Sudut Pandang Louise "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya resepsionis padaku. Sebelum aku sempat menjawab, Bernice keluar dari kantornya. "Tenang saja, Tammy. Ini sepupuku, Louise. Dia janji sama aku jam sepuluh. Tolong catat pesan-pesan untuk satu jam ke depan, ya," ujar Bernice sambil mengajakku masuk ke kantornya. Dia memelukku erat sebelum mengisyaratkan agar aku duduk di depan mejanya. "Louise, ada apa? Jangan bilang kamu berubah pikiran deh. Aku hampir teriak saking senangnya pas kamu bilang mau ajukan cerai. Dan aku bakal nangis kalau kamu mutusin buat tetap bersama si tukang selingkuh itu." "Tentu aja enggak. Aku pengen ini cepat kelar. Aku tau seharusnya udah dari dulu aku lakuin, tapi ya udahlah, enggak bisa mengubah masa lalu." Dia berdiri dan duduk di sebel

