56. Before The Storm

1749 Kata
Keesokan harinya, Ionna mengantar kepulangan keluarga Duke Magnolia. Mereka sudah cukup lama di duchy Laundrell dan kini tiba saatnya mereka pulang.Dengan berat hati Ionna melepas tangan Sebastian yang berdiri di depan pintu kereta kuda. Duke dan Duchess Magnolia saling bertukar salam dengan ibunya, sementara sang kakak terlihat memaksakan diri menghibur Lady Yasmin yang menangis. Yah, mereka menjadi dekat selama kurang dari sepekan. Ansel sering bermain dengan Lady cilik itu di waktu senggang. Katanya, sifat Lady Yasmin yang ceria mengingatkan Ansel pada Ionna kecil. “Apa kalian bertengkar lagi?” tanya Sebastian yang ikut memperhatikan raut wajah Ansel. Ada kerutan dalam di keningnya. Ionna tergelak. “Apa menurutmu kami bertengkar setiap saat? Baru kemarin amarah Kakak mereda. Kami bahkan tidak bercakap setelah pesta.” “Lalu, ada apa?” “Entahlah.” Ionna mengedikkan bahu, tersenyum saat Lady Yasmin memeluk kakaknya. “Mungkin dia sedih karena berpisah dengan adikmu.” “Apa kau juga sedih berpisah dengan kami? Denganku?” Pertanyan Sebastian terdengar menggelikan. Ionna menoleh dan mendapati tunangannya merona. Warna merah dan kulit tannya begitu kontras sehingga Duke Magnolia tertawa keras. “Kita akan bertemu di pesta pembentukan negara bulan depan. Kau seperti akan menangis, Sev. Imut sekali.” Sebastian menutup wajah dengan telapak tangannya yang besar. Kini semua orang menertawakannya. Ah, dia bisa gila. “Aku akan menulis surat untukmu setiap hari.” “Sayang sekali suratnya selalu datang tiga hari kemudian.” “Bahkan perjalanan dari duchy Magnolia ke duchy Laundrell hanya memakan waktu satu setengah hari. Kenapa surat lebih lama sampai?” “Mari kita gunakan merpati pos.” “Akan lebih cepat dengan elang. Aku punya kenalan yang melatih elang pembawa surat. Elangnya tidak akan melukaimu, Ma Chere.” Anggukan Ionna menyetujui usulan Sebastian. Gadis itu pun menggapai jemari Sebastian lalu menggenggamnya erat. Ekspresinya berubah sedih, mereka sempat berpelukan lama sebelum Ansel menarik lengan adiknya tanpa ampun. Kekesalan pria itu telah naik ke puncak, tak terima adik perempuannya di peluk sembarangan. Benar-benar kakak yang posesif. “Kukembalikan adikmu, kaukembalikan adikku.” Ia menamengi Ionna seakan Sebastian berniat memakan adiknya hidup-hidup. Sebastian menggaruk tengkuk canggung. Astaga, calon kakak iparnya sungguh kekanakan. Ansel melanjutkan perkataannya dengan nada mencemooh, “Dan apa-apaan panggilan menjijikkan itu? Ma Chere? Dari mana kau memelajarinya?” “Tepatnya, dari siapa.” Senyum dan tatapan jahil Sebastian membuat Ansel meneguk ludah. Sialan. Mendadak ia ingat apa yang pernah ia ajari pada Juniornya yang polos ini di akademi. “Tentu saja dari Senior. Siapa lagi yang akan memanggil seluruh lady di akademi dengan panggilan seperti itu? Cuma Senior yang bisa melakukannya.” “A-apa? Siapa? Ionna, jangan dengarkan dia!” Dengan secepat kilat, Ansel menutup kedua telinga Ionna, mencegah gadis itu mendengar lebih jauh. “Itu semua omong kosong!” “Yah, pokonya Senior memberikan panggilan sayang kepada satu-persatu lady dulu. Aku masih ingat dengan jelas siapa saja lady yang sering mengikuti Senior, salah satunya—” “Baiklah, berhenti membahas masa lalu.” Ionna menangkis tangan Ansel yang lama-kelamaan menyakiti telinganya yang beranting berat. Ia menatap kakaknya penuh peringatan, maju selangkah, dan sekali lagi, memeluk Sebastian. Ia memejamkan mata merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Sebastian selalu memperlakukannya bak tuan putri. “Hati-hati di jalan.” Sebastian tersenyum simpul kemudian mencium punggung tangannya. “Aku akan merindukanmu. Berjanjilah setelah pesta pembentukan negara, kau akan mengunjungi Magnolia bersama keluargamu.” Manik emas Sebastian menyebar kepada lima manusia dibelakang Ionna. Duchess Laundrell mengangguk, disusul Ansel yang mendecih sebal. “Kudengar, setiap musim panas keluarga Laundrell akan berlibur ke duchy Magnolia, namun sudah lama sejak kalian pergi.” “Kami tidak pergi kemanapun sejak Papa meninggal.” “Aku mengerti. Kami akan berpamitan kepada mendiang Duke sebelum berangkat.” Secara bergantian, Duke dan Duchess Magnolia memasuki kereta kuda, begitu pula dengan Lady Yasmin. Ionna memberikan sapu tangan putihnya dan Sebastian menerimanya dengan cinta. Mereka akhirnya menjauh, berat saling melepaskan satu sama-lain. Saat kusir menyentakkan tali kekang, roda kereta perlahan berputar. Kereta kuda hitam milik keluarga Magnolia pun berjalan meninggalkan halaman kediaman Laundrell, melewati pintu gerbang yang terbuka lebar, seolah mengucapkan perpisahan kepada keluarga Laundrell. Ionna menatap kosong kepergian tunangannya hingga kotak hitam yang mereka tumpangi menghilang di ujung pandang. Keseharian menyedihkan tanpa Sebastian pun kembali dimulai. “Terima kasih telah memberiku waktu yang menyenangkan, My Lord.” o Ansel melirik Ionna sekilas, berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Semua orang di halaman depan tak terkecuali Ionna dan sang duchess dibuat heran . Ionna pun mengangkat gaun, mengejar Ansel secepat yang ia bisa. Meraih siku pria itu, ia menghentikan langkah kakaknya yang tergesa. “Katakan padaku. Apa kau marah padaku?” Ansel menatap tangan mungil Ionna yang melingkari lengan besarnya. Dulu, jangankan menanyakan perasaannya, Ionna bahkan tidak akan mengejarnya seperti tadi. Tampaknya, pertengkaran mereka tempo hari membawa efek yang bagus. Apa Ionna takut membuat dirinya kecewa lagi? “Aku tidak marah, aku hanya sedang kesal, Ionna,” ujarnya seraya berputar menghadap sang adik. “Aku punya masalah yang harus diselesaikan. Maaf karena membuatmu khawatir.” Duchess Laundrell menghampiri mereka dengan alis bertaut. “Ada apa?” “Tidak ada, Mama.” Secara otomatis Ionna mundur selangkah. Ia menunduk, berdiri di samping ibunya. Ia ingat tak seharusnya berbicara dan bertingkah akrab di depan sang duchess. Ibunya selalu tidak suka saat Ionna melupakan tata kramanya. “Saya bereaksi berlebihan karena sepertinya suasana hati Kakak tidak baik.” “Ingatlah bahwa para tetua belum pergi dari kediaman ini,” tukas Duchess Laundrell angkuh. Ansel dan Ionna dapat merasakan kepuasan sang ibu melalui manik cokelatnya yang berbinar cerah. Tidak biasa wanita empat puluh tahunan itu akan tersenyum di bawah sinar mentari pagi. Musim panas dan pertunangan Ionna agaknya mencairkan sedikit es di kutub hati Duchess Laundrell. “Kalau begitu, Ionna, tunggu apa lagi. Untuk apa kita di sini?” “Saya ingin berbincang sebentar dengan Kakak.” “Dan melewatkan teh pagi bersama para kerabat? Mereka sedang menunggu kita, Ionna.” Dengan kebanggan dan kepercayaan diri di pundaknya, Duchess Laundrell berjalan mendahului kedua anaknya. “Biarkan Kakakmu mengurus urusannya sendiri. Tugas kita adalah melayani para tetua dan kerabat. Jangan buat tamu menunggu.” Diam-diam Ionna mengembuskan napas berat. “Baik, Mama.” Sepeninggal ibu dan adiknya, juga pelayan dan kesatria yang mengekori mereka, Ansel mengambil sebuah kerikil dan melemparkannya ke salah satu pohon. Bunyi tuk kerikil yang mengenai pohon memberi kode seseorang yang sedari tadi bersembunyi di sana. Ansel bersedekap saat Lucian muncul, melompati tanaman yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Warna emas surai pria itu berkilauan dengan bulir-bulir keringan di wajah lelahnya. “Kau sampai mengirim Komandan Trops semalam. Kupikir dia pembunuh karena menyamar.” Lucian memandang pintu depan yang ditutup kemudian berujar, “Itu masalahmu yang memiliki banyak musuh. Asal kau tahu, masalah Ruford Barten lebih serius dibanding pembunuh bayaran di kamarmu.” “Sialan. Orang sepertiku tidak akan mati begitu saja.” Semalam, Lucian sengaja mengirimkan Komandan Trops untuk menyampaikan pesannya. Ia tidak bisa menemui Ansel selagi mengawasi apa yang selanjutnya dilakukan Evangeline. Kenyataannya, gadis itu langsung tertidur begitu mereka sampai di kediaman Carnold. Evangeline tidak ingin makan malam dan meminta Lucian menemaninya semalam suntuk. Dengan begini, Evangeline berhasil mengulur waktu bagi Lucian untuk melapor pada Ansel. Hal itulah yang menyebabkan Ansel bertampang masam di depan keluarga calon besannya. Masih beruntung pria itu tidak langsung memacu kudanya dan menghunuskan pedang ke d**a Duke Barten setelah membaca suratnya. Ansel tentunya tidak ingin sisa hari pertunangan Lady Ionna menjadi ajang pertumpahan darah. Pria itu ternyata masih memikirkan pandangan sang adik terhadap dirinya. “Jadi, apa yang akan kita lakukan?” tanya Lucian, memastikan pendapat Ansel walau jawabannya sudah bisa ditebak. Ansel tersenyum miring, sebelah alisnya terangkat naik. “Ralat, maksudmu apa yang akan kau lakukan, bukan? Tunanganmu jelas telah mendengar sesuatu dari mulut kutu busuk itu.” “Aku akan memblokir seluruh akses Lady Evangeline ke Andasia. Entah itu surat, utusan, ataupun pelayaran malam,” balas Lucian, menghitung berapa banyaknya jam yang ia habiskan untuk berkoordinasi dengan Komandan Trops. Ia terpaksa memberitahukan penyelidikan rahasia Robert di Andasia kepada orang-orangnya. “Sementara ini, jangan lakukan apapun yang dapat menambah kecurigaan Lady Evangeline.” “Kau terlalu lembut, Luce,” komentar Ansel sinis, “Jika itu aku, mungkin aku sudah membawanya ke meja interogasi. Tak peduli pria atau wanita, aku akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama.” “Tapi, kau dan aku berbeda, Kawan. Bagaimanapun, Lady Evangeline adalah orang yang berharga. Aku telah berjanji pada Count danCountess Hernsberg untuk menjaganya.” “Aku benci pria lembut sepertimu, Teman Sialan.” Yeah, Lucian sudah terbiasan mendengar hinaan itu dari sahabatnya. “Dan lagi, sampai kapan kita terus menunggu? Luce, kau tahu bahwa kita tidak punya banyak waktu, sedangkan sang lady telah mengetahui sebagian kebenarannya.” “Dengar, kau tidak boleh mengancam Duke Barten.” “Apa kau menyuruhku untuk bersabar dan menyaksikan orang sombong itu tertawa di atas kesulitan kita? Tidak. Jangan bodoh.” “Sejak awal kau telah mengira akan upaya balas dendam Duke Barten. Bukan tanpa alasan kau memberiku peringatan sebelum pesta, Ansel. Aku ini sahabatmu dan aku memahami dirimu dengan sangat baik.” Ansel merasa kalah bermain catur. Dalam permainan catur, Ansel adalah yang terpayah dari yang terpayah dan Lucian adalah pemenang teratasnya. Lucian selalu bisa membungkam mulut Ansel dan mengalahkannya dalam permainan catur maupun ketika mereka beradu argumen. Dan tiba-tiba, Ansel menyadari sesuatu. Sebelumnya, dirinyalah yang meminta Lucian agar menjaga Lady Evangeline Hernsberg dari Ruford Barten. Ansel menyadari mengapa ia begitu khawatir karena harus menahan diri sepanjang pesta. Alih-alih mengawasi Ruford Barten, ia memilih menyerahkan segalanya kepada Lucian. Karena Ionna di sana, Ansel tidak bisa mendekati Ruford dengan kakinya sendiri. Ia ingin Ionna merasa keberadaan Ruford bukan lagi ancaman baginya. Ansel ingin Ionna berpikir kakaknya telah membereskan masalah surat tujuh tahun silam, membuat Ruford jerah dan tidak akan mengulanginya lagi. Ansel hanya ingin adik perempuannya hidup dalam ketenangan setelah masa-masa sulit yang gadis itu lalui. Akan tetapi, Ansel tidak menyangka kecerobohannya justru menimbulkan masalah baru. Ansel mengacak-acak helaian legamnya hingga berantakan, mendengus keras. “Aku bahagia ketika adikku bahagia, Luce. Aku lega karena dia menikmati pestanya kemarin. Aku sangat berterima kasih kepadamu.” Lucian terdiam, tahu betul perasaan Ansel untuk sang lady, namun sekarang bukan saatnya mendramatisir keadaan. “Aku akan menunggu laporan Robert dan Louis. Jangan lakukan apapun yang dapat memicu keangkuhan Duke Barten. Jika dia bisa mendekati Lady Evangeline, bukan hal mustahil dia bisa menyerang seseorang yang paling berharga bagimu. Anggap saja ini adalah ketenangan sebelum badai. Kita akan bergerak saat waktunya tiba. Apa kau mengerti, Duke?” oo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN