Sebastian bergaul dengan baik.
Pria itu mendapatkan kepercayaan orang-orang rumah dalam sekejap hingga tak terasa pesta pertunangan hampir tiba. Malam sebelum pesta diadakan, Sebastian mengetuk pintu kamar Ionna. Adalah sebuah kode ketukan tiga kali dan diakhiri dengan deheman lembut, tanda bahwa Sebastian di sana. Ionna tidak ingin menemui siapapun malam itu, bahkan melewatkan makan malam dengan keluarga besar.
Sebastian berjanji mengunjunginya di malam hari, namun Ionna tidak menyangka pria itu akan datang di hari selarut ini.
“Aku gugup sekali,” kata Sebastian, mencoba menghibur Ionna yang sejak pagi terlihat enggan menyuapkan makanan mulut. “Apakah kegugupan memengaruhi pola makanmu, My Lady?”
“Aku memiliki gangguan pencernaan.” Ionna mengedikkan bahu, sebisa mungkin mengabaikan keberadaan anggur di meja balkon. Mereka tengah menikmati malam musim panas di balkon perpustakaan dan anggur itu benar-benar ingin menyentuh kerongkongannya. “Terkadang hal seperti ini biasa terjadi, My Lord. Aku akan baik-baik saja.”
“Tidak akan baik-baik saja jika kau terus membiarkannya, Ionna.” Sebastian menempelkan sekeping biskuit gandum ke bibir Ionna, memaksa bibir ranum itu terbuka. “Aku tidak ingin kau sakit, setidaknya makanlah ini.”
Aroma musim panas tercium dari tubuh Sebastian. Aroma maskulin, seksi, dan memikat. Mata kuning pria itu menyala di kegelapan malam. Ionna tersenyum tipis. Bahkan di saat seperti ini pun, organ penunjang kehidupannya tidak bekerja seperti saat dirinya bersama Lucian.
“Adakah keraguan di hatimu?”
Pertanyaan itu membuat Ionna terhenyak. Ionna sadar Sebastian tidak menyerah menunggu mulutnya terbuka. Ia mengambil biskuit gandum dari tangan pria itu, menggigit ujungnya dengan susah-payah.
“Sama sekali tidak.”
“Lantas, kenapa kau tidak menunjukkan kebahagiaanmu, Ionna? Kita akan hidup sebagai Duke dan Duchess Magnolia. Pertunangan ini hanyalah awal dari perjalanan kita.”
“Semuanya terlalu tiba-tiba, Sev,” aku Ionna jujur, tidak percaya akan mengungkapkan isi hatinya kepada seseorang selain Annie, Raphael, juga Lucian. “Lamaranmu, penetapan pertunangan, dan besok. Bukannya aku tidak bahagia, aku merasa senang mengenalmu. Kau tahu aku tidak begitu siap, tapi kau mengerti aku harus menyelamatkan Kakakku.”
“Apa kau menyayangi Senior?” tanya Sebastian penasaran. Dari yang ia lihat, hubungan mereka tidak seperti kakak-adik pada umumnya. Ionna cenderung menghindar, sedangkan Ansel seakan menahan sesuatu yang bisa meledak kapan saja dalam dirinya.
“Entahlah. Aku tidak bisa mengatakan apakah aku menyayangi Kakak atau tidak. Sev, terlalu kekanakan memikirkan hal itu sekarang.”
“Menurutku, tiada salahnya mengakui perasaanmu kepada Senior. Kenapa kalian tidak bicara dari hati ke hati?”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak bisa, Sebastian!”
Piring berdenting tatkala keping biskuit yang tinggal seperempat jatuh. Sebastian tidak terkejut terhadap sifat keras kepala Ionna. Ia telah mendengar banyak hal dari Ansel serta pelayan pribadi sang lady, Annie. Mereka tidak punya banyak waktu untuk saling memahami sebelum tanggal pertunangan, tetapi Sebastian berusaha mengenal Ionna melalui kesaksian orang-orang terdekatnya.
“Awalnya, aku tidak menyukai Yasmin. Kehadiran Yasmin di rumah kami seolah merebut perhatian Ayah dan Ibu dariku.”
Kini giliran Sebastian yang bercerita. Ionna menatap Sebastian tanpa ekspresi. Lady Yasmin yang malang diadopsi ketika pasangan Magnolia mengunjungi acara amal di panti asuhan di ibu kota. Berkebalikan dengan buah bibir yang Ionna dengar, nyatanya Sebastian yang penyayang pun pernah merasakan perasaan iri terhadap lady kecil itu. Apakah mereka memang ditakdirkan bersama? Mereka sama-sama memiliki masalah yang kompleks terhadap saudara.
“Aku tidak dapat memahami jalan pikiran Ayah dan Ibu. Apakah tidak cukup bagi mereka memilikiku? Atau apakah mereka tidak menginginkanku setelah aku dewasa?”
“Duke dan Duchess Magnolia bukan orang yang seperti itu, My Lord.”
“Setiap orang mempunyai anggapan sendiri, Ionna,” sahut Sebastian, senyum penuh arti bertengger di bibir penuhnya. “Setidaknya itulah yang kupikirkan ketika mereka membawa Yasmin ke rumah kami. Pada akhirnya, aku tidak bisa bersikap tidak adil padanya. Bagaimanapun juga, dia adalah adikku. Ikatan persaudaraan tidak melulu soal hubungan darah, bukan?”
Ionna bertelek siku di atas meja, menopang dagu di telapak tangan. “Kau mengingatkanku pada Marchioness Carnold, Sev.”
“Maksudmu, persaudaraanmu dengan Senior Lucian?”
Persaudaraan. Ionna tersenyum kecut. “Yah, kurang lebih begitu. Mendiang Marchioness selalu menceramahiku tentang nilai-nilai kekeluargaan.”
“Sepertinya kalian cukup dekat.”
“Lebih dekat dari aku dan Kakak kandungku.”
“Ya?”
“Bukankah kita sedang membicarakan Marquess Carnold?”
“Kukira kita membicarakan mendiang Marchioness.”
Sebastian sontak terdiam. Ia mengamati perubahan air muka Ionna, antara bingung dan panik. Ada yang gadis itu sembunyikan darinya; dari semua orang. Kedekatan tak biasa Marquess Carnold dengan Lady Ionna Laundrell, Sebastian mendengar rumor itu di pesta debutan lima tahun lalu. Akan tetapi, sosok Ionna yang begitu indah dan bersinar di lantai dansa membuat perhatian Sebastian teralihkan seluruhnya. Mendadak ia lupa berpijak pada bumi. Mendadak ia tak memedulikan lautan gosip yang menerpa nama sang lady. Perasaan lega menerpa benaknya saat rumor itu tidak terbukti. Rumor tak lebih dari sekadar rumor. Itulah yang Sebastian percayai selama ini.
Sebastian ingin tetap mempertahankan kepercayaannya dan memilih mengakhiri pertemuan mereka malam ini.
“Selamat malam, My Lady.”
“Sev?” Ionna ikut beranjak, tersentak ketika kursi Sebastian bergeser menggesek lantai. Pria itu mengalihkan pandang, wajah lembutnya melebur bersama udara malam yang berubah dingin. “Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?”
“Tidak. Tidak ada yang salah.” Sebastian menggeleng cepat, menyampirkan jaket bulu hangatnya di pundak Ionna. “Kau butuh istirahat, Ionna. Ini juga sudah terlalu malam. Kita lanjutkan perbincangan ini esok pagi.”
“Sev, tidak, tunggu dul—”
“Aku mencintaimu, Ma Chere.”
Tanpa Ionna duga, Sebastian menyingkirkan anak rambut dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di keningnya. Ia membeku, seakan habis keluar dari kubangan salju setelah berjam-jam. Ia menyentuh keningnya dengan mata bergetar, Sebastian menatapnya sendu. Pria itu mengehela napas panjang kemudian menekan gagang pintu kaca tanpa berbalik lagi. Ionna ingin mencegah kepergian Sebastian seandainya pria itu tidak lebih dulu mengucapkan selamat tinggal.
“Sampai jumpa, Ionna. Mimpi indah.”
Lalu, Sebastian Magnolia pun menghilang di balik deretan rak dalam perpustakaan, meninggalkan Ionna dengan kejutan dan perasaan sesak dalam d**a.
Ini adalah pernyataan cinta pertama paling tulus yang pernah ia terima, namun kenapa rasanya sakit sekali?
***
Belasan kereta kuda terparkir di halaman Kediaman Laundrell. Acara dilaksanakan di aula yang terpisah dari bangunan utama. Walaupun acaranya tertutup, Duke Magnolia menginginkan pesta di tempat terbuka. Aula besar itu sudah lama tidak ditempati. Letaknya di pusat labirin, taman rahasia keluarga Laundrell yang menyimpan salah satu seribu satu keindahan duchy.
Bunga musim panas tumbuh subur di atas rerumputan dan dedaunan hijau. Gelas-gelas berkeringat dan kudapan ringan tersaji di meja panjang. Ionna mengedarkan pandang ke setiap tamu yang datang, mencari seseorang yang seharusnya datang lebih awal.
“Untukmu.”
Itu Ansel.
Dengan ekspresi kecut, pria itu menyematkan setangkai bunga baby breath putih di sanggul Ionna. Kakaknya masih saja marah-marah meski hari pertunangan tiba. Di sampingnya, Sebastian tersenyum, menggumamkan terima kasih karena telah mempercantik tampilan tunangannya.
“Aku tidak mau hal yang sama terulang lagi,” omel Ansel, merujuk pada lamaran Sebastian. “Kau Adikku, sudah sepantasnya aku bertanggung jawab penuh atas dirimu. Ingatlah, Ionna. Kau tidak perlu berkorban untukku. Suatu saat aku pasti akan menikah.”
“Asalkan kau tahu, aku ingin memberi mereka pelajaran.” Ionna membenarkan letak tangkai baby breath yang terasa memberatkan sanggul kemudian menatap lurus sang kakak. “Tidak ada urutan pernikahan dan tradisi kolot. Mereka tidak berhak mengatur hidup keluarga utama.”
“Dan mereka yang kalian maksud sedang merebut hati kedua orang tuaku.”
Lelucon bernada sinis Sebastian membuat Ansel tertawa. Ionna melirik tunangannya, menyunggingkan senyum simpul. Agaknya suasana hati Sebastian semalam sudah membaik.
“Mereka memang suka mencari perhatian.”
“Aku bersyukur keluarga kami tidak memiliki para tetua yang ikut campur.”
“Aku tidak bisa melawan Ibuku. Dia sangat keras kepala.”
Mata Sebastian menyipit. Kenapa rumit sekali? Bukankah dengan menikahi seorang lady dan menjadikannya duchess baru, ia dapat memiliki kekuasaan penuh? Kenapa keluarga Laundrell selalu tidak sejalan dengan pikiran dan perasaan mereka?
Sebastian menahan komentar tersebut di pangkal lidah. Keluarga mereka memang terikat dengan pertunangan, namun ia dan Ionna belum menikah. Sebastian tidak berhak mengomentari masalah internal keluarga Laundrell. Sebastian tidak ingin dicap sebagai menantu kurang ajar, jadi ia tidak boleh sampai mendapatkan kesan yang buruk.
“Baiklah. Kuucapkan selamat atas pertunangan kalian.” Ansel memutar badan menghadap Ionna, berlutut, mencium tangan sang adik. Aksinya ini menarik perhatian seluruh mata di aula pesta. Ionna mengernyit, malu. Pipinya merona, hasrat menarik tangan dan memukul kakaknya semakin besar. Ia mendesah kecil saat Ansel bangkit dan mengusap cincin yang tersemat di jari manisnya. “Kau segalanya bagiku.”
Kalimat tersebut terdengar manis, namun tidak berlangsung lama karena Ansel langsung menggoda sepupu Sebastian yang kebetulan melintas di belakang mereka.
“Senior tidak berubah, ya. Dulu dia juga genit pada gadis-gadis di akademi.” Gumaman Sebastian dihadiahi anggukan setuju Ionna.
“Tolong, maklumi beliau, My Lord.”
“Justru itulah pesona Senior, My Lady. Senior Ansel memiliki aura menakutkan dan romantis di saat yang bersamaan.”
“Itu benar “
Selanjutnya, mereka memutuskan bergabung dalam kelompok tamu yang terbentuk di beberapa sisi ruangan. Ionna celingukan ke sana ke mari, teguh mencari Lucian yang tumben-tumbennya datang terlambat. Hatinya didera perasaan gelisah dan bersalah. Ia tidak dapat berkonfrontasi dengan perasaan labil ini terlalu lama. Tunangannya berdiri tepat di sampingnya. Sungguh memalukan mendapati diri sendiri memikirkan pria lain di hari pertunangannya.
Untuk hari ini saja. Biarkan aku mengenang perasaan ini untuk yang kali terakhir. Ini adalah hari terakhir jantungku berdebar untuk Marquess Carnold. Esok, esok aku berjanji akan belajar mencintai Sebastian. Ini yang terbaik. Aku tidak akan menangis dalam diam dan akan hidup dalam kebahagiaan bersama pria di sampingku. Aku berjanji tidak akan menyakiti diriku sendiri la—
“Lady Ionna Laundrell.”
Sebuah suara menyapa, membuyarkan suara hati Ionna yang membagi fokus dengan saudara ipar Sebastian.
Sensasi ngeri seketika merambat di sekujur tubuhnya. Ionna mengeratkan pegangannya pada lengan Sebastian yang menggandengnya. Suara asing nan misterius yang tidak pernah ia dengar, namun cukup membuktikan bahwa pemilik suara tersebut bukanlah orang yang bersahabat. Ionna terus beringsut mengimpit Sebastian, membuat sang tunangan menoleh dan menautkan alis melihat gelagat anehnya.
“My Lady?”
“Ah, sepertinya ada kenalan yang ingin menyapa, My Lord.”
Sebastian menaikkan pandang, menemukan seorang jentelman dalam setelan hitam dengan corak emas di kelepak dan lengan jas. Sejenak Sebastian memiringkan kepala mengenali orang itu. Hingga orang tersebut mengulurkan tangan untuk bersalaman, barulah Sebastian ingat.
Dia, mantan tunangan Lady Diana Thesav, penguasa industri hiburan di Gouvern, Duke yang terkenal akan koleksi perhiasannya yang berlimpah.
Ruford Barten, pesaing Ansel Laundrell di pergaulan kelas atas.
Sebastian pun menjabat tangan Duke Barten dengan senyum sumringah, tidak menyadari ketakutan di wajah Ionna saat aquamarine gadis itu bersirobok dengan mata merah Ruford Barten.
“Kuharap penyatuan ini merupakan langkah awal untuk membangun persahabatan kedua wilayah,” ucap Ruford, memperhatikan sang lady dengan kilat aneh di matanya. “Terima kasih telah mengundangku, Sir Sebastian, Lady Ionna Laundrell. Aku sangat beruntung dapat hadir dalam pesta ini.”
***
Eksitensi Lucian dan Evangeline tak kalah menarik dari pasangan yang tengah bercakap dengan Duke Barten di tengah aula. Mereka datang terlambat, terdapat kerusakan ringan di gaun Evangeline sehingga mereka menunggu selama setengah jam untuk membenahi gaun cokelat s**u tersebut. Mereka telah melewatkan acara penyematan cincin, dan sekarang mereka harus meminta maaf atas ketidaksopanan ini.
“Dia Duke Barten, bukan?” bisik Evangeline yang tampaknya tidak bisa mengusir kejadian di balkon Hall of Sun.
“Ya.”
Lucian mengangguk sekali, memantapkan langkah menemui Ansel dan Duchess Laundrell terlebih dahulu. Mereka pun membungkuk memberi hormat, Duke dan Duchess Magnolia juga melebur bersama mereka.
“Lady Evangeline Hernsberg. Ini pertemuan kedua kita setelah pesta penyambutan di istana,” ucap Duke Magnolia, mengangkat gelas scotch tinggi-tinggi. Pria empat puluh empat tahun itu terlihat seakan dialah yang paling berbahagia atas pertunangan putranya.
“Suatu kehormatan hadir dalam pertunangan Young Lord Magnolia dan Lady Ionna Laundrell, Your Grace. Terima kasih.”
“Suamiku, Duchess Laundrell, kita tidak boleh menginterupsi anak-anak muda ini,” sahut Duchess Magnolia yang dapat membaca arti tatapan Ansel terhadap Lucian. Di belakangnya, bersembunyi Lady Yasmin yang didandani bagai seorang peri. Evangeline mengerling kepada lady kecil itu. “Bisakah kita meninggalkan mereka bersamamu, Duke Laundrell? Mereka adalah tamumu, bukan?”
“Terima kasih, Bibi. Aku memang ingin menghukum Marquess Carnold karena keterlambatannya.” Kemudian Ansel mengedipkan sebelah mata pada Evangeline yang balik menatapnya skeptis. “Tentunya, Lady Evangeline adalah pengecualian.”
“Kami mengandalkanmu, Ansel.”
“Serahkan mereka padaku, Bu.”
Setelah keempat manusia tadi pergi, barulah Ansel mengeluarkan uneg-unegnya. Ia memandang Lucian sengit, menyambar cravat pria itu, berkata dengan intonasi tinggi, “Ke mana saja kau?”
Lucian menjawab santai. “Ada sedikit masalah dengan gaun Lady Evangeline. Maafkan kami yang terlambat datang, Your Grace.”
Mendengarnya, mata Ansel mengerjap cepat. Ia melepas cengkeramannya tanpa sadar. “Oh, benarkah?”
“Itu kesalahan saya, My Lord. Tolong, jangan hukum Marquess Carnold.”
Ansel tertawa hambar, bertepuk tangan mencairkan suasana. Lady Evangeline telah berulang kali melihat sisi menakutkannya. Ini sama sekali tidak keren. Bisa-bisa ketenarannya di kalangan wanita meredup.
“Jangan khawatir, My Lady. Inilah cara kami berkomunikasi. Kami telah bersahabat sejak tali pusar kami belum putus.”
“Berhentilah membual, My Lord.”
“Hahah. Aku suka mempermainkanmu di depan banyak orang, Luce. Kau menggemaskan.”
Sepertinya Evangeline tak perlu lagi mengkhawatirkan persahabatan kedua sejoli itu. Lucian dapat menangani guyonan Ansel, dan sesungguhnya, Evangeline juga menikmati bagaimana reaksi Lucian setiap sahabatnya itu melontarkan candaan. Seorang pria kaku dengan tampang sedatar tembok berteman dengan pria kejam bertopeng paras rupawan.
Sungguh persahabatan yang aneh, sekaligus langka.
Entah gerangan apa yang mengalihkan atensi Evangeline, tiba-tiba ia sudah berkontak mata dengan Duke Barten yang bersandar pada pilar marmer di seberang aula. Pria itu seakan memperhatikannya sejak tadi. Seringai kecil bertengger di salah satu sudut bibir sang duke, menimbulkan tanda tanya mengapa Duke Barten mengawasinya dari kejauhan. Apa dia mengingat Evangeline malam itu? Apa dia ingin memperingatkan Evangeline agar melupakan kejadian yang mungkin bagi Duke Barten memalukan?
Segera saja Evangeline memutus kontak mata mereka. Ia kembali menatap Lucian yang ditinggal sendiri oleh sang sahabat.
“Anda baik-baik saja?” tanya Lucian, mengayunkan kaki mendekati Evangeline.
Evangeline berdehem pelan, mengangguk, lalu menggaet lengan tunangannya. Diabaikannya Duke Barten nun jauh di sana. Mungkin ini hanya perasaannya saja.
“My Lord, saya rasa sudah waktunya bagi kita mengucapkan selamat. Bagaimana kalau sekarang?”
Bersambung