Ah ya, sekarang mereka membawa pasangan masing-masing. Berdiri saling berhadapan, seolah terpisah oleh jurang terdalam di dunia. Lucian berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak menyesal, sama sekali tidak menyesal telah melepas gadis itu. Mereka telah menemukan pendamping yang tepat, pilihan terbaik di antara banyaknya pilihan.
Sebastian dan Ionna tampak serasi dalam perpaduan setelan hijau muda dan putih yang mencolok. Untaian mutiara berkualitas tinggi yang dihasilkan kerang-kerang duchy Magnolia menggantung indah di leher sang lady. Sementara itu, sebuah cincin emas melingkari jari manis gadis itu. Cincin yang sederhana, yang sebenarnya bisa dibuat lebih mewah, namun Lucian tahu Ionna tidak akan menuntut banyak kepada keluarga tunangannya.
Kesederhanaan Ionna tersembunyi di balik gelimang harta yang dimiliki kakak laki-lakinya.
“Saya ucapkan selamat untuk kalian berdua.”
Suara Evangeline seketika mendistraksi pikiran Lucian yang terus jatuh pada sosok Ionna. Gadis itu memandang bergantian Sebastian dan Lady Ionna Laundrell. Bersikap seakan tidak pernah terjadi apapun di antara dirinya dan Ionna. Apa dia lupa apa yang telah dikatakannya pada Ionna di perayaan kematian Marchioness? Walau Lucian tidah tahu pasti, Evangeline jelas mengatakan sesuatu yang lebih buruk dari jangan ganggu aku dan tunanganku lagi hari itu. Getaran trauma samar-samar terlihat di kedua biru laut Ionna.
“Dan mohon maafkan keterlambatan kami. Kami menyesal melewatkan acara pentingnya,” sambung Evangeline, menyampirkan senyum bersalah.
Dengan riang, Sebastian mengibaskan tangan di udara, berkata ceria, “Kami yang justru berterima kasih, My Lady. Kalian telah menyempatkan waktu menghadiri acara ini. Kuharap kalian berdua menikmati pestanya.”
“Saya terkesan dengan ide pesta luar ruangan di musim panas. Baru kali ini saya menghadiri pesta luar ruangan, My Lord.”
"Aku ikut sedih atas apa yang dialami Andasia, My Lady. Kuharap kau dan Senior Lucian memiliki waktu yang menyenangkan di pesta kami.”
Evangeline memberengut, sudut-sudut bibirnya berkedut. Bukannya tersinggung karena ia berasal dari Andasia, melainkan fakta bahwa Sebastian Magnolia merupakan junior Lucian membuat Evangeline merasa payah. Oh, ini bukan kali pertama Lucian tidak memberitahunya mengenai hal sepenting ini. Selama lima tahun ia mengenal Lucian, tak sekalipun pria itu menceritakan apa-apa tentang dirinya. Jika Evangeline tidak membayar orang suruhan untuk mencari informasi, selamanya Evangeline akan hidup seperti orang bodoh.
Sayangnya, masih ada banyak hal yang tidak Evangeline ketahui. Siapa saja junior, teman seangkatan, senior, hingga kenalan Lucian di akademi, itu semua berada di luar jangkauan Evangeline.
Lucian melirik, membaca diamnya Evangeline. Ia pun memutuskan terlibat ke dalam konversasi sebelum Evangeline mengeluarkan sarkasme andalannya. Gadis itu selalu menyindir Lucian dengan cara yang elegan tiap kali dirinya merasa kesal.
“Kukira Duke Magnolia yang mengatur konsep pesta,” terka Lucian, mencairkan suasana. Ionna melamun di samping Sebastian. Sungguh kebiasaan yang tidak bisa diubah. “Mengingat betapa sukanya His Grace dengan alam terbuka, aku tidak heran pesta ini diadakan di sini.”
Sebastian terkekeh pelan, menggeleng mafhum. Pernyataan Lucian seratus persen benar. “Ayah bilang lebih menyukai keramaian pesta daripada ketegangan di parlemen. Ruang rapat parlemen di istana sangat menyesakkan, sedangkan satu-satunya tempat menyenangkan bagi Ayah adalah aula pesta. Senior paha bagaimana sikap Ayahku di pesta dan di parlemen, bukan? Amat-sangat berbeda.”
“Lebih-lebih His Grace yang paling menderita ketika pertemuan kelima duke berlangsung.”
Membayangkan Duke Ollardio yang tertua menggoda Duke Laundrell sepanjang rapat, Duke Vergan yang pasif, serta Duke Barten yang terkadang mengungkapkan gagasannya dengan cara yang salah, bisa dimaklumi bila Duke Magnolia yang hidup dalam ketenangan di pesisir membenci suasana parlemen, terlebih pertemuan kelima duke. Sebastian memandang Ayahnya di kejauhan, tengan menjamu Duke Vergan bersama Ansel di dekat orkestra. Duke Ollardio berhalangan datang karena alasan mendesak.
“Omong-omong, aku sungguh bersyukur Senior telah menjaga Lady Ionna selama ini.”
Ada berbagai makna yang tersirat di balik ucapan Sebastian. Ionna tersentak, akhirnya menunjukkan reaksi yang berarti setelah beberapa lama. Gadis itu sontak memutar kepala menatap tunangannya. Kedua alis bertaut kaget, mencoba mengaitkan percakapan semalam dengan kalimat Sebastian barusan.
“Selanjutnya, biarkan aku yang menjaga dan melindungi sang lady. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik.”
Lucian tersenyum kecut. Oh, ya. Tentu saja dia harus menjaga tunangannya. Lucian telah melepaskan gadis itu, berjalan sejauh mungkin, dan tidak bisa kembali. Ia tidak ingin melihat Ionna hancur karena seorang monster seperti dirinya. Jauh lebih baik Sebastian Magnolia.
“Saya tidak melakukan apapun untuk sang lady.”
“Tolong, jangan bicara begitu, Senior.”
“Marquess Carnold benar, Sev. Beliau adalah kakakku.”
Sahutan dadakan Ionna membuat Sebastian secara otonatis membalas tatapannya. Ionna tidak ingin Sebastian berpikir macam-macam seperti Evangeline. Ia telah belajar menghapus perasaannya untuk Lucian, belajar menganggap kebaikan pria itu sebagai bentuk tanggung jawab belaka. Lucian terkenal loyal kepada Ansel. Menjaga adik perempuan sahabat yang bergantung penuh padanya bukanlah hal yang sulit dilakukan.
“Ionna.”
“Beliau menjagaku semata-mata karena aku adik perempuan Duke Laundrell, Sev.”
Terdengar menyakitkan, terasa menyakitkan, namun Ionna ingin meluruskan kesalahpahaman Sebastian dan Evangeline sekaligus. Dia memang tidak dapat membuktikan tekadnya secara langsung. Ionna harap Evangeline dapat mengerti dan tidak mengancamnya lagi. Untuk apa membuktikan bahwa Ionna lebih mengenal Lucian daripada Evangeline? Ionna tidak mau terlibat ke dalam masalah dengan orang-orang menakutkan untuk yang kesekian kalinya.
“My Lord, maafkan saya. Saya tidak pernah mengucapkan terima kasih,” kata Ionna, memberanikan diri menatap mata hijau Lucian. “Ini hari pertunangan saya. Saya telah menemukan seseorang yang berarti dalam hidup saya, saya egois karena tidak berterima kasih dan baru hari ini saya menyadari kesalahan-kesalahan saya di masa lalu. Jika Anda berkenan, mohon maafkan saya yang selalu merepotkan Anda.”
Diam-diam Lucian menahan napas. Apakah ini sebuah perpisahan?
“Berbahagialah, My Lady.”
Mata Ionna berkaca-kaca. Ungkapan tulus itu menyentuh relung hatinya yang terdalam. Dalam hati, ia menertawakan dirinya sendiri. Tak sampai seribu kertas harapan yang ia bakar, bunga-bunga yang ia kirim ke kediaman Lucian, surat yang lima tahun tersimpan di dalam kotak kayu, hingga doa-doanya tiap malam tiada yang terwujud. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba turun. Sebastian mengulurkan sapu tangan, merangkul pundaknya lembut.
“Tentu Ionna akan bahagia, Senior. Ionna akan bahagia, bersamaku.”
Dengan demikian, Lucian menyudahi perbincangan mereka, berjalan menjauh bersama Evangeline di sampingnya, dan menahan kepalanya agar tidak lagi menoleh ke belakang.
Satu hal lagi.
Sepenggal kalimat lain yang sebenarnya ingin Lucian sampaikan untuk Sebastian.
Sepenggal kalimat yang tidak mungkin meluncur dari lidahnya.
Sepenggal kalimat yang mungkin akan membuat dirinya dan Ionna goyah dari keyakinan mereka.
Dan tolong, jangan biarkan Lady Ionna menangis sendirian lagi.
Karena di manapun, kapanpun, Ionna akan menangis sendirian di tempat yang tidak bisa orang lain lihat.
oo