Sudut Pandang Dimas Ponselku yang bergetar di atas meja samping tempat tidur membangunkanku dari tidur paling damai yang pernah kurasakan. Aku meraihnya, mematikan suara tanpa melihat siapa yang menelepon. Tidak ada yang cukup penting untuk mengganggu wanita yang sedang kupeluk ini. Dia mendekat ke sisiku, dan aku menenggelamkan hidungku ke rambutnya, menghirup aroma yang menenangkan. Dia wangi lavender dan vanilla. Aku putuskan itu jadi aroma favoritku sekarang. "Kayaknya agak nyeremin kalau kamu cium-cium rambut perempuan yang lagi tidur," katanya, dan aku tersenyum. Dia mengangkat kepalanya dan menatap mataku dalam-dalam. Semua tanda candaannya menghilang. Aku tidak berpaling meskipun ada rasa takut dalam diriku bahwa dia akan kembali melawan ini. "Makasih, udah nggak ninggalin aku

