"Lo yakin mau tunangan sama Riska?" tanya Anay yang lebih memilih duduk di lantai, menyenderkan punggung dan kepalanya yang terasa berat menahan kantuk di sofa empuk milik Yaya. Saat ini ketiganya sedang berada di Apartemen. Tian duduk di sofa dengan wajah seriusnya, sepertinya ada banyak hal yang dia pikirkan sampai harus menyeret Anay dari kasurnya ke Apartemen Yaya. sedangkan sang pemilik hanya bisa pasrah dan berbesar hati. Sampai saat ini, akal sehat Yaya belum bisa menerima kebiasaan dua sahabatnya itu yang sering bertamu di jam-jam yang tidak manusiawi. Terlebih lagi ini hari minggu dan masih jam enam pagi, Ya Tuhan. Yaya muncul dari arah dapur dengan sepiring roti panggang lalu duduk bersila di samping Anay. "Jangan gegabah ngambil keputusan." tambah Yaya lalu mengambil sepoto

