Setahun kemudian, hujan kembali turun. Bukan badai yang menderu seperti malam-malam penuh air mata dulu, melainkan gerimis lembut yang menenangkan, membasahi daun-daun di jalanan dan membersihkan debu-debu kota. Nara duduk di sebuah kedai kopi kecil yang nyaman, tersembunyi di balik deretan toko buku bekas. Aroma kopi arabika yang baru digiling bercampur dengan bau tanah basah, menciptakan harmoni yang aneh tapi meneduhkan. Ia tak lagi memakai cincin di jari manisnya. Bekas lingkar putih di sana perlahan memudar, seperti kenangan yang tak lagi mencengkeram. Rambutnya kini dipotong sebahu, lebih segar dan ringan. Mata Nara masih sama, cokelat gelap yang ekspresif, namun kini ada ketenangan baru di dalamnya—bukan ketenangan yang datang dari lupa, tapi dari ikhlas. Di hadapannya, secangkir

