60. Panggilan

1023 Kata
Saat membalas surat Sebastian, Ionna mulai berpikir Apakah ia harus menceritakan kejadian di pasar kota kepada tunangannya. Sebastian mungkin bisa melakukan sesuatu, atau paling tidak menjaga rahasianya dan melindunginya dari jauh. Ionna kemudian ingat bahwa dirinya belum memberitahu Sebastian tentang surat Duke Barten di masa lalu. Jika Ionna terlanjur menuliskan kisah kelam itu dan apa yang ia alami di Akademi Sanspearl terbongkar, maka itu akan menjadi aib keluarga Laundrell. Bukan karena Duke Barten merupakan mantan kekasih Lady Diana Thesav, melainkan Ionna takut seandainya ia membuka satu rahasia, rahasia lain akan ikut terbuka. Biasanya siklus yang tidak diinginkan benar-benar terjadi layaknya lingkaran setan. Ionna tidak punya secuil pun keberanian untuk mengungkap masa lalunya kepada. Tidak pada Sebastian, Ansel, ibu, maupun keluarga Magnolia. Ionna terlalu menyayangi mereka hingga tak mau mengecewakan ekspektasi tentang dirinya yang dianggap sempurna. Ataukah sebenarnya Ionna hanya cari aman? Sekarang, Ionna memiliki pemikiran lain. Ionna sadar dirinya terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Ia bukan seorang lady yang semburna, seorang lady yang diagung-agungkan kaum bangsawan di luar sana. Ia hanyalah seorang lady dengan banyak luka sayat di lengan kiri, masa lalu segelap angkasa malam, dan kebodohan untuk hidup dalam cinta bertepuk sebelah tangan selama belasan tahun. Ya, Ionna adalah seorang lady yang seperti itu. Bahkan jika dibandingkan dengan Lady Diana Thesav, Ionna bukanlah apa-apa. Seharusnya Lady Diana yang terlahir sebagai adik perempuan Duke Laundrell, bukan dirinya. Ionna menanggalkan pena bulu dari tangan. Menggumamkan nama Sebastian, melanjutkan kembali aktivitasnya membalas surat. Sebastian selalu menyenandungkan kata-kata cinta dalam suratnya. Menulis satu-dua bait puisi, menceritakan hari-harinya setelah mereka berpisah, dan berulang kali menorehkan frasa aku merindukanmu di setiap paragraf. Ionna tidak pernah merasa dicintai seperti ini. Ternyata ada juga masa-masa di saat seseorang mengagumi dan melihat Ionna sebagai satu-satunya wanita di bumi. Ionna sangat menikmati perasaan menyenangkan ini, seakan membumbung tinggi ke langit ketujuh. Tiba-tiba Ionna mendengar bisik-bisik dari Annie dan Raphael yang berdiri di dekat perapian. Pasangan muda itu tidak tampak mendiskusikan sesuatu yang akan membuat mereka bergelayutan mesra, melainkan seperti mendiskusikan kemajuan negara. Ionna pun melipat surat dan menyegelnya dengan segel lilin, meletakkannya di atas meja, lalu berbalik untuk membuyarkan perhatian pelayan dan kesatrianya. Kedua manusia itu langsung berjingkat saking kagetnya. “Kenapa kalian setegang itu?” goda Ionna dengan senyum sinis di bibir. “Sibuk membicarakan konspirasi? Atau rencana pernikahan?” Alih-alih mengelak, Raphael justru menyahut dengan suara lesu. “Sebagai kesatria yang dipilih langsung oleh His Grace, saya merasa gagal melindungi Anda.” Ionna melemparkan pandangan tidak mengerti, berusaha menggali jawaban dari mata Annie yang justru memalingkan muka. “Apa maksudmu, Sir Raphael? Kenapa kau merasa gagal melindungiku? Mengingat apa yang telah kaulakukan untukku tempo hari, kurasa kau tak pantas menyebut dirimu sebagai sebuah kegagalan. Apa yang sebenarnya kaupikirkan?” “Miss Jam baru saja memberitahu saya. Mengenai Anda dan Duke Barten, kenapa Anda sangat ketakutan saat itu dan kenapa seharusnya saya tidak tinggal diam ketika Duke Barten berusaha mendekati Anda. Saya malah membiarkannya pergi begitu saja. Karena itu, saya sungguh malu kepada diri saya sendiri, My Lady. Tolong, maafkan saya.” “Soal itu kau tidak perlu memikirkannya.” “Tapi—” “Itu sudah sangat lama. Sekitar tujuh tahun yang lalu, tepatnya sebelum aku memasuki Akademi Sanspearl dan kau menjadi kesatria pribadiku, Sir Raphael.” Walaupun Ionna menunjukkan segaris senyum tipis, namun Raphael dapat menangkap adanya kegetiran dari ekspresi ladynya. Raphael menunduk menghindari kontak mata dengan sang lady. Kata-kata Ionna sama sekali tidak membuatnya tenang. Ia merasa semakin malu dan malu untuk ke sekian kalinya. Para kesatria milik keluarga bangsawan akan melakukan segala cara untuk melindungi tuan mereka. Dan Raphael telah dilatih untuk itu. Semenjak ia memutuskan mencalonkan diri sebagai kesatria keluarga Duke Laundrell alih-alih mengabdi kepada kerajaan, itu artinya keselamatan mereka adalah mutlak. Para kesatria keluarga tak akan segan membinasakan orang yang telah mencelakai para tuan, pun tak peduli pada keselamatan mereka sendiri. Mengabaikan status dan kehormatan dan membunuh musuh tanpa pandang bulu menjadi tugas yang telah mendarah daging dalam diri Raphael. Entah musuh merupakan seorang duke atau keluarga kerajaan sekalipun, Raphael akan menyingkirkan perasaan dan egonya demi menjalankan tugas. Lalu Ionna menemukan pemikiran itu berlalu-lalang di atas kepala Raphael. Pemikiran yang tidak ada bedanya dengan seorang b***k, pemikiran yang menjerat para kesatria keluarga dari kebebasan. Raphael beruntung karena Ionna menyuruhnya tidak bertindak sebelum berpikir. Ionna tidak suka ketika seseorang mengotori tangan mereka dengan darah untuk dirinya yang selalu menyulitkan orang lain. Ionna tak ingin Raphael menjadi monster seperti kakaknya. “Satu monster sudah cukup bagiku, Sir Raphael. Tidak ada monster lain dan tidak meski itu dirimu,” ucap Ionna dingin. Raphael tersentak, menatap punggung nona mudanya dengan mata melebar. “Maaf?” “Kau tahu siapa yang kumaksud, Sir.” Raphael dan Annie saling melirik satu-sama lain, mengangguk seakan memikrikan orang yang sama. Lady Ionna Laundrell sangat menyayangi kakak laki-lakinya, sayangnya tidak banyak yang mengetahui fakta itu. Jika bukan karena kasih sayang Duchess Laundrell yang berat sebelah, mungkin hubungan kakak-beradik itu tidak akan rusak. “Dan lagi, Sir Raphael, aku sudah dewasa. Berhenti memperlakukanku seperti gadis yang baru debut.” Ionna pun memanggil Annie untuk mengikat suratnya pada elang pembawa pesan yang Sebastian beli. Saat gadis pirang itu mengulurkan tangan untuk menerima suratnya, Ionna menahan pergelangan tangan Annie dan mengerling kepada Raphael. “Ada seorang lagi yang membutuhkan perlindunganmu dan dia adalah Annie.” “My Lady, apa yang Anda katakan!” “Lihat dia, Sir Raphael. Annie bahkan merona saat aku bilang dia juga membutuhkan perlindunganmu. Kalian benar-benar berkencan tanpa sepengetahuanku, huh?” “Itu, tidak—” “Ssst. Jangan mengelak.” Ionna tertawa puas melihat Raphael dan Annie salah tingkah. Ia hendak bangkit untuk membawa Annie kembali ke sisi Raphael, bermaksud menjahili mereka ketika tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang pelayan dari ruang kerja Duke Laundrell muncul di balik pintu. “Selamat pagi, Lady Ionna.” Pelayan itu membungkuk dengan wajah datar. Euforia yang sempat singgah di antara mereka bertiga mendadak lenyap berkat kehadiran pelayan itu. “His Grace meminta Anda datang ke ruang kerja beliau sekarang. Beliau berkata, ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan dan berharap Anda segera menemui beliau begitu mendengar pesan ini.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN