Ionna terus memperhatikannya.
Lucian Carnold yang berdiri sendirian di dekat tangga, tidak begitu mendengarkan kasak-kusuk suara di sekitarnya. Ia tampak memandang pintu keluar labirin, seakan menunggu seseorang muncul dari dalam sana. Dengan kedua lengan bersilang di d**a, sang marquess mengembuskan napas panjang.
Dia pasti merasakan tatapan Ionna karena tiba-tiba menoleh dan balas menatapnya. Untuk sesaat, dunia seakan berhenti berputar. Semuanya gelap dan hanya mereka yang tersisa di antara kegelapan. Manik hijau sang marquess selalu sulit dibaca, namun, Ionna segera memutus kontak mata mereka sebelum ia menjadi goyah.
Sebastian tengah sibuk melayani para kerabat dengan guyonan yang tidak bisa ia mengerti. Penerus Duke Magnolia itu berbeda dengan Lucian yang tidak suka bercanda. Samar-samar dapat Ionna dengar cerita Sebastian tentang kisahnya di medan perang. Ionna sadar selama ini dirinya tidak mengetahui apapun, pun tidak berusaha mencari tahu apa saja hal-hal yang disukai dan tidak disukai Sebastian.
Ionna terlalu memikirkan Lucian. Tak sesentipun ruangan di dalam kepalanya tersisa untuk Sebastian. Bahkan di pesta yang diadakan untuk merayakan pertunangannya, sosok Lucian tetap saja merenggut seluruh atensinya.
Ketika ia berdansa dengan Sebastian, ia membayangkan kehangatan Lucian lima tahun lalu. Jatuh dalam dekapannya ketika mereka melakukan bergerak memutar, pagutan jemari yang dibalut sarung tangan putih, serta bagaimana pria itu menatapnya selama dansa singkat mereka. Itu adalah kenangan yang cukup berkesan. Dansa pertama dan terakhirnya dengan Lucian, setidaknya pernah terjadi sekali seumur hidup.
Lalu, Lady Evangeline di sana untuk meruntuhkan momen di antara mereka.
Ionna tersentak, memicingkan mata menemukan sang lady berwajah sepucat mayat. Darah meninggalkan wajahnya, bibirnya bergetar, dan itu diperburuk oleh air mata yang meluncur dari pelupuk matanya. Beruntung hanya Ionna yang menyadari pemandangan itu. Lady Evangeline pun memeluk Lucian, terisak pelan di dadanya. Lucian terlihat bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Bukan hal yang baru lagi bila Lucian tidak dapat melakukan sesuatu ketika seorang gadis menangis di depannya. Pria itu selalu menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang kaku, tidak seperti Ansel yang mempunyai seribu satu cara untuk meredakan tangisan seorang gadis. Ionna memalingkan muka saat hatinya merasa sakit untuk melihat adegan itu lebih lama. Ia berjalan lesu ke arah Sebastian, menyematkan jemari mungil di antara jari-jari panjang tunangannya, menebarkan senyum kepada para kerabat yang mengelilingi mereka.
Pesta ini tidak dibuat untuk membuatnya sengsara.
o
Evangeline menatap kosong pemandangan di luar kereta kuda. Gadis itu bersandar di bahu Lucian dengan tubuh lemas tak bertenaga. Air mata telah mengering dan ia merasa lelah mencerna segala sesuatunya sekaligus.
Semua pernyataan Duke Barten, keterlibatan ayahnya dengan alkohol terlarang, dan kenyataan bahwa Lucian menusuknya dari belakang, Evangeline tidak yakin bagaimana dirinya harus bereaksi. Yang bisa ialakukan hanyalah menangis dan menangis di sepanjang perjalanan pulang.
Lucian juga tidak berusaha mencarinya. Pria itu malah bertukar pandang dengan kekasih hatinya dan melupakan Evangeline dalam sekejap.
Sungguh ironi. Takdir yang menyedihkan. Bahkan lebih menyedihkan dari cinta tak berbalas yang masih bisa Evangeline atasi. Kini, Evangeline mulai mempertanyakan siapa yang akan ia percayai. Lucian, Duke Barten, ataukah dirinya sendiri?
Evangeline tidak tahu banyak mengenai alkohol terlarang. Tetapi, bertahun-tahun lalu seorang pelayan kepergok menyembunyikan sebuah botol bergambar tengkorak di gudang penyimpanan anggur. Gudang penyimpanan anggur itu kemudian disulap menjadi sebuah ruangan kosong sebelum dijadikan ruang kerja sementara Lucian selama di Greenpald. Evangeline tidak sadar akan penyelidikan rahasia Lucian, pria itu sama sekali tidak kelihatan mencurigakan. Jika Lucian memang menyelidiki alkohol terlarang secara diam-diam, Evangeline bertanya-tanya sudah sejauh mana indormasi yang dia dapatkan selama lima tahun terakhir.
Sesampainya di rumah, Evangeline akan menulis surat untuk sang ayah dan memperingatkan kedatangan Duke Ollardio di Andasia. Situasinya menjadi buruk dan semakin memburuk saja.
“Lucian.” Evangeline menelan ludah, memberanikan diri bertanya dengan suara sumbang. “Lucian, seberapa besar aku bisa memercayaimu?”
“Percaya atau tidak adalah pilihanmu, Eva.”
Jawaban yang sederhana, disampaikan dengan ketenangan seperti biasa. Lucian melirik gadis yang menidurkan kepala di pundaknya, dengan lembut membenarkan posisi gadis itu agar tidak merasa pegal. Satu pertanyaan lain menghentikan gerakannya.
“Kenapa kau tidak berusaha meyakinkanku?”
Lucian melanjutkan kegiatannya kemudian duduk menempelkan punggung pada sandaran kursi yang empuk. “Apakah aku memiliki hak untuk menentukan pilihanmu?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, giliran aku bertanya. Kenapa kau menanyakan hal ini?”
Sebutir air mata jatuh, Evangeline menggigit bibir bawahnya yang bergetar, menahan isakannya keluar. “Sama sepertimu. Aku juga tidak mau menjawabnya. Dasar kau pria sombong berhati dingin.”
“Aku sudah sering mendengar pujian itu darimu, My Lady. Ada keluhan lain?”
Evangeline menggeleng pelan lantas memeluk lengan Lucian erat, merasakan otot-otot keras yang tersembunyi di bawah lapisan pakaian. “Maafkan aku, aku mengalami siklus bulanan yang tidak stabil akhir-akhir ini. Aku tidak suka ketika siklus bulanan mengacaukan suasana hatiku. Aku marah karena tersesat di labirin dan kau tidak datang untukku.”
“Aku berniat mencarimu, Evangeline.”
“Tapi, sudah lebih dari lima menit aku menghilang. Apa kau tidak peduli padaku?”
“Aku tidak perlu menegaskannya padamu. Kau mengetahui jawabannya dengan sangat baik.”
Bohong. Evangeline tidak menyangka Lucian bisa berbohong juga.
“Luce, bisakah kau mengatakan sesuatu yang dapat membuatku merasa lebih baik? Biasanya seorang pria akan berkata aku mencintaimu kepada kekasihnya, namun kita bukan pasangan kekasih yang saling mencintai. Aku menyesal karena kita selalu bertengkar. Maafkan aku.”
Alih-alih menggunakan kata-kata, Lucian memilih menggunakan bibirnya untuk membuat Evangeline merasa lebih baik. Itu adalah ciuman yang singkat. Berlangsung sebentar dan terasa hambar. Lucian melepas tautan bibir mereka sebelum membiarkan Evangeline berhambur memeluknya, menangis sekencang-kencangnya di dalam kereta.
“Terima kasih.”
Lucian mengangguk tanpa sadar. Manik hijaunya berkilat di bawah tempaan sinar matahari mengingat siapa orang yang menampakkan diri dengan senyum angkuh di pintu keluar labirin.
Ruford Barten.
Pria itu pasti telah memprovokasi Evangeline. Lucian tidak bisa berbuat apapun, termasuk menghajar Ruford dan menghancurkan pesta pertunangan Lady Ionna Laundrell. Ia juga tidak bisa memberitahu Ansel saat Evangeline ada di sampingnya. Lucian telah gagal melaksanakan perintah sahabatnya dan kini ia hanya bisa meneladeni tangisan Evangeline akibat perbuatan Ruford.
Mungkin Ruford Barten memiliki sembilan nyawa sehingga ia berani menentang parlemen dan mengancam Ansel dengan memperalat seorang lady yang tidak berdaya. Lucian akan segera menyelesaikan urusannya dengan Evangeline dan melapor setelah pestanya selesai. Otaknya harus bekerja dua kali lebih keras memikirkan cara agar Evangeline yang mulai ragu supaya tidak memercayai ucapan Ruford.
oo