"Nggak usah ketawa!" ujar Anay kesal. Mukanya memerah menahan malu. Anay semakin ingin menenggelamkan dirinya saat melihat tatapan Argan padanya. Bagaimana bisa laki-laki itu dengan mudahnya mengambil kesimpulan terkutuk itu tanpa di filter lebih dulu? Ini masalah p******a-nya. bukit kembar yang ukurannya tidak memadai itu tetap saja aset berharganya meskipun agak minder untuk di banggakan. "Kenapa sih? Muka kamu sampai merah kayak gitu---" menjeda kata-katanya, Argan menatap Anay lebih intens. "Kamu malu?" tanyanya masih dengan senyum menggoda. Alih-alih menjawab, Kedua tangan Anay terangkat menangkup wajahnya, lebih memilih menyelamatkan sisa harga dirinya sebagai perempuan. Sedetik kemudian, kekehan geli di wajah Argan mendadak hilang berganti dengan rasa bersalah. Argan lupa... seh

