57. Little Incident (2)

1420 Kata
Ayah, maafkan saya karena tidak memberi salam pembuka yang benar. Saya tidak mengerti bagaimana harus memulainya, tetapi situasinya benar-benar gawat. Di Gouvern, saya hidup dengan sangat baik hingga tidak menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Marques Carnold. Baru-baru ini kami menghadiri pesta pertunangan Lord Sebastian Magnolia dan Lady Ionna Laundrell. Saya bertemu dengan seorang duke yang mengungkapkan rahasia Marquess Carnold selama beliau di Andasia. Ayah, saya harap Ayah berhati-hati. Saya juga berharap Ayah tidak ada hubungannya dengan alkohol terlarang yang dulu sempat menjadi penyebab kejahatan terbesar di Andasia. Selama lima tahun di Andasia, Marquess Carnold tidak hanya bertugas menyalurkan bantuan dari Gouvern, melainkan juga menyelidiki asal-usul dan orang-orang yang terlibat dalam pengedaran minuman itu. Sebagai hasil penyelidikannya, Marquess Carnold menemukan bukti bahwa Ayah terlibat. Saya belum tahu pasti apa buktinya, namun saya janji akan segera menghancurkannya untuk melindungi Ayah. Ayah, saat ini nama Ayah telah tercatat dalam daftar kriminal internasional dan Duke Ollardio pergi ke Andasia untuk melaporkannya kepada Yang Mulia Raja. Saya tidak ingin terjadi apapun kepada Ayah dan Ibu, jadi saya menuliskan surat ini untuk memperingatkan kalian. Saya akan mengirim surat lain saat waktunya tiba. Jaga diri kalian baik-baik. Salam, Evangeline Hari demi hari datang silih berganti. Evangeline bertanya-tanya apakah surat yang ia tulis telah sampai di tangan sang ayah. Ia mengirimkan surat itu bersama tumpukan hadiah agar tidak dicurigai. Ia percaya Lucian tidak akan menanyakan apapun bila tujuan hadiah itu mengarah kepada ayahnya. Lagipula, Lucian juga tidak akan peduli pada urusan pribadinya. Sejak tadi, Evangeline mondar-mandir di depan meja rias. Kukunya yang baru selesai dicat terkelupas, rusak karena digigit. Sebenarnya bukan hari ini saja Evangeline merasa gelisah dan melakukan hal yang berulang selama lima hari terakhir. Setiap hari semenjak ia mendengar pernyataan Duke Barten tentang penyelidikan Lucian, ia mulai meragu. Seumur hidup dirinya tidak pernah merasa sebodoh ini. Evangeline telah dibutakan oleh cintanya pada Lucian dan menutup mata atas apa yang pria itu lakukan di belakangnya. Lucian merupakan pria yang cerdik, pun takkalah cerdik dari otak yang dimiliki Evangeline. Itulah mengapa Lucian dapat menutupi penyelidikannya dengan baik. Lima tahun mereka bersama, tinggal di atap yang sama, dan nyaris bersama-sama sepanjang hari, tak sekalipun Evangeline menemukan hal yang mengganjal dari gerak-gerik Lucian. Sesaat Evangeline lupa bahwa tunangannya adalah seorang marquess yang ahli dalam melakukan pencarian. Menjatuhkan diri di atas kursi rias, Evangeline duduk mengusap wajah dengan gusar. Benar. Sampai sekarang Evangeline tidak habis pikir mengapa Luian membawanya ke Gouvern, sarang musuh, alih-alih memutuskan pertunangan mereka begitu penyelidikannya selesai. Apakah Lucian ingin menginterogasi Evangeline dan membuatnya menjadi sandera seandainya sang ayah menyanggah bukti yang ditemukan? Apakah Lucian akan membuang Evangeline apabila ia tidak diperlukan lagi? Jika itu yang memang Lucian rencanakan, maka Evangeline tidak boleh membiarkannya. “Tetapi, bagaimana caraku melakukannya?” Evangeline memutar otaknya yang penat. Ia lelah terus-terusan di hadapkan pada jalan buntu. Ia sendirian di sini dan ia masih belum bisa menjawab pertanyaan tentang motif terselubung Duke Barten. Pria itu tidak mungkin mengulurkan tangannya begitu saja. Pasti ada motif lain, entah itu berhubungan dengan balas dendam terhadap seseorang atau demi keuntungan pribadi. Evangeline tidak mau dirugikan oleh parasit yang memasang topeng di wajah jeleknya. “Hanya waktu yang bisa menjawab apakah ayah ada kaitannya dengan alkohol terlarang.” Akhirnya, Evangeline mengambil kesimpulan. Ia membuka tutup lipstik dan memoles ulang bibir ranumnya dengan warna merah gelap. Violetnya yang bergetar kembali tenang dan ia mengatur ekspresinya sedemikian rupa sebelum memutuskan menemui Lucian entah di mana. “Yang terpenting adalah mencari tahu seperti apa barang buktinya sambil memikirkan solusi untuk masalah ini.” o “Setelah menghirup udara di pasar kota, rasanya aku kembali hidup.” Ionna melompat-lompat kecil di atas sepatu kulit berhak pendek. Ujung jubah yang ia kenakan menari-nari seirama dengan gerakan lompatan. Hari ini ibu dan kakaknya tidak ada di rumah. Mempersiapkan pesta puncak di musim panas bulan depan akan menjadi kesibukan mereka sampai bulan depan. Ionna hanya perlu melakukan pengukuran busana dan membeli beberapa keperluan untuk perjalanan di ibu kota. Pesta pembentukan negara sudah di depan mata, dan ia akan bertemu dengan Sebastian lagi sebelum mengunjungi duchy Magnolia setelah sekian tahun. “Sudah lama aku tidak menginjak pasir putih dan menguburkan kakiku di air laut, sejujurnya aku hampir lupa bagaimana sensasinya,” kata Ionna riang, tersenyum cerah sambil merangkul lengan Annie. Annie dan Raphael saling bertukar senyum. Orang-orang kota mulai sibuk mempersiapkan festival besar-besaran untuk menyambut datangnya hari peringatan pembentukan negara. Jika orang-orang dari duchy Laundrell sudah seheboh ini, bagaimana jadinya orang-orang di ibukota? “Ivory terlalu gembira, Ralph.” Annie merasakan telinganya tergelitik saat mulutnya menyebut nama penyamaran mereka. “Yang kutunggu adalah ribuan lentera di langit malam saat malam perayaan. Itu akan menjadi pemandangan yang indah.” “Ah, betul juga. Kita juga bisa menyampaikan permohonan ketika lentera diterbangkan.” Suara Ionna menciut di akhir kalimat. Mendadak, ia teringat pada delapan ratus kertas permohonan yang ia bakar. Kertas permohonan yang ia tulis dengan penuh ketulusan dan doa, kertas permohonan yang seharusnya dilipat menyerupai bentuk bangau. Ionna tertawa miris mengingat betapa kekanakan dirinya berharap kepada sesuatu yang mustahil. “Tetapi, aku tidak memiliki hal lain yang kuinginkan. Aku sudah merasa cukup dengan yang kuterima sekarang. Bagaimana dengan kalian?” Annie tidak bisa menjawab. Bibirnya seakan terkunci dengan sendirinya. Sementara itu, Raphael yang tidak ingin suasana hati sang lady memburuk menimpali, “Saudara-saudara perempuan saya selalu memaksa saya menyaksikan lentera terbang di beranda rumah. Padahal saya lebih suka tidur.” Ia mengernyit ketika Annie mendaratkan cubitan kecil di perutnya. Raphael sulit sekali diajak bekerja sama jika itu ada hubungannya dengan keluar dari peran masing-masing. “Maksud saya—tidak, maksudnya aku. Sejujurnya, aku tidak memikirkan permohonan apapun dan malah ingin segera melanjutkan tidur.” Ionna tergelak. Awan mendung di wajahnya menghilang dalam sekejap. “Yah, aku heran kenapa kau bisa betah begadang selama berhari-hari, Ralph. Apa kau tidur seharian saat libur?” “Ya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu tidur yang ada.” Mereka pun melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, Annie dan Raphael akan mengekori ke manapun sang lady pergi, meski terkadang Ionna akan menyuruh mereka membeli barang yang sebenarnya tidak berguna maupun makanan ringan. Ionna pun tidak ketinggalan memainkan permainan berhadiah di toko-toko setempat. Dirinya yang tidak pernah memegang panah terkejut mendapatkan sebuah boneka raksasa dalam sekali tarikan. Ionna mengasihani Raphael yang kesulitan membawa barang bawaan mereka sehingga ia membantu pria itu menggendong boneka beruang cokelat di pelukan. “Dia lembut sekali,” gumam Ionna, menggesek-gesekkan pipi ke perut boneka yang empuk. “Aku bosan dengan boneka porselen berbentuk bayi manusia di rumah. Di malam hari, mereka terlihat menyeramkan.” “Kau harus memberinya nama.” Annie menyahut. Mereka berhenti di kedai minuman ringan, menunggu Raphael mengantre membawakan jus untuk mereka. “Anak-anak biasanya memberi boneka pemberian orang tua mereka nama. Apa kau terpikirkan sebuah nama yang bagus?” Aquamarine Ionna berguling ke kanan dan kiri. “Terlalu cepat memutuskan bukan, Anne?” Ia mengedikkan bahu tanda menyerah. “Bagaimanapun juga, boneka ini merupakan benda pertama yang kudapatkan atas jerih payahku sendiri. Terima kasih telah mengizinkanku jalan-jalan di pasar kota. Kalian adalah temanku yang terbaik.” Kedua manik cokelat Annie tiba-tiba diselubungi kaca. Ionna mengerjap cepat, panik mengapa pelayan pribadinya menangis tanpa sebab. Sembari menyerahkan boneka ke pelukan Annie, buru-buru Ionna merogoh seluruh saku di pakaian dan jubah untuk mencari sapu tangan. Cairan bening telah menganak sungai di pipi Annie. Ia menangis sambil memeluk boneka beruang Ionna seperti anak hilang. Begitu mendapatkannya, Ionna pun mengeluarkan sapu tangan itu dan menghapus jejak-jejak air mata Annie. “Ssshh, diamlah. Jangan bergerak atau tudung jubahmu akan terbuka. Penyamaran kita bisa terbongkar, Anne.” Ionna mencondongkan tubuh ke depan, menyeka air mata Annie dengan telaten. Di tengah-tengah ramainya lautan manusia di pasar kota, orang-orang yang tergesa-gesa berulang kali menabrak dan menyenggol tubuh mungil mereka. “Ugh, sepertinya kita harus menepi. Orang-orang di sini sangat agersif. Ayo, Anne, kita berdiri di samping kedai dan menunggu Raplh di san—” Sebelum Ionna sempat menyelesaikan kalimatnya, seseorang dengan tubuh tinggi, mengenakan jubah hitam yang tampaknya terbuat dari kain mahal membenturkan lengan ke bahu Ionna yang langsung terjatuh ke belakang. Annie membekap mulut, berteriak panik sehingga mereka menjadi pusat perhatian. Mengaduh kesakitan, Ionna pun mendongak untuk mengetahui siapa gerangan orang yang telah membuatnya malu di depan umum. Mata merah menyala di bawah gelapnya tudung jubah, wewangian tajam yang Ionna yakini hanya bisa dibeli oleh orang-orang dari kalangan atas, dan tatapan mengerikannya; Ionna bergidik ngeri. Pria itu, pria itu bukankah dia Ruford Barten? Kenapa dia masih ada di duchy Laundrell? Dan apa yang dia lakukan di sini? “D-duke Barten?” o
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN