59. Almost

1179 Kata
“Maafkan aku. Suratmu tidak terkirim ke Andasia, Eva.” Lucian bergumam, mendesah kecil sambil membaca satu-persatu kata yang Evangeline tulis dalam suratnya. Sekarang ia harus menyembunyikan satu surat lain selain surat berisi laporan penyelidikan Robert. Dan yah, sejak surat terakhir yang Lucian terima lebih dari sepekan yang lalu, Robert belum mengirimkan surat lagi. Sepertinya pria itu mengalami kesulitan saat menjalankan tugasnya. “Jacob,” panggil Lucian. Jacob yang sejak tadi sibuk memeriksa debu dengan kaca pembesar berdeham dan langsung berdiri tegap. “Ya, My Lord.” Astaga, memiliki asisten pibadi yang terkadang merangkap sebagai kepala pelayan dan pengurus rumah memang sedikit menakjubkan. “Bagaimana rumah untuk Louis Meyer? Apa kau selesai mengurus surat-suratnya?” “Rumah itu sudah siap ditempati, My Lord.” “Bagaimana dengan keluarganya?” “Mereka dalam pelayaran hari ketiga. Diperkirakan sampai besok lusa di Pelabuhan Magnolia.” “Katakan pada mereka bahwa aku ingin bertemu.” “Aye.” “Dan pastikan Lady Evangeline tidak mengetahui pertemuan kami.” Jacob mengangguk patuh. Majikannya ini selalu bisa mengurus segala sesuatunya dengan baik. Akan tetapi, apa yang menjadi kekhawatirannya sejak dulu selalu sama. Jacob tidak suka ketika tuannya terlalu memaksakan diri. Lucian tidak pernah bisa mengedepankan dirinya terlebih dahulu dan menganggap kepentingan orang lain merupakan tanggung jawabnya. Masalah ini seharusnya sudah sampai ke telinga parlemen, namun Lucian justru hanya membagikannya kepada sang sahabat dan memilih menyelesaikannya sendiri. Jika Lucian tidak memikirkan nasib Countess Hernsberg dan tunangannya, bagaimana nasib Lady Evangeline ke depannya? Selain itu, ada satu hal yang ingin Jacob tanyakan. Apakah Lucian akan tetap menikahi Lady Evangeline walau kelak sang count terbukti bersalah? Keraguan itu terus-menerus mengusik hati Jacob. Lucian menanggalkan pipa dari bibirnya. Asap kotor menari-nari di antara udara musim panas dan ia menyadari pertanyaan yang tegambar jelas di mata si asisten. “Katakan apa yang ingin kaukatakan.” Ia berdiri lantas membuka jendela di belakang meja kerja. Angin musim panas mengisi kepenatan yang singgah di ruang kerjanya. “Kau seperti mendiang kakek yang hobi menanyakan bagaimana hari-hariku setiap aku dan ibu berlibur ke kediaman Rosette. Apa yang kaucemaskan, Jacob?” Jacob menimang-nimang apakah pertanyaannya ini akan menyinggung sang marquess. “Ini tentang Her Ladyship, My Lord.” “Ada apa dengan Lady Evangeline?” “Apakah Anda,” Menelan ludah, Jacob mendesah gusar, mengeluarkan gumpalan kegelisahan dalam d**a. “Maksud saya, bagaimana kelanjutan hubungan Anda dengan Her Ladyship? Seandainya sang count terlibat dalam kasus itu, apakah kalian akan tetap bersama?” Lucian tersenyum tipis, duduk di bingkai jendela, bersilang kaki kemudian melempar pandang ke pemandangan di luar sana. “Kau mengenalku lebih dari siapapun di dunia ini. Ansel tidak mempertanyakan keputusanku karena dia telah mengetahui jawabannya dengan pasti, sementara kau, kenapa kau masih menanyakannya? Kau adalah orangku, Jacob.” “Jadi, apakah Anda dan Her Ladyship akan melanjutkan pertunangan ini?” “Aku menghormatinya,” tukas Lucian, memandang istal dari kejauhan. Para pekerja istal tampak membawa kuda-kudanya berkeliling di lapangan pacu. “Lady Evangeline memiliki pendirian yang kuat, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kelak dia terjatuh. Aku membawanya dari Andasia ke Gouvern bukan semata-mata ingin menyelamatkannya, namun aku tidak boleh mengakhiri apa yang sudah kumulai. Aku akan bertanggung jawab atas Lady Evangeline dan hidupnya sejak aku menyetujui pertunangan kami.” Tanggung jawab. Sebenarnya seberapa banyak tanggung jawab yang harus Lucian emban hingga akhir hayatnya? Setelah terbebas dari janji dan tanggung jawab dari Lady Ionna Laundrell, kini adalah giliran Lady Evangeline Hernsberg. Jacob sangat ingin melihat tuannya hidup atas kehendaknya sendiri dan berbahagia bersama orang yang benar-benar ia kasihi. Bukan karena rasa kasihan dan tanggung jawab. Jacob melepas kacamata dan memasukkannya ke saku jas. Lagipula ia tidak berhak mengatur dan menilai kehidupan sang marquess. Dan bukan berarti juga Lady Evangeline tidak pantas bersanding dengan tuannya. Jika itu jalan yang Marquess Carnold pilih, maka tiada lagi yang perlu dicemaskan. Lucian tersenyum. Tiba-tiba saja ingin menertawakan Jacob. “Terima kasih.” Jacob menggeleng pelan. “Saya tidak bermaksud ikut campur dalam keputusan Anda.” “Tidak. Aku senang kau mencemaskanku.” “Terima kasih atas pujiannya.” Marquess Carnold tidak memiliki selera humor yang bagus, itulah yang sering dikeluhkan Lady Evangeline. Jacob dapat memahami kebuntuan yang bertabrakan dengan kecakapan sang lady. Karena Lady Evangeline merupakan orang yang suka sekali melontarkan canda, Lucian jelas akan menanggapinya dengan komentar-komentar singkat. Sayang sekali pria seperti Lucian Carnold yang tegas dan berwibawa lebih menyukai lelucon garing. Ketika Jacob hendak menuangkan teh untuk Lucian, pintu ruang kerja diketuk. Mereka segera menoleh ke asal suara. Dengan tergesa, Jacob membuka pintu ruang kerja dan menadapati Lady Evangeline menatap lurus ke seberang ruangan dengan mata sayu. “Eva.” Gadis itu langsung memacu kakinya melintasi ruang kerja dan memeluk Lucian yang duduk di bingkai jendela. Mereka hampir saja terjatuh bila Lucian tidak mencengkeram kusen jendela kuat-kuat. Jacob mengembuskan napas panjang, lega keduanya tidak meluncur ke bawah. Menangkap isyarat Lucian untuk meninggalkan mereka, Jacob pun membungkuk dan pamit undur diri. “Ada apa, Eva?” Pertanyaan yang dituturkan dengan suara maskulin yang menenangkan itu membuat Eva mengeratkan pelukannya. “Aku gelisah sepanjang waktu, Luce.” “Apa ini tentang pesta pembentukan negara bulan depan?” Evangeline terdiam sesaat. Benar, ini lebih baik. Lucian tidak boleh tahu mengenai pertemuannya dengan Duke Barten dan mari bersikap seakan tidak ada yang terjadi. Meski Lucian telah menusuknya dari belakang, Evangeline cukup bodoh untuk bertahan dengan cintanya kepada pria itu. Setelah ia menemukan bukti dan menyingkirkannya, semuanya akan kembali seperti semula. “Rasanya aku memiliki debutan keduaku,” ucap Evangeline, masih dalam posisinya memeluk Lucian. Ia seolah tenggelam dalam tubuh besar pria itu. Seperti kelinci dan beruang. “Selama ini aku hanya menghadiri acara yang tidak memiliki banyak tamu undangan. Dan pesta pembentukan negara bahkan lebih besar dari debutan. Seluruh bangsawan dan rakyat Gouvern akan hadir dalam berbagai perayaan dan festival.” Lucian mengangguk tanpa sadar, mendorong bahu Evangeline, meremas bahu kurusnya seraya berkata, “Aku bersamamu dan kau selalu bisa mengatasi hal semacam itu. Aku percaya kepadamu, Evangeline.” Evangeline memutar badan kemudian mengambil celah sempit di samping Lucian. Lucian menyandarkan lengan untuk membentengi punggung Evangeline. Manik violet gadis itu diam-diam menelisik meja kerja tunangannya. “Omong-omong, kapan kali terakhir kau berburu? Bisakah kapan-kapan kau mengajakku?” Mata Lucian mengikuti gerakan mata Evangeline. “Kau bisa menunggang kuda?” “Ah ya, Ayah tidak pernah mengajariku berkuda.” “Kalau begitu, kita bisa pergi bersama.” “Katamu Ian tidak suka penunggang lain.” Pandangan Evangeline berhenti pada sebuah surat yang tertindih tumpukan buku. Merasa mengenali warna perkamen surat tersebut, Evangeline nyaris turun untuk menggapainya. Kenapa surat itu terlihat familier sekali? “Kita akan menunggangi Marcel. Dia tidak akan keberatan karena menyukai wanita muda.” Perhatian Evangeline terdistraksi oleh kuda bernama Marcel. Dalam sekejap, ia melupakan tujuannya ke mari. Melompat turun, Evangeline pun menarik-narik lengan Lucian, tak sabar bertemu kuda bernama Marcel tersebut. “Maukah kau mengenalkanku padanya?” “Ya.” Sejenak Lucian melirik surat dan buku di meja kerja, melampirkan segaris senyum simpul sebelum keluar dari ruang kerja menuruti kemauan Evangeline. Hampir saja. oo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN