"Sampai kapan kamu mau terus ngehindar?" Deg! Anay yang baru selesai membuat teh di pantry tiba-tiba di kagetkan dengan suara Argan. Masih membelakangi Argan, Anay menarik dan membuang napasnya, mengusir rasa gugup, deg-degan dan keinginan untuk memeluk Argan saat ini juga. Tian benar, dia harus bersikap tenang. Anay berbalik menatap Argan, "Sampai kamu ngakuin aku sebagai pacar kamu, see me as a woman who wants to be with you. Can you? answer me, Arganta. Yes or No?" Argan mendesah frustasi, "Annaya, please?" Mukanya pengen banget di cium---Ok sadar. Batin Anay Anay menggeleng, matanya kini sudah berkaca-kaca. Keterdiaman Argan sudah cukup menjelaskan apa yang di pilih oleh laki-laki itu. "Don't say anything. if you love me, admit it." ujarnya tegas lalu melangkah pergi meninggalkan

