53. Ruford Barten

1198 Kata
“Aku ingin pulang. Sekarang.” Bibir gelas menempel lembut di atas bibir Evangeline, menyalurkan cairan bening yang terasa manis di lidah. Tangan kanan gadis itu menggapai sebuah macaroon, mengggigit, dan mengunyahnya pelan. Evangeline menatap intens Lucian yang memilih menemaninya berkenalan denga beberapa tamu undangan alih-alih bergabung ke dalam kelompok parlemen di seberanv sana. “Belum saatnya.” “Ya, lalu kenapa kau terus mengikutiku? Tidak biasanya kau begini.” Lucian melirik Ansel yang tertawa keras di tengah-tengah kerabat yang mengerumuninya. Sementara ia bersenang-senang dengan para harem, Lucian menjaga Evangeline seharian seperti penjaga anjing. “Aku akan menemanimu,” ujarnya kemudian, datar dan dingin. “Kita diundang dan datang sebagai pasangan. Tak seharusnya aku meninggalkanmu.” “Apa akhirnya kau memahami peranmu? Kau memang tunanganku. Jika kita diundang secara terpisah, apa kau akan membiarkanku sendiri?” Manik hijau Lucian sekilas berkilat tertempa teriknya sinar mentari pagi. Evangeline terdiam menunggu respons pria di sampingnya. Lucian meminum mojito dengan tampang datar. Semua makanan dan minuman di pesta ini dihidangkan dengan tema pesisir khas duchy Magnolia. “Tidak mudah bergaul dengan bangsawan Gouvern. Aku sudah memberitahumu sebelumnya.” “Kau memberitahu hal yang telah kuketahui dengan baik, namun tidak pada hal yang belum kuketahui,” cela Evangeline, meletakkan gelas pada baki pelayan yang lewat. Iris violetnya beradu dengan mata hijau Lucian. “Dan apa yang kaukatakan tadi? Berbahagialah, My Lady? Mendoakan kebahagiaan gadis yang kaucintai dengan pria lain? Aku sungguh terkesan dengan pengorbananmu, Luce.” “Berhenti membahas hal itu, Eva.” “Aku tidak akan berhenti membahasnya. Aku tidak suka dengan caramu menatap dan berbicara padanya, seakan aku bukan siapa-siapa di dalam hidupmu!” Ujaran—yang nyaris seperti seruan—agaknya cukup untuk menarik perhatian empat-lima bangsawan di sekitar mereka. Gelas Lucian sudah kosong, menyisakan kotak-kotak es yang mulai mencar. Pria itu ingin mengabaikan keluhan Evangeline, namun ia tahu tunangannya tidak akan melupakan sesuatu yang membuatnya kesal. Entah mengapa Lucian bisa sangat bersabar menghadapi gadis ini. “Kurasa kau tidak suka ketika aku berkata bahwa kita bisa menikah hari ini juga.” “Anak-anak pun bisa mengatakannya dengan mudah.” “Aku bukan anak-anak, dan lagi, pernikahan bukanlah permainan.” Evangeline mengatupkan bibir, untuk sesaat ia tidak bisa berkutik. “Ada luka di matamu,” bisiknya, yang masih bisa tertangkap indra perungu Lucian. Lucian memejamkan mata saat violet Evangeline menembus kabut di kepalanya. Evangeline memegang kelemahan terbesarnya; ketakutan terbesarnya. Sejujurnya, sedikit menakutkan saat seorang gadis seolah membawa racun di tangan kiri dan madu di tangan kanan. Mereka seakan menawarkan kesepakatan. Bersikaplah manis kepadaku, maka aku akan memberimu madu. Bersikap buruk padaku, maka kau akan menerima racun. Tetapi, Evangeline jauh lebih cerdas dan berani dari gadis bangsawan yang hanya mengandalkan kecantikan dan status. Gadis itu memegang pedang emas di kedua tangannya. Pedang emas bermata tajam, yang siap membunuh Lucian kapan saja jika bibir manis itu bergerak mengatakan ketakutannya selama ini. Evangeline mengetahui rahasia yang berusaha Lucian tutup rapat-rapat. Gadis itu menjadi jauh lebih menakutkan dari musuh-musuh dalam selimut. Kalimat ada luka di matamu Evangeline lontarkan tiap kali Lucian menyebut soal pernikahan. Evangeline yakin mereka akan menikah suatu hari nanti, gadis itu yakin akan menyandang gelar marchioness di samping tiada gadis yang pantas menyandang status itu selain dirinya. Tapi, apa yang keluar dari mulutnya dan apa yang ia rasakan selalu berbeda. Keyakinan selalu dibarengi dengan keraguan. Di sisi lain, Evangeline dapat melihat luka di mata Lucian, namun di saat bersamaan ia tidak yakin akankah Lucian sanggup menjalani kehidupan pernikahan bersama monster di dalam dirinya. Dengan pemikiran itu, Evangeline ragu apakah mereka bisa menikah kelak. Ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang Lucian. “Aku ingin jalan-jalan di taman.” Langkah Evangeline terhenti begitu sadar Lucian mengikutinya dari belakang. “Sebentar saja Lucian. Tolong, tinggalkan aku sendiri.” “Kau bisa tersesat, Eva.” “Aku tidak akan masuk labirin. Aku janji.” Lucian memijit kening letih. Tak apakah membiarkan Evangeline berkeliaran tanpa didampingi? Duke Barten ada di sini, berada di bawah naungan yang sama dengan mereka. Suasana pesta yng tidak terlalu ramai memungkinkan Lucian mengawasi gadis itu dari radius sepuluh hingga dua puluh meter, namun Lucian tidak bisa mencegah pertemuan yang tak diinginkan seandainya mereka terpisah lebih dari delapan meter. Evangeline tidak boleh mencurigai kewaspadaannya di pesta tertutup ini. Mengangguk sekali, Lucian pun mundur selangkah. “Hanya lima menit, Eva. Ingatlah kebijaksanaanmu.” Tiada pilihan lain selain memberi Evangeline sedikit ruang untuk mendinginkan kepala. Duke Barten sedang berkumpul bersama anggota parlemen. Pria itu tidak mungkin sembrono mendekati tunangan orang lain di kandang singa, bukan? Evangeline tersenyum, menyelipkan anak rambut di balik telinga, lalu menekuk lutut sebelum pergi meninggalkan Lucian. “Kalau begitu, sampai jumpa lima menit lagi, My Lord.” o Persetan dengan janji tidak memasuki labirin, kenyataannya Evangeline terlalu terpukau oleh pesona kupu-kupu yang beterbangan di taman ini. Seekor kupu-kupu membawanya masuk ke dalam labirin, seolah menghipnotis, dan terbang entah ke mana ketika Evangeline mulai sadar dirinya tersesat. Evangeline mencoba mengingat dan mengambil jalan yang ialalui, namun, semua pemandangan dan jalan di labirin tampak sama. Labirin ini bagaikan dunia tak berujung kecuali seseorang menemukannya dan berbaik hati menunjukkan jalan keluar. “Rupanya kita sama-sama tersesat, Lady.” Tapi, bukan pria ini yang Evangeline inginkan. Dia Duke Barten, satu dari kelima duke yang paling sering berbuat ulah. Lucian menyebut sang duke sebagai pembuat onar dan seharusnya Evangeline jauh-jauh dari pria ini. Evangeline melengos, tak peduli bagaimana penilaian Duke Barten nanti. “Kau cukup angkuh untuk ukuran seorang pendatang, Lady Hernsberg. Kau ingat aku, bukan?” Ruford menyeringai tipis, membuntuti Evangeline Hernsberg sambil sesekali bersiul kecil. Ini adalah waktu yang tepat. Siapa sangka Marquess Carnold melonggarkan pengawasannya dan melepas tunangannya seorang diri? Padahal Ruford tahu betul dari gelagat sang marquess dan Duke Laundrell, mereka sangat mewanti-wanti dirinya melakukan sesuatu di pesta pertunangan Lady Ionna. Yah, menemui Lady Evangeline Hernsberg sebenarnya lebih berisiko dari menuangkan racun untuk membunuh keluarga Duke. Lagi-lagi ucapannya tak didengarkan. Ruford mengayunkan kaki lebih cepat, menghadang jalan gadis mungil itu. “Malam itu, sungguh memalukan kau melihatku hampir tewas di tangan Duke Laundrell. Dia pria yang tidak memiliki hati.” “Saya rasa Anda pantas mendapatkannya.” Kedua alis Ruford meninggi. Apa yang telah Marquess Carnold katakan kepada tunangannya? “Kau tentunya bukan orang yang bodoh, Lady Hernsberg. Apa kau tak mengacuhkanku karena omongan tunanganmu?” “Maaf saya mengatakan ini, tetapi saya tidak ingin terlibat dengan orang memalukan seperti Anda.” “Tidakkah itu terlalu kejam? Kita bahkan belum berkenalan.” Evangeline memperhatikan Ruford dari ujung kepala hingga ujung kaki. Benar, dia angkuh dan Evangeline ingin pria ini lenyap dari hadapannya. “Saya pergi dulu, My Lord. Terima kasih atas waktu Anda. Permisi.” “Sayang sekali padahal aku punya sedikit informasi tentang perjalanan Marquess Carnold ke Andasia. Apa kau ingin mendengarnya?" Dengan ini, Ruford berhasil menarik busur kemenangan atas Evangeline. Gadis itu berhenti tepat di sisinya, menatap lurus ke depan, memasang telinga setajam mungkin. Ekspresinya kini sulit ditebak. Ruford melampirkan senyum puas karena reaksi tak terduga ini. Kau pikir bisa terus mengabaikanku? "Jika kau berkenan, bisakah kita berbincang selagi menunggu tunanganmu tiba? Dia pasti sedang mencarimu. Kita punya waktu sepuluh menit bila terus berjalan ke depan, My Lady. Aku tidak akan melukaimu. Peganglah kata-kataku ini. Jadi, bagaimana?" oo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN