Ini sudah hari ke lima, sejak Anay menerima kotak pertama tanpa nama pengirim dan berlanjut ke kotak-kotak berikutnya yang selalu datang di jam yang sama dengan merek yang berbeda namun harganya cukup menguras tabungan. Anay menghembuskan napasnya frustasi. Dengan malas ia mengangkat kotak itu, melangkah ke arah loker karyawan yang ada di pojok kanan ruangan. Kotak-kotak itu tersusun rapi, sudah lima kotak yang Anay simpan di dalam lokernya. Tidak berniat untuk membawa pulang apalagi sampai memakai barang yang tidak jelas asal usulnya itu, meskipun ada Sisi yang bersedia menjadi tempat pembuangan sampahnya. "Ada lagi?" tanya Satrya. Anay mengangguk setelah duduk di kursinya. "Hati-hati, Nay." ujar Satrya, mengundang tatapan penuh tanya dari Anay. "Nggak ada orang yang segitu dermawanny

