Malam harinya, Lucian membaca surat yang Robert kirim dari Andasia. Pria itu sampai dengan selamat dan langsung bertukar informasi dengan Louis Meyer di kedai kopi. Dikatakan dalam suratnya bahwa Robert akan pergi ke alamat lahan setelah memastikan Louis mengambil—lebih tepatnya mencuri surat sewa lahan dari ruang kerja Count Hernsberg. Louis yang sedikit penakut mengembalikan surat sewa lahan yang ia temukan di tempatnya.
“My Lord, Anda baik-baik saja?” tanya Jacob, memperhatikan raut letih tuannya.
Lucian melipat surat Robert lalu menyimpannya di dalam kotak kayu bergembok. Ia meletakkan kotak kayu itu di laci terbawah bufet, mengisap pipa, dan meniup asap dari mulut. “Kau pasti mendengar perdebatan kami. Ya, aku lelah. Setiap adu debat dengan Lady Evangeline membuatku lelah, Jacob.”
“Anda ingin saya menuangkan teh?”
“Aku sedang ingin wiski.”
“Sayangnya, kali ini saya harus melarang Anda minum di malam hari,” ucap Jacob.
Lucian tersenyum kecut ke arahnya, pandangan pria itu tiba-tiba terfokus pada vas kosong di nakas samping kasur. Saat Ionna masih mengirimkan bunga segar secara diam-diam, nuansa di kamarnya menjadi lebih lembut dan bewarna. Lucian menyukai pemandangan bunga di dalam kamarnya. Walau demikian, penolakannya malam itu mempertegas bahwa Ionna tidak perlu lagi melakukan hal sia-sia untuknya.
“Mulai besok, isi vas itu dengan krisan putih,” kata Lucian, mengalihkan pandang ke langit mala. “Aku tidak ingin bunga lain, hanya krisan putih bunga favorit ibu.”
“Aye, My Lord.”
“Selain itu, Jacob, apa kau tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari kamar atau gerak-gerik Lady Evangeline?”
“Tidak, My Lord.” Jacob menggeleng pelan. “Saya juga telah memeriksa surat-surat yang beliau kirim ke Andasia. Surat untuk Count dan Countess Hernsberg serta surat untuk teman-teman beliau. Tiada yang janggal.”
“Baiklah.” Lucian menyendarkan punggung ke sandaran kursi. “Dan apa kau mengetahui apa yang terjadi di antara Lady Ionna dan Lady Evangeline? Lady Evangeline tidak mau mengakui kesalahannya pada Lady Ionna.”
“Her Ladyship menjamu Lady Ionna di perpustakaan. Beliau tidak mengizinkan seorangpun pelayan masuk.”
“Perpustakaan?” Dahi Lucian berkerut dalam. Kenapa memilih perpustakaan? Memangnya, mereka tengah membicarakan topik yang patut dirahasiakan?
“Saya tidak tahu yang terjadi di dalam. Dinding perpustakaan kita dilapisi bahan kedap suara sehingga orang-orang di luar tidak bisa mendengar percakapan mereka. Ada masalah, My Lord?”
“Lady Ionna bilang Lady Evangeline mengancamnya.”
“Ya? Maaf?”
“Aku tidak mengerti mengapa Evangeline mengancam Lady Ionna.”
Jacob mengasihani tuannya yang tampak tertekan akan pertemuan kedua lady tadi pagi. Sebenarnya, Jacob menyadari alasan Evangeline mengancam Ionna. Terlepas dari segala rumor dan hubungan mereka di masa lalu, Jacob rasa Evangeline berhak melakukan itu demi pertunangannya dengan Lucian. Tapi, Ionna pun sudah menyerah akan perasaannya. Dan mengancam seorang adik Duke paling gila merupakan tindakan yang sangat berisiko.
Jawaban dari kebingungan Lucian adalah kecemburuan. Lady Evangeline dilanda rasa cemburu hebat hingga gadis itu bisa menghalalkan segala cara untuk menjauhkan Lady Ionna dari sang marquess. Namun, Jacob bungkam. Ia tidak mau berkomentar dan makin mengacaukan suasana hati Lucian.
“My Lord, saya sarankan segeralah beristirahat. Sejak Anda pulang dari Andasia, Anda belum beristirahat dengan benar. Masih ada hari esok, kalian bisa berbicara secara baik-baik dan lupakan sejenak masalah tersebut. Berhentilah membuat pria tua yang malang ini khawatir, My Lord.”
“Kau selalu membujukku dengan kalimat itu, Jacob.” Lucian berbalik, melepas rompi dan cravatnya sambil tertawa pelan. Jacob benar. Beristirahat dan tidur nyenyak merupakan solusi terbaik untuk membunuh kegelisahannya dalam waktu semalam.
“Akan kuturuti nasihatmu. Lalu, bisakah kau panggil pelayan dan menyuruh mereka menyiapkan air panas? Aku ingin mandi sebelum tidur.”
“Baik,” angguk Jacob kemudian melenggang pergi dari kamar sang marquess dengan langkah lebar.
Ah, betapa sibuknya Lucian hari ini.
---
Kotak beledu biru itu memajang sepasang cincin emas bermotif rumit dengan ukiran nama Ionna di dalamnya. Cincin itu datang dari Magnolia satu jam yang lalu bersama serentetan hadiah dari gaun, perhiasan, hingga sepatu-sepatu baru. Kamar Ionna nyaris meledak saking banyaknya hadiah yang datang. Dalam kotak salah satu gaun, Ionna menemukan catatan manis dari Sebastian yang berkata tidak sabar dengan pertemuan mereka lusa.
Telah disepakati dalam pertemuan keluarga besar kemarin bahwa pertunangan akan dilaksanakan secara tertutup. Saat ini Duke dan Duchess Magnolia sedang pergi jalan-jalan bersama ibu dan Ansel mengelilingi kota dan desa. Ionna tidak menemani kedua calon mertuanya lantaran harus memastikan hadiah-hadiah Sebastian tidak diletakkan secara sembarangan.
“Kalian bisa mengambil sepatu lamaku jika mau. Sudah lama aku tidak memakainya,” katanya lesu. Tiga pelayan yang menggantung baju di rak dorong dan dua pelayan yang menyusun sepatu di lemari dinding bersorak kegirangan. Serbuan terima kasih mengudara dan Ionna tersenyum sebelum kembali memusatkan atensi pada novel di tangannya.
“My Lady, Anda tidak memberitahu mereka agar tidak mengambil sepatu debutan Anda? Bukankah itu hadiah ulang tahun dari Marquess Carnold?” Annie bertanya bimbang.
Ionna membalik halaman buku kemudian mengatakan apa yang Annie katakan pada para pelayan itu. “Apa pentingnya, Annie? Sesungguhnya, aku tidak keberatan seandainya mereka mengambil sepatu itu. Di masa depan, aku juga tidak akan memakainya. Lord Sebastian memberiku yang lebih bagus dari sepatu kaca itu.”
“My Lady.”
“Aku tidak akan terlibat dalam hubungan mereka. Aku sudah menceritakannya padamku, bukan? Bahkan Lady Evangeline pun membenciku tanpa alasan yang jelas. Aku tidak ingin mendengar nama Marquess Carnold disebut jika tidak ada kepentingannya denganku.”
Hati Ionna mulai menjadi sekeras batu. Annie menatap Nonanya sedih. Apa yang harus ia lakukan untuk menghibur gadis itu?
“Aku akan menyelesaikan novel ini hari ini, Annie.”
“Iya.”
“Kau pergilah ke toko buku dan cari novel yang serupa dengan kisah Elijah.”
Mata Annie membelalak, berharap dirinya salah dengar. Kenapa mendadak Ionna membahas Elijah? Apa dia mulai berpikir bahwa dirinya adalah Elijah dan terprovokasi oleh ramalan si peramal waktu itu?
Ionna mendongak, membalas mata Annie dengan tatapan dingin. Ia tersenyum miring. Senyumannya itu seakan mampu menjawab seluruh pertanyaan yang berseliweran di kepala Annie.
“Takdir menjadikanku sebagai Elijah, Annie sayangku. Aku tidak akan menyangkal takdir lagi. Dilihat dari manapun, dari sudut apapun, benang merah kami telah putus, dan aku menjadi Elijah yang selamanya terjebak dalam cinta sepihak yang menyakitkan. Seandainya mudah menyingkirkan perasaan sialan ini, aku tidak mungkin menderita dan menjadi Elijah, bukan?”
---