58. Keberuntungan

1048 Kata
Ionna mencicit seperti tikus di dalam got. Ia menemukan dirinya mematung, sementara bayangan orang itu menimpa dirinya bak kegelapan malam. Ionna berdoa semoga orang yang ia sangka sebagai Duke Barten tersebut tidak menyadari penyamarannya. Alih-alih memalingkan muka dan menarik tudung jubah ke bawah, Ionna malah terpaku membalas tatapan mata merah itu. Ia mengenali mata merah itu, kali pertama di pesta debutan dan kesekian kali di pesta pertunangan. Saat itu ada Lucian dan Sebastian yang menemaninya, sedangkan kini Raphael sedang mengantre di barisan kedai minuman dan hanya tersisa dirinya dan Annie. “Duke Barten?” ucap Ionna sekali lagi, menemukan suaranya sepelan helaan napas. Orang itu tiba-tiba membungkuk, mengulurkan tangan. Ionna merasa berat untuk sekadar mengangkat tangan dan menerima bantuan orang itu. “Apa kau baik-baik saja, Miss?” “Ivory!” Annie yang telah tersadar dari kepanikan segera membantu nonanya berdiri dan membersihkan jubahnya yang kotor. Orang itu kembali menarik tangannya ke balik jubah saat tiba-tiba Raphael muncul dan memasang badan di depan Ionna. Tak peduli pada keramaian pasar yang terpusat pada mereka, manik abu-abu Raphael berkilat tajam, setajam ujung belati yang ia acungkan di depan wajah orang itu. Ionna menahan napas karena tindakan impulsif Raphael. “Tidak, tolong jangan lakukan itu, Ralph!” seru Ionna sambil menggelengkan kepala. Ini kali pertamanya Ionna melihat Raphael mengeluarkan senjatanya. Seumur-umur dirinya mengenal Raphael, tak sekalipun pria itu menyentuh gagang pedang yang selalu menggantung di pinggangnya. Penuturan Ansel saat mengenalkan Raphael ternyata benar. Raphael memiliki insting yang tajam sehingga dapat mendeteksi bahaya dengan cepat. Dengan napas tercekat, Ionna memaksa Raphael memasukkan belatinya. Orang-orang di pasar memucat menyaksikan adegan berbahaya itu. Dan jika Ionna membiarkan Raphael bermain-main dengan belati terlalu lama, maka orang-orang akan tahu bahwa mereka adalah sekelompok bangsawan dan para bawahannya. Orang mana yang memerlukan pengawal untuk mengancam seseorang yang membuatnya jatuh? Pasti itu yang sedang mereka pikirkan sekarang. “A-aku baik-baik saja, Ralph.” Ionna mendesah keras, berharap Raphael mau mendengarkan. “O-orang-orang di sini bisa mencurigai kita. Dia cuma menabrakku dan baik-baik saja.” “Kau tidak baik-baik saja. Suaramu bergetar, Ivory.” Ionna sedikit terkejut karena Raphael bisa mengendalikan cara bicaranya di bawah tekanan emosi. Orang dalam balutan jubah hitam di hadapan mereka mengangkat tangan, menunjukkan bahwa dirinya tidak berniat melukai seseorang dan kecelakaan kecil tadi sama sekali tidak disengaja. “Aku bukan orang jahat, Sir. Kau lihat? Aku tidak membawa senjata di kedua tanganku,” ujar orang itu, dengan nada bicara yang ditujukan untuk menarik simpati sekitar. “Kecuali kau mau mengamankan belati menakutkan itu, aku akan meminta maaf kepada Nona di sebelahmu.” Kening Raphael mengerut, sejenak berpikir apakah orang itu sungguh-sungguh dengan perkataannya. “Sebaiknya, itu yang kaulakukan.” Atau aku akan menusukmu. Bisik-bisik mengudara. Raphael tahu reaksinya barusan berlebihan, namun ia telah bersumpah atas nama keluarga duke akan melindungi Ionna dengan segenap jiwa dan raga. Ia pun mengambil langkah menyamping, memberi orang itu ruang untuk meminta maaf. Ujung belati yang menghadap tanah siap diayunkan seandainya orang itu berani mengambil tindakan berisiko. Percayalah. Tidak semua orang kota itu baik. Orang itu tersenyum kecil, secara tak terduga menurunkan tudung jubah. Dalam sepersekian sekon, keheningan yang menyelimuti atmosfer di sekitar sana berubah. Banyak yang menyuarakan keterkejutan mereka ketika sepasang manik semerah batu rubi tertangkap pengelihatan. Orang itu memiliki fitur wajah yang hanya akan ditemui di pergaulan kelas atas. Dia mengenakan kalung berantai emas dan surai hitam yang memancarkan kilau keabu-abuan. Orang itu tampak menikmati perhatian yang ia terima. Dan saat ia berlutut di depan sosok berjubah di hadapannya, para wanita di antara lautan manusia menjerit histeris, merutuki betapa beruntungnya orang yang pria itu tabrak. “Jika kau terluka, itu adalah kesalahanku, Miss. Tolong, jangan sungkan berkata bahwa kau terluka karenaku.” Ionna cegukan mengetahui dugaannya tidak meleset. Ya Tuhan, dia benar-benar Duke Barten! Mencengkeram pita jubah, Ionna menggeleng lantas menjawab, “Tidak, Sir. Terima kasih telah mengkhawatirkan saya. Saya yang seharusnya meminta maaaf atas apa yang telah teman saya lakukan.” “Jangan dipikirkan. Tuan ini bermaksud melindungimu. Sebagai teman, dia bersikap selayaknya seorang kesatria. Aku salut pada persahabatan kalian.” Penekanan kata itu seolah memberitahu Ionna bahwa Ruford juga mengetahui penyamaran mereka. Ionna mencari-cari Annie yang ikut membeku di sebelahnya. Ekspresi gadis itu bahkan terlihat seratus kali lebih buruk dari saat ia melihat gaun nonanya digerogoti tikus. Ia menoleh saat mendengar Ruford melanjutkan, “Aku sedang buru-buru dan tidak memperhatikan jalanan yang kulalui. Apa kau berkenan memaafkanku, Miss?” Jeda sedetik, Ionna dapat membaca gerakan bibir Ruford yang menyebutkan nama, “Lady Ionna Laundrell.” Tepat saat itu juga, Raphael mendorong Ionna beserta Annie mundur. Ruford Barten tertawa kecil, menertawakan kewaspadaan kesatria pribadi sang lady dan menertawakan kebetulan macam apa yang menakdirkan pertemuan ini. Ruford dapat menjamin keselamatannya dari kakak gadis itu. Lady Ionna tidak akan mengadukan kejadian ini seperti anak lima tahun yang bertemu monster di kamarnya. Ruford tahu hubungan kakak-beradik Laundrell tidak sedekat yang dibicarakan orang. Walau nantinya sang lady benar-benar mengadu, Duke Laundrell tidak bisa berbuat apapun kali ini setelah peringatan yang diberikan Marquess Carnold. Memanfaatkan Lady Evangeline Hernsberg sebagai jaminan keselamatan memang pilihan yang tepat. “Ah, maafkan aku telah mengacaukan hari kalian.” Ruford pun bangkit, kembali menutupi wajahnya dengan tudung jubah, mengedipkan mata jahil. “Bolehkah aku pamit undur diri? Dan sepertinya kau harus menenangkan kedua teman perempuanmu, Kawan. Mereka gemetar ketakutan saat kau mengacungkan belati ke arahku.” Menepuk pundak Raphael akrab, ia menarik pria itu mendekat untuk membisikkan, “Semoga harimu menyenangkan, Lady Ionna.” pada Ionna melalui pundak kesatrianya. Ruford yang telah memperhitungkan gerakan Raphael sebelumnya dengan gesit menghindar. Ia melompat menjauh, melambaikan sebelah tangan, dan menenggelamkan diri ke dalam lautan manusia yang tak bisa melepaskan pandang darinya. Oh, bagus sekali. Dengan ini, berita tentang kemunculan seorang bangsawan di pasar kota akan menyebar, lalu semua orang akan tahu bahwa dirinya adalah satu dari kelima duke Kerajaan Gouvern. Berkat bantuan tak langsung Lady Ionna, jalannya membalas dendam kepada Ansel Laundrell dipermudah. Bukankah menyenangkan mempermainkan ketakutan Lady Ionna dan keraguan Lady Evangeline untuk tujuannya? Inilah yang dinamakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Mari kita tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ruford akan melakukan segala cara supaya tujuan balas dendamnya tercapai. “Lady Evangeline Hernsberg, aku menantikan tanggapanmu terhadap berita ini. Kira-kira bagaimana reaksimu nanti, Nona Manis?” oo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN