Bab 6: Mencari Ibu Sambung

1028 Kata
"Jadi sekarang kamu jadi p*****r, Fatin? Arrrgh!!! Beritahu aku dimana laki-laki b******k itu?!" geramnya penuh emosi. Sambil terus menenggak arak yang ada dihadapan mukanya. Tubuh Riko sudah sangat melemah akibat minuman beralkohol itu, pikirannya sudah mulai tidak bisa dikendalikan. Setiap melihat wanita cantik melintas dihadapannya, wajahnya berubah menjadi Fatin, semua orang yang berlalu lalang lama-lama wajahnya serupa, mirip Fatin cinta pertamanya. Belum juga Fatin menjawab pertanyaan Riko, dia keburu tidak sadarkan diri setelah muntah hebat. Kemudian Fatin meninggalkannya begitu saja karena Andre tiba-tiba datang dan menjambak rambutnya. "Jalang!!! Ngapain Lo malah disini? sana kerja cari duit yang banyak! Kalau ngga, cinta pertama Lo ini akan gue habisin malam ini juga," ancam Andre. "Jangan ndre gue mohon. Ia gue akan turuti semua keinginan Lo asal jangan sakiti dia." Fatin langsung terbangun dari tempat duduknya, karena Andre menarik rambutnya sangat keras. Kemudian dia kembali bekerja menghibur para lelaki hidung belang. *** Pak Tarno, supir pribadi Riko meminta bantuan security untuk membawa majikannya itu kedalam mobil. Pak Tarno bukan pertama kalinya mengurusi Riko yang tidak sadarkan diri karena mabuk berat, sudah hampir satu bulan sejak kepergian istrinya. Rutinitas malam Riko memang seperti itu. Katanya hanya dengan mabuk segala duka lara hilang begitu saja. Setelah sampai rumah, Pak Tarno meminta bantuan istrinya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah Riko, untuk mengangkat Riko menuju kamarnya. Riko tinggal seorang diri dirumah pribadinya. Anaknya sengaja ia serahkan pada mertuanya karena dia tidak sanggup mengurusnya. Saat pagi tiba, seperti biasa alarem jam bekernya berbunyi tepat pukul 07.00 WIB. Riko menggeliat, perlahan membuka matanya yang masih ngantuk berat. Namun dia harus bangun karena harus tetap bekerja di perusahaan mertuanya. "Fatin? Arak itu membuat mimpiku selalu indah. Tiba-tiba aku bermimpi bertemu cinta pertamaku lagi. Tapi terasa seperti nyata. Aneh. Tapi tidak mungkin, Fatin wanita baik. Dia tidak mungkin jadi wanita malam. Aarrggh!!!" keluhnya sambil memukul bantal. Riko beranjak dari spring bednya dan mulai masuk ke kamar mandi. Saat air berjatuhan dari sowernya, dia memejamkan mata dan teringat pesona kecantikan wajah Fatin. Dia berpikir, dia akan kembali ke club malam itu nanti malam. Tapi tidak akan mambuk. Dia hanya ingin memastikan kalau semalam dia bermimpi, berhalusinasi atau memang nyata melihat Fatin. Kemudian dia menuangkan shampo ketelapak tangannya. Keramas!!! itu yang selalu dia lakukan sehabis mabuk semalaman. Dia menggosok gigi berulang kali agar bau alkohol tidak tercium saat kekantor. Dia tidak mau kalau sampai mertuanya tahu, tentang keterpurukannya. Karena disisi lain bukan hanya dia yang sedih kehilangan Tia, namun kedua orangtua Tia pun jauh-jauh lebih sedih. Ritual mandi pagipun selesai. Riko bersiap kekantor. Bi Inah tidak lupa menyiapkan bekal untuk makan di kantor karena Riko sulit sekali sarapan dirumah. "Ini kotak bekalnya Tuan," kata Bi Inah sambil menyodorkan kotak nasi dua susun berwarna ungu. "Terimakasih Bi, aku bukan hanya suka dengan masakan Bi Inah tapi juga suka dengan warna kotak nasi ini," jawabnya sambil tersenyum. *** Setelah pulang kerja biasanya Riko selalu mampir kerumah mertua untuk menjenguk anaknya. Rasanya melihat anak setelah pulang kerja bisa mengobati lelah dan sedih. Dan setiap datang kerumah mertua, Ibu dan Bapak mertuanya selalu saja menasihati untuk segera mencari pengganti putrinya yang sudah meninggal. "Kamu jangan merasa tidak enak hati pada kami. Papah dan mamah akan selalu merestui kamu kalau kamu ingin mencari pengganti Tia. Lagipula kasihan Putri, anak kamu ini butuh kasih sayang seorang ibu sejak dini," ucap Ayahnya Tia pada mantunya sambil menepuk-nepuk pundaknya. "Baik Pah, Riko akan sesegera mungkin mencari ibu sambung untuk Putri. Tapi tidak mudah Pah, Riko tidak punya teman perempuan satu pun." "Tenang saja, Papah akan carikan sebanyak-banyaknya agar kamu bisa memilih sesuai kriteria kamu." Sebenarnya hati kecilnya ingin sekali bertemu lagi dengan Fatin dan hanya ingin menikah dengannya. Namun Riko tidak tahu keberadaan Fatin, pikirnya kalau jodoh ngga akan kemana. Pasti Tuhan akan mempersatukan mereka. Demi anaknya, Riko tidak pernah menutup hati untuk wanita manapun. Dia akan memberikan kesempatan pada wanita yang benar-benar tulus dan sayang kepada anaknya bukan hanya sayang pada Riko. Ini seperti sayembara mencari mamah sambung untuk Putri. Jadi Riko tidak pernah menolak saat Papah mertuanya mengenalkannya dengan gadis-gadis cantik, berkualitas dan lulusan universitas ternama. Riko akan coba jalani dan apabila tidak cocok, maka Papah akan mencarikannya lagi dan begitu seterusnya sampai mendapatkan ibu sambung yang tepat. "Papah sengaja loh cariin istri sekaligus ibu buat anak kamu yang berkualitas. Yang bibit, bebet dan bobot nya jempolan. Karena Papah mau Putri tumbuh ditangan orang yang berilmu, berkuakitas, berakhlaq dan yang terpenting layak jadi Ibu. Jangan sampai ada masalalu yang buruk. Karena Papah ngga mau dimasa mendatang Putri menjadi bullyian orang. Kamu mengertikan maksud Papah?" ucapnya dengan tegas. "Ia Pah, Riko mengerti. Terimaksih atas perhatiannya selama ini Pah," jawabnya sambil memeluk mertuanya, laki-laki yang sudah banyak tumbuh uban itu. Mendengar ucapan mertuanya itu, Riko jadi kepikiran. Bagaimana kalau benar Fatin jadi wanita malam. Bisa-bisa Papah mertuanya melarang Fatin menjadi Ibu sambung untuk anaknya. Tapi dia berharap semoga semalam hanya halusinasi saja.  "Ayo kita makan siang dulu, sebelum balik ke kantor!" perintah Papah mertuanya. "Baik Pah." Setelah puas menggendong anaknya yang masih berusia satu bulan. Riko dan mertuanya makan siang bersama sebelum mereka kembali bekerja. Putri dibawa oleh baby sisternya untuk diberi s**u. "Emang paling lezat masakan Mamah," puji Riko saat menyantap suapan demi suapan makanannya. Mamah mertuanya memang hobi masak. Jadi dia tidak pernah menyewa pembantu untuk masak dan bersih-bersih rumah. Hanya menyewa baby sister saja untuk mengurusi cucu kesayangannya. Selebihnya selagi dia mampu mengerjakannya, maka akan dia kerjakan sendiri. "Terimkasih Riko, masakan yang dibuat dengan cinta pasti akan selalu terasa nikmat," jawab Mamah mertuanya. Ditengah kenikmatan menyantap makan siang, Papih menyodorkan beberapa foto wanita cantik yang berkelas dan sopan pada Riko. "Coba kamu lihat foto-foto gadis cantik ini. Kamu pilih!! mana gadis pertama yang ingin kamu kenal?" ucap Papah mertuanya. Riko mengambil sepuluh foto itu dari tangan mertuannya dan mengamatinya satu persatu, berharap ada foto Fatin disitu. Kalau ada, tanpa pikir panjang pasti Riko akan memilihnya tanpa harus mengamatinya lagi. Semua foto sudah dia amati dan dilihat, rupanya tidak ada foto Fatin. Agar tidak mengecewakan mertuanya, jadi dia terpaksa memilih salah satu gadis cantik di foto itu. "Ini Pah. Riko mau kenal gadis yang ini," ucap Riko sambil memberikan satu foto pada Papah mertuanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN