Nara duduk di hadapan Arga, meja makan itu kini menjadi garis demarkasi yang tak terlihat di antara mereka. Cahaya lampu dapur terasa terlalu terang, menyorot wajah Arga yang tertunduk, dan juga tangannya yang mengepal di atas paha. Sudah hampir seminggu sejak Nara melihat senyum itu, sejak piring itu retak di tangannya, sejak ia tahu pasti ada yang salah. Keheningan yang ada sekarang bukan lagi kabut yang samar, melainkan dinding baja yang memisahkan mereka. Malam ini, ia memutuskan untuk bicara.
"Ga," panggil Nara pelan, suaranya kering, "kita perlu bicara."
Arga menghela napas panjang, berat, seolah baru saja menyelesaikan marathon. Ia mengangkat kepala, matanya merah dan sedikit bengkak—entah karena kurang tidur atau... ia sudah menangis. "Aku tahu, Nar," katanya, suaranya serak, "aku tahu kamu sudah tahu."
Nara tak perlu bertanya tahu apa. Ia tahu Arga sudah melihat piring retak di wastafel. Ia tahu Arga sudah merasakan perubahan dinginnya. Dan ia tahu Arga sudah menyadari bahwa pesan di ponsel itu tak lagi menjadi rahasia.
"Lira," kata Nara, mengucap nama itu untuk pertama kalinya secara langsung. Rasanya asing, pahit di lidah. "Dia cuma teman lama, Nar. Aku cuma butuh tempat cerita. Aku capek."
Pengakuan itu akhirnya meluncur, tapi bukan dengan air mata penyesalan yang ia bayangkan, melainkan dengan kelelahan yang nyata, sebuah pengakuan yang terdengar lebih seperti pembelaan diri. Nara menatapnya lama. Ia melihat Arga di depannya, suaminya selama delapan tahun, kini hancur bukan karena amarah Nara, melainkan oleh beban rahasianya sendiri.
"Tempat cerita?" Nara mengulang kata itu, suaranya tenang tapi dingin. "Selama delapan tahun ini, bukankah aku tempat ceritamu, Ga? Bukankah kita berjanji untuk saling berbagi beban?"
Arga menunduk lagi, tangannya menggosok-gosok pelipisnya. "Aku... aku nggak tahu harus mulai dari mana, Nar. Akhir-akhir ini semuanya terasa berat. Kantor, tekanan. Aku merasa sendirian."
Nara bisa merasakan air mata menggenang di matanya, tapi ia menahannya. Air mata sudah terlalu sering mengalir tanpa suara di bantalnya. Ia tak akan memberikannya pada Arga saat ini. Ia ingin Arga mendengar kata-katanya, bukan melihat kelemahannya. "Kamu merasa sendirian? Bagaimana denganku, Ga? Ketika kamu pulang larut, ketika kamu diam, ketika kamu tak lagi melihatku, tak lagi menjawab pesanku—apa yang kupikirkan? Apa yang kurasakan?"
Suasana kembali hening, hanya ada suara detak jam dinding yang tak berirama di telinga Nara, dan suara napas Arga yang memburu. Nara tahu, hubungan itu sudah rusak jauh sebelum Lira datang. Jauh sebelum pesan singkat itu terbaca. Lira hanyalah tetesan terakhir yang membuat cawan retak mereka meluap.
"Mungkin memang bukan dia yang salah, Ga," ucap Nara pelan, kata-kata itu keluar dengan sendirinya, sebuah kesimpulan yang telah ia renungkan berhari-hari dalam keheningan yang menyiksa. "Mungkin kita yang sudah berhenti saling bicara."
Arga mengangkat kepalanya cepat, tatapannya kini bertemu dengan Nara. Ada keterkejutan di matanya, seolah Nara baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak pernah ia duga. "Apa maksudmu, Nar?"
"Kita," Nara melanjutkan, suaranya kini lebih tegas, lebih jernih, seolah ia baru saja menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kabut. "Kita sibuk dengan diri masing-masing. Kamu dengan pekerjaanmu, dengan tekananmu. Aku... aku sibuk menunggu. Sibuk berharap kamu akan kembali seperti dulu. Kita berhenti saling bertanya. Berhenti saling mendengarkan. Kita berhenti saling melihat." Ia menunjuk ke piring retak yang masih tergeletak di wastafel. "Piring itu retak di tanganku, Ga, bukan karena aku ceroboh. Tapi karena rapuh. Seperti kita."
Nara bisa melihat bayang-bayang penyesalan di mata Arga, namun bercampur dengan kebingungan. Arga tak pernah menyadari kedalaman masalah mereka, ia hanya mencari jalan pintas untuk rasa sepinya. Dan mungkin, yang paling menyakitkan bukan karena Arga selingkuh, bukan karena Lira datang kembali, tapi karena mereka berdua sama-sama berhenti memperjuangkan. Janji di ujung pernikahan mereka, janji yang mereka ucapkan delapan tahun lalu, kini terasa tipis, terulur begitu jauh hingga nyaris putus. Itu bukan lagi sebuah ikatan, melainkan hanya sisa-sisa benang rapuh yang setiap tarikan kecil bisa mengakhirinya.
"Aku... aku minta maaf, Nar," Arga akhirnya berkata, suaranya nyaris seperti bisikan. Air mata mulai menetes dari matanya, mengalir membasahi pipinya. Itu adalah air mata pertama yang Nara lihat dari Arga dalam waktu yang sangat lama. Tapi entah kenapa, air mata itu tak mampu menghangatkan hatinya yang kini terasa membeku.
Nara hanya menatapnya. Ia merasa kosong, bukan karena tak ada lagi yang bisa ia berikan, tapi karena ia sudah memberikan segalanya. Ia sudah berjuang dalam diam, dalam harapan, dalam penantian. Tapi semua itu sia-sia jika yang di seberang sana tidak lagi melihat, tidak lagi mendengar.
Ia bangkit dari kursi, melangkah pelan menuju jendela. Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya, hanya ada gemerlap lampu kota yang jauh. Hujan sudah berhenti, tapi kelembapan dan dinginnya masih terasa. Nara memejamkan mata, membiarkan napasnya keluar perlahan. Sebuah keputusan, yang selama ini ia hindari, kini terasa begitu jelas di benaknya. Ujung janji itu sudah di depan mata. Bukan untuk diselamatkan, tapi untuk dihadapi.
"Aku lelah, Ga," kata Nara, suaranya pelan, tapi penuh ketegasan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Aku lelah memperjuangkan kita sendirian." Ia berbalik, menatap Arga yang masih duduk tertunduk di meja makan, bahunya terguncang pelan. "Aku rasa... ini saatnya kita masing-masing memutuskan akan ke mana."
Kata-kata itu menggantung di udara, berat, memecah kesunyian yang ada dengan suara yang lebih memekakkan daripada teriakan apa pun. Ini bukan akhir dari amarah, melainkan awal dari sebuah perpisahan yang diselimuti kelelahan. Janji itu, kini benar-benar di ujung tanduk, siap untuk terlepas.