Suatu pagi, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai kamar, membangunkan Nara dari tidur yang lagi-lagi tak nyenyak. Udara masih terasa dingin dari hujan semalam, tapi hari ini langit cerah, seolah alam ingin menipu bahwa segalanya baik-baik saja. Ia melirik Arga di sebelahnya—masih tertidur, napasnya teratur, wajahnya tenang seperti tak ada beban yang menggerogoti. Nara bangkit pelan, kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, dan berjalan ke dapur seperti biasa. Rutinitas pagi: merebus air untuk kopi, mengiris roti tawar, dan mencoba mengabaikan kabut di pikirannya yang semakin pekat.
Tapi hari ini terasa berbeda. Saat ia melewati ruang tamu, matanya tertarik pada ponsel Arga yang tergeletak di meja kopi, sama seperti malam itu. Layarnya gelap sekarang, tapi ingatan pesan Lira masih segar, seperti luka yang belum kering. Nara menggeleng pelan, mencoba mengusirnya, dan melanjutkan ke dapur. Ia membuka keran wastafel, membiarkan air mengalir deras sambil mencuci piring sisa malam tadi—piring yang lagi-lagi tak tersentuh, nasi dingin yang ia buang ke tempat sampah. Gerakannya mekanis, tapi pikirannya melayang: sudah berapa hari diam ini berlangsung? Sudah berapa malam ia duduk sendirian, menunggu Arga yang pulang dengan alasan yang sama?
Bunyi langkah dari kamar membuatnya tersadar. Arga keluar, rambutnya acak-acakan, mengenakan kaus tidur yang sama seperti kemarin. Ia berjalan ke ruang tamu dulu, meraih ponselnya, dan duduk di sofa sambil menyandarkan punggung. Nara mengintip dari dapur, hatinya berdegup lebih cepat. Arga membuka layar ponsel, jarinya bergulir pelaniba-tiba—senyum kecil muncul di bibirnya. Senyum yang tipis, tapi hangat, seperti cahaya pagi yang menyentuh wajahnya. Senyum yang dulu hanya milik Nara, saat ia bercerita tentang hari-harinya, atau saat mereka berbaring di tempat tidur sambil berbisik rencana akhir pekan.
Senyum itu. Bukan untuknya. Bukan untuk pesan dari Nara yang tak pernah dibalas. Tapi untuk apa pun yang ada di layar itu—mungkin balasan dari Lira, mungkin cerita lama yang dibangkitkan kembali. Nara merasa dadanya sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Mengapa? Mengapa senyum itu muncul sekarang, setelah berminggu-minggu dingin? Ia ingat senyum serupa itu delapan tahun lalu, saat Arga melamarnya di tepi sungai kecil di kampung halamannya. "Kamu bikin hidupku lengkap, Nar," katanya waktu itu, matanya berbinar, tangannya memegang tangan Nara erat. Senyum yang penuh janji, yang kini... milik orang lain.
Nara berbalik ke wastafel, tangannya meraih piring keramik putih yang sama seperti yang ia pikirkan malam demi malam—piring yang tak pernah pecah, simbol ketangguhan pernikahan mereka. Air mengalir deras, sabun berbusa di telapak tangannya, dan ia mulai menggosok permukaannya dengan spons. Gerakannya lebih keras dari biasanya, tapi pikirannya tak bisa lepas dari senyum Arga di ruang tamu. Entah kenapa, pagi itu, tangannya terasa licin, spons tergelincir, dan piring itu terpeleset dari genggamannya. Bukan jatuh ke lantai—tapi retak di tangannya sendiri, ujung piringnya membentur tepi wastafel dengan suara tajam, seperti jeritan kecil yang tertahan.
Retak.
Piring itu tak pecah sepenuhnya, tapi garis retak halus muncul di pinggirnya, seperti urat halus yang terbelah. Darah mulai menetes dari jari telunjuk Nara, tipis-tipis, bercampur dengan air dan sabun yang mengalir ke selokan. Rasa sakit menyengat, tapi itu tak sebanding dengan nyeri yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Ia menatap piring itu, tangannya gemetar, air mata mulai menggenang di matanya. Retak. Seperti hatinya. Bukan hancur seketika, tapi pelan-pelan, retak demi retak, hingga tak bisa lagi disatukan. Piring yang dulu ia perbaiki dengan lem, kini retak lagi—mungkin tak bisa diperbaiki kali ini.
"Ga!" panggilnya tanpa sadar, suaranya pecah, lebih keras dari yang ia inginkan. Arga muncul di ambang pintu dapur, ponsel masih di tangan, alisnya berkerut. "Apa?" tanyanya, tatapannya mendarat pada tangan Nara yang berdarah, lalu ke piring di wastafel. "Kamu kenapa? Piringnya jatuh?"
Nara tak menjawab segera. Ia mematikan keran, meraih kain lap untuk membalut jarinya, tapi matanya tak lepas dari piring itu. "Ini... retak," gumamnya pelan, suaranya bergetar. Bukan hanya piring. Ia ingin bilang, "Kita retak, Ga. Sudah lama." Tapi kata-kata itu tersangkut lagi, seperti biasa. Arga mendekat, mengambil piring itu dari wastafel, memeriksanya sekilas. "Ah, cuma retak kecil. Bisa dilem lagi. Kamu hati-hati dong, Nar."
Hati-hati. Kata itu terdengar ironis. Nara menatapnya, mencari jejak senyum tadi di wajah Arga, tapi kini wajahnya netral lagi, seperti tak ada yang terjadi. "Kamu tersenyum tadi," katanya tiba-tiba, suaranya lebih tegas, meski jantungnya berdegup kencang. "Di sofa. Lihat apa?"
Arga terdiam sejenak, matanya menghindar ke jendela. "Eh? Senyum? Oh, cuma pesan dari teman kantor. Lucu aja." Jawabannya cepat, terlalu cepat, seperti latihan yang sudah disiapkan. Nara merasa amarah mulai menyusup, campur aduk dengan luka yang makin dalam. Teman kantor? Atau Lira? Ia ingin bertanya lebih lanjut, ingin meraih ponsel itu dan membuktikan, tapi tangannya yang berdarah terasa lemah. "Ga, kita perlu bicara. Beneran."
Arga menghela napas, meletakkan piring retak itu kembali ke wastafel. "Nanti malam, ya? Aku buru-buru, ada meeting pagi." Lalu ia berbalik, meraih tas kerjanya dari kursi, dan berjalan ke pintu depan. "Jaga tanganmu itu. Jangan luka-luka." Pintu tertutup dengan bunyi klik lembut, meninggalkan Nara sendirian di dapur yang tiba-tiba terasa lebih luas, lebih kosong.
Ia duduk di kursi meja makan, tangan terbalut kain lap yang mulai merah oleh darah. Piring retak itu masih di wastafel, air menetes pelan dari kerannya yang tak sepenuhnya tertutup. Retak. Kata itu bergema di kepalanya, seperti hujan yang mulai turun lagi di luar jendela—pelan, tapi tak terelakkan. Nara menyentuh jarinya yang sakit, merasakan denyutnya yang selaras dengan detak hatinya. Sudah waktunya bicara, pikirnya. Sudah waktunya menghadapi retakan ini, sebelum semuanya benar-benar pecah. Tapi di balik tekad itu, ada ketakutan yang menggerogoti: bagaimana jika retakan ini tak bisa diperbaiki? Bagaimana jika senyum Arga yang dulu miliknya, kini hilang selamanya?
Pagi itu, dengan tangan yang perih dan hati yang retak, Nara tahu perjalanan mereka memasuki babak baru. Bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan—dan mungkin, lebih membebaskan. Hujan di luar semakin deras, membasuh jalanan, tapi tak mampu membasuh luka yang kini terbuka lebar di rumah kecil mereka.