Inilah akibatnya jika Ionna mengecewakan Ansel.
Permintaan maaf tidak didengarkan, tidak disapa ketika berpapasan, dan lebih parahnya lagi, merajuk di depan Sebastian Magnolia, orang yang akan menjadi adik iparnya.
Biarlah Ionna sedikit bercerita.
Hari itu Sebastian datang memenuhi janji dalam surat. Kedua pihak keluarga berkumpul di ruang duduk untuk menyambutnya. Tidak hanya Sebastian, putri angkat pasangan Magnolia, Lady Yasmin turut hadir. Awalnya Ansel masih bisa menahan diri ketika Lady Yasmin yang belum genap berusia sepuluh tahun ada di sana. Jiwa seorang kakaknya tidak membuat Ionna khawatir Ansel akan mengacau. Tetapi setelah semua orang pergi, barulah Ansel menunjukkan ketidaksetujuannya.
Ionna hendak mengajak Sebastian berkeliling saat sang kakak menghampiri mereka dengan wajah tertekuk. Pria itu bersedekap, kedua alisnya menyatu, dan dengusan sebal lolos dari celah bibirnya. Sikap kakaknya sudah keterlaluan. Bagaimanapun juga mereka akan menjadi keluarga di masa depan. Tidak pantas rasanya Sebastian yang tidak tahu apa-apa menerima perlakuan tidak menyenangkan. Seandainya Ionna tidak menyembunyikan pertunangan ini dari Ansel, mungkin pria itu tidak akan memusuhi Sebastian.
Menurut Philips, Vincent Robinson dan Sebastian Magnolia merupakan junior favorit kakaknya di akademi.
“Lama tidak berjumpa, Senior,” kata Sebastian ramah.
Ansel memberengut. Antara tega tidak tega melampiaskan kekesalannya pada Sebastian. Ia ingat dulu Sebastian selalu bersedia meneladeni tantangannya yang payah dalam memancing. Sebastian memang tidak bersalah, namun membayangkan betapa sakit hatinya ia dikhianati adik sendiri, Ansel benar-benar tidak rela menyerahkan Ionna sekarang.
“Kenapa kau memilih adikku, Sev?”
“Ya?”
“Kenapa kau melamar adik perempuanku? Bukannya kau menyukai gadis berkulit eksotis yang tinggal di pesisir?”
Ionna menepuk kening. Ada-ada saja alasan konyol kakaknya.
Sebastian tersenyum tipis. Pria tinggi dengan bibir penuh, rambut cokelat gandum, dan kulit tan yang seksi itu mengangkat sebelah alis. Malu-malu ia menjawab, “Ini bukan masalah tipe, Senior. Bagaimana ya aku menjelaskannya? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Lady Ionna berdansa dengan Senior Lucian di malam debutan. Sebagai seorang flamboyan, kau percaya kekuatan cinta pada pandangan pertama, bukan?”
Ansel sontak membuang muka, merasa kalah omong. Sekilas ia mendapati adik perempuannya menahan tawa. Gadis itu menutupi sudut-sudut bibirnya yang tertarik dengan tangan.
“Ya Tuhan, kau menjengkelkan.” Ia mengapit dan menekan-nekan batang hidungnya. “Kau beruntung sejak awal Ibuku mendambakanmu. Ibuku membiarkan Ionna bersantai dengan status lajangnya karena dirimu.”
“Jadi, secara tidak langsung lamaranku mewujudkan impian sang duchess?”
“Dengan berat hati aku menjawab ya.”
“Sungguh kebutulan yang langka.”
Perbincangan itu selanjutnya menjadi ajang pelepasan rindu calon tunangan dan kakaknya. Ionna pikir dirinya akan memiliki waktu bersama Sebastian selepas penyambutan. Akan tetapi, kebaikan Sebastian agaknya mampu meluruhkan separuh emosi Ansel. Ionna bersyukur kakaknya tidak lagi menatap Sebastian dengan lirikan tajam. Meski demikian Ansel tetap menghiraukan keberadaannya dan entah sejak kapan ia membuntuti keduanya seperti seorang pengawal elit. Mereka keluar ruangan untuk menemukan udara yang lebih segar.
“Aku mendengarnya, tunangan senior Lucian. Seorang lady dari Andasia. Kuharap Lady Hernsberg tidak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial Gouvern.”
Perhatian Ionna seketika terenggut begitu nama Evangeline disebut. Ia mendongak dan memandang lurus punggung dua pria di hadapannya. Menyusuri selasar menuju kebun apel, diam-diam Ionna menyimak perbincangan senior-junior itu.
“Lady Hernsberg, ya? Kami bertemu dua kali saat pesta penyambutan dan jamuan makan malam keluarga. Apa kau pernah bertemu dengannya?”
“Belum seminggu aku pulang dari medan perang, Senior. Jangan bercanda.”
“Kau ingin aku menemanimu ke Kediaman Carnold? Mungkin kau sedikit penasaran dengan Lady Hernsberg ini?”
Jelas sekali Ansel tengah menguji kesetiaan Sebastian. Sayangnya, yang diuji hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Untuk apa juga Sebastian penasaran pada tunangan orang lain? Ia akan bertunangan dengan lady paling terhormat di Gouvern. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Sebastian memberanikan diri melayangkan lamaran kepada Ionna. Rasanya Sebastian telah menggunakan seluruh keberuntungan hidupnya hanya untuk hari ini.
“Apa ini? Kenapa Senior antusias sekali?” Dengan santainya Sebastian memukul-mukul punggung Ansel. Pria berkulit tan itu berdeham meredakan tawa. “Kukira senior akan berkata jangan sok akrab, mentang-mentang kau calon suami adikku.”
Dengusan Ansel kembali membuat pria itu menyemburkan tawa. “Hei! Apa aku sejahat itu? Kau berani macam-macam pada kakak iparmu?”
“Akhirnya Senior mengakuiku. Apa artinya kau menyetujui pertunangan kami?”
“Jika aku tidak menyetujuinya, Sev, Juniorku yang bodoh, kau dan keluargamu tidak mungkin berada di kediaman kami.”
“Uhm, yah. Benar juga.”
Tiba-tiba langkah kedua pria itu terhenti. Seakan ada sihir yang mengendalikan mereka, Ansel dan Sebastian sama-sama menoleh ke arah Ionna. Ionna menemukan segaris senyum tipis bertengger di bibir Sebastian. Senyum itu membuat bibirnya membentuk hati.
“Omong-omong, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, My Lady. Maafkan aku.”
Ionna menggeleng pelan menanggapi ucapan Sebastian. “Obrolan kalian terdengar seru, My Lord. Kalian bisa melanjutkannya tanpa saya.”
“Hm? Bukankah kita sepakat tidak saling berbicara formal, Lady Ionna?”
“Maafkan aku.”
“Haruskah kita berjalan bertiga?”
Kali ini Sebastian beralih menatap Ansel. Tampaknya Sebastian menyadari kecanggungan di antara mereka. Sedari tadi ia perhatikan Ansel terus memasang tampang masam ketika matanya bersirobok dengan aquamarine Ionna. Apa mereka berdua bertengkar?
“Atau kita buat Senior Ansel berjalan di belakang?”
Ansel tersenyum miring. Ia ingin meraih lengan Ionna dan menamenginya, tetapi juga tidak ingin adiknya menang dengan mudah. Apa Ionna pikir kakaknya bisa melunak dalam hitungan hari? Ansel harus memberi gadis itu pelajaran yang berarti.
“Baru sedetik lalu aku merasa tersentuh pada kesopananmu, namun sekarang kau menghancurkan suasana hatiku lagi. Dasar Junior tidak tahu diri.”
“Aku rasa aku mengerti mengapa Senior Lucian suka menggodamu. Reaksimu seperti gadis manis yang salah tingkah, Senior.”
“Apa kau bilang?”
“Marquess Carnold.”
“Marquess Carnold? Lucian di sini?”
Ionna tidak percaya dengan siapa yang dilihatnya. Tanpa sadar ia menggumamkan nama pria itu. Ansel yang kebingungan pun mengikuti arah pandang sang adik. Di sana, di ujung selasar, Lucian muncul dengan blus krem dan celana kulit berkuda. Sepatu boot tinggi mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo sedang. Lucian mengangkat sebelah tangan, melambai dari kejauhan. Senyumnya mengembang menemukan Sebastian Magnolia berdiri di sebelah kiri Lady Ionna Laundrell. Ia tidak begitu mengenal akrab Sebastian layaknya Ansel, namun ia sering bertemu bocah itu di lapangan pacu. Mereka sekelas di kelas berkuda dan memanah.
Lucian dapat merasakan tatapan intens Ionna yang tak bisa lepas darinya. Gadis itu diam terpaku, tak sekalipun berkedip. Dia pasti terkejut karena kunjungan dadakannya. Terlebih ada Sebastian Magnolia di samping gadis itu. Pertemuan tak terduga ini terjadi secara dramatis, seolah Tuhan sengaja menulis adegan ini dalam skenario takdir. Apa Lucian datang di saat yang tidak tepat?
“Kau muncul di saat yang tepat, Kawanku,” kata Ansel, berpindah ke sisi sahabatnya.
Lucian memutar kepala dengan satu alis terangkat kemudian kembali memandang sejoli di depannya. Ternyata dia tidak mengganggu pertemuan Lady Ionna dengan calon tunangannya. Memberi salam, Lucian berusaha mengurangi kontak mata dengan Ionna. Lucian tidak ingin Ionna mengetahui kecamuk emosi dalam iris hijaunya. Kenapa ia merasa kesal tanpa alasan?
“Kau berumur panjang, Luce. Kami sedang membicarakanmu saat Ionna melihatmu di ujung selasar.”
“Sungguh?” Lucian tersenyum, mengulurkan tangan untuk menerima jabatan Sebastian. “Senang melihatmu, Sebastian.”
Sebastian mengayun-ayunkan pagutan tangan mereka penuh semangat. “Aye, Senior. Bagaimana kabarmu?”
“Baik seperti biasa. Dan kau?”
“Teramat-sangat baik. Terima kasih.”
“Kau benar-benar datang rupanya. Kau sendirian?” tanya Ansel menyela percakapan. Mereka pun melepas jabatan tangan. Lucian menunjuk pakaian berkuda dan keringat di dahinya bergantian.
“Kau berharap aku membawa orang lain sembari menunggangi Ian? Kau ingin kudaku mengamuk dan melemparkan kami?”
“Aku heran kenapa kau memilih kuda pencemburu.”
“Itu lebih baik ketimbang memiliki kekasih pencemburu.”
“Kau menyindirku? Aku tidak memiliki kekasih!”
“Menurutmu?”
“Hah, ya sudahlah.” Ansel mendesah panjang, mengibaskan tangan di udara. Kenapa mereka jadi memperdebatkan seekor kuda? Ia pun menegakkan punggung, menatap adiknya yang tidak bersuara, merangkul pundak tegap Lucian mendekat. “Baiklah. Sev, aku akan menyeret makhluk menyebalkan ini ke ruang kerjaku. Nikmati waktu kalian berdua.” Jeda sedetik, Ansel menelan ludah. Susah-payah ia menyingkirkan egonya yang sebesar gunung. Lama-lama ia merasa bodoh karena memperlakukan Ionna seperti angin.
“Ionna, kami pergi.”
Netra Ionna bergeser, memantulkan sosok kakaknya bak cermin di laut. “Ya, Kakak.”
“Sampai jumpa.”
Ionna menekuk lutut sambil menganggukkan kepala, diam-diam melirik Lucian yang berjalan melewatinya melalui ekor mata.
“Sampai jumpa, Kakak, Marquess Carnold.”
***
Lucian sangat menyukai lukisan, namun lukisan Lady Ionna Laundrell di ruang tamu selalu membuat Lucian resah. Tiap kali Lucian di sana, seakan ada Ionna di suatu tempat di ruangan itu. Terlebih lukisan itu menghadap langsung pada sofa yang Lucian duduki. Warna biru muda sempurnanya seolah ingin melahap Lucian hidup-hidup. Kenapa juga lukisan itu terlihat sangat realistis?
“Aku tidak mengerti apa yang ada di kepala Adikku hingga ia setuju mengundang ketiga duke.”
Gumaman Ansel sontak mengalihkan perhatian Lucian dari lukisan besar di dinding. Pemuda itu menyuruhnya datang untuk melaporkan investigasi lanjutan, sekaligus mengeluh tentang pertunangan sang adik.
“Kecemasanmu itu tidak berguna,” sinis Lucian. Ia menuangkan lemonade dingin ke cangkir, meminumnya hingga tandas. “Kau tidak memberi Her Ladyship pilihan lain karena kau sedang kesal pada beliau.”
“Itu bukan salahku.”
Lucian sedikit terkejut. Alih-alih memprotes, Ansel justru membantah dengan lesu.
“Tidak ada yang menginginkan pertunangan itu, kecuali Ibuku.”
“Sudah kubilang Her Ladyship tidak punya pilihan lain. Her Ladyship melakukannya agar para tetua tidak menjadikan beliau sandra untuk pernikahanmu.”
“Tapi, dia bisa memberitahuku sebelum mengambil keputusan.”
“Her Ladyship tidak ingin menyulitkanmu.”
“Kenapa kau membelanya?”
“Aku hanya menegaskan, Ansel.”
Lucian benar, Ionna benar, semua orang di rumah ini benar kecuali dirinya. Ansel menendang daun jendela tanpa ampun. Bunyi benturan kaca dengan tembok luar terdengar bak suara pecahan patung keramik. Pria itu memandang adiknya di kejauhan, tengah mengobrol ringan dengan calon tunangannya di paviliun tempat mereka biasa menghabiskan waktu berdua. Sebastian sialan. Dia merenggut peran Ansel di sana.
“Kau tidak diundang. Kutarik undanganmu.”
Senyum tipis Lucian terpantul di cairan emas lemonade di dalam kan kaca. Kan tersebut berkeringat, es kotak mengambang menggoda sang marquess untuk terus menuangkan lemonade ke gelas. Lucian mengabaikan lukisan yang sedari tadi mengganggunya. Ia membawa segelas lemonade lalu menghampiri sang sahabat, bergabung dalam aksi pengintaian Lady Ionna Laundrell.
“Untukmu.”
Ansel tidak menanggapi, tapi tangannya menyahut gelas lemonade. “Kalau kau kesal, lebih baik kita alihkan perhatianmu dari Sebastian dan Her Ladyship,” ujar Lucian sambil merogoh celana berkuda. Ia mengapit dan mengacungkan secarik surat di sela-sela jari. “Surat baru Robert datang kemarin malam. Kau tidak penasaran dengan isinya?”
“Aku tidak peduli pada surat utusanmu.”
Bolehkah Lucian mendorong Ansel keluar jendela?
“Jika kau tidak membutuhkanku, Kawan, maka biarkan aku pulang.”
“Siapa yang mengizinkanmu pulang seenak jidat?”
“Apalagi, Ansel?”
Ucapan Lucian yang penuh penekanan itu membuat Ansel meneguk ludah. Dalam sepersekian detik, Ansel membuang jauh-jauh rajukannya. Lucian yang penyabar tampak jengkel setengah mati.
“Apalagi yang kaurisaukan? Apakah pertunangan Adikmu tidak cukup mengacaukan pikiranmu?”
“Baiklah, maafkan aku,” sergah Ansel sebelum niatan Lucian menjatuhkannya dari ruang duduk menjadi kenyataan. Ia meneguk lemonade untuk menyegarkan pikiran. Setelah tenang, barulah ia berkata, “Ini soal undangan ketiga duke. Pesta pertunangan Ionna memang diadakan secara tertutup, tetapi Duke Magnolia sialan itu tidak ingin melewatkan momen ini tanpa mengundang ketiga duke. Itu artinya Ruford Barten akan menampakkan batang hidungnya di kediaman kami.”
Sesaat Lucian terdiam mencerna satu-persatu kata yang Ansel lontarkan. Ia mengetukkan ujung telunjuk di kusen jendela, menaikkan sebelah alis. “Kurasa dia lebih mementingkan nyawanya. Dua kali dia nyaris mati di tanganmu, dia tidak mungkin berani mengganggu Lady Ionna lagi.”
“Aku tidak tahu kau sebodoh ini, Luce.”
“Apa maksudmu?”
“Bukan Ionna yang kukhawatirkan, melainkan Lady Evangeline Hernsberg, tunanganmu.”
Lucian semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Ia menatap intens Ansel yang menggoyang-goyangkan gelas, membuat es di dalamnya menari memutari sisi lingkaran gelas. Mata biru pria itu berkilat misterius saat Lucian hendak membuka mulut dan menanyakan lebih lanjut apa hubungan Ruford Barten dengan tunangannya.
“Luce, kau harus ekstra hati-hati saat pesta pertunangan nanti. Jaga Lady Evangeline tetap di sampingmu dan jangan lepaskan dia dari jangkauanmu. Malam itu, Ruford Barten mengenali Lady Evangeline dan kuyakin dia tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk memanfaatkan sang lady. Jangan sampai Lady Evangeline menjadi Viscount Corton kedua, Luce.”
***
“Aku tidak segigih itu melangkah ke kandang macan, Lady Ionna. Apa kau ingin melihat Kakakmu mengulitiku di depan para tamu?”
Dalam keremangan, hanya satu lilin menerangi ruangan itu. Asap mengepul dari mulut seseorang yang duduk di kursi goyang, menyilangkan kaki, dan menselonjorkannya di atas meja. Berbotol-botol brendi, wiski, dan anggur berserakan di lantai. Gelas berleher panjang hingga gelas kristal menumpuk di meja, sementara sebuah undangan bertuliskan Pertunangan Lord Sebastian Magnolia dan Lady Ionna Laundrell tergeletak manis di pangkuannya.
Pria di kursi goyang itu mengambil undangan, membacanya sekali lagi, sebelum melemparnya asal. Ia mengembuskan asap kehitaman kemudian berbicara pada seseorang di ambang pintu.
“Kenapa tidak masuk, Viscount? Kau takut kepalamu bocor? Tenang saja, aku tidak terbiasa menyakiti seseorang tanpa alasan seperti Duke Laundrell. Aku bukan pria ganas, wahai Viscount.”
Viscount Corton menggigit lidah, dengan canggung menuruti perintah Duke Barten. Sepasang kakinya gemetaran memasuki ruangan yang didominasi aroma menusuk alkohol dan rokok. Bagaimana bisa sang duke bernapas di dalam ruangan tertutup ini?
“Jadi, kenapa kau menghindariku belakangan ini?” tanya Duke Barten dingin. “Apa karena kau mendengar sesuatu yang seharusnya tak kaudengar saat kita di klub? Kenapa kau tidak tutup mulutmu dan meminta imbalan saja?”
“A-ampuni saya, Your Grace.” Viscount Corton menjatuhkan tubuhnya ke lantai, meringkuk ketakutan. Ini salahnya mencoba membuat kesepakatan dengan sahabat Duke Laundrell. Ia pikir ia akan mendapatkan keuntungan, namun malah kebuntungan yang ia dapatkan. Kini ia berada tepat di hadapan Duke Barten. Ia telah mendengar ancaman Duke Laundrell terhadap sang duke. Matilah Viscount Corton. Sayang sekali padahal putri semata wayangnya tengah mengandung cucu pertamanya. Haruskah ia berakhir mengenaskan?
Ruford mendecih malas. Nasi sudah menjadi bubur, jadi membunuh pria itu pun percuma. “Sebenarnya Duchy Barten tidak merugi kehilangan satu viscount. Tapi, aku masih memiliki hati nurani. Aku tidak bisa menghabisi nyawa mertua Daniel. Kau beruntung Daniel Swenpard adalah temanku, Viscount.”
“Oh, oh, terima kasih atas kemurahan hati Anda, My Lord. Sungguh terima kasih. Saya berutang nyawa pada Anda. Saya berjanji akan mengabdikan seluruh hidup saya pada Anda—”
“Aku tidak butuh seorang pengabdi sepertimu. Kau seorang pengkhianat,” sela Ruford sambil menggerakkan telunjuknya, menyuruh Viscount Corton berdiri, bangkit dari posisinya. Viscount Corton menatapnya penuh syukur. Mata menyebalkan seorang pengemis. “Aku juga mempertimbangkan untuk tidak membunuhmu karena Vincent tidak terlibat. Dia memiliki repurtasi yang bagus. Seandainya nama Vincent ikut tercemar, aku mungkin tidak akan memaafkanmu. Dia sedikit sial karena berteman denganku.”
Viscount Corton mengangguk-angguk cepat mengakui semua kesalahnnya. Vincent, pewaris Marquess Robinson yang polos itu tidak tahu apa-apa. Dia pemuda yang baik dan bukan orang yang tepat untuk dikategorikan ke dalam golongan orang-orang licik. Duke Barten pasti akan melindungi nama baik sahabatnya, tak peduli apakah golongan atas akan mengecap dirinya sendiri buruk.
Sang viscount menjilat bibirnya yang kering, berkata gagap, “Adakah, mungkin adakah sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Anda, My Lord? Saya akan melakukan seluruh perintah Anda, apapun, apapun itu, My Lord.”
Ruford menyeringai kecil. “Kau tidak akan menyesalinya, bukan, Viscount? Aku tidak mau kau menarik kata-katamu di masa depan.”
“Tidak akan, My Lord! Tolong, jangan ragukan kesetiaan saya!”
“Baiklah. Kau menambah satu poin positif di mataku, Pak Tua.”
Menegakkan punggung, Ruford pun meletakkan pipanya di hiasan keramik. Diliriknya undangan pertunangan yang ia buang. Tiba-tiba sebuah keberanian menyusup ke dalam benaknya. Bayang-bayang Duke Laundrell telah menghantuinya selama bertahun-tahun. Ia terus hidup di dalam ketakutan karena pria sok berkuasa itu. Jika ia bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengatur rencana balas dendam, bukankah menyenangkan melihat Ansel Laundrell bertekuk lutut dan memohon ampun di bawah kakinya?
Membayangkan itu saja membuat tawa Ruford menggelegar. Kedua tangannya mencengkeram lengan kursi, matanya berbinar-binar antusias. Api berkobar dalam sepasang manik merahnya. Ia mengingat siapa orang yang memergoki dirinya dan Duke Laundrell di balkon Hall of Sun.
Lady Evangeline Hernsberg, tunangan Lucian Carnold dari Andasia, seorang bangsawan pendatang yang ayahnya tereliminasi dari daftar kriminal internasional.
Bukankah ide yang cemerlang memainkan sedikit trik pada gadis itu? Ruford akan menggunakan Lady Evangeline Hernsberg sebagai bonekanya. Pertama-tama, mari kita atur pertemuan yang tak disengaja di pesta pertunangan dan buat dia menjadi rekan. Ruford memiliki firasat yang bagus tentang ini. Lady Hernsberg pasti tidak keberatan menerima tawaran pertemanan dari seorang duke dengan iming-iming tempat di pergaulan sosial.
“Hm, kau melayani pelayaran Marquess Carnold dan Lady Hernsberg dari Andasia, Viscount. Kalau begitu, ceritakan segala hal yang kauketahui tentang Lady Hernsberg. Entah kenapa, aku tertarik menjalin pertemanan dengannya."
Bersambung