapat menyaksikan bagaimana Bian sedang menyiapkan dua buah gelas, lalu minuman orange jus yang diambilnya dari kulkas serta menuangkannya ke dalam gelas tadi.
Dia menyerahkan satu gelas pada Yemi.
"Aku akan meminumnya. Tapi setelah ini aku mau pulang."
"Kita bicarakan itu nanti."
"Kamu pernah mengatakan ini malam itu. Tapi kamu bohong."
"Kalau aku bohong lagi?"
Maka sekarang Yemi harus melarikan diri.
Dua gelas di tangan Bian terlempar ke lantai demi menahan Yemi dengan mencengkram lengannya.
"Itu tidak sopan ketika Tuan rumah menyuguhkanmu minuman."
Bian melempar gadis itu ke sofa lalu mengurungnya dengan menindih tubuhnya. Sikap Bian yang sentimen membuat Yemi berpikir kalau lelaki ini adalah psikopat.
"Begini saja. Kita buat kesepakatan. Kalau kamu mau bersikap tenang, aku akan bermain halus."
Sudah Yemi dua buah akhirnya akan seperti ini.
"Persetan dengan kesepakatanmu! Aku hanya ingin pergi dari sini!"
"Oke. Aku akan membiarkanmu. Tapi aku akan lepas tangan jika kamu dalam masalah. Kuharap kamu tidak lupa dengan ketiga gadis di Sekolah tadi. Besok mereka pasti akan mendatangimu. Kamu yakin bisa lepas? Percayalah, hanya aku satu-satunya orang yang bisa menghentikan mereka. Tempat teraman hanya bersamaku."
"Kenapa kamu sering sekali melakukan ini padaku?! Jika kamu menginginkan itu. Sungguh, bukan aku orangnya! Aku yakin aku bukan tipemu!" Point utama yang paling Yemi ingin tahu. Kenapa Bian lagi-lagi menjadikannya sebagai pelampiasan nafsu?
Namun seberapa memelasnya Yemi, Bain tidak akan bisa tersentuh.
Bian yang tidak peduli. Justru dia kembali memberi Yemi pilihan yang tadi.
Bagaimana Yemi bisa memberikan jawaban suka rela jika kedua dari pilihan itu tidak ada yang menguntungkan baginya?
Sementara Bian menunggu sebelum beraksi.
Dia yakin, Yemi akan memilihnya.[]