Bukannya ke ruang duduk, Evangeline justru membawanya ke perpustakaan.
Aquamarine Ionna menelisik seluruh penjuru ruangan luas itu. Memori masa lalu memaksanya bernostalgia. Ionna hapal betul seluk-beluk kediaman ini. Dulu, ia sering bermain petak-umpet bersama kakak-kakak pelayan yang ramah. Tetapi, setelah Marchioness Carnold meninggal, Ionna tidak pernah lagi mengunjungi kediaman ini selain untuk menengok Lucian. Wajah-wajah baru yang begitu asing juga membuatnya tidak nyaman. Mungkin Lucian telah merombak staf kediaman Carnold karena suatu alasan.
Lady Evangeline Hernsberg mempersilahkan duduk. Ionna menyibakkan rambut panjangnya ke belakang lalu duduk menumpuk tangan. Di Gouvern, mengundang seseorang ke perpustakaan untuk obrolan pribadi dianggap tabu. Konversasi dua arah antar dua orang di perpustakaan berarti memiliki topik rahasia yang tidak boleh didengar pihak lain.
Ionna memandang Evangeline. Gadis bermata ungu itu sedang sibuk memainkan seperangkat peralatan teh di atas troli. Apa Evangeline tahu makna di balik tindakannya ini? Ataukah gadis itu memang sengaja menyeretnya ke mari? Ionna sadar tiada seorangpun pelayan yang mengikuti mereka masuk.
Ah, benar-benar.
Evangeline telah merencanakan semuanya dengan matang.
“Bisakah Anda menyampaikan maksud pertemuan ini pada intinya, Lady Evangeline,” ucap Ionna memecah konsentrasi Evangeline dari seduhan tehnya.
Aroma harum yang menguar dari daun teh di saringan sama sekali tidak menggugah selera Ionna. Evangeline tersenyum dalam diam. Masih memunggungi gadis itu, ia mengambil mangkuk kecil berisi gula dan toples berisi madu. “Anda lebih suka teh dengan gula atau madu, My Lady?” tanyanya mengabaikan ucapan Ionna.
Tidak ada jawaban maupun sanggahan. Evangeline akhirnya menuangkan beberapa tetes madu ke dalam teh milik Ionna.
“Selesai!” Ia berbalik lalu meletakkan cangkir keramik di hadapan sang lady. Ionna menatap teh dan Evangeline bergantian, terkesan ragu apakah ia harus meminum teh itu atau tidak. “Saya tidak akan meracuni Anda. Jika tehnya beracun, kita akan mati bersama-sama, bukan?”
Ionna mendengus. Baguslah. Lady Evangeline Hernsberg tidak beramah-tamah dan langsung menunjukkan sifat aslinya. Sarkasme gadis itu menggelitik telinga Ionna. Walaupun gadis di hadapannya adalah tunangan Lucian, Ionna tidak ingin menciptakan permusuhan di antara mereka. Ia sudah lelah meneladeni nasih buruk dalam hidupnya. Dan patah hati karena cinta bertepuk sebelah tangan tidak lebih buruk dari penantiannya selama lima tahun.
Pun dia akan menjadi tunangan pewaris Duke Magnolia dalam hitungan hari.
“Saya tidak bilang Anda ingin meracuni saya.” Cangkir terangkat dan bibirnya menempel lembut di bibir cangkir tersebut. Manis madu dan manis alami yang dihasilkan teh bewarna keemasan itu meledak-ledak dalam mulut Ionna. Ionna mengakui keahlian Evangeline dalam menyeduh teh. Tidak banyak gadis bangsawan yang bisa menyeduh teh dengan benar. “Ini darjeeling tea? Sekarang musim panas. Umumnya, darjeeling tea dipanen saat musim semi. Darimana Anda mendapatkannya, My Lady?”
“Mendiang Marchioness Carnold menyukai darjeeling tea yang dihidangkan bersama pai beri. Kami memiliki banyak persediaan di dapur.”
Tentu saja Ionna mengetahui apa saja makanan dan minuman kesukaan Marchioness Carnold. Mereka sudah seperti ibu dan anak yang saling berbagi kesukaan satu-sama lain.
“Begitukah?” Bunyi ting nyaring mengudara ketika Ionna mengembalikan cangkir ke tatakan. Entah mengapa, Ionna merasa Evangeline tengah menantang dan mengajaknya berkompetisi. Sejauh apa yang mereka ketahui tentang keluarga Carnold. Apakah itu penting?
“Saya dengar Marchioness Carnold adalah orang pertama yang menemui Anda di kediaman Laundrell.”
“Benar.”
“Lalu, Anda berkunjung ke kediaman Carnold setiap dua minggu sekali dan menghabiskan sebagian besar waktu dengan Marquess Carnold.”
“Kami selalu bermain kejar-tangkap.” Tepatnya, aku yang selalu mengejar-ngejarnya sampai kami berdua dewasa.
“Bagaimana His Lordship ketika belia, My Lady?”
“Anda bisa bertanya pada His Lordship. Jangan menanyakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan saya.”
“Sayang sekali beliau sangat pelit.”
Itu bukanlah hal yang baru.
“Sir Jacob akan bersedia menjawab semua pertanyaan Anda, Lady Evangeline,” sergah Ionna tajam.
Untuk sesaat, Evangeline sempat tidak bisa berkutik. Lady Ionna yang ia lihat di kediaman Laundrell terlihat polos, lugu, dan bukan seperti orang yang akan melawan. Namun kini, gadis itu tampak seratus kali lebih bijaksana dari pertemuan pertama mereka malam itu. Evangeline bertanya-tanya apakah ia telah salah menilai sang lady. Lady Ionna yang duduk di seberang meja seakan terus menghindari pertanyaan dan topik bahasan mengenai Lucian.
Evangeline tersenyum simpul. Pantas saja orang-orang menjulukinya sebagai lady yang sempurna. Di pergaulan kelas atas, Lady Ionna Laundrell berhasil menggeser predikat yang Ibunya pegang dari sebelum dirinya lahir.
“Anda adalah teman masa kecil beliau.”
Ionna mengernyit mendengar sebutan teman masa kecil itu. Kenapa rasanya menyakitkan sekali?
“Lantas?”
“Pengetahuan seorang teman masa kecil dan seorang pengabdi layaknya Jacob berbeda. Oleh sebab itu, saya ingin bertanya pada Anda, selaku teman masa kecil Marquess Carnold, Lady Ionna Laundrell.”
Ionna tidak suka dengan cara gadis itu menyebut Jacob sebagai seorang pengabdi. “Sir Jacob melayani tiga generasi keluarga ini, My Lady. Lebih berhati-hatilah dalam berkata. Saya bukannya lancang memperingatkan seorang calon marchioness, namun His Lordship telah menganggap beliau seperti kakek sendiri.”
“Eum? Maaf, saya sudah kelewatan.”
Dengan santainya, Evangeline menyeruput teh sambil terkekeh geli. Mata Ionna memicing memusatkan seluruh atensi pada gadis berkulit seputih s**u itu. Apa dia tidak takut dikritik akan perilakunya yang keterlaluan ini? Ionna tidak menganggap Andasia sarangnya bangsawan tanpa tata krama. Siapapun tahu bahwa bangsawan Andasia hidup dalam kesederhanan. Tapi, sikap yang tidak bisa ditolerir bangsawan Gouvern akan membuat gadis ini mudah tersingkir dari lingkaran sosial.
“Kami tidak sedekat yang Anda kira, My Lady. Maaf bila pernyataan saya ini tidak sesuai dengan ekspektasi Anda.”
Kedua sudut bibir Evangeline berkedut pelan. “Oh? Tentu saja tidak masalah, My Lady. Tidak apa-apa seandainya Anda keberatan membagikan kenangan masa kecil kalian. Toh, saya hanya orang luar di sini.”
Tunggu. Kenapa suasana tiba-tiba memanas?
“Saya berkata yang sesungguhnya, Lady Evangeline. Saya tidak lebih dari sekadar adik perempuan bagi beliau. Itu sudah sewajarnya. Beliau dan kakak saya adalah sahabat dekat.”
“Seorang adik tidak jatuh hati pada kakaknya sendiri dan menimbulkan rumor kencan yang nyaris melibatkan Lucian ke dalam skandal.”
Suara gadis itu amat pelan, hampir seperti bisikan dan Ionna masih menangkapnya dengan jelas. Uap panas yang mengepul dari teh berangsur-angsur memudar. Cairan teh terasa dingin dan hambar ketika Ionna mencicipinya sekali lagi. Evangeline pasti telah menyelidiki segala hal yang bersangkutan dengan Lucian. Kedekatan Ionna dan Lucian sudah menjadi rahasia umum di sini. Jadi, tak heran bila gadis itu menaruh curiga pada Ionna.
Bahkan dia dapat membaca perasaan tak kasat mata Ionna terhadap Lucian. Gadis ini, bukankah dia sedikit menyeramkan?
Ionna tak mau terlibat lebih jauh. Ia hendak bangkit, berpamitan pulang tatkala dinginnya tatapan Evangeline menusuk tulang-belulangnya.
“Hari ini peringatan kematian mendiang Marchioness Carnold, ibu asuh Anda. Kenapa Anda buru-buru pergi, Lady Ionna?”
Cermin biru Ionna menatap Evangeline lurus. Ia tak takut menghadapi gadis itu. Ia hanya enggan terlibat dalam argumen tak berarti.
“Saya ingin melihat Kakak saya. Saya rasa percakapan ini bisa kita akhiri.”
“Apakah Anda membenci saya? Apakah Anda membenci orang yang masuk ke dalam hubungan kalian? Apa Anda pikir saya merebut Marquess Carnold dari Anda?”
“Tolong, hentikan itu, Lady Evangeline Hernsberg. Saya tidak ingin ada persaingan di antara kita. Pertunangan Anda dan Marquess Carnold bukanlah urusan saya.”
“Benarkah? Apa Anda bisa membuktikannya?”
Ionna memundurkan tubuh hingga punggungnya menempel ke bantalan sofa. Gadis yang beberapa senti lebih pendek darinya itu beranjak dari tempat duduknya dan mencondongkan tubuh di atas Ionna. Daripada menyembunyikan ketidaksukaannya, Evangeline lebih memilih memperlihatkannya secara gamblang.
“Pertunangan kami bukan urusan Anda, jadi itu sebabnya Anda melarikan diri dari kenyataan dan menerima lamaran Young Lord Magnolia? Anda ingin memamerkan pada dunia bahwa Anda bisa lebih hebat dengan menjadi seorang duchess?”
“Apa yang Anda katakan, Lady?”
Bayangan Evangeline dan deretan rak-rak tinggi menghalangi sinar matahari dari jendela perpustakaan. Napas Ionna tersekat saat lembayung Evangeline memancarkan cahaya terang. Gadis di atasnya itu mendelik, mengekang Ionna dengan kedua tangan, menyudutkannya.
“Saya tidak peduli pada perasaan Anda maupun hubungan Anda dengan His Lordship.”
“Mari kita bicarakan hal ini baik-baik.”
“Tidak ada yang baik-baik saja. Saya di sini ingin memberitahu posisi Anda. Ada perbedaan besar di antara kita berdua, Malaikat Kecil Laundrell.”
Telunjuk Evangeline menekan d**a Ionna. Awalnya, dia tidak berniat terbawa suasana dan memojokkan gadis itu. Tapi, lama-kelamaan Evangeline merasa Ionna menjadi sok tahu setelah gadis itu memperingatkannya tentang siapa Jacob bagi Lucian. Gadis itu seakan berusaha memperjelas kedudukan dan perannya sebagai teman masa kecil Lucian.
Abaikan fakta bahwa ia berasal berasal dari kerajaan sekecil Andasia, Evangeline memiliki harga diri dan martabat yang tinggi.
“Saya ini tunangan Marquess Carnold dan Anda bukan siapa-siapa bagi beliau.”
Seluruh tubuh Ionna membeku. Ia sepenuhnya sadar akan hal itu, lalu kenapa harus diingatkan lagi? Api membakar d**a Ionna. Mata gadis itu berkaca-kaca membalas violet Evangeline yang seolah ingin memakannya hidup-hidup.
“Biarkan saya pergi, Lady Evangeline.”
“Tidak bisa!”
Pertahanan Evangeline sekuat baja sekalipun Ionna mencoba mendrong bahu gadis itu sekuat tenaga. Ionna meneguk ludah. Atmosfer intimidasi ini, Ionna mengingat sensasinya kala Lady Diana Thesav dan kawan-kawannya merundungnya di balkon Hall of Sun.
Mata Ionna bergetar samar. Perlahan ketenangan dalam dirinya menguap.
“My Lady, biarkan saya pergi. Saya berjanji tidak akan mengganggu kalian.”
“Anda bukan siapa-siapa dan Anda tidak tahu apa-apa, baik tentang Lucian maupun keluarga ini.”
“Maaf?”
“Kematian mendiang Marchioness Carnold—”
Evangeline menggigit bibir. Hampir saja amarah mendorongnya mengungkapkan sesuatu yang tidak boleh diungkapkan. Lucian pasti akan membencinya jika sampai mulutnya membocorkan tragedi di balik kematian ibu mertuanya.
“Tidak. Maafkan saya.”
Ionna baru bisa bernapas lega. Evangeline menegakkan punggung lalu menyisir anak rambutnya yang menjuntai di dahi. Gadis itu mengembuskan napas panjang, memutar tubuh, dan berjalan ke arah troli makan, menyiapkan teh lain untuk menjernihkan pikiran.
“Lupakan. Tolong, maafkan ketidaksopanan saya, Lady Ionna. Kejadian yang sama tidak akan terulang di masa depan. Sekali lagi, maafkan saya.”
Tangan Ionna terangkat menyentuh dadanya yang bergemuruh hebat. Jantungnya berdentum keras, menyesakkan. Ionna memandang Evangeline yang lagi-lagi berdiri membelakanginya.
Apa?
Ada apa dengan gadis itu?
Kenapa ia sangat marah? Dan kenapa ia mengancamnya? Kenapa ia membahas kematian Marchioness Carnold?
Otak Ionna serasa berputar-putar memikirkan jawaban sembari mencerna situasi tak terduga barusan.
Apa dirinya telah melakukan kesalahan?
---
Kedua kaki Ionna berayun cepat melintasi koridor lantai dua kediaman Carnold. Suara tapak kakinya bersahutan, tergesa ingin segera menjemput sang kakak dan pulang dari acara ini. Ionna telah bertanya pada pelayan di mana ruangan pribadi yang kakaknya gunakan untuk menyendiri. Di sisi lain, ternyata kediaman ini mengalami banyak perubahan. Ionna harus mencari di setiap ruangan dan memeriksa apakah kakaknya ada di sana.
Di salah satu belokan koridor, saking tergesanya, Ionna menabrak seorang berbadan besar yang muncul secara tiba-tiba. Tubuh Ionna terpental dua tiga langkah. Kepanikan yang melanda dirinya mendadak pupus saat Ionna mendapati Marquess Carnold berdiri di hadapannya.
Gadis itu menggeram tertahan. Ia menarik cravat hitam sang marquess lalu berujar marah.
“Aku tidak mengerti mengapa tunanganmu membenciku, My Lord.” Napasnya memberat, tak kuasa menahan air mata. “Aku terbiasa dengan kebencian orang-orang yang salah menilaiku, namun, Lady Evangeline pikir aku masih mengharapkanmu. Bisakah kau katakan padanya bahwa aku sedang berusaha melupakanmu? Meski sulit—meski aku menyakiti diriku sendiri, aku akan menghapus dirimu dari hatiku. Bisakah kau mengatakan itu padanya? Bukankah ucapanku waktu itu sangat jelas?”
Lucian menggenggam tangan Ionna, lembut, pelan-pelan melepaskn tarikan itu dari cravatnya. “Apa yang Lady Evangeline lakukan pada Anda, My Lady?” Seharusnya Lucian melarang Evangeline menjamu Ionna secara pribadi. Ia tidak mengira tindakan Evangeline akan kelewat batas. “Saya memohon maaf atas nama Lady Evangeline. Bisakah Anda menjelaskan pada saya apa yang terjadi?”
“Kalian pasangan yang bermasalah.” Bibir Ionna bergetar mencegah isakan keluar. “Jika sedari awal aku tidak jatuh hati kepadamu, Lady Evangeline tidak akan mengancamku.”
“Mengancam?”
“Cukup!”
Ionna meremas rambutnya hingga tatanan bandana yang ia pakai rusak. Lucian menangkap tangannya lagi. Lady Ionna Laundrell tampak frustasi akan sesuatu. Lucian menyadari reaksi yang sama ditunjukkan sang lady pada malam debutan, tepatnya saat gadis itu melihat Lady Diana Thesav di Hall of Sun. Alih-alih frustasi, gadis itu terlihat takut dan tertekan.
“Jangan seperti ini. My Lady, Anda bisa melukai diri Anda sendiri. Tenanglah.”
“Di mana Kakakku?” lirih Ionna. “Bawa aku pada Kakakku, My Lord. Aku ingin pulang.”
Lucian menghirup napas dalam-dalam lalu menganggukkan kepala. “Baiklah. Mari, saya tunjukkan jalannya.”
Tampaknya, jamuan pribadi Evangeline dan Lady Ionna tidak selancar dugaannya.
---