“Apa yang telah Marquess Carnold katakan tentangku?”
Evangeline berjalan sambil menumpuk tangan di depan. Gaun yang dikenakannya kini sangat berat dan mengembang. Kini ia bertanya-tanya mengapa dirinya bisa memilih gaun ini di katalog busana. Si perancang telah memeringatkannya akan aksesori dan bahan berat pada gaun cokelat susunya. Evangeline hanya ingin terlihat menakjubkan dengan gaun yang sedikit mengingatkannya pada mode di Andasia.
“Tidak banyak,” balas Evangeline singkat. Duke Barten berjalan di sampingnya dengan langkah santai. Omong-omong, berapa belokan lagi yang akan mereka lalui? “Anda sering membuat masalah di parlemen.”
“Sungguh memprihatikan. Jadi, begitukah anggapan orang-orang terhadap dirikuj?”
“Saya tidak ingin berkomentar.”
Jawaban yang ketus. Sekarang Ruford ragu apakah gadis penakut malam itu adalah orang yang sama dengan gadis bersurai hitam ini. Berbagai rumor tentang Lady Evangeline Hernsberg telah merebak bak aroma harum bunga di musim semi. Keberanian, kepercayaan diri, dan keteguhannya terhadap prinsip membuatnya disukai banyak orang. Akhir-akhir ini Ruford dengar sang lady memulai hubungan baik dengan saudara-saudara Marquess Carnold, dia bahkan menghadiri acara amal di Yayasan Perempuan milik bibi sang marques.
Lady Evangeline pandai sekali menarik hati dan simpati orang lain. Sulit bagi mereka untuk tidak menyukai Lady Evangeline yang cerdas dan cakap. Rencana yang bagus memulai segalanya dari Madame Dorothy. Apakah dia juga berniat mempersatukan keluarga Carnold yang tercerai-berai?
Ruford mengunyah manisan yang sempat ia comot sebelum pergi mengikuti Evangeline diam-diam. Kalung emas di lehernya saling bergesekan menimbulkan suara berisik. “Baiklah, aku tidak akan membuang waktumu lebih lama lagi, My Lady. Mari kita rahasiakan pertemuan ini. Bisakah kau melakukannya?”
Evangeline mengerem kaki, matanya memicing curiga. Nyanyian gerombolan burung yang melintasi angkasa terdengar merdu. Bayangan hewan-hewan bersayap itu melesat di atas Evangeline dan Ruford, menghalangi sinar matahari barang sejenak.
“Saya tidak dapat menjamin kecuali saya mendapatkan informasi yang berarti,” kata Evangeline tanpa basa-basi. Ia terbiasa menghadapi penjilat semacam Ruford ketika di Andasia. Count Hernsberg memiliki banyak bawahan yang bersedia menukar informasi dengan uang. “Jika informasi yang Anda ungkapkan hanya omong-kosong, saya tidak akan segan-segan mengatakan kebenarannya kepada Marquess.”
“Itu terserah kau. Pertimbangkanlah setelah mendengar ini dariku, My Lady.” Menghadapi gadis yang dimabuk cinta pada pasangannya memang sedikit merepotkan. Manik merah Ruford dalam misinya meyakinkan Evangeline yang balik menatapnya skeptis. “Kau ingat malam itu Duke Laundrell sangat marah hingga ia bisa membunuhku dengan menarik lidah atau menjatuhkanku dari balkon.”
Sekilas, Evangeline bergidik ngeri. Tubuhnya kaku, menarik lidah seseorang lebih mengerikan ketimbang menjatuhkan seseorang dari balkon. Beruntung Evangeline tidak melihat kelanjutan adegan itu. Bila ia sampai melihatnya, entah berapa lama ia akan dihantui mimpi buruk.
“His Grace tidak mungkin melakukannya tanpa alasan.”
“Maksudmu aku sengaja melemparkan diriku kepada maut?”
Evangeline terdiam. Sesungguhnya, dia tidak peduli pada permusuhan antar kedua duke. “Saya tidak berhak mengetahui apapun.”
“Meskipun itu ada hubungannya dengan Count Hernsberg, ayahmu?”
Seringai licik bertengger di kedua sudut bibir Ruford saat ekspresi angkuh Evangeline berubah dalam sepersekian sekon. Wajah gadis itu mendadak pucat pasi. Dia tampak kaget, syok ayahnya dibawa-bawa dalam kejadian malam itu. Sang lady tampak memroses sekaligus di mana letak sangkut-paut ayah dengan adegan pembunuhan Duke Barten. Dia sama sekali tidak mengerti.
Evangeline tersentak ketika Ruford menjentikkan jari di depannya. “Terpikirkan sesuatu, My Lady?”
“Tolong, katakan dengan jelas.” Evangeline merutuki suaranya yang bergetar.
Ruford menautkan jari di belakang kepala. “Ingat siapa pemilik kapal Aquamarine?”
Oh, bagaimana Evangeline bisa melupakan pelayaran pertamanya? Viscount Corton dan para awak kapal melayaninya dengan baik selama lima hari penuh. Kapal besar dengan tulisan Aquamarine melintasi lautan membawanya dari Andasia ke Gouvern. Walaupun pelayarannya tidak terlalu menyenangkan, Evangeline ingat betul bagaimana Viscount Corton memperlakukannya dengan tangan terbuka.
“Viscount Corton adalah salah satu bangsawan di bawah Duchy Barten. Waktu kau pingsan karena mabuk laut, dia berbicara dengan tunanganmu di ruangan lain, bukan?” Violet Evangeline berguling menangkap Ruford yang berjalan santai mengelilingi dirinya. Dengan sebelah alis terangkat dan nada persuasif, pria itu melanjutkan, “Dia itu orang yang payah, pengecut kelas teri. Dia memberikan layanan gratis kepada bangsawan tingkat atas agar mereka terkesan dan mau membuat kesepakatan dengannya. Lima tahun lalu, sang viscount gagal membujuk Marquess Carnold untuk menikahi Lady Eclotte, putrinya. Lalu tahun ini, dia membujuk sang marquess agar menjadi sponsor industri perkapalan miliknya. Dia butuh suntikan dana untuk pembuatan kapal baru.”
Evangeline mulai kebingungan. Dia tidak suka basa-basi, namun entah mengapa dia merasa harus mendengaran bualan Ruford Barten. “Sayang sekali Marquess Carnold menolak untuk yang ke sekian kalinya. Selain itu, coba tebak, topik apa yang mereka bicarakan di sana?”
Kulit leher Evangeline bergerak, menelan ludah. Ada ketegangan yang perlahan menyusup di antara mereka. “itu bukan urusan saya.”
Balasan ketus itu semakin melebarkan seringai Ruford. “Tujuan kedatangan Marquess Carnold ke Andasia, yang tentu saja tidak lepas dari fakta bahwa Ayahmulah incaran utamanya.” Bulu-kuduk Evangeline meremang begitu Ruford berhenti dan membisikkan kata-kata itu tepat di telinganya. Mata Evangeline melebar, bergetar hebat. Ia merinding dan seketika mencengkeram gaun hingga buku-buku jarinya memutih. Apakah ia bisa memercayai Ruford Barten?
Eangeline gamang. Ia ingin pergi dari tempat ini, tetapi kaki-kaki kurusnya terasa sulit digerakkan.
“Apa kau pernah dengar tentang alkohol terlarang?”
Dua kata terakhir sama sekali tidak asing. Tiada seorang pun di Andasia yang memiliki trauma terhadap perang tidak pernah mendengar frasa tersebut. Evangeline resah, sesuatu yang tidak nyaman seakan mengimpit dadanya dan ia hanya bisa terdiam sembari menanti dengan jantung berdebar kencang.
“Faktanya, Marquess Carnold melakukan sebuah kesepakatan rahasia dengan Yang Mulia Raja dan pergi sehari setelah malam debutan.” Ruford menggapai pundak Evangeline yang gemetar hebat, suatu tindakan menenangkan, juga mengintimidasi di saat yang bersamaan. “Lima tahun lalu, seorang penyebar rumor palsu, Joe Dansley, diekskusi karena terlibat dalam pencemaran nama baik keluarga Baron Rosette, kakak laki-laki mendiang Marchioness Carnold.” Mengeratkan cengkeramannya, Ruford lantas berdeham, “Nama itu tentu tidak asing bagimu. Kau bisa menanyakan detailnya pada Marquess Carnold, namun yang terpenting adalah Joe Dansley juga terlibat dalam pendistribusian ilegal alkohol terlarang di Gouvern. Darinya, kami mengetahui bahwa alkohol itu berasal dari Andasia.”
Oh tidak, apakah Gouvern akan menyatakan perang? Tapi, ada apa dengan Ayah? Ada apa dengan Ayah?
“Semua orang mengatakan bahwa Yang Mulia Raja menjebak Marquess Carnold di malam debutan sehingga ia setuju memasuki parlemen. Tiada yang tahu bagaimana isi kesepakatan mereka, termasuk Duke Laundrell, tangan kanan Raja. Yang kami tahu Marquess Carnold berangkat ke Andasia pada subuh hari dan kembali lima tahun kemudian dengan hasil penyelidikan selama di Andasia.”
Jemari Evangeline gemetar menepis tangan Ruford di pundaknya. Ia berlinang air mata, tak sanggup mendengar kenyataan bahwa Lucian memanfaatkan Ayahnya untuk melakukan penyelidikan—
“Kemungkinan itu lebih buruk, My Lady. Bagaimana bisa kau sepolos ini?”
Evangeline merasakan tubuhnya diputar secara paksa menghadap Ruford Barten. Ia dipenuhi tanda tanya, cemas, dan terpojok. Air mata berjatuhan dari pelupuk matanya dan ibu jari Ruford Barten dengan lembut menyapu buliran bening di pipinya. Evangeline menahan napas saat pria itu mendekat, meniup telinganya seduktif. Rasa geli bercampur jijik. Wewangian kuat yang memabukkan, serta shampoo beraroma pinus yang tidak disukainya menguar menggelitik penciuman Evangeline.
“Karena aku baik hati, pertama-tama maukah kau menjadi temanku? Aku ada di pihakmu dan kau sendirian di negeri ini. Setelah mendengar ini, kau akan merasa dunia tidak adil bagimu. Bahkan seseorang seperti Marquess Carnold pun bisa memakai cara kotor untuk mencapai tujuannya. Dia bukan pria baik-baik, Lady, begitu pula aku. Tetapi, setidaknya aku mengasihi para gadis sepertimu.”
“Langsung saja pada intinya, My Lord!” seru Evangeline, mendorong Ruford sekuat tenaga. Upayanya gagal karena tubuhnya bahkan tidak ada setengah dari tubuh besar Ruford Barten.
Ruford pura-pura terhuyung ke belakang, tersenyum puas. “Di ruangan itu, Viscount Corton membocorkan rahasia yang hanya diketahui para anggota parlemen demi mendapatkan sponsor sang marquess. Itu salahku, yah aku meracau saat kami minum bersama. Marquess Carnold pun menceritakan apa yang iadengar dari mulut Viscount Corton kepada sahabatnya lalu kau melihat aku hampir terbunuh malam itu.”
Evangeline berjalan mundur, Ruford melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. “Aku memberitahumu ini karena kau sungguh malang, My Lady. Ayahmu masuk ke dalam daftar kriminal internasional karena Greenpald merupakan wilayah terdekat dengan medan perang. Pertunangan kalian tidak berarti apapun bagi Marquess Carnold. Kau tidak cuma dimanfaatkan, tapi kau adalah anak seorang kriminal yang dicurigai sebagai pengedar alkohol terlarang di Andasia.”
Sentuhan terakhir, Ruford sengaja tidak mengutarakan bahwa Count Hernsberg telah tereliminasi dari daftar kriminal internasional. Ia menikmati reaksi Evangeline melebihi siapapun di dunia ini. Sembari menahan tawa, ia meraih helaian gelap gadis itu kemudian mendaratkan bibirnya di sana.
“Marquess Carnold pasti sangat berhati-hati supaya aku tidak bisa mendekatimu di pesta ini. Dan tahukah kau mengapa Duke Ollardio tidak terlihat? Itu karena dia pergi ke Andasia untuk menyerahkan daftar kriminal sebagai perwakilan Gouvern. Jika kau tidak segera bertindak, maka kau tidak akan bisa menyelamatkan Ayahmu, My Lady."
oo