Dari puluhan nama di daftar undangan, nama-nama itu berkurang menjadi dua puluh lima orang dalam sekejap. Sebagian besar tamu yang hadir adalah kerabat jauh Carnold, sedangkan sebagian lagi rekan bisnis dan kerabat dekat pihak mendiang Marchioness.
Evangeline bertemu dengan Baron dan Baroness Rosette, paman dan bibi Lucian dari Grimfon beserta tiga sepupunya. Menurut Lucian, ada konflik antara Paman dan Marquess terdahulu sehingga sang baron tidak lagi menginjakkan kaki ke kediaman Carnold semenjak kematian Ibunya. Baroness Rosette adalah kakak tertua Marchioness Carnold. Dua saudara lain meninggal dalam pertempuran, sementara Marchioness sendiri merupakan satu-satunya anak perempuan di keluarga mereka.
Evangeline juga diperkenalkan pada Lord Jiel, Lord Julio, dan Lady Tara. Mereka tidak banyak berbicara karena Evangeline harus menyambut tamu lain dan mengawasi pekerjaan pelayan. Ia yang bertanggung jawab atas segala hal di pesta ini.
“Lady Evangeline Hernsberg, bolehkah saya mengundang Anda dalam kegiatan sosial di Yayasan Perempuan? Keluarga kami adalah pengelola yayasan tersebut, My Lady,” ucap Madame Dorothy, Bibi Lucian dari pihak ayah.
Evangeline mengintip pintu melewati pundak wanita itu. Tamu yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. “Aye, sepertinya saya harus meminta izin Marquess Carnold terlebih dahulu, Madame. Saya akan segera mengabari Anda melalui surat.”
“Apakah His Lordship melarang Anda pergi tanpa sepengetahuan beliau?”
“Saya masih baru di sini, Madame. Saya tidak bisa sembarangan keluar karena saya membawa kehormatan dan repurtasi beliau. Bagaimanapun, His Lordship juga memikirkan posisi saya. Beliau akan menghadiri setiap undangan yang saya terima, walau secara pribadi.”
“Fufufu, bukankah His Lordship adalah pria yang romantis? Saya bersyukur beliau tidak mewarisi tabiat sepupuku, Marcus. Semua orang di keluarga kami menghormati beliau, tapi tidak pada Ayahnya.”
Garis tipis terukir di kedua sudut Evangeline. Marcus Carnold tidak pernah hadir dalam peringatan kematian istrinya. Gouvern selalu memeringati kematian seseorang setidaknya sepuluh tahun semenjak upacara pemakaman. Kendati Marcus merasa menyesal dan ingin menampakkan batang hidungnya di acara ini, Lucian pasti langsung menyuruh Komandan Trops menangkap dan mengusir Ayahnya dari rumah. Mengingat siapa penyebab kematian sang marchioness, Lucian tidak akan membiarkan orang itu ikut bersedih bersama orang-orang yang ditinggalkan.
Selesai bercakap, Evangeline menghampiri Lucian di dekat tangga. Aula kediaman ini seketika dipenuhi oleh karangan bunga, portret lukisan Marchioness, dan anggur. Evangeline tak terkejut seandainya Lucian menginginkan acara yang lebih besar dari ini, namun Lucian adalah Lucian. Tidak menarik banyak orang dan memilih mengadakan acara sederhana walau hartanya melimpah-ruah.
Evangeline pun menyalami tamu undangan yang spontan berpamitan saat ia berdiri di samping Lucian. Lucian meletakkan gelas anggur di atas baki pelayan yang lewat, bersidekap, menempelkan punggung ke birai tangga. Manik hijau pria itu berkilat puas atas kerja kerasnya seminggu terakhir.
“Kau melakukannya dengan baik.”
“Makanya, percayalah padaku. Aku memang bisa diandalkan.”
“Bagaimana orbolan kalian?” tanya Lucian, merujuk pada Madame Dorothy yang bergabung dalam perkumpulan besan di tengah aula.
Mata Evangeline mengikuti arah yang Lucian tuju kemudian berujar, “Kau tidak memberitahuku keluarga Madame Dorothy mengelola Yayasan Perempuan di Gouvern.”
“Kau akan tahu pada akhirnya.”
“Bibimu mengundang kita menghadiri kegiatan sosial di sana. Bagaimana menurutmu?”
“Kita akan membahas hal itu nanti.”
“Kenapa? Tampaknya, hubunganmu dan keluarga Ayahmu baik-baik saja?”
“Itu yang mereka katakan. Kenyataannya tidak.”
Ingatan Lucian terlempar pada perpecahan keluarga dan pengikut di hari kematian ibunya. Saat itu, Yayasan Perempuan yang dikelola keluarga bibinya mengalami krisis karena seorang petinggi melakukan korupsi. Sang bibi mengemis bantuan Lucian dan berjanji akan mengembalikan dana selama enam bulan. Tetapi, Lucian tidak bisa memberikan bantuan itu.
Kecelakaan tambang dan korupsi dalam kekayaan properti membuat Lucian tidak bisa mengalirkan uangnya untuk sementara waktu. Ia berkata akan menyelesaikan masalah tambang, korupsi, dan konflik pengikut sebelum membantu sang bibi. Sayangnya, sang bibi terlanjur marah dan menghasut kerabat lain supaya tidak memercayai Marquess Carnold. Andaikan wanita itu mengerti situasi yang Lucian hadapi waktu itu, keluarga Ayah tidak mungkin menjadi musuh dalam selimut.
Lucian menjelajahi setiap sudut aula untuk mencari eksitensi Ansel. Di sampingnya, Evangeline menyapa tamu undangan yang lewat sambil mempersilakan mereka menyantap hidangan di ruang makan.
Omong-omong soal Ansel, tempo hari ketika ia berkunjung ke kediaman Laundrell, Philips mengadu bahwa pekerjaan sang duke menjadi berantakan. Ansel merasa terkhianati akan pertunangan Ionna dengan Sebastian Magnolia dan tidak bicara maupun makan selama dua hari. Dan kabarnya, Duchess Laundrell jatuh sakit sehingga hanya Ansel dan Ionna yang memenuhi undangan.
Detik berikutnya, helaian merah menyala yang digerai di bawah bandana beprita hitam merenggut atensi Lucian. Lady Ionna Laundrell dalam balutan gaun hitam sederhana memasuki aula bersama Ansel di depannya. Guratan marah masih menggelayuti wajah pria itu. Apakah itu sebabnya Ansel tidak menggandeng Ionna dan memutuskan berjalan di depannya?
Berkat kehadiran sang duke dan adik perempuannya, ruangan menjadi hening seketika. Evangeline pun memutar kepala melihat siapa yang datang. Senyum terkembang dan ia mengerling ke arah Lucian yang berniat menghampiri kakak-beradik Laundrell.
Hebat.
Di pesta manapun, di acara apapun, agaknya Lady Ionna selalu menjadi sorotan publik.
“Kenapa Anda terlihat kesal, Your Grace?” ledek Lucian setelah ia dan Evangeline membungkuk hormat.
Ansel melirik Ionna sekilas. Seringai kecil menjawab pertanyaan Lucian. “Bawa aku ke ruang pribadimu. Biarkan aku minum sepuasnya dan tinggalkan aku sendiri setelahnya. Aku sedang tidak berhasrat menyapa sepupumu yang cantik, Luce.”
Lucian mengedikkan bahu. Toh, sepupu cantik—Lady Tara—yang Ansel maksud telah bertunangan dengan Kesatria Jaden. Jadi, percuma saja.
“Saya akan mengantar Anda sebentar lagi. Silahkan.”
“Hm, terima kasih.”
Ansel melenggang menuju undakan lantai dua dengan langkah lesu. Orang-orang pun berbisik mengapa matahari meninggalkan sang duke lalu memutuskan kembali pada urusan masing-masing.
Kini, tinggal Lucian, Ionna, dan Evangeline saling berdiri berhadapan satu-sama lain. Ionna bungkam, tampak tak ingin buka suara untuk sekadar berbasa-basi. Lucian menatap gadis ramping itu sejenak. Ia pun mengangguk sekali, berbalik, lantas menyusul Ansel yang menunggunya di ujung tangga.
Evangeline memandang kepergian Lucian lantas memperhatikan penampilan sang lady lamat-lamat. Ia pikir gadis bangsawan seperti Ionna akan berdandan habis-habisan demi mencuri perhatian semua orang. Tetapi, sosoknya begitu bersinar hingga sejenak, Evangeline merasa kecil di hadapan gadis itu.
“Terima kasih karena Anda telah meluangkan waktu untuk mengenang mendiang marchioness, My Lady.”
Ionna mendongak. Air mukanya tidak terbaca dan Evangeline tersenyum manis membalas tatapan gadis itu.
“Setiap hari saya mengenang—tidak, melainkan mengingat Marchioness Carnold dalam benak saya. Selain itu, mohon maafkan ketidakhadiran Mama, Lady Evangeline. Mama merasa menyesal tidak dapat memenuhi undangan ini.”
“Kesehatan Her Grace lebih penting. Semoga beliau cepat sembuh.”
“Ya, terima kasih.”
Canggung.
Evangeline memainkan kukunya yang dirawat apik, berpikir bagaimana caranya menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Dia tidak menyangka Lady Ionna Laundrell sangat pendiam dan pasif. Ini kali pertama mereka berbicara empat mata. Evangeline akan menjamu gadis ini secara pribadi dan tentunya, mereka tidak bisa terus berdiam diri seperti ini.
“Bolehkah saya memiliki waktu Anda sekarang, My Lady?” Akhirnya, Evangeline melakukan serangan lebih awal.
Ionna tersenyum tipis, mengekori tunangan Marquess Carnold membelah lautan manusia di aula, mengasingkan diri bersama Lady Evangeline Hernsberg di ruang duduk.
To be continued